
Tepat pukul 7 pagi, dihari Senin. Topan dan beberapa rekan nya yang tergabung dalam team yang berhasil menangkap Pongki sudah hadir di lapangan untuk menjalankan upacara pagi, sekaligus upacara pengangkatan pangkat yang akan di terima oleh team Topan.
Topan dan para sahabatnya terlihat sangat rapi dan tampan, dengan pakaian dinas yang lengkap. Sedangkan di sisi kiri barisan, terlihat para istri putra Negara ikut berbaris, menyaksikan jalan nya upacara pengangkatan pangkat tersebut.
Upacara pun dimulai, seperti biasa, upacara yang disebut dengan apel pagi itu berjalan seperti biasanya. Panas matahari pagi mulai menyengat di kulit para peserta upacara. Hingga akhirnya tibalah dimana upacara pengangkatan pangkat pun dimulai. Topan, Suprapto, Antok dan beberapa orang yang terlibat dalam team mereka pun diminta untuk maju, saat inspektur upacara memberikan apresiasi prestasi mereka di depan seluruh peserta.
Dengan wajah bangga, Suprapto melirik ke deretan para istri di sisi kiri, lalu ia tersenyum kepada istrinya yang baru saja seminggu ini melahirkan darah dagingnya. Istrinya itupun terlihat bangga kepadanya. Maka dari itu, istrinya berusaha untuk menghadiri upacara tersebut walaupun ia baru saja melahirkan.
Sedangkan Antok, pengangkatan pangkat yang ia raih di saksikan oleh ibu dan bapaknya. Karena Antok masih sendiri, prestasinya ini sudah tentu ia persembahkan untuk kedua orangtuanya yang telah bersusah payah mengantarkan dirinya hingga ke titik ini.
Dan Topan, dalam upacara pengangkatan ini, hanya ada Erna dan Guntur yang menyaksikan nya. Terlihat wajah bangga di kedua orang yang sangat ia cintai itu. Sedangkan Amoroso, lelaki itu tidak terlihat batang hidungnya. Ia lebih memilih untuk diam di ruangan nya pagi ini.
Kini, tibalah acara pencopotan simbol jabatan yang berada di pundak seragam mereka, yang akan digantikan dengan simbol yang baru, yang melambangkan pangkat yang baru.
Setelah upacara pengangkatan selesai, ucapan selamat terus bergulir untuk Topan dan team nya. Semua turut berbahagia dan bangga dengan prestasi yang dicapai oleh Topan dan para sahabatnya. Tidak hanya itu, Topan dan sesama rekan satu team nya saling mengucapkan selamat untuk keberhasilan mereka. Sampailah Topan berhadapan dengan Suprapto. Topan baru mengetahui bila Suprapto akan dipindahkan ke Provinsi Riau.
Topan berdiri berhadapan dengan Suprapto. Mereka saling berjabat tangan dan saling menatap. Terlihat air mata mengambang di pelupuk mata Suprapto. Meskipun mereka terkesan sangat berwibawa dan tidak takut dengan apapun, namun mereka tetaplah manusia yang memiliki sisi melankolis.
"Selamat bang," Ucap Topan seraya tersenyum kepada Suprapto.
"Kau juga ya,"
Topan mengangguk dan tersenyum, lalu ia memeluk Suprapto dengan erat.
"Semoga, di tempat yang baru, karir abang semakin baik."
"Terima kasih Pan."
Saat itu juga, Antok berjalan mendekati dua sahabatnya dan tersenyum kepada mereka.
"Bang," Ucap Antok seraya memeluk Suprapto.
"Tok, baik-baik kau ya. Jangan ngutang terus."
"Ih, kok itu pula abang pesan nya," Ucap Antok seraya melepaskan pelukannya dari Suprapto.
Suprapto tertawa geli dan menepuk pundak sahabat nya itu.
"Kau hebat, kau juga," Ucap Suprapto kepada Antok dan Topan.
"Kapan abang akan berangkat?" Tanya Antok.
"Secepatnya."
"Berarti abang sudah di kantor saja ya. Jadi kepala abang disana," Ucap Antok.
Suprapto tersenyum, lalu ia menundukkan wajahnya.
"Sebenarnya, aku lebih suka bekerja bersama dengan kalian. Bekerja di lapangan sangat mengasikkan. Aku bisa tertawa, menyeruput kopi segelas ramai-ramai, merokok bersama dengan kalian... dan..."
"Abanggggg...." Antok kembali memeluk Suprapto erat-erat.
__ADS_1
"Apa-apaan kau Antok!"
"Jangan gitu lah bang, sedih aku jadinya..." Antok mengusap air matanya.
"Aku kan hanya ke Riau, bukan ke akhirat Tok! Kalau ada uang mu, kunjungi aku kesana."
"Pasti bang, nanti aku pinjam uang sama si Topan." Ucap Antok.
Topan melepaskan topi nya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Jangan berhutang saja kau Tok! Merepotkan rekan mu! Sebenarnya uang mu untuk apa?" Tanya Suprapto.
Antok mengulum senyumnya, lalu ia melirik kearah kedua orangtuanya.
"Bang, kau lihat lah mereka. Usia mereka sudah senja. Uang ku, aku kumpulkan untuk membeli mereka rumah yang nyaman. Juga, aku mau menaikan mereka haji ke tanah suci. Aku tidak mau korupsi ataupun bermain kotor. Apa yang aku dapat, itu yang aku upayakan untuk mereka. Sebenarnya, bisa saja aku bermain kotor. Hanya saja, didik kan bapak ku itu, aku harus menjadi manusia jujur. Masalah hutang, tolong fi ikhlaskan ya bang,"
Suprapto mengernyitkan dahinya. Lalu, perlahan ia tersenyum menatap anak muda yang berdiri dihadapan nya itu.
"Walaupun kau suka bikin aku bangkrut, dan terasa seperti mempunyai istri dua, bertambah tanggung jawab ku karena kau minta rokok, kopi dan makan sama aku, kalau ini alasan mu, aku ikhlaskan. Lain kali, kau juga harus berpikir lah, kau itu beban..!" Ucap Suprapto sambil melotot.
Antok dan Topan pun tertawa terpingkal-pingkal.
"Tenang bang, habis ini tidak ada hutang lagi bang. Rumah sudah lunas. Naik haji juga aku cicil. Jadi bisa aku beli rokok buat mu bang,"
"Alah... setelah aku mau pergi baru kau sok sok mau traktir aku," Ucap Suprapto dengan wajah yang terlihat kesal.
"Topan..." Erna dan Guntur mendekati Topan.
Topan pun mengalihkan pandangannya ke arah ibu dan adiknya itu.
"Silahkan Pan.."
Topan tersenyum dan beranjak menghampiri Erna dan Guntur.
"Selamat anak ku... selamat sayang... selamat yo leeeee... Ibu bangga sekali dengan kamu," Ucap Erna seraya memeluk dan mencium Topan dengan air mata haru yang menetes di pipinya.
"Terima kasih ibu," Ucap Topan seraya tersenyum bahagia.
"Selamat mas," Ucap Guntur. Lelaki muda itu memeluk Topan dengan erat.
"Terima kasih le.. Rajin-rajin belajar ya." Ucap Topan sambil mengacak-acak rambut Guntur.
Guntur tersenyum manis dan membenarkan tatanan rambut nya yang telah di acak-acak oleh Topan.
"Oh iya le, bapak titip salam padamu. Dia bilang, dia sangat bangga kepada kamu nak,"
Topan terdiam, ia menundukkan pandangan nya dan tersenyum getir.
"Itu pasti bukan kata-kata bapak bu. Aku tahu, selama ini, kata-kata motivasi itu bukan dari bapak. Melainkan, itu semua karangan ibu sendiri. Sudahlah... Mungkin aku tidak ada harganya di mata bapak," Ucap Topan.
Erna terdiam, memang benar apa yang Topan katakan kepadanya. Selama ini, kata-kata motivasi itu tidak pernah keluar dari bibir Amoroso. Dirinyalah yang selalu mengarang segala kata-kata yang ia sebut kata itu dari Amoroso, kepada Topan.
__ADS_1
"Le..."
"Bu... sudahlah..aku terima ini semua."
"Topan.."
Topan mengalihkan pandangannya dan menatap seorang gadis cantik yang berdiri di keramaian.
"Lestari?" Gumam nya.
"Eh nduk.. Kamu disini?"
"Bu.." Lestari langsung beranjak mendekati Erna dan mengecup punggung tangan Erna.
"Ya Allah, anak kok cantik nya seperti ini. Sopan lagi sama orang tua," Ucap Erna.
Saat itu juga, ekspresi wajah Topan mulai terlihat muak.
"Selamat ya..." Lestari beranjak mendekati Topan dan hendak memeluk lelaki itu.
Topan mundur selangkah untuk menghindari pelukan Lestari. Lalu, tangan nya pun terlihat menepis tangan Lestari dengan sopan.
"Maaf, jangan seperti itu. Kita tidak ada hubungan apa-apa." Tegas Topan.
Lestari terdiam, lalu ia terlihat salah tingkah.
"Topan, kok begitu dengan Lestari?"
"Bu, aku sudah punya kekasih. Bella namanya. Lestari juga kenal kok dengan kekasihku. Jadi, agak aneh memang, bila dia masih mau dijodohkan dengan pria yang sudah memiliki kekasih. Saya mau bergabung dengan teman-teman saya dulu," Ucap Topan. Lalu, ia pergi meninggalkan Erna, Lestari dan Guntur.
Lestari terdiam, wajahnya memerah. Buket bunga yang berada di genggaman nya, yang ia bawa untuk Topan pun hampir saja ia remas. Namun, ia sadar akan situasi. Ia ingin tetap terlihat anggun dan berkelas dimata Erna.
"Tidak apa-apa bu," Ucap Lestari, ia tetap berusaha tersenyum walaupun hatinya terasa sakit.
"Maafkan Topan ya.."
"Tidak apa-apa kok bu, beneran.."
"Tapi bener kamu kenal sama pacarnya Topan?" Tanya Erna.
"Oh, anak narapidana itu ya bu? Iya, saya kenal. Kebetulan, ibunya dirawat dirumah sakit tempat saya bekerja. Jadi, kenalnya disana. Orangnya sih cantik. Saya rasa, saya tidak mempunyai harapan untuk bisa bersama dengan Topan. Padahal, maksud saya kesini, hanya ingin berteman dekat saja. Tetapi biarlah, bila saya mendapatkan penolakan," Ucap Lestari dengan raut wajah yang terlihat sedih.
Lestari pun berhasil mendapatkan simpati dari Erna. Erna memeluk gadis itu dan membisikkan sesuatu ke telinga Lestari.
"Kamu tenang saja, ibu tidak akan pernah merestui Topan dengan gadis itu. Kamu sudah paling terbaik dan tercantik dimata ibu. Percaya ya sama ibu."
Lestari tersenyum menatap Erna. Lalu, ia menghela nafas lega.
"Terima kasih bu. Tetapi, bila...."
"Sudah, pelan-pelan ibu akan bicarakan dengan Topan. Pokoknya, kamu akan bahagia akhirnya, dan akan menikah dengan Topan. Duh... ibu tidak sabar ingin meminang cucu,"
__ADS_1
Lestari kembali tersenyum dan tersipu malu.
"Ha... lihatlah... lihat Topan. Ibumu merestui kita. Tinggal kamu saja yang harus aku taklukkan." Batin Lestari.