Masteng

Masteng
148. Sejak kapan?


__ADS_3

"Sayang, kamu di minta untuk menjalani tes."


"Benarkah?" Bella yang sedang berada di ruangan kerjanya terperanjat hingga ia berdiri dari duduknya.


"Iya, kamu sudah siap? Besok aku jemput ya."


"I-i-iya.." Bella terlihat gugup saat menjawab ucapan Topan yang sedang berbicara dengan dirinya lewat sambungan telepon.


"Relax sayang, semua akan baik-baik saja,"


"Iya," Bella menghela nafas panjang.


"Ya sudah, sampai jumpa besok ya.."


"Iya mas,"


"Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam," Sahut Bella.


Bella kembali duduk di kursinya. Ia tahu, semua persyaratan harus ia lalui, bila dirinya memang ingin menikah dengan Topan. Menjadi seorang pendamping putra Negara tidaklah main-main. Bella harus melakukan serangkaian proses yang begitu berat. Tidak hanya itu, setelah tes, Bella akan dihadapi oleh sidang keputusan untuk mendapatkan persetujuan menikahi Topan.


Bella kembali menghela nafas dan menatap langit-langit ruangan nya.


"Ya Allah, lancarkan lah," Batin nya.


..


Topan tersenyum saat dirinya mengakhiri sambungan telepon nya dengan Bella. Lalu, ia mengantongi ponselnya dan beranjak duduk disamping Antok yang sedang asik bertukar pesan dengan Lestari.


"Jadi, sejak kapan kau dengan nya?" Tanya Topan.


Antok mengangkat wajahnya dan menatap Topan dengan seksama.


"Kenapa? Cemburu kau ya?"


"Gak lah, ngawur saja," Ucap Topan.


"Sejak hari pengangkatan kita. Setelah dapat persetujuan dari kau, aku langsung datang kerumah sakit tempat dia praktek. Disitu aku ajak dia kenalan. Awalnya sombong kali dia bah!"


Topan tertawa mendengar cerita Antok. Lalu ia meraih bungkus rokok miliknya dan mengeluarkan sebatang rokok dari bungkus rokok tersebut.


"Ada korek?" Tanya Topan.


Antok memberikan Topan sebuah mancis dari saku bajunya dan menyerahkan nya kepada Topan.


Topan meraih mancis itu dan membakar rokoknya. Lalu ia mengembalikan mancis tersebut kepada Antok.


"Taruh saja di kursi," Ucap Antok tanpa menoleh sedikitpun kepada Topan. Topan mengerutkan keningnya dan melirik layar ponsel milik Antok.


"Ya elah... Bebeb Lestari," Komentar Topan tentang nama yang Antok sematkan untuk Lestari di ponselnya.


"Iya lah..." Antok tersenyum puas.


"Kau serius tidak dengannya?" Tanya Topan lagi.


Antok menoleh dan menatap Topan dengan seorang.


"Kenapa memangnya?"


"Bukan apa-apa, hanya saja aku kasihan melihat dia,"


"Kasihan kenapa?" Tanya Antok lagi.

__ADS_1


"Ya... kasihan saja,"


"Kasihan karena dia pacaran sama aku?" Antok melengos dan memasang wajah kesal.


"Hahahaha...! Bukan seperti itu. Aku hanya berpesan, kalau tidak serius, mending dijauhkan dari sekarang. Takut dia dan keluarganya terlalu berharap," Terang Topan.


"Aku serius kok!" Seru Antok.


"Ya Alhamdulillah. Bukan apa-apa, kau tahu siapa bapaknya kan?"


"Tahu, yang di pecat oleh bapak mu kan?"


"Ya, begitulah," Sahut Topan.


"Ya, gak apa. Yang penting bukan orangtuanya. Yang penting dia mau jalan sama aku apa tidak. Soalnya yang mau hidup denganku kan dia."


Topan tersenyum dan menepuk pundak Antok.


"Keluarga tetap harus penting..Memang benar, yang mau hidup denganmu itu anak nya. Kalau kamu memang memilih dia. Kamu harus siap dengan apapun tentang keluarganya. Sama seperti aku, aku sudah siap dengan apa pun tentang keluarga Bella. Aku beri tahu ini ya.. biar kau siap lahir dan batin."


"Iya Pan, terima kasih ya," Antok tersenyum dan menatap Topan yang begitu peduli dengan dirinya.


"Sama-sama." Sahut Topan.


"Lantas, bagaimana persiapan pernikahan kalian?"


"Baik-baik saja. Besok Bella akan menjalani tes."


"Oh, semoga lancar ya."


"Aamiin," Sahut Topan. Lalu, ia menginjak puntung rokoknya dan beranjak dari duduknya.


"Mau kemana kau?"


"Kurang ajar kau Pan!"


Topan terkekeh melihat ekspresi wajah Antok.


...


"Bagaimana rencana pernikahan bella dan Topan?" Tanya Pongki dari balik kaca yang memisahkan antara dirinya dan Berta yang sedang mengunjungi dirinya di Lapas Nusakambangan.


"Doakan saja semoga lancar," Sahut Berta dengan wajah yang terlihat murung.


"Kamu murung sekali, apa kamu capek?" Tanya Pongki.


"Ya, karena jarak nya jauh sekali dan proses seleksi pengunjung begitu lama." Jelas Berta.


"Maafkan aku,"


Berta menatap Pongki dengan seksama, air mata kembali mengembang di pelupuk matanya.


"Kapan eksekusi hukuman?" Tanya Berta.


"Aku tidak tahu. Tetapi aku mau dipercepat saja."


"Apa kau gila?" Tanya Berta sambil membulatkan kedua matanya.


"Buat apa Negara berlama-lama menanggung biaya hidup orang-orang terpidana mati seperti ku. Apa tidak lebih baik dipercepat saja?" Seloroh Pongki.


"Aku sedang tidak berminat bercanda Pongki!" Tegas Berta dengan sorot mata yang begitu serius.


Pongki terdiam, perlahan ia menundukkan wajahnya.

__ADS_1


"Apa kamu tidak ingin menikah kan Bella terlebih dahulu?"


"Aku akan menyerahkan nya kepada wali hakim."


"Kau benar-benar sudah gila!" Berta terlihat emosi.


"Bukan aku tidak ingin menikah kan Bella dan Topan. Hanya saja, aku tidak mungkin bisa datang dan mereka juga tidak mungkin menikah disini!"


Kali ini Berta terdiam membisu.


"Maafkan aku Berta. Tidak ada harapan lain selain hukuman di percepat. Hanya ada itu di otak ku,"


Berta mengusap air matanya.


"Jadi, kau benar-benar menginginkan aku terpuruk dalam siksaan kehilangan kamu?"


"Kamu kenapa? Aku sudah pernah menjelaskan nya kan?"


"Aku? Aku kenapa?" Tanya Berta, masih dengan wajah yang terlihat emosi.


Pongki kembali menundukkan pandangan nya.


"Pergilah, jangan pernah lihat aku lagi. Kecuali saatnya eksekusi nanti."


Berta terperangah mendengar ucapan Pongki.


"Bila kamu melihatku, kamu akan tersiksa. Anggap saja aku sudah mati,"


"Segampang itu?" Tanya Berta.


"Berta aku mohon. Bilang sama Bella, bila aku akan menyerahkan pernikahan nya kepada wali hakim."


"Kau ini kenapa Pongki!" Bentak Berta.


"Aku? Aku hanya ingin mati,"


Berta terdiam, air mata kembali mengalir deras di pipinya.


"Harusnya aku datang kesini, untuk melihat dirimu yang sebenarnya. Tetapi, aku salah. Kamu sudah berubah seperti orang yang tidak ku kenal sebelumnya." Berta beranjak dari duduknya dan bergegas untuk meninggalkan ruangan besuk tersebut.


"Berta," Panggil Pongki sambil menggedor kaca pembatas.


Berta menghentikan langkahnya dan menatap Pongki dengan air mata yang terus membasahi pipinya.


"Maaf bila aku tidak bisa menjadi suami yang baik untuk mu. Maaf bila aku tidak bisa mewujudkan segala impian kita. Tapi satu yang harus kamu yakini, bila ada kehidupan kedua setelah hari pembalasan, aku ingin dipertemukan lagi denganmu, kembali menikahi mu dengan cara yang baik dan lurus. Berusaha untuk kamu dengan cara yang halal dan aku akan mewujudkan apa pun kisah yang sudah kita rencanakan sebelumnya."


Berta berjalan mendekati kaca pembatas dan menempelkan tangan nya di kaca tersebut. Dari dalam, Pongki pun melakukan hal yang sama. Ia menempelkan tangan nya dibalik tangan Berta yang berada di kaca itu.


"Maafkan aku," Ucap Pongki.


"Aku mencintaimu, bagaimana bisa aku tidak memaafkan kamu? Pongki, di kehidupan selanjutnya, jangan bodoh. Cepat-cepat kau temui aku. Sebelum aku dinikahi orang lain!"


Pongki tertawa di wajah sedihnya. Ia menatap Berta yang ikut tertawa karenanya.


"Iya, aku berjanji."


"Aku pergi dulu," Ucap Berta.


Pongki mengangguk dan memberikan senyum terbaiknya untuk Berta.


Berta melangkah meninggalkan ruangan itu. Pun dengan Pongki yang kembali digiring ke sel nya.


...

__ADS_1


Sebagian agama mengakui adanya reinkarnasi. Meskipun begitu, walaupun ada atau tidaknya kehidupan kedua setelah ini, tidak ada salahnya kita menjalankan kehidupan pertama kita dengan sebaik-baiknya. -de'rini-


__ADS_2