Masteng

Masteng
78. Apa kamu menyukai dia?


__ADS_3

Langkah Lestari yang baru saja hendak keluar dari ruangan pasien yang lain nya, tertahan di balik pintu, saat ia melihat Topan sedang menarik pinggang Bella dan mendekap Bella di dalam pelukan Topan. Lestari melirik kebelakang nya, dimana dua suster nya sedang merapikan seprai dan pakaian pasien. Akhirnya, Lestari memutuskan untuk melihat apa yang sedang Topan dan Bella lakukan di lorong tersebut.


Lestari juga melihat Topan mendekati wajah Bella secara perlahan. Tetapi ada yang aneh dari mereka berdua dalam kaca mata Lestari. Tampaknya, Bella sedang marah dengan Topan.


"Ada apa diantara mereka?" Gumam Lestari.


Tetapi, entah mengapa walaupun Bella terlihat marah kepada Topan, Lestari tetap melihat dua insan itu begitu terlihat romantis. Terutama cara Topan memperlakukan Bella. Di mata Lestari, Topan tampak begitu jantan dan menarik.


Topan, lelaki dengan postur tubuh yang sangat sempurna. Wajah yang tampan dan penampilan yang terlihat begitu elegan, membuat Lestari merasakan ada getaran di hatinya. Entah mengapa, setelah ia mengetahui identitas Topan, ia mulai menyukai lelaki itu. Ya, baru sebatas suka dan mengagumi. Lestari bercita-cita ingin memiliki suami yang berprofesi seperti Ayah nya, yaitu seorang Polisi.


Apakah Lestari adalah gadis yang dimaksud oleh Erna, ibunda Topan? Ya, dia adalah orang nya. Seorang gadis berusia 30 tahun, dengan nama yang sangat Indonesia sekali. Memiliki kulit yang eksotis namun sangat halus dan bersih. Mempunyai sepasang mata yang hitam dengan bulu mata yang lentik. Hidungnya yang sempurna dan tulang pipi yang tinggi, serta bibir yang berwarna pink, mungil membuat gadis itu tidak bosan saat dipandang. Lestari juga memiliki rambut hitam legam dan lurus hingga sebahu, membuat banyak dokter, rekan sejawatnya yang ingin menjadi kekasihnya.


Namun, di usia yang akan menginjak 31 tahun beberapa bulan lagi, Lestari masih betah sendiri. Karena ia masih fokus dengan pendidikan spesialis nya yang sedang ia jalani. Lestari pernah memiliki hubungan dengan beberapa anak dari rekan ayahnya atau beberapa teman sejawat. Hanya saja, hubungan mereka tidak berjalan lancar, karena Lestari begitu menginginkan lelaki yang terlihat acuh, namun romantis. Yang selama ini tidak ia temui pada mantan-mantan kekasih nya. Justru tipe lelaki yang ia mau terlihat ada pada sosok Topan yang baru ia temui pagi ini. Tentu saja ia merasa mulai penasaran dengan sosok Topan itu sendiri.


Jantung Lestari berdegup kencang, saat Topan mengecup telinga Bella di lorong itu. Lestari memejamkan matanya dan menelan salivanya. Ia berandai-andai bila Bella adalah dirinya. Betapa mendebarkan nya apa yang dilakukan Topan pada pasangan nya.


"Ah, aku memikirkan apa?" Gumam Lestari.


"Dok, sudah." Ucap salah satu perawat yang berdiri di belakang Lestari.


"Ah, iya," Lestari memberikan ruang di depan pintu itu, untuk dua perawat itu berjalan mendahului dirinya.


"Dokter lagi ngapain?" Tanya seorang perawat.


"Ti-tidak, saya tidak ngapa-ngapain. Saya sedang menunggu kalian," Ucap Lestari sambil tersenyum ringkas.


Dua perawat itu membalas senyuman Lestari, dan berjalan mendahuluinya. Lalu, Lestari menyusul mereka dan menyempatkan diri menoleh kebelakang. Terlihat Topan berjalan meninggalkan Bella. Terlihat jelas juga dimata Lestari rona merah di pipi Bella yang kembali ke ruangan Berta.


"Bahagia sekali mbak Bella, memiliki kekasih setampan dan seromantis itu," Batin Lestari.


..


Bella menatap Berta yang baru saja selesai menyantap makanannya. Nasi di piring yang di pegang oleh Berta terlihat tinggal sedikit saja. Namun, Berta sudah merasa kenyang. Cukup lumayan untuk Berta yang sejak kemarin enggan untuk menyentuh makanan, hingga wajahnya terlihat sangat pucat dan bibirnya tampak kering. Namun sekarang, Bella dapat tersenyum lebar melihat Berta hampir menghabiskan makanan nya.


"Sudah mam?"


"Sudah, mami kenyang."


Bella meraih piring itu dari tangan Berta. dan menaruhnya di atas meja. Lalu, Bella duduk di tepi ranjang dan menatap Berta yang terlihat sedikit segar. Bella meraih segelas air putih dan memberikannya kepada Berta.

__ADS_1


"Minum mam,"


Berta mengangguk dan meraih gelas tersebut, lalu menghabiskan isi gelas itu dengan sekejap saja.


Bella kembali tersenyum puas dan meraih gelas kosong itu dari tangan Berta.


"Begitu dong, besok kita bertemu dengan daddy. Tadi, Bella juga kesana. Daddy baik-baik saja mam. Dia bertanya tentang mami dan ia juga berpesan kepadaku, kalau mami harus makan yang banyak dan tetap sehat."


Berta tersenyum, namun air matanya mulai mengembang di pelupuk matanya.


"Mam, jangan sedih lagi ya.." Bella meraih tangan Berta yang masih terasa dingin, karena tekanan darahnya yang belum sempurna.


Berta mengangguk dan mencoba tersenyum.


"Aku yakin, Paijo akan menepati janjinya."


Dan hening, saat Bella menyebut nama Paijo. Entah mengapa, nama Paijo adalah kebahagiaan dan juga kesedihan bagi mereka berdua.


"Nama asli anak itu To.. To apa gitu," Tiba-tiba Berta bersuara.


Bella menatap Berta, lalu ia menghela nafas panjang. Ia sendiri pun, tidak mengetahui siapa nama asli lelaki yang baru beberapa hari menjadi kekasihnya itu.


"Lupa mami, To...mi.. ah.. bukan, To... san?.. Kayak nya tidak mungkin Tosan?"


"Tole?" Celetuk Bella. Lalu, dirinya dan Berta tertawa kecil.


"Entahlah, pokoknya ada To, To, nya. Topan atau siapa gitu." Ucap Berta.


Bella terdiam, ia terus menatap Berta dengan tatapan yang sendu.


"Mam," Panggil Bella.


"Ya?"


"Hmmm... apakah mami marah pada dia?" Tanya Bella.


Berta menghela nafas dan menatap Bella yang tampak sangat menunggu jawaban darinya.


"Marah tidak, hanya kecewa. Kecewa pun juga harusnya tidak pantas. Karena, bagaimana pun daddy mu bersalah. Tetapi, melihat dia, mami merasa sedikit trauma," Ucap Berta.

__ADS_1


Bella kembali terdiam saat mendengar pengakuan Berta.


"Apakah kamu menyukai dia?"


Bella terperangah saat tiba-tiba Berta bertanya tentang perasaan nya kepada Topan.


"Hah?"


"Apa kamu menyukai dia Bella? Mami adalah orangtua kamu. Mami dan daddy sempat membahas masalah Paijo dan kamu, saat di Bali."


Bella terlihat salah tingkah dengan ucapan Berta.


"Bella..? Apa benar kamu menyukai dia?" Desak Berta.


Bella kembali menatap Berta dengan seksama. Lalu, ia tersenyum kecil.


"Tidak, aku tidak menyukai dia. Kami hanya dekat, itu saja."


"Dekat sebagai supir dan majikan atau dekat secara personal?" Cerca Berta.


Bella kembali terdiam, ia menundukkan wajahnya yang cantik.


"Kamu malu mengakui bila kamu menyukai seorang supir?" Tanya Berta lagi.


Bella mengangkat wajahnya dan menatap Berta dengan wajah yang merona merah.


"Apa yang kamu rasakan saat ini? Apakah sama dengan apa yang mami rasakan? Tidak membenci, hanya kecewa saja?"


Bella menghela nafas dan mengangguk pelan.


"Sungguh dilema, bila kita merasakan kecewa dengan seseorang, namun kita tidak dapat marah atau membencinya. Paijo adalah orang yang baik, hanya saja... mami tahu, dia juga dilema kepada kita."


"Tau dari mana? Apakah mami tahu dia tulus atau tidak pada kita? Sedangkan dia bisa menjebak daddy?" Tanya Bella.


"Wajahnya Bella, wajahnya mengatakan dirinya dilema. Dia sangat menyayangi kita, tapi satu sisi dia harus menangkap daddy mu. Mami dapat merasakan itu. Tatapan nya sama seperti tatapan daddy mu kepada kita, penuh kasih sayang."


Bella terdiam membisu, ia terus menatap air muka Berta saat membicarakan tentang Topan.


"Biarlah rasa kecewa ini memuai, seiring berjalan nya waktu. Kita lihat kedepannya, apakah dia orang yang mengecewakan atau tidak." Tutup Berta.

__ADS_1


__ADS_2