
Topan berlari di lorong rumah sakit, hingga ia tiba di depan sebuah ruangan yang dijaga beberapa orang ajudan yang berdiri di depan pintu ruangan tersebut. Dengan kasar, Topan membuka pintu ruangan tersebut dan menatap ibu dan kedua adiknya yang sedang menangis di tepi ranjang, tempat Amoroso terbaring lemah disana.
Amoroso menatap Topan yang terlihat sangat khawatir, yang berjalan mendekati dirinya. Entah mengapa, kali ini Amoroso tidak mengalihkan pandangannya dari Topan. Ia terus menatap anak yang ia ragukan itu hingga Topan menghentikan langkah kakinya tepat disamping sisi ranjang sebelah kanan.
"Pak," Sapa Topan seraya meraih tangan Amoroso yang lemah.
Tidak ada kata yang terucap dari bibir Amoroso. Ia terus menatap lelaki muda nan tampan tersebut. Perlahan air matanya mengalir dari sudut matanya yang kuyu.
"Bisakah kalian meninggalkan saya berdua saja dengan Topan?" Pinta Amoroso kepada anak dan istrinya yang berada disana.
Erna, Guntur dan Pinky pun paham, mereka beranjak meninggalkan ruangan tersebut. Kini, diruang itu hanya ada Topan dan Amoroso saja.
Topan menarik kursi hingga ke sisi tepi ranjang, lalu ia pun duduk di kursi tersebut. Matanya tidak lepas dari sosok lelaki yang selama ini terlihat sangat membenci dirinya itu.
"Topan," Panggil Amoroso.
"Ya pak," Sahut Topan.
"Dari mana saja? Semalam kamu tidak pulang."
Topan terdiam, ia menundukkan wajahnya.
"Tahukah kamu? Kalau kamu tidak pulang, saya selalu menunggu kamu. Entah itu diruang tamu, di ruang keluarga, atau di kamar saya."
Topan terkejut mendengar kejujuran Amoroso.
"Itulah, terkadang kamu selalu memergoki saya termenung di ruang tamu atau ruang keluarga saat kamu pulang ke rumah."
"Kalaupun kamu tidak melihat saya, saya menunggu kamu di kamar saya. Setiap kamu pulang, saya mengintip dari celah jendela dan lalu beranjak untuk tidur."
Degggggg!
Topan baru menyadarinya, selama ini ia selalu berpikir bila Amoroso tidak pernah mempedulikan dirinya. Andaikan ia bertemu dengan Amoroso pada malam ia pulang kerumahnya, yang ia tahu Amoroso sudah siap untuk mengajak dirinya berdebat. Maka, ia sudah merasa malas terlebih dahulu kepada Amoroso, tanpa mampu berpikir, lelaki tua itu sedang menunggu dirinya pulang.
"Topan, jauh di lubuk hati saya yang paling dalam, saya tidak pernah membenci kamu. Bila kamu membenci saya karena sikap saya kepada kamu, saya minta maaf."
Topan menelan salivanya, ia tercenung di kursi tersebut.
__ADS_1
"Maaf, bila saya bersikap seperti itu kepadamu. Sehingga, kamu merasa tidak dicintai oleh saya. Tidak dianggap oleh saya. Maafkan saya, saya menyesal."
"Apa pun hasil dari test DNA itu, kamu tetap terlahir dari pernikahan saya dengan ibumu. Apabila kamu anak kandung saya, saya sangat-sangat bodoh dan menyesali perbuatannya kebodohan saya. Kamu benar, saya memang hanya seorang pengecut yang berseragam."
"Dan bila... kamu bukan anak kandung saya....." Amoroso terdiam beberapa saat. Ia menghela nafas panjang dan kembali menatap Topan yang masih terdiam membisu di kursinya.
"Dan bila kamu bukan anak kandung saya, saya akan memaafkan ibumu. Saya sangat mencintai dia. Dan kamu... kamu tetap anak ku, kamu terlahir dalam ikatan pernikahan antara saya dan ibumu. Dari situ sudah jelas kalau kamu adalah anak saya. Dan saya akan berjanji, membantu kamu mencari bapak kandungmu."
Topan menatap Amoroso, kali ini ia melihat sorot mata yang belum pernah sekalipun ia lihat dari lelaki itu. Ya, sorot mata ketulusan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Selamat atas kenaikan pangkat mu. Aku bangga kepadamu. Maaf, aku tidak menghadirinya. Aku sedang menginvestigasi siapa sumber dari gosip miring tersebut. Maaf juga bila membuat kamu malu, aku memang bukan contoh orangtua yang baik. Aku adalah orangtua yang egois."
Tangan Topan gemetar mendengar ungkapan isi hati dari Amoroso.
"Usia ku mungkin sudah tidak lama. Selain faktor umur, riwayat sakit jantung ku pun sangat menggangu ku. Aku tidak mau egois lagi. Aku minta maaf kepadamu. Satu hal yang perlu kamu tahu, aku menyesal karena sikap ku sendiri. Kamu benar, akulah yang menjadi sumber masalah di dalam rumah kita. Bukan kamu Topan. Andaikan saja, aku bukanlah seorang pengecut, mungkin... semua tidak akan menjadi seperti ini. Bagaimanapun, kamu adalah anak ku. Yang tercatat ataupun tidak, kamu adalah anak ku," Amoroso menangis menyesali perbuatannya kepada Topan.
Lelaki berpangkat itu, baru kali ini ia menangis dihadapan Topan. Selama ini, Topan mengenal dirinya sebagai sosok yang keras kepala, angkuh dan tidak terbantahkan. Topan baru menyadari bila Amoroso memiliki sedikit saja sisi kemanusiaan nya, kepada diri Topan.
"Pak..." Topan mengecup punggung tangan Amoroso. Ia menenggelamkan wajahnya di tangan tua yang gemetar itu.
"Saya juga minta maaf, sebagai anak, saya sangat egois. Saya tidak sopan dan tidak menghargai bapak," Ucap Topan.
Topan menangis tersedu-sedu mendengar ucapan Amoroso.
Dua lelaki itu tenggelam dalam penyesalan masing-masing.
_"Tiada hal yang terjadi tanpa ada hikmahnya, bila kita tidak mau menyadarinya."_ De'rini_
.
.
.
.
Lestari yang baru pulang dari rumah sakit, terheran-heran saat melihat banyak anggota yang berdiri di depan pintu rumah nya. Ia melangkahkan kakinya memasuki rumah tersebut. Beberapa orang dengan pakaian jasa pindah rumah terlihat sibuk mengangkat satu persatu kardus dan barang yang di pindahkan kedalam truk yang sudah standby di halaman rumah dinas orangtuanya tersebut.
__ADS_1
Lestari berjalan menuju ke kamar orangtuanya, belum sampai ia di kamar orangtuanya, ia sudah mendengar Agus berteriak kepada Mela.
"Ini semua gara-gara kamu!"
"Aku minta maaf pak.." Terdengar tangisan Mela yang sangat menyesali perbuatannya.
Perlahan, Lestari membuka pintu kamar kedua orangtuanya. Dan mendapatkan pemandangan yang belum pernah ia lihat seumur hidup. Mela berlutut di hadapan Agus yang terduduk lemas di tepi ranjang.
Kedua orangtuanya itu menatap Lestari dengan tatapan yang kosong. Lestari memberanikan diri untuk masuk kedalam kamar tersebut dan mencari tahu apa yang telah terjadi.
"Ada apa?" Tanya Lestari.
"Ayo kita pindah, kita sudah di usir dari sini," Ucap Agus, seraya beranjak dari duduknya, dan kembali membereskan barang yang masih tersisa.
"Maksudnya? Ada apa ini?" Tanya Lestari yang sama sekali tidak tahu kejadian yang telah menyeret Agus ke jurang pemecatan.
"Ayah dipecat gara-gara mulut ibumu!" Ucap Agus dengan nada suara yang terdengar sangat kesal dan menyesali perbuatan Mela.
"Pak, aku minta maaf.." Mela merangkak menghampiri Agus dan memeluk kaki suaminya itu.
"Kau buat malu! Kau aku ceraikan!" Ucap Agus dengan sepenuh emosinya.
Mela dan Lestari terperanjat. Mereka tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Agus.
"Puluhan tahun aku mengabdi, puluhan tahun aku membangun karir! Tapi aku tidak bisa mendidik ucapan istriku sendiri! Aku manusia gagal! Bahkan, hanya tinggal lima tahun lagi saja aku pensiun, disitu juga karir ku kau hancurkan!" Agus menangis, ia tersandar di dinding kamar itu. Hatinya hancur, ia merasa terhina karena dirinya dipecat hanya gara-gara mulut istrinya yang tidak terkendali.
"Pak... aku mohon maafkan aku pak.." Mela terus memeluk kaki Agus. Air mata penyesalan membasahi pipinya.
"Bukankah sebelum menikah denganku, kamu sudah tahu kamu harus apa sebagai istri ku?" Tanya Agus.
"Aku khilaf pak... aku minta maaf."
"Kamu aku ceraikan, aku ceraikan dan aku ceraikan!" Teriak Agus.
Mendengar kata cerai yang terucap sebanyak tiga kali yang diucapkan Agus terakhir kalinya, membuat Mela melepaskan tangan nya dari kaki lelaki yang ia dampingi selama puluhan tahun tersebut.
"Pak...?"
__ADS_1
"Kamu bukan istriku lagi!" Ucap Agus dengan lantang.
Lestari tersender di daun pintu kamar itu, sedangkan Mela terjatuh pingsan dihadapan Agus. Agus pun terduduk lemas di atas lantai rumah dinas yang akan segera ia tinggalkan tersebut.