Masteng

Masteng
21. Bali?


__ADS_3

Bella melihat Topan yang baru keluar dari toilet umum di dekat kantin kampusnya yang hari ini terlihat sepi. Dengan wajah yang kesal, Bella beranjak menghampiri Topan yang tampak sedang mengelap lengan nya yang basah dengan tisu, sambil berjalan menuju ke arah parkiran.


"Masteng! Kemana aja sih lu! Gue nungguin lu dari ta......"


Bella menghentikan ucapan nya saat melihat sudut bibir dan tulang pipi Topan yang tampak membiru.


"Lu kenapa Masteng?" Tanya Bella dengan wajah yang khawatir.


"Gak apa non.. Saya tadi terjatuh di kamar mandi," Ucap Topan, berbohong, sambil terus menunduk kan wajahnya.


Bella mengerutkan keningnya dan memperhatikan luka di sudut bibir Topan.


"Siapa yang mukulin elu? Kasih tahu gue!"


"Ti-tidak ada kok non, saya terjatuh di kamar mandi, beneran." Topan berusaha meyakinkan Bella dengan wajah polosnya.


"Gak usah bohong lu! Itu di sudut bibir bukan luka terjatuh. Itu habis di tonjokin! Bilang sama gue siapa?"


Topan terdiam, ia tidak menyangka Bella begitu cermat dan mau membela dirinya.


"Anu non, sudahlah, tadi ada orang yang tidak saya kenal, meminta uang kepada saya. Sekarang orang nya sudah pergi. Untung saja ada yang membantu saya. Tapi tidak apa-apa non, tidak usah di pikir kan. Lebih baik kita pulang, sudah siang ini kan. Nanti takutnya kanjeng mami menunggu kita," Ucap Topan..


"Beneran lu gak apa-apa?"


"Bener non, saya kan jago berantem non. Pacar non saja saya pelintir tangan nya sampai mau menangis," Ucap Topan sambil tertawa meledek.


Bella mencebikkan bibirnya dan menatap Topan dengan tatapan yang kesal.


"Memang gak bisa di kasih hati lu Masteng! Baru di tanyain, sudah berani menjelekkan pacar gue!"


Topan tertawa geli, dan berjalan perlahan menuju ke arah parkiran.


"Kenyataan nya begitu, mau bagaimana lagi." Celetuk nya.


"Masteng! Tengiiiiikkk!" Bella terlihat gregetan kepada Topan.


Topan tertawa terbahak-bahak dan terus berjalan meninggalkan Bella di belakang nya.


Bella cemberut dan memperhatikan baju lusuh dan kotor milik Topan. Lalu, ia merasa apa yang dikatakan mami nya benar adanya. Topan membutuhkan baju baru untuk di pakai sehari-hari, dan juga seragam supir baru yang sesuai dengan ukuran lelaki itu.


Perlahan, ada perasaan iba di hati Bella kepada Topan. Ia terus menatap punggung lelaki itu hingga mereka sampai di depan mobil milik Bella.


"Silahkan masuk tuan putri," Ucap Topan seraya membukakan pintu mobil tersebut.


Bella ingin tersenyum, tetapi ia merasa gengsi dan terus memasang wajah yang acuh.


Dretttt! Dreettt..!

__ADS_1


Ponsel Bella berbunyi saat ia baru saja masuk kedalam mobilnya. Bella buru-buru meraih ponselnya dari dalam tas tangan nya, dan menatap nama orang yang menghubungi dirinya di layar ponsel miliknya.


"Noel?" Gumam Bella.


Noel adalah teman Bella saat mereka kuliah di kampus yang sama saat Bella menjalankan pendidikan S1 nya. Noel juga menjadi saksi betapa manis nya cinta Bella dengan Frans saat di kampus dulu. Noel sempat menyukai Bella, namun Bella lebih memilih Frans untuk menjadi kekasihnya.


Bukan tanpa alasan, Bella dan Noel sudah lama berteman. Tetapi, rasa di hati Bella tidak kunjung berubah menjadi perasaan cinta. Bella tulus berteman, tanpa melibatkan perasaan sedikitpun. Karena penolakan Bella lah, yang membuat Noel perlahan menjauh dari Bella. Tetapi, mengapa kini Noel menghubungi dirinya? Setelah sekian lama mereka tidak lagi berkomunikasi.


Bella pun menerima panggilan dari Noel, dan menyapa Noel dengan ramah, tanpa mengingat kembali, bila mereka pernah saling tak bicara.


"Halo.." Sapa Bella.


"Hai Bell, apa kabar lu?"


"Baik.."


"Hari ini lu ke Bali juga? Ketemuan yuk.. Gue juga mau ke Bali. Tapi beda pesawat dengan elu. Elu baru mendarat ya? Gue sempat liat lu dan Frans, tadi di gate yang sama. Tapi, lu sudah mau masuk ke pesawat. Jadi, gue gak sempat menyapa kalian."


Deggggg..!


Jantung Bella berdegup kencang, kening nya berkerut dan ia merasa tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Noel.


"Bali? Maksudnya?" Tanya Bella.


"Lu di Bali sekarang kan? Sama Frans. Tadi gue liat elu sama Frans jalan menuju ke pesawat sambil gandengan mesra." Sebenarnya, Noel sudah tahu bila Frans pergi bersama dengan wanita lain. Hanya saja, ia sengaja memberitahukan Bella, agar Bella mengakhiri hubungan nya dengan Frans, lelaki bajingan itu.


"Frans? Bali?" Batin Bella. Ia menelan salivanya dan memegangi dadanya yang terasa sesak.


"Lu jangan bercanda ya Noel!"


"Loh, lu gak percaya? Lu telepon deh si Frans, atau lu samperin ke rumah nya. Kalau ada dia di rumah, berarti gue yang salah lihat," Ucap Noel.


Dada Bella semakin terasa sesak. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang Noel katakan kepada dirinya.


"Ya sudah, makasih infonya," Ucap Bella. Lalu, ia mengakhiri sambungan telepon nya dengan Noel, dan mencoba menghubungi Frans.


Nomor lelaki itu tidak aktif, yang membuat Bella mulai gelisah dan mempercayai ucapan Noel. Lalu, ia mencoba menghubungi sekali lagi, dan masih tidak tersambung. Bella pun semakin gelisah.


"Masteng,"


"Ya non?"


"Kita ke apartemen Frans sekarang!" Perintah Bella.


"Tapi non,"


"Jangan tapi-tapi! Buruan! Ini perintah gue!"

__ADS_1


"I-i-iya..." Ucap Topan seraya memutar tujuan nya.


...


"Mengapa kamu mempertahankan aku?" Tanya Berta, saat dirinya dan Pongki berada di dalam mobil yang membawa mereka kembali pulang ke kediaman mereka.


"Karena aku benar-benar mencintai kamu."


Dengan mata yang berkaca-kaca, Berta menatap Pongki. Terlihat jelas hati yang belum sembuh. Perasaan yang tidak puas dengan jawaban Pongki dan kekecewaan di sorot mata Berta.


"Berta, jangan ceraikan aku. Apa pun akan aku lakukan untuk menebus segala kesalahan yang pernah ku buat," Ucap Pongki.


Berta membuang pandangannya ke luar jendela mobil dan mulai mengusap air matanya yang kembali terjatuh membasahi pipinya.


"Menebus kesalahan? Kamu berjanji akan melakukan apa saja?" Tanya Berta.


"Ya, aku bersumpah," Ucap Pongki.


"Kalau begitu, ceraikan aku. Sebagai penebus kesalahan mu kepada ku," Ucap Berta.


Pongki terdiam, ia menghela nafas panjang dan tertunduk lesu di samping Berta.


"Tidak, aku akan melakukan apa pun, kecuali menceraikan kamu." Tegas Pongki.


Berta terdiam, ia merasa lelah dengan apa yang di katakan Pongki kepada dirinya.


"Berta..."


"Cukup Pongki! Kalau kamu tidak mau menceraikan aku, aku yang akan menceraikan kamu. Aku punya bukti perselingkuhan kamu. Pengadilan pasti akan menyetujui permohonan ku," Ucap Berta.


Pongki kehabisan kata-kata. Ia kini terdiam dan terus menyesali kebodohannya.


Mobil mereka pun tiba di halaman rumah yang dulu penuh dengan cinta mereka berdua. Dengan acuh, Berta beranjak turun dari mobil tersebut dan melangkah masuk kedalam rumah.


"Berta.." Pongki menyusul Berta ke dalam rumah mereka.


Berta terus melangkah menuju ke kamarnya.


"Berta, bagaimana bisa aku melanjutkan hidup tanpa kamu? Aku memang bodoh dan tidak termaafkan. Tetapi, mencintai kamu, bukan lah kebohongan. Aku tidak pernah berbohong dalam hal itu. Termasuk hari ini, aku tidak pernah berhenti mencintai kamu. Entah jadi apa aku tanpa kamu Berta!"


Langkah Berta terhenti, saat mendengar ucapan dari bibir Pongki.


Sebenarnya, perasaan nya pun sama dengan Pongki. Ia tidak pernah bisa membenci atau berhenti mencintai Pongki. Hanya saja, luka itu sudah tertancap begitu dalam di hati Berta.


Berta mengusap wajahnya yang di banjiri air mata. Lalu, ia mencoba untuk mengabaikan ucapan Pongki, dan beranjak masuk kedalam kamar nya.


Brakkkkk!

__ADS_1


Berta membanting pintu kamarnya.


Sedangkan Pongki, ia terdiam mematung di ruang keluarga yang tidak sehangat dulu lagi.


__ADS_2