
"Jo, selama Bella tidak di Jakarta, kamu kan menganggur."
"Iya pak boss," Sahut Topan seraya mengunyah lontong sayur yang baru saja ia sendok kan ke dalam mulutnya.
"Saya juga bingung mau ngapain, tidak ada nyonya," Keluh Pongki.
"Ya disusul saja toh pak.." Ucap Topan.
Pongki tampak berpikir, lalu ia menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana jika dia masih marah kepada saya. Pasti disana saya bakal di acuhkan sama dia." Pongki mengerutkan dagunya.
"Lagipula, hari ini Anna pulang ke Desa nya." Sambung nya lagi.
"Oh....." Topan hanya mengangguk kan kepalanya.
"Kecuali, kamu mau menemani saya di Bali. Jadi, saya tidak kesepian kalau saya di cuekin sama istri saya."
Topan membulatkan matanya, ia hampir saja tersedak mendengar ucapan Pongki.
"Pak, bapak tidak ke kantor gitu atau ke bisnis bapak lainnya?" Tanya Topan. Ia sangat berharap bila Pongki segera ke pabrik tempat membuat barang haram, yang menjadi incaran Topan dan kawan-kawan nya.
Pongki menggelengkan kepalanya dan terlihat murung.
"Kenapa pak?" Tanya Topan, ia berpura-pura tidak tahu dengan apa yang sedang dipikirkan Pongki.
Pongki yang baru saja selesai makan, mendorong piring nya dan meraih gelas yang berisi teh manis hangat yang tadi ia pesan kepada pemilik warung makan tersebut. Lalu, ia meneguk teh hangat tersebut hingga tak tersisa.
Pongki menghela nafas panjang dan meraih bungkus rokok miliknya dan mengeluarkan sebatang rokok di antaranya dan membakarnya dengan perlahan.
"Saya mau pensiun saja," Ucap nya.
"Jangan pak!" Cegah Topan dengan spontan.
Pongki menatap Topan dengan seksama, lalu ia mengerutkan keningnya.
"Kenapa?" Tanya Pongki penasaran.
Topan pun agak salah tingkah, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan tersenyum canggung.
"Bu-bukan apa-apa pak, nanti kalau pak boss pensiun, saya siapa yang gaji," Ucap Topan dengan alasan nya yang dibuat tampak selugu mungkin.
"Alahhhh..." Pongki terkekeh mendengar alasan Topan yang begitu menggelitik.
"Serius pak boss, saya kan belum ada sebulan bekerja dengan pak boss. Masa saya harus di berhentikan, setelah pak boss pensiun?"
"Bukan begitu Jo.... Walaupun saya pensiun, kamu ya tetap bekerja bersama dengan Bella. Bella kan juga membutuhkan kamu."
Topan tercekat, ia menatap Pongki dengan seksama. Lalu, ia tersenyum dan mengangguk paham.
"Jadi, yang menggaji kamu ya Bella," sambung Pongki.
"Ohhh.... tapi kan, non Bella tidak menyukai saya pak boss. Jadi, ada kemungkinan saya akan di pecat."
Pongki kembali tertawa mendengar ucapan Topan.
"Joooo... Jo... kamu itu lucu sekali." Pongki menepuk pundak Topan dan beranjak dari duduk nya.
"Cepat selesaikan makan mu, kita pulang sebentar lagi," Ucap Pongki.
Topan hanya mengangguk dan kembali menyantap lontong sayur milik nya.
...
"Selamat pagi," Sapa Noel saat Berta dan Bella sedang menikmati sarapan mereka di restoran hotel.
Berta tersenyum menatap Noel, sedangkan Bella terlihat mengerutkan dahinya dan menatap Noel dengan seksama.
"Hai Noel, selamat pagi," Sapa Berta.
"Pagi tante, pagi Bella," Sahut Noel, sambil melirik Bella.
__ADS_1
"Pagi," Sahut Bella dengan ekspresi wajah yang datar.
"Bagiamana keadaan mu pagi ini Bella?" Tanya Noel yang mencoba memberikan perhatian lebih kepada Bella.
"Baik," Sahut Bella tanpa menoleh kepada Noel.
"Sini duduk, bergabung dengan kami," Ucap Berta, yang mempersilahkan Noel untuk duduk di sampingnya.
"Ah, iya tante." Sahut Noel, yang langsung beranjak duduk di samping Berta. Matanya terus menatap Bella yang terlihat tak acuh kepada dirinya.
"Bella, kita jalan-jalan yuk,"
Bella menatap Noel, yang mencoba untuk mengajak nya jalan.
"Malas," Sahut Bella.
"Apaan sih, gak tepat momen banget nih orang. Sudah jelas gue lagi patah hati. Lagi alergi dengan lelaki. Hahhhh!" Batin Bella.
"Kalau begitu, kita belanja?" Ucap Noel lagi.
"Malas," Sahut Bella lagi.
"Ke pantai?"
"Sudahlah Noel, lu bikin gue gak mood makan!" Bentak Bella.
Noel dan Berta terdiam.
Bella pun beranjak dari duduk nya dan berjalan meninggalkan restoran hotel tersebut.
"Bella..!" Panggil Berta.
Bella tak mempedulikan panggilan Berta. Ia terus melangkah menuju ke lift.
Noel terlihat merasa bersalah, sedang Berta juga merasa tidak enak dengan Noel. Ia mencoba tersenyum kepada Noel, untuk mencairkan suasana diantara mereka.
"Maafkan Bella ya Noel," Ucap Berta.
"Yah begitulah," Sahut Berta.
"Ya sudah kalau begitu tante, saya mengganggu. Lebih baik, saya kembali ke hotel saya, tante." Noel beranjak dari duduknya dan berpamitan dengan Berta.
"Loh, kok buru-buru?"
"Tidak apa-apa tante, saya juga ada janji dengan teman," Ucap Noel.
"Oh, baiklah kalau begitu. Hati-hati ya Noel,"
"Iya tante, terima kasih," Noel pun beranjak pergi meninggalkan Berta yang masih betah duduk di restoran hotel tersebut.
"Hhhhhh... Mengajak Bella, di tolak, dan sekarang dia bilang ada janji dengan teman nya. Kapan janjian nya? Lelaki itu, semua penuh trik dan intrik." Gumam Berta seraya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
....
"Stttt...!"
Antok memanggil Suprapto yang sedang asik mencabuti bulu hidungnya, sambil bersandar di mobil van mereka.
Suprapto menoleh dan mengangkat kedua alisnya.
"Tuh," Antok menunjuk ke arah kanan nya dengan bibirnya.
Suprapto menoleh dan melihat Topan dan Pongki yang sedang berjalan santai, yang berniat kembali pulang ke rumah Pongki.
Suprapto melangkah dan beranjak duduk di samping Antok.
"Permisi bang," Ucap Topan sambil tersenyum, kala dirinya dan Pongki sedang melintas di depan mereka.
"Mariii..." Sahut Antok dan Suprapto sambil tersenyum dan mengangguk ramah.
Terlihat Pongki juga membalas senyuman mereka.
__ADS_1
"Ah.. rasanya ingin sekali aku karungi itu si Pongki. Lalu, memasukan dia kedalam Van dan membawa dia ke ruang BAP," Ucap Suprapto.
"Hahaha, sabar bang..." Anto tertawa mendengar ucapan Suprapto.
"Kalau tidak ada aturan hukum, dan yang berlaku hanya hukum rimba, sudah ku seret dia," Ucap Suprapto lagi.
Antok menggelengkan kepalanya, lalu ia menatap punggung Topan dan Pongki yang sedang melangkah menjauhi mereka.
"Kalau aku lihat-lihat, Pongki ini orang baik. Tetapi, mengapa dia begitu ya bang?"
"Alah, mana ada orang baik yang mau bangsanya sendiri hancur. Ini menyangkut generasi muda! Orang macam apa itu!" Ucap Suprapto dengan wajah yang terlihat emosi.
"Iya sih, itu kan hanya jalan nya saja bang. Tetapi, melihat sikap nya sih baik."
"Justru orang begitu yang tidak bisa dipercaya, kau tahu itu Antok? Serigala berbulu bebek namanya itu!"
"Domba bang," Ucap Antok sambil bersungut-sungut.
"Sekarang sudah jadi bebek, domba susah di cari!"
"Gak bisa begitu bang, itu namanya menistakan pribahasa,"
"Eh, suka-suka aku lah!"
"Gak bisa begitu dong bang," Antok mencoba mempertahankan prinsip nya.
"Bisa kalau aku yang ngomong."
"Gak bisa bang, pribahasa tetap pribahasa. Sama seperti harga mati untuk melindungi generasi muda."
"Ah, terserah kamu saja lah Tok! Lama-lama kamu yang mau aku karungi!"
"Kok gitu bang?"
"Buat kesal kamu itu!"
Antok tertawa geli melihat ekspresi wajah Suprapto yang terlihat kesal.
Antok kembali menatap Topan dan Pongki yang tampak memasuki gerbang rumah yang tinggi tersebut. Terlihat jelas dimata Antok, keakraban luar biasa antara Topan dan Pongki.
"Ku rasa, Topan ini terbawa perasaan saat bertugas kali ini. Dimata ku, tampaknya dia bukan sedang mendalami peran. Terlihat jelas ketulusan nya saat memperlakukan Pongki," Ujar Antok.
"Jadi mau kamu gimana? Dia bertingkah menyebalkan gitu sama si Pongki? Gila ya kamu! Kalau dia bersikap kasar dan kurang ajar, ya sudah di pecat dia itu!"
"Bukan bang, ah.. gimana ya bilang nya." Antok menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kenapa?" Desak Suprapto.
"Kemarin, si Jajat ada cerita sama saya. Dia bilang kayaknya, di Topan itu suka sama anak nya Pongki," Jelas Antok.
Suprapto membulatkan matanya dan menatap Antok dengan tatapan tak percaya.
"Serius?"
"Baru kata si Jajat bang. Benar atau tidak sih... yah.. bisa di lihat dari Topan nya sendiri."
"Kamprettttt memang si Topan! Jadi, dia sengaja berlama-lama dengan misi ini karena wanita?"
"Ya bukan begitu bang, namanya dia menyamar, ya butuh waktu lah."
"Tapi itu...."
"Ya masalah anak si Pongki, ya biarkan saja lah bang. Barangkali, Pongki jadi mertua si Topan."
Jegeerrrrrr..!
Guntur menggelegar di langit mendung pada hari ini.
"Mamp*s... ucapan kamu diaminkan sama gledek!" Ucap Suprapto sambil bergidik dan masuk kedalam mobil van nya.
Antok menatap langit, lalu ia menatap gerbang rumah Pongki.
__ADS_1
"Maaf ya Pan, kalau sempat kamu jadi menantu Pongki. Aku gak bisa main kerumah mu. Karena merasa gak enak dengan istri mu, karena aku yang menangkap mertuamu," Ucap Antok, lalu ia menyusul Suprapto masuk kedalam mobil van tersebut.