Masteng

Masteng
67. Kesampingkan hati


__ADS_3

Berta terdiam membisu, saat mendengar cerita Pongki tentang Topan. Tubuhnya dan bibirnya gemetar, tangan nya terus meremas satu dengan lain nya. Gelisah terlihat tidak dapat ia sembunyikan dari wajahnya yang cantik, walaupun sudah memasuki usia senja.


"A-apa informasi itu valid?" Tanya Berta yang masih belum ingin percaya bila ternyata Topan adalah orang yang akan siap memenjarakan suaminya.


"Iya, aku sudah membaca tentang biodatanya yang dikirim oleh orang yang terpercaya."


Berta kembali terpaku, tubuhnya terasa lemas, dada nya terasa sesak. Ia tidak menyangka bila Topan, supir kesayangan nya itu ternyata hanya berpura-pura polos dihadapan nya.


"Berta," Pongki meraih kedua bahu Berta dan menatap istrinya itu.


"Aku tidak ingin dipenjara. Aku tahu aku salah dan pengecut. Itu juga yang membuat aku pergi meninggalkan kamu dan bertemu dengan Anna. Aku tahu, aku salah telah memilih jalan yang tidak baik. Aku tahu, aku sangat pantas di hukum. Tetapi, aku tidak sanggup menjalani hari-hari ku di tahanan Berta. Aku takut, aku akan mati membusuk dipenjara. Impian ku di masa tua, dari pertama menikahi kamu hingga detik ini, masih sama. Aku ingin bahagia bersamamu dan mati di perlukan mu."


Berta menatap kedua mata Pongki yang menahan air mata.


"Berta, ayo... pergilah bersama dengan ku. Aku sudah menyuruh asisten ku untuk mengurus semua keperluan kita untuk berangkat dan tinggal di luar negeri. Aku memilih untuk tinggal di Spanyol saja dengan mu. Masalah pabrik itu, aku tidak lagi peduli. Biarlah... Bila polisi datang dan menyita semuanya.. aku benar-benar tidak peduli. Yang penting, kita pergi dan tinggal disana sampai kita mati."


Air mata menetes di pipi Pongki. Begitupun dengan Berta, ia terisak mendengar rencana Pongki untuk menghindari hukum yang sedang menghantui dirinya.


"Aku akan menghubungi seseorang untuk membakar saja pabrik itu. Lalu, kita tidak punya bukti. Aku benar-benar ingin menyudahi semua ini Berta. Aku sudah insaf. Aku tidak peduli semuanya. Aku hanya ingin kamu," Pongki memeluk Berta dengan erat, di tepi ranjang kamar hotel mereka.


"Apa Paijo sudah mendapatkan bukti-buktinya?" Tanya Berta dengan suara yang tercekat.


"Aku rasa belum, dia baru bekerja belum dua minggu dengan kita. Dia belum melakukan apa pun. Jadi, masih ada waktu untuk kita pergi. Aku mohon, bersikap lah biasa saja dengan nya. Biar dia tidak merasa curiga. Setelah kita pulang dari Bali, kita biarkan Bella pulang ke rumah, sedangkan kita akan menginap di apartemen kita di dekat Bandara itu. Setelah semuanya beres, kita akan melarikan diri bersama. Dengan seperti itu, misi Paijo akan gagal. Tidak ada bukti dan pabrik itu akan di bakar oleh orang suruhan ku. Maka, tidak ada jejak lagi yang aku tinggalkan. Setelah beberapa tahun, kita baru bisa kembali ke Indonesia. Apa kamu percaya dengan ku?"


Berta menatap Pongki dengan wajah yang tampak pucat. Satu sisi, dirinya sadar bila suaminya itu bersalah. Satu sisi lagi, ia merasa tidak rela bila Pongki harus di tahan dan mendapatkan ancaman hukuman seumur hidup di bui. Seketika, impian masa tua bersama dengan Pongki terasa begitu jauh. Kemungkinan-kemungkinan terburuk mulai menghantui silih berganti.


"Besok pagi kita pulang ke Jakarta. Tolong, bersikaplah biasa saja dengan Paijo. Biar semua aku yang atur. Kamu tenang saja, aku tidak akan bisa di tangkap semudah itu." Pongki mencoba meyakinkan Berta, agar istrinya itu tidak merasa khawatir.


"Bagaimana dengan Bella? Sebentar lagi dia akan wisuda. Apa kita tidak menghadiri wisudanya? Bagaimana hidupnya? Apa kita harus membiarkan dia untuk hidup sendiri di sini? Aku tidak tega dengan Bella," Ucap Berta di iringi isak tangis yang semakin menjadi.


Pongki terdiam. Minggu depan, Bella akan segera di wisuda. Bella juga tidak terbiasa hidup jauh dari kedua orangtuanya. Bella adalah anak yang manja dan selalu membutuhkan dirinya dan Berta.


Pongki menghela nafas panjang. Lalu ia tertunduk gelisah.


"Bella sudah dewasa, Berta.... dia pasti bisa hidup tanpa kita. Dia pasti bisa... yakinlah..."


Berta menatap Pongki dengan seksama.


"Apa Bella kita suruh menyusul saja setelah dia wisuda?"


Pongki menatap Berta, dan tampak berpikir sejenak dengan apa yang dikatakan Berta.


"Boleh, kita harus menghilang secepatnya. Masalah bisnis yang lain nya, aku akan serahkan dengan orang-orang kepercayaan ku," Tutup Pongki.


Berta tersenyum dengan mata yang basah karena air mata. Lalu, dirinya dan Pongki kembali berpelukan. Pelukan yang erat, pelukan yang saling menguatkan.

__ADS_1


..


Suara riak air di tepi pantai dan cahaya redup dari penerangan di jalan setapak yang tak jauh dari bibir pantai, menambah keromantisan suasana. Topan dan Bella berjalan berdampingan dengan tangan yang saling menggenggam. Senyum terus mengembang di bibir Bella. Sedangkan Topan, lelaki itu tampak memiliki sesuatu yang sedang ia pikirkan.


Bella menatap Topan dan mengerutkan keningnya.


"Jo... Kamu kenapa? Lagi mikirin apa?" Tanya Bella dengan ekspresi wajah yang tampak khawatir.


"Ah, enggak.." Sahut Topan, sambil berusaha untuk tersenyum kepada Bella.


"Beneran?" Tanya Bella lagi.


"Iya," Topan mengusap pipi Bella dan mengulum senyumnya yang ia berikan untuk gadis pujaan nya itu.


"Kita ngopi disana saja yuk," Topan menunjuk sebuah cafe yang berada di tepi pantai itu.


"Oke.." Sahut Bella dengan mata yang berbinar-binar.


"Kamu duluan saja kesana, aku mau ke toilet," Ucap Topan.


"Oh, ok.." Bella mengangguk dan berjalan. terlebih dahulu ke arah cafe tersebut. Sedangkan Topan, melangkah menuju ke toilet umum yang berada di sekitar pantai tersebut.


Topan memasuki toilet umum itu, setelah ia memastikan keadaan aman, ia pun mencoba menghubungi Antok dan Suprapto dengan mode panggilan bersama. Tidak perlu menunggu lama, kedua rekan nya itu langsung menerima panggilan dari dirinya.


"Halo bang, ada yang aneh malam ini."


"Apa?" Tanya Suprapto.


"Sikap Pongki berubah drastis. Aku mencurigai dia, apa jangan-jangan.."


"Cek cek, kijang satu... Kijang satu..!" Terdengar panggilan dari Handy talky milik Antok.


"Sebentar," Potong Antok.


Suprapto dan Topan menunggu Antok yang akan menjawab panggilan dari alat komunikasi dengan sesama rekan miliknya itu.


"Kijang satu disini, ada apa tikus buduk?" Sahut Antok.


"Ponsel kenapa susah dihubungi?" Tanya suara dari ujung sana.


"Sedang dalam panggilan dengan Topan dan bang Suprapto." Terang Antok.


"Lapor, ada kegiatan di nomor ponsel rahasia Pongki."


Topan mengerutkan keningnya saat mendengar laporan dari Handy talky milik Antok, yang dapat ia dengar dengan jelas percakapan itu melalui ponselnya.

__ADS_1


"Kegiatan apa?" Tanya Antok.


"Tersangka tampaknya akan melarikan diri keluar negeri."


"Tersangka juga berencana akan membakar pabriknya, setelah melarikan diri."


Sebelumnya, nomor ponsel rahasia milik Pongki sudah di sadap oleh ahlinya. Semua itu berkat Topan yang sempat mencuri sementara ponsel milik Pongki yang tertinggal di dalam koper.


"Apa!"


Antok, Suprapto dan Topan tampak terkejut mendengar laporan itu.


"Terima kasih laporan nya," Ucap Antok.


"Gimana bang?" Tanya Antok yang kembali berbicara dengan Suprapto.


"Apa yang kamu lakukan Topan? Apa ada kesalahan? Tampak nya, Pongki mengetahui siapa dirimu!" Bentak Suprapto yang terdengar sangat panik.


"A-aku tidak melakukan kesalahan," Ucap Topan.


"Tidak mungkin! Tidak ada pilihan lain. Operasi akan di percepat. Kita akan ciduk dia di bandara saat mendarat!" Tegas Suprapto.


"Antok! Siapkan team untuk besok pagi. Jangan lupa, lapor juga dengan polisi Bandara." Perintah Suprapto.


"Masalah ini akan aku laporkan ke komandan. Kau Topan, tempel target terus! Jangan pacaran saja kerja kau! Ingat pekerjaan kau! Gara-gara kau lengah, kau ketahuan! Bukan masalah apa-apa, aku khawatir dengan kau! Ini menyangkut keselamatan kau juga.. Bagaimana bila kau terus lengah dan kau ternyata juga di jebak oleh Pongki dan di bunuh! Apa kau kira kami baik-baik saja!" Suprapto benar-benar berkata keras dengan Topan, sehingga Topan todak bisa berkata apa-apa. Ia hanya diam dan menerima segala ucapan yang dilontarkan oleh Suprapto.


"Kesampingkan hati, ini tugas negara. Jangan main perasaan saat bertugas. Itu membuat mu lalai!"


"I-i-iya bang," Sahut Topan dengan suara yang nyaris tak terdengar.


"Go! Go! Go! Kita meeting malam ini juga! Untung aku sudah berada di Jakarta. Kalau tidak... Arghhhh...!" Suprapto langsung mematikan sambungan telepon nya.


Kini tinggallah Antok dan Topan saja yang masih tersambung dalam panggilan tersebut.


"Bro... kita disumpah untuk setia dengan negara. Kuta disumpah untuk jujur dan bekerja sepenuh hati. Jangan pernah lupakan itu. Ibu Pertiwi, bagaikan Ibu kandung kita. Yang siap kita bela sampai mati. Masyarakat dan generasi muda, bagaikan saudara kandung kita. Yang siap kita lindungi demi keselamatan bangsa sendiri. Aku gak mau menyalahkan kamu. Hanya saja, aku minta, jangan lupakan itu,"


Topan terdiam, ia menyenderkan punggungnya di dinding toilet umum itu.


"Bro, aku percaya, kau orang hebat. Bekerja lah dengan baik. Sampai jumpa di Jakarta." Tutup Antok.


Tut.... Tut... Tut.... Tut....!


Topan memejamkan kedua matanya. Lalu, ia tertunduk lesu.


"Maafkan aku pak Pongki, bu Berta, Bella. Aku lebih mencintai negara dan generasi muda ku sendiri." Gumam Topan.

__ADS_1


__ADS_2