Masteng

Masteng
73. Maafkan saya


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Bella sudah berada di kantor polisi, untuk bertemu dengan Pongki yang masih ditahan disana. Baru saja Bella sampai di halaman kantor tersebut, puluhan wartawan menyambut dirinya dengan banyaknya kamera yang menyoroti wajahnya. Bella tampak bingung dan terlihat canggung. Baru kali ini wartawan sebanyak itu mengelilingi dirinya.


"Mbak, apa benar mbak putri dari pengusaha yang bernama bapak Pongki?"


"Mbak, apakah sudah terbukti kalau bapak Pongki memproduksi obat-obatan terlarang?"


"Mbak...! Sebentar saja mbak, apa benar bapak Pongki sudah lama menjalani bisnis ilegal ini?"


Bella dan team pengacara nya pun merasa terdesak di tengah-tengah wartawan yang mengelilingi mereka.


"No comment, sorry.." Bella mengangkat kedua tangan nya dan mencoba menerobos para wartawan tersebut.


Tetapi, tampaknya wartawan tidak akan merasa puas. Mereka mencoba terus mendesak Bella untuk menjawab pertanyaan mereka. Hingga akhirnya, Bella benar-benar merasa terdesak dan hampir terantuk kamera milik salah satu wartawan.


"Hei..! Sudah, nanti akan ada pernyataan resmi dari kami!" Bentak Antok yang sedang berlari menghampiri Bella yang berada di tengah kerumunan tersebut.


"Ayo mbak, ikuti saya," Ucap Antok. Antok, dibantu dengan beberapa petugas mencoba membentengi antara Bella dan kerumunan wartawan tersebut. Hingga akhirnya Bella bisa masuk kedalam kantor polisi itu dengan tenang dan nyaman.


"Terima kasih pak," Ucap Bella kepada Antok.


"Sama-sama," Sahut Antok.


"Ehh... pantas saja si Topan klepek-klepek sama cewek ini. Rupanya cantik sekali kalau dilihat dari dekat. Entah makan apa si Pongki, bisa mengeluarkan bibit unggul seperti ini. Mulus kayak body mobil Lamborghini. Body kayak artis Korea. Rambut hitam legam, lurus dan panjang kayak kuntilanak. Eh, bukan... kayak iklan shampo lain. Mantap betul..!" Batin Antok sambil memperhatikan Bella secara keseluruhan.


"Maaf pak... daddy saya dimana ya?" Pertanyaan Bella membuyarkan lamunan Antok.


"Ah... ada di ruang BAP."


"Hah? Dari kemarin kah? Apa kalian tidak membiarkan daddy saya beristirahat?" Tanya Bella.


"Ya tidak begitu mbak. Daddy mbak, kemarin di BAP sampai pukul sepuluh malam. Setelah itu ya masuk ruangan untuk beristirahat. Nah, mulai pukul delapan tadi, di BAP lagi mbak," Terang Antok.


"Oh.." Bella yang sempat terlihat kesal pun, beranjak ke ruang BAP.


"Jutek juga itu cewek. Kalau bukan pacar si Topan, sudah ku cium dia!" Batin Antok, sambil beranjak ke depan kantor lagi, untuk meminta wartawan yang menutupi jalan masuk kantor tersebut, untuk berpindah tempat kearah kantin kantor polisi itu.


"Adik-adik sekalian, mohon bergeser ke arah sana ya. Jangan sampai menutupi jalan," Pinta Antok.


"Siap pak!" Sahut para wartawan yang masih setia untuk menunggu berita besar pada tahun ini.


Ya, berita besar. Pongki cukup terkenal di negeri ini, sebagai salah satu pengusaha yang masuk dalam kategori orang terkaya di negeri ini. Bella pun juga sebenarnya ada beberapa kali terlihat di layar kaca. Sebagai anak pengusaha kaya raya yang memiliki kecantikan yang luar biasa, kehidupan nya kerap menjadi konsumsi publik. Itulah mengapa, Bella selalu di antar memakai supir dan juga bertugas untuk menjadi bodyguard nya kemanapun ia pergi.


"Dad..!" Bella berlari menghampiri Pongki yang sedang sarapan di ruang BAP.


"Bella!" Pongki menyambut Bella dengan pelukan nya dan memeluk Bella dengan erat.

__ADS_1


"Apa kabar daddy? Apakah daddy baik-baik saja?"


"Daddy baik-baik saja. Bagaimana kabar mami mu?" Tanya Pongki dengan ekspresi wajah yang tampak khawatir.


"Mami masih dirawat dad," Air mata pun berlinang di pipi Bella yang mulus.


"Apa kata dokter?" Wajah Pongki terlihat lebih khawatir daripada sebelumnya.


"Daddy tidak usah khawatir. Yang terpenting saat ini, bagaimana caranya daddy bisa bersatu lagi dengan mami," Ucap Bella.


Pongki terdiam membisu. Bersatu? Apakah mungkin? Sedangkan dirinya tahu, bila ada kemungkinan dia akan mendapatkan hukuman mati dengan apa yang telah ia perbuat selama ini. Atau minimal, dikurung di dalam penjara selama seumur hidupnya. Mau usia berapa Pongki akan keluar dari penjara, bila ia terpaksa harus menjalani hukuman seumur hidup? Sudah dipastikan dirinya pun akan mati di penjara.


"Dad, aku dan pengacara akan berusaha semaksimal mungkin." Bella mencoba memastikan keadaan akan baik-baik saja kepada Pongki. Walaupun ia tahu, keadaan tidak akan baik-baik saja.


Pongki tersenyum tipis, lalu ia mengangguk paham.


"Bella,"


"Ya dad?"


"Sebelumnya, daddy mau minta maaf kepada kamu. Daddy sangat bersalah kepadamu. Dan..... daddy juga minta maaf, bila daddy tidak bisa menghadiri wisuda S2 mu. Daddy juga ingin menitipkan mami mu kepadamu. Jaga dia baik-baik selama tidak ada daddy di sisinya. Katakan padanya, bila dirinya harus kuat. Karena, daddy sangat mencintai dirinya. Dia akan selalu daddy doakan disiang dan malam daddy."


Air mata di pipi Bella semakin deras tak terkendali. Ia pun terisak mendengar ucapan Pongki yang terasa seperti sembilu dihatinya.


"Iya dad," Sahut nya.


Topan menghemat langkahnya tepat di depan ruang rawat inap Berta. Dengan wajah gelisah, ia tampak terdiam di depan pintu ruangan itu. Antara ingin masuk dan merasa enggan. Namun pada akhirnya, ia memutuskan untuk menghadapi saja kenyataan yang mungkin akan sangat berat baginya.


Srekk..!


Topan menggeser pintu ruangan itu, hingga ruangan itu dapat ia masuki. Lalu, ia melangkah masuk dan mendekat kearah ranjang Berta.


Terlihat Berta dengan wajah sembab nya menoleh dan menatap dirinya dengan tatapan yang dingin.


"Assalamualaikum," Sapa Topan.


Berta bergeming, lalu wanita paruh baya itu membuang pandangannya kearah jendela ruangan tersebut.


"Saya kesini..."


"Aku tidak ingin berbicara kepadamu." Tegas Berta.


Topan terdiam, terasa sesak di dadanya.


"Mengapa kau lakukan kepada kami yang telah menyayangi kamu? Entah siapa nama aslimu, pergilah," Ucap Berta.

__ADS_1


"Bu..."


"Cukup!" Berta menatap Topan dengan tatapan yang penuh derita di hatinya.


Topan tertunduk pilu. Lalu, ia bergegas mendekati Berta.


"Jangan dekati saya!" Ucap Berta seraya mengangkat sebelah tangan nya.


"Sebelumnya, saya minta maaf. Saya hanya menjalankan tugas saya sebagai putra negara. Satu hal yang ingin saya katakan kepada ibu, bila ada hal yang tidak memberatkan bapak Pongki, mungkin saya masih bisa menyelamatkan nya. Karena saya sangat menyayangi bapak dan ibu.... Tetapi, apa yang dilakukan bapak...."


"Cukup...!" Dengan bibir dan suara yang bergetar, serta tatapan yang tajam, Berta menatap Topan dengan penuh rasa kecewa.


"Kalau kamu benar menyayangi kami, harusnya dari awal kamu bilang siapa kamu sebenarnya."


"Tetapi, tidak begitu dasarnya bu..."


"Kamu sudah saya anggap sebagai anak saya sendiri. Jangankan saya, bahkan Pongki pun sangat menyayangi kamu. Tetapi apa balasan mu?"


Topan terdiam, ia merasa ini bukanlah waktu yang tepat untuk berbicara kepada Berta yang masih merasa terguncang jiwanya.


"Bu, saya menyayangi ibu dan keluarga, itu bukan berpura-pura. Lagipula, perasaan sayang itu tumbuh seiring waktu berjalan. Hanya saja, saya bisa apa? Saya sudah di sumpah untuk negeri ini."


"Bisakah kamu pergi saja?" Tanya Berta dengan air mata yang tampak berlinang di pipinya.


Topan menghela nafas panjang dan mengangguk paham.


"Bu, cepat sehat. Bapak mengatakan kepada saya, bila saya harus selalu menjaga ibu dan Bella," Ucap Topan.


Dan hening....


Tak lama kemudian, Topan pun melangkah untuk meninggalkan ruangan tersebut.


"Siapa namamu? Topan?"


Topan menghentikan langkahnya dan terdiam.


"Kamu tahu, Pongki sudah berniat untuk tidak menyentuh bisnis haram nya itu. Dia ingin bertaubat. Dia berjanji, setelah pulang dari Bali, ia akan pergi dengan saya ke Spanyol dan menghabiskan masa tua kami disana. Tapi impian kami hancur seketika, karena dia harus kalian tangkap. Mengapa begini sekali nasib cinta kami..? Selalu ada cobaan.." Ucap Berta di sela tangisannya.


Topan kembali melangkah mendekati Berta. Lalu, ia menatap Berta dengan tatapan yang sendu.


"Bu, saya minta maaf," Ucap Topan sambil menggenggam tangan Berta.


Berta menatap Topan dengan perasaan yang hancur.


"Saya tahu, ini semua bukan sepenuhnya salah mu. Tetapi, untuk saat ini, saya belum bisa menerima semuanya."

__ADS_1


Topan menghela nafas panjang dan mengangguk paham.


"Baiklah, kalau begitu. Selamat beristirahat bu." Ucap Topan dengan hati yang ikut merasa hancur. Lalu, ia melangkah keluar dari ruangan tersebut dan meninggalkan Berta yang larut dengan kesediahannya.


__ADS_2