
Hidangan makan malam lumayan terlihat lebih banyak dari pada biasanya. Di atas meja, terlihat berbagai macam lauk pauk yang sudah di masak oleh Berta yang dibantu oleh Ijah, asisten rumah tangga nya. Saat Bella ke ruangan makan, terlihat Topan dan Berta sudah menunggu Bella di meja makan. Terlihat sekali bila Topan sudah menahan lapar, karena menunggu kehadiran Bella di sana.
"Maaf mas, mam, aku lama," Ucap Bella.
"Tidak apa-apa kok," Sahut Berta dan Topan.
Bella duduk di samping Topan dan melirik suaminya yang duduk menghadapi piring kosong di depan nya.
"Ayo tunggu apa lagi?" Tanya Bella.
Berta dan Topan saling bertatapan beberapa saat.
"Ah, maafkan Bella ya Topan, dia belum mengerti bagaimana melayani suaminya." Berta terlihat malu sekali. Saat itu juga Bella tersadar bila harusnya dirinya lah yang mengambilkan nasi untuk Topan.
"Tidak apa-apa mam, biar saya saja," Topan meraih piring Berta dan menyendok kan nasi kedalam piring tersebut. Lalu, ia meraih piring Bella dan melakukan hal yang sama. Terakhir, Topan baru mengambil nasi untuk dirinya.
"Duh ya Allah, kenapa mami juga di ambilkan nasi?" Tanya Berta.
"Tidak apa-apa mam," Sahut Topan sambil tersenyum manis kepada Berta.
"Ya Allah, menantu ku.." Berta menitikkan air mata dan buru-buru mengusap nya. Rasa haru dan merasa di hormati menantunya sama seperti ibu kandung sendiri, membuat Berta begitu terkesan dengan sosok Topan.
Saat itu juga Bella meraih tangan Topan dan menjatuhkan keningnya di punggung tangan Topan.
"Mas, maafkan aku. Aku istri yang tidak berguna. Aku kurang peka, ya Allah mas... aku malu. Aku memang kurang peka.. maafkan aku," Ucap Bella berulang-ulang.
Topan terpaku dan terlihat bingung.
"Sudah-sudah, aku tidak bermaksud..."
"Ampuni aku mas... aku salah, aku malu. Tidak akan aku ulangi lagi." Bella terus bersikap seperti seseorang yang sangat menyesali perbuatannya.
Bella, seorang anak konglomerat yang selalu di layani, di manja dan tidak pernah melakukan apa pun pekerjaan rumah tangga, kini sadar bila dirinya sudah bukan seorang putri lagi. Melainkan dirinya sudah menjadi seorang istri dari Topan, suaminya.
"Sudah, tidak apa-apa. Aku tidak minta dilayani terlalu seperti bagaimana gitu.. Kalau aku bisa, kenapa tidak?" Ucap Topan.
Bella mengangkat wajahnya dan menatap Topan dengan seksama.
"Ya Allah... sudah ganteng, baik, pengertian, kurang beruntung apa gue?" Batin Bella.
Topan tersenyum manis kepada Bella, membuat Bella semakin terpesona kepada suami nya itu.
"Ya sudah, mau lauk apa?" Tanya Topan.
"Aku bisa ambil sendiri." Cegah Bella saat Topan hendak mengambilkan lauk untuk nya.
"Mas mau lauk apa? Aku ambilkan ya.." Ucap Bella.
"Ayam saja," Ucap Topan.
"Sayuran nya?"
"Boleh," Topan mengangguk sambil menatap Bella yang berusaha untuk melayani dirinya.
Satu hal yang pernah Topan ambil dari nasihat guru ngajinya dulu saat ia kecil adalah, untuk mengajarkan orang lain bagaimana sikap yang baik dalam memperlakukan orang lain, tidak perlu dengan cara yang keras atau menyindir nya. Lakukan saja sikap baik itu, contoh kan kepada orang tersebut bagaimana selayaknya berprilaku. Bila dirinya mempunyai kesadaran, ia akan meniru atau menyadari bila sikap yang baik seperti apa. Bukankah kita akan mendapatkan hal yang sama, bila kita duluan bersikap baik kepada orang lain?
__ADS_1
Hal itu juga yang akan Topan lakukan saat dirinya menjadi kepala rumah tangga. Karena bagi Topan adalah, imam adalah contoh mutlak makmum nya. Bila dirinya baik, otomatis Bella akan jauh lebih baik lagi. Karena Bella adalah tulang rusuknya, memaksa Bella untuk seperti yang dirinya mau itu percuma, tidak ada tulang rusuk yang tidak patah, bila di paksakan lurus bukan?
Yang terpenting bagi Topan saat ini adalah, Bella sudah sangat jauh berubah dari Bella yang dulu dia kenal. Beruntung nya, Bella juga seorang perempuan yang mau belajar, karena dirinya adalah perempuan yang pintar. Topan merasa beruntung memiliki Bella. Sudah seharusnya seperti itu, bagi seorang lelaki. MERASA BERUNTUNG memiliki pasangan nya. Maka dia akan ikhlas, menghormati, membimbing dan melimpahkan kasih sayangnya dengan sebaik-baiknya saat dirinya memiliki wanita idaman nya itu.
Topan menyantap makanan nya seraya tersenyum sendiri. Pun dengan Bella yang sesekali melirik Topan yang duduk disampingnya. Tidak berbeda dengan Topan, Bella pun merasa sangat beruntung memiliki imam yang tidak cerewet, menuntut, cepat marah atau mengeluh. Topan benar-benar melakukan semuanya dengan baik, mencontohkan sikap baik yang seharusnya dapat Bella contoh dengan sebaik-baiknya. Itulah mengapa, dari awal mereka berjumpa, banyak sekali pelajaran yang Bella dapatkan dari Topan. Mulai bagaimana bersikap terhadap orang tua, memperlakukan wanita atau pasangan, berterima kasih, membalas budi, bersikap tegas antara cinta dan pekerjaan, memaklumi kesalahan, dan lain sebagainya.
Gambaran Topan adalah lelaki idaman semua wanita, termasuk Bella sendiri. Dan dirinya mendapatkan salah satu ya di antara makhluk langka seperti Topan. Apa pun yang terjadi, Bella kini bertekad akan melalukan yang terbaik untuk suami nya itu. Melayani dengan baik dan mencontoh sikap-sikap baik dari Topan.
"Ahhhh... menikahi kamu berasa surga banget..." Batin Bella sambil tersenyum sendiri.
Setelah makan malam, Ijah muncul dari arah dapur dan membereskan meja makan, di bantu oleh Berta dan Bella. Sedangkan Topan beranjak ke mobilnya karena ingat akan sesuatu, ya.. kado dari Antok.
Topan membuka pintu belakang mobilnya yang terparkir di halaman rumah Bella, lalu ia meraih tas nya yang tertinggal disana. Dengan perlahan, Topan membuka sleting tas nya dan meraih kotak kado yang berada di dalam tas tersebut.
Kotak kado itu pun sudah berada di tangan Topan. Karena ia penasaran, saat itu juga ia membuka kotak tersebut, dan isi dari kotak tersebut begitu membuat dirinya terkejut. Terutama apa yang tertulis di masing-masing bungkus produk yang di masukan ke dalam kotak tersebut oleh Antok.
Jamu kuat pantang patah semangat.
Jamu menghajar matahari.
Jamu menjinakkan Banteng rabies.
Jamu Samson perkasa.
Jamu membelah duren.
Tisu kebal badai.
Gel khusus no kaleng-kaleng.
Dan berbagai produk pengaman dengan segala macam bentuk dan merk. Mulai dari aroma strawberry, pisang, melon, semangka, permen karet, hingga jeruk.
"Di kira gue mau bikin sup buah? Dasar gila," Gumam Topan.
...
Drettt... dreeettt...!
Antok yang sedang bersender di bahu Lestari, langsung meraih ponselnya saat ponsel miliknya itu bergetar. Lalu ia menatap nama Topan di layar ponselnya. Saat itu juga ia tersenyum jahil dan meminta izin kepada Lestari untuk menerima panggilan telepon tersebut.
Antok berjalan menjauhi Lestari, tepatnya dia masuk kedalam semak-semak taman dimana dirinya dan Lestari sedang berduaan.
"Halo!" Sapa nya.
"Gila kau ya?"
"Kenapa? Sudah kau buka kadonya?" Tanya Antok sambil tertawa geli.
"Sudah, gila kau ya.. ini buat apa? Aku kan sama dia sudah sah... Ngapain pakai karet? Malah, macam-macam aroma, kau pikir aku mau bikin sup buah?" Tanya Topan.
"Wahahahhahahahahahaha....! Tenang Pan... aku jaga rahasia. Sekarang kau coba jamunya. Seduh satu jam sebelum berperang. Semangat sahabatku!"
"Ah gila kau! Jadi benar-benar kau meragukan durasi ku?"
"Dari pada kau malu...!"
__ADS_1
Topan terdiam, lalu ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ah... gila kau!" Tutup Topan.
"Ahahhahahaahhahahaha...! Puas kali aku nengok si Topan ini lah..! Hahahahahaha...!" Antok terus tertawa sambil menghampiri Lestari.
"Dek, kenapa kau kok lemas sekali?" Tanya Antok saat melihat Lestari duduk terdiam sambil mengigit kukunya.
"Aku haus bang, abang pelit gak mau beli air kek apa kek. Masa jalan gak jajan?" Ucap Lestari sambil terus menggerutu.
"Eh iya ya..." Antok terlihat malu kepada Lestari.
"Abang mah gak ada perasaan. Sebel!" Lestari beranjak dari duduknya dan menghentakkan kakinya di atas paving.
"Eh dek.. jangan marah lah..." Antok mencoba membujuk Lestari.
"Jalan sama abang aku lapar!" Lestari beranjak dari hadapan Antok begitu saja.
"Dek.. i love you... ayo kita makan mendoan yuk...!"
"Bodo amat!" Seru Lestari sambil terus berjalan tanpa mempedulikan Antok.
"Prettt ciken gimana?"
"Gak mau!"
"Pizza?"
"Enggak! Putus aja bang kita!"
"Yah dek...! Jangan..!" Antok meraih tangan Lestari dan menahan nya.
"Apa lagi!" Bentak Lestari.
"Dek, abang bukan pelit, tapi abang sedang mengumpulkan uang untuk melamar adek."
Lestari terdiam dan menundukkan wajahnya.
"Tapi sekarang, mending adek yang traktir abang ya... abang belum gajian dek..." Ucap Antok dengan wajah memelas.
"Alah..! Memang pelit aja! Kenapa aku yang harus traktir! Capek deh..!" Lestari menghempaskan tangan Antok yang sedang memegang pergelangan tangan nya.
"Dek...! Arghhh...!" Antok terus mengejar Lestari, hingga Lestari masuk kedalam mobilnya dan menutup rapat pintu mobilnya.
"Dek!" Antok terus mengetuk kaca mobil Lestari.
"Aku coba memahami dia. Di ajak ke semak-semak, taman, di warung mie ayam. Tapi ternyata emang gak tau diri! Capek!" Pekik Lestari sambil memukul setir mobilnya.
"Dek! Buka sebentar saja!" Pinta Antok dengan wajah yang memelas.
Lestari menatap Antok dengan wajah yang terlihat begitu marah. Lalu, ia menghela nafas panjang dan membuka kaca mobilnya.
"Apa lagi? Kita sudah putus. Bete tau gak! Abang gak tau diri! Sekarang mau apa!" Pekik Lestari.
"Begini, abang pulang pakai apa?"
__ADS_1
"Astaga nagaaaaaaa! Bodo amat!" Lestari menutup kaca mobilnya dan langsung bergegas meninggalkan Antok.
"Dekkkk....! I love you!" Pekik Antok di kesunyian taman tersebut.