Masteng

Masteng
142. Malam sebelum sidang keputusan


__ADS_3

1 minggu kemudian.


"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh." Pongki mengucapkan dua salam terakhir saat ia ingin mengakhiri shalat isya yang tengah ia laksanakan pada malam ini. Besok, adalah sidang keputusan hukuman yang akan ia jalani atas perbuatannya yang melanggar undang-undang yang berlaku, yaitu dengan sengaja memproduksi dan mengedarkan barang haram, yaitu narkoba.


Pongki mengadahkan kedua tangan nya dan menatap langit-langit sel yang ia tempati. Temaram lampu dan suara dengkuran teman satu selnya tak membuat dirinya hilang konsentrasi untuk melaksanakan sholat dan juga berdoa kepada sang pencipta.


"Bismillahirrahmanirrahim, ya Allah ya Tuhan ku. Malam ini aku berserah padamu atas hidup dan mati ku. Aku sungguh berserah atas apa pun keputusan yang engkau berikan kepadaku. Aku tahu engkau sangat menyayangi aku, sehingga engkau mengizinkan aku terkurung disini."


"Ya Allah, besok adalah sidang keputusan hukuman yang akan aku terima. Aku percaya padamu ya Allah, segala sesuatu sudah engkau atur dan itulah yang sebaik-baiknya untuk ku."


"Bila memang hukuman berat yang aku terima, aku berserah kepadamu. Apa pun itu, aku hanya ingin memohon kepada engkau ya Allah. Jagalah anak dan istri ku, dimana pun mereka berada. Tuntun lah mereka selalu dalam jalan mu dan kebaikan."


"Ya Allah, aku berbohong aku merasa baik-baik saja. Engkau lah yang maha mengetahui hati dan pikiran makhluk ciptaan mu. Engkau pasti tahu apa yang ada di hatiku. Ya Allah... hamba mohon, berikanlah yang terbaik untuk hamba. Bila memang harus menjalani hukuman mati atau hukuman seumur hidup, hamba akan ikhlas menjalaninya."


"Ya Allah, engkau adalah maha melihat dan mendengar. Hamba percaya, malam ini engkau mendengar apa yang hamba pinta. Ya Allah, kabulkan lah doa hamba."


Air mata menetes di pipi Pongki. Lalu ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan nya, dan mulai beranjak dari duduknya. Pongki membereskan sajadah yang diberikan oleh Berta untuk dirinya melaksanakan sholat di dalam sel. Sajadah berwarna cokelat itu pun ia lipat dan ia taruh di atas bantalnya. Pongki beranjak duduk di atas dipan dengan kasur kapuk yang sudah mengempis. Ia melipat kedua kakinya dan menatap kosong ke dinding sel tersebut.


Terbayang wajah cantik Berta saat dirinya pertama kali jatuh cinta dengan berta pada pandangan pertama. Gadis cantik yang berbeda kasta dengan nya itu sangat menyita perhatian. Hingga wajah berta terakhir kali bertemu dengan nya. Wajah itu masih cantik, hanya saja terlihat sudah ada tanda penuaan di wajah kekasih hatinya itu.


Pongki juga terbayang wajah Anna, gadis polos nan cantik dan baik hati. Anna memiliki lesung pipi yang begitu dalam. Hingga setiap ia tersenyum, selalu menjadi perhatian orang sekitarnya. Anna Fatimah nama lengkap gadis berlesung pipi itu. Gadis yang menyelamatkan dirinya saat dalam pelarian menghindari hukum. Dan akhirnya ia nikahi hanya untuk sekedar formalitas saja. Namun, kebaikan Anna jugalah yang membuat dirinya harus melepaskan gadis itu. Anna berhak mendapatkan pendamping yang juga mencintai dirinya. Lagipula, Pongki tidak akan bisa membahagiakan gadis tang tidak ia cintai itu.


Kini, terbayang wajah Bella, mulai saat Bella terlahir ke dunia dan pertama kali ia menimang Bella didalam gendongan nya. Gadis kecil itu menangis keras, memaksa ibunya untuk memberikan dirinya ASI. Hingga wajah Bella yang sudah dewasa ini. Bella tumbuh menjadi gadis yang cantik dan mempesona. Beruntung dirinya selalu menuntun Bella ke jalan yang baik. Ia tidak ingin Bella melenceng dari ajaran kebaikan. Baik ajaran agama ataupun sopan santun dalam bersosialisasi.


Lalu Pongki terbayang wajah polos lelaki bernama Topan yang menyamar menjadi Paijo. Lalu ia tersenyum karenanya. Bisa saja Pongki menyalahkan pemuda itu, tetapi ia dapat berpikir, bila tanpa Topan, dirinya tidak akan pernah berhenti dari bisnis itu. Dan disisi lain, Pongki sangat bersyukur dapat mengenal Topan. Dengan begitu, dirinya dapat menitipkan Berta dan Bella kepada Topan.

__ADS_1


"Ya Allah... aku pasrah.." Ucapnya.


..


"Selamat datang di Jakarta, Baba.." Ucap Topan, saat menjemput Galang di Bandara.


"Terima kasih anak ku," Galang memeluk Topan dengan erat.


"Bagaimana kabar baba?"


"Alhamdulillah baik nak. Mengapa kamu sendirian menjemput baba? Kemana ibumu?"


"Hmmm, ibu ingin bertemu besok saja, katanya."


"Oh begitu...., Hmmmm.. Topan, apakah ibumu kira-kira mau kembali dengan baba?" Tanya Galang.


"Apakah baba ingin menikahi ibu?" Tanya Topan.


"Tentu saja, tidak ada batasan usia dalam mewujudkan cinta." Tegas Galang.


Topan tersenyum dan menundukkan pandangan nya.


"Ada apa?" Tanya Galang.


"Tidak ada apa-apa. Hanya saja, aku meminta baba sabar ya.. Kondisi ibu saat ini, masih kehilangan Bapak. Pasti butuh waktu bagi ibu untuk membuktikan dirinya siap untuk menerima baba. Apa lagi usianya sudah senja."

__ADS_1


Galang terdiam, lalu ia mengangguk paham.


"Ya, baba akan sabar. Toh, tiga puluh dua tahun saja baba tunggu. Masa untuk setahun atau dua tahun kedepannya, baba tidak bisa menunggu?"


Topan tersenyum dan mulai melangkah dengan Galang ke arah parkiran.


..


Erna terdiam di tepi ranjangnya. Ia masih menggunakan mukena, karena ia baru saja menyelesaikan kewajibannya sebagai seorang muslimah. Di tangan nya terlihat sebuah bingkai foto, yang berisi foto Amoroso yang baru saja di angkat menjadi jenderal. Disamping Amoroso, terlihat foto dirinya yang tersenyum lebar menatap kearah kamera. Foto itu diambil oleh Pinky dengan kamera DSLR nya.


Erna sangat menyukai foto itu. Karena di dalam foto itu dirinya terlihat sangat cantik, sedangkan Amoroso terlihat sangat gagah. Maka dari itu, Erna mencetak foto itu dengan ukuran yang besar dan memajangnya di ruang tamu, dan juga mencetaknya dengan ukuran 10 R yang ia pajang di meja nakas, disamping tempat tidur miliknya dan Amoroso.


Masih segar diingatan Erna, saat Amoroso tersenyum bangga kepada dirinya di hari pengangkatan tersebut. Dicintai oleh dua orang lelaki luar biasa, sangat sulit bagi Erna untuk memutuskan memilih Galang atau Amoroso saat Galang mengajak dirinya bertemu kembali. Tetapi, karena sudah memiliki anak-anak dan juga ia harus menjaga nama baik Amoroso dan juga keluarganya, akhirnya Erna memutuskan untuk tidak menemui Galang lagi.


Namun kini, Amoroso telah pergi dan meninggalkan pesan terakhir yang membuat dirinya paham, cinta Amoroso bukanlah cinta biasa. Walaupun ia harus terpaksa terpenjara dalam cinta yang tidak ia inginkan. Namun, setidaknya Amoroso selama ini memperlakukan dirinya sangat luar biasa tulusnya.


Kini, pintu dirinya kembali dengan Galang sudah terbuka lebar. Galang pun masih sendiri tanpa pendamping. Lelaki itu tetap teguh dengan janjinya, yang akan tetap ingin bersama dengan Erna, apapun keadaan dirinya.


"Ya Allah, apakah aku harus menuruti isi dari surat wasiat itu? Kenapa aku menjadi merasa bersalah seperti ini," Gumam nya.


Esok, ia akan bertemu dengan Galang. Ia bertemu kembali setelah satu minggu dari pertemuan pertama mereka setelah sekian puluh tahun tidak bertemu.


Deggggg... Degggg... Degggg..!


Jantung Erna berdegup kencang, tangan nya gemetar.

__ADS_1


"Mas, apa kamu benar-benar rela melepaskan aku dengan Galang?" Tanyanya sambil mengusap lembut foto Amoroso di bingkai foto tersebut.


__ADS_2