Masteng

Masteng
104. Dia bukan anak kandungmu!


__ADS_3

Topan muncul di beranda rumah Bella, dengan rambut yang basah. Walaupun tubuhnya sudah terlihat bersih dan segar, tetapi wajahnya terlihat sangat lelah. Bella tersenyum menyambut kehadiran Topan yang beranjak duduk disampingnya.


"Mami mana?" Tanya Topan.


"Sudah tidur, sepertinya mami kelelahan. Besok ia juga akan menjenguk daddy ke lapas."


Topan terdiam saat mendengar kata 'lapas'.


"Diminum kopinya, itu sudah mulai dingin loh," Bella meraih gelas yang berisi kopi buatan nya, lalu menyerahkannya kepada Topan.


Topan menelan salivanya, dan menatap kopi itu dengan seksama.


"Ayo diminum.." Bella menyodorkan gelas kopi itu.


"I-i-iya.." Topan meraih gelas itu dan menaruhnya di pangkuannya.


"Kok gak diminum?" Tanya Bella dengan ekspresi wajah yang penasaran.


"Aduh... asin lagi gak ya?" Batin Topan.


"Sayang..."


"Ah iya.." Topan tersenyum dan mulai menyeruput kopinya.


"Humffff..!" Wajah Topan mendadak memerah dan matanya mulai mendelik menahan rasa yang tidak enak dari kopi tersebut.


"Gimana?" Tanya Bella dengan wajah yang tampak bersemangat.


"Hmmm.."


"Kalau aku tidak memberitahukan nya, setiap aku kesini, pasti aku merasa akan di racun oleh Bella," Batin Topan.


"Sayang..."


"Ya sayang..." Topan menelan kopi itu dan mengecap dengan cepat.


"Gimana? Enak?"


"Hmmm, sayang.. boleh gak aku lihat kamu bikin kopi?" Tanya Topan.


"Loh, kopinya kurang?"


"Bu-bu-bukan... Tetapi, aku mau lihat kamu buat kopi."


"Oh gitu... ayo.." Bella beranjak dari duduknya dan menggandeng tangan Topan.


Topan meletakkan gelas kopinya dan mengikuti Bella ke dapur. Setibanya di dapur, Bella pun langsung beraksi. Ia meraih gelas bersih dari dalam lemari piring dan meletakkan nya di atas meja dapur. Lalu, ia mengeluarkan kopi dan toples kaca berisi bubuk putih.


"Aku memasukkan sesendok kopi..." Ucap Bella seraya menyendok kopi dan memasukan nya kedalam gelas.


"Lalu, aku memasukan satu setengah sendok gula," Ucap Bella lagi, seraya menyendok kan bubuk putih tersebut sebanyak satu setengah sendok. Sedangkan Topan terus tersenyum melihat Bella yang sedang memberikan nya pertunjukan membuat segelas kopi.


"Lalu, aku menyeduhnya memakai air panas dari dispenser." Bella melangkah menuju dispenser dan menekan tombol air panas.


"Setelah itu di aduk dan jadi deh!" Bella memamerkan gelas berisi kopi itu di depan Topan.


"Coba sekarang diminum," Pinta Topan.


"Masih panas..."


"Minum saja sedikit memakai sendok bekas mengaduk kopi itu," Topan menunjuk sendok yang Bella taruh di atas meja.


Bella tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Baiklah," Bella meraih sendok itu dan mencoba mencicipi kopi buatan nya sendiri.

__ADS_1


"Puihhhh...! Ih..!" Seketika Bella meludah di wastafel dan mengerutkan keningnya.


Saat itu juga Topan tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi kekasihnya itu.


Bella menatap Topan dengan ekspresi wajah yang canggung.


"Kamu kenapa tidak bilang? Kok kopi nya begini ya? Apa kadaluarsa?" Ucap Bella.


"Hahahahah, bukan sayang... Sini.." Topan meraih tangan Bella dan menuntun nya ke arah meja.


"Ini tuh garam, bukan gula. Kalau gula, butiran nya lebih kasar. Sedangkan garam halus seperti ini. Coba di rasa, ini gula apa garam?" Topan mengambil sejumput garam tersebut dengan jarinya, dan menyodorkan nya ke bibir Bella.


"Enggak ah.." Bella menghindari tangan Topan dan kembali meludah di wastafel.


Topan terus tertawa terpingkal-pingkal. Sedangkan Bella mengerutkan dagunya dan menatap Topan dengan tatapan yang kesal.


"Jangan marah dong sayang," Topan masih terus tertawa sambil mendekati Bella yang terpaku di depan wastafel.


"Kamu ketawanya ngeledek!"


"Enggak..."


"Iya itu!" Bella menekuk wajahnya.


"Oh... sayang..." Topan memeluk Bella di depan wastafel itu.


"Aku kan gak tahu yang mana gula dan garam. Aku tidak pernah ke dapur Topan..!"


"Iya aku tahu, makanya aku maklum.. Pelan-pelan aku ajarkan ya.."


"Tapi kenapa tetap kamu minum kopinya?" Tanya Bella yang semakin merasa malu.


"Aku menghargai apa pun buatan kamu." Ucap Topan.


Bella menatap Topan dengan wajah yang bersemu kemerahan.


"Iya maaf," Topan melingkarkan tangannya di pinggang Bella yang ramping.


"Aku malu tahu!" Bella berusaha melepaskan tangan Topan dari pinggangnya.


"Ngapain malu," Topan mempererat lingkar tangan nya dan merapatkan tubuh Bella ke tubuhnya.


Bella terpaku menatap Topan yang terlihat begitu bahagia malam itu.


"Kamu cantik, selalu cantik di mataku. Kamu pintar, dan memang pintar. Kalau kamu tidak bisa membuat kopi, tidak masalah. Aku akan mencarikan asisten untuk kamu dan mami. Besok aku akan mencarikan nya untuk kalian."


"Nanti bayarnya bagaimana?" Bella kembali tertunduk lesu.


"Aku yang menggajinya, jangan khawatir. Asalkan kalian bisa makan yang enak, tidak pelu keluar untuk berbelanja. Aku sudah cukup merasa tenang. Oh iya, mobil juga akan aku tinggal. Aku bisa memakai mobilku yang satu lagi. Kamu pakai saja mobilku untuk beraktivitas atau mengantar mami kemana saja. Aku akan bekerja untuk kalian."


Air mata Bella tergenang di pelupuk matanya.


"Tapi... aku hanya merepotkan kamu.."


"Tidak, tidak ada kata merepotkan. Ini juga aku lakukan bukan karena janjiku pada daddy mu. Tetapi, aku mencintaimu. Kamu adalah ratunya. Apa pun akan aku lakukan demi kebahagiaan kamu."


"Topan..." Bella meneteskan air matanya.


"Sssttt... sudah, jangan menangis. Ini sudah menjadi tanggung jawab ku sebagai lelaki." Topan merebahkan kepala Bella di dadanya.


Bella tenggelam dalam suasana, perasaan haru dan kagumnya kepada lelaki yang sedang memeluk dia dalam keadaan dirinya yang sedang terpuruk.


"Aku berjanji, aku akan segera mendapatkan pekerjaan. Biar aku bisa mandiri," Ucap Bella.


"Aamiin.. Tetapi, jangan larang aku untuk tanggung jawab. Ini sudah kewajiban ku,"

__ADS_1


Bella menatap Topan dengan matanya yang basah.


"I love you so much...!" Bella menangis hingga bahunya terguncang.


"Sssttt.. jangan menangis... Aku sudah pernah bilang, aku akan selalu ada untuk kamu. Ada aku disini.."


Mereka berdua tenggelam dalam perasaan haru, dan cinta yang tidak biasa. Cinta yang penuh perjuangan dan tanggung jawab didalamnya. Topan adalah lelaki yang tidak biasa. Semua itu sudah dapat di tangkap oleh Pongki sebelumnya. Maka dari itu, tidak ada sedikitpun pun keraguan Pongki untuk menitipkan harta yang paling berharga bagi dirinya kepada Topan. Yaitu, keluarganya.


.


.


.


"Kemana sih anak itu?" Gumam Erna, yang terus menatap jam di dinding ruang tamunya.


Jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam. Tetapi, Topan belum juga pulang kerumah nya.


"Bu... kok belum tidur?" Tanya Amoroso yang baru saja muncul di ruang tamu.


Erna menatap Amoroso dengan tatapan yang khawatir.


"Topan belum pulang," Ucap Erna.


Amoroso terdiam, bertahun-tahun ia tidak pernah peduli dengan Topan. Lelaki itu tidak pernah merasa khawatir, Topan pulang kerumah ataupun tidak.


"Nanti juga pulang. Sekarang tidur yuk," Pinta Amoroso.


"Tidak, aku akan menunggunya. Dia sudah berjanji akan menemui aku malam ini,"


"Ada apa?" Tanya Amoroso.


"Kemana kamu saat dia dilantik?"


Amoroso menundukkan wajahnya.


"Aku tahu kamu tidak suka padanya. Hanya saja, dia menjadi omongan rekan-rekannya. Kamu tahu, Topan mengamuk saat ada yang menggunjingkan dirinya."


Amoroso masih diam membisu.


"Bu aku sedang mengusut masalah gosip it......"


"Sudahlah pak! Apa harus Topan tidak ada di kartu keluarga mu?"


Amoroso terkejut mendengar ucapan Erna.


"Kok kamu ngomong nya begitu?"


Kali ini Erna terlihat begitu emosi, hingga ia hanya diam dan menatap Amoroso dengan mata yang basah karena air mata.


"Kamu tidak pernah mengatakan yang sejujurnya. Kamu selalu memberikan aku jawaban yang ambigu!" Ucap Amoroso, tak kalah emosi.


"Dari dulu aku sudah menjawabnya dia anak kandungmu! Tetapi, kamu tidak percaya. Lantas, aku harus apa? Mengatakan dia anak Galang? Kamu yang pengecut! Tidak mau mencari tahunya lewat test DNA!"


Amoroso terdiam. Ia menghela nafas panjang.


"Ia dia anak Galang! Sudah! Kamu puas!"


Amoroso tampak terkejut, ia menatap Erna dengan tatapan yang nanar.


"Topan bukan anak kandung mu! Lanjutkan sikap mu yang seperti itu kepada Topan!"


"Bu..."


Erna dan Amoroso menoleh ke arah suara yang memanggil Erna.

__ADS_1


"Topan!" Erna menatap Topan dengan ekspresi wajah yang terkejut.


__ADS_2