Masteng

Masteng
112. Saya laki-laki, saya berjanji..


__ADS_3

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Bella sudah beberapa kali menguap dan menggosok matanya yang mulai terasa perih. Topan menatap Bella dan menyadari bila waktu sudah seharusnya menuntut mereka berdua beristirahat.


"Kamu mengantuk?" Tanya Topan.


"Iya, yuk kita bereskan," Ucap Bella sambil beranjak dari depan wadah pemanggang.


"Ng.. tidak usah, biar aku saja. Kamu tidur duluan saja. Aku yang akan membereskan nya,"


Bella menatap Topan dan menggelengkan kepalanya.


"Kita berdua," Pinta Bella.


"Tidak usah.. Aku saja."


"Tidak apa-apa." Bella membereskan wadah piring bekas jagung mereka.


"Biar aku saja," Mereka berdua pun memperebutkan piring yang sedang Bella pegang.


"Topan.. please... aku bisa. Aku tidak boleh manja lagi."


Topan terdiam mendengar ucapan Bella.


Memang benar, selama ini Bella tidak pernah mengerjakan pekerjaan apapun. Ia hidup bagaikan seorang princess, dan kini ia harus membiasakan diri dalam hidup yang harus serba mandiri. Setidaknya ia mau belajar menerima kehidupan nya yang tidak sebaik dulu.


Topan tersenyum, ia merasa bangga kepada Bella yang benar-benar pintar dalam menyesuaikan dirinya sendiri dalam keadaan saat ini.


"Baiklah," Ucap Topan.


Topan memadamkan bara api dan menyingkirkan pemanggang tersebut ke halaman belakang. Lalu, Topan membereskan semua yang kotor karena efek bara yang berterbangan di sekitar tempat mereka duduk membakar jagung.


Sedangkan Bella, memunguti wadah-wadah yang kotor, untuk ia cuci di dapur.


Topan tersenyum sendiri, pikiran nya tentang Bella, sudah jauh melayang ke saat kelak mereka akan merajut kisah dalam satu atap.


Bella yang mau belajar tanpa diminta oleh siapapun membuat Topan merasa semakin menyukai Bella. Sangat jarang ada anak yang manja, yang pernah diperlakukan seperti princess dan tidak kekurangan uang sedikitpun. Kini mau memulai dari bawah dan berusaha berdiri menyesuaikan dirinya. Hal itu cukup mencerminkan kepribadian dan kecerdasan Bella, dan Topan sangat mengagumi kekasihnya itu.


Topan baru saja selesai membersihkan halaman belakang. Lalu, ia beranjak masuk ke dalam dapur dan mendapatkan Bella sedang mencuci piring dan gelas bekas mereka pakai. Topan tersenyum dan menghampiri Bella yang tampak serius mencuci piring.


"Hai, numpang cuci tangan ya," Ucap Topan.


Bella menoleh dan mengangguk sambil tersenyum manis kepada Topan.


Topan mencuci tangan nya di kucuran air di wastafel tempat Bella mencuci piring. Tanpa sedetikpun ia mengalihkan pandangannya dari Bella.


"Kenapa?" Tanya Bella yang baru sadar dirinya terus di tatap oleh Topan.


"Aku makin cinta sama kamu," Ucap Topan. sambil mengecup kening Bella.


Pipi Bella seketika mengeluarkan rona merah karena malu.


"Aku bantu ya," Ucap Topan.


"Tidak usah. Kamu mau istirahat kan? Langsung ke kamar saja,"


"Kamar? Kamar yang mana bisa aku pakai?" Tanya Topan.


Bella menatap Topan dengan gugup.


"Ka-kamar atas," Ucap Bella.


"Oh, aku di sofa saja."


"Di kamar atas saja. Tidak apa-apa kok," Ucap Bella.


"Enggak, di sofa saja."


"Beneran?"


Topan mengangguk dan tersenyum kepada Bella.


"Tetapi, tidak ada selimut atau bantalnya."


"Tidak apa-apa."


"Baiklah, aku sudah selesai. Aku ke kamar dulu ya," Ucap Bella seraya mengelap tangan nya yang basah ke serbet yang terletak di meja.


"Ok," Sahut Topan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Ok," Bella menatap Topan dan memberikan kekasihnya itu senyum tipis.


"Iya.."


"Iya.. good night.." Bella beranjak dari hadapan Topan dan berjalan menuju ke kamarnya.


Topan hanya bisa memandangi punggung kekasihnya itu. Hingga Bella menghilang di balik dinding dapur tersebut. Topan menghela nafas panjang dan menarik kursi meja makan. Lalu, ia duduk disana dan termenung. Topan kembali larut dalam pikirannya tentang test DNA yang sedang berjalan.


Ada alasannya mengapa ia sangat malas untuk pulang. Karena ia tahu, ia lah sumber masalah dari hubungan antara Erna dan Amoroso. Ia tidak ingin melihat ibu dan bapaknya itu terlibat pertikaian lagi. Bahkan setiap pagi saat Amoroso melihat Topan, suasana di rumah menjadi tegang dan tidak bersahabat.


"Kini aku paham, mengapa aku sangat di benci bapak," Gumam nya seraya memijat pelipisnya yang terasa pusing.


Topan beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ke ruang keluarga. Ia merebahkan tubuhnya diatas sofa dan mencoba memejamkan kedua matanya.


"Aku harap, setelah ini tidak ada drama lagi," Gumam nya sebelum ia tertidur pulas di atas sofa itu.


.


.


.


"innalilahi..!" Seru Berta saat pagi-pagi sekali ia melihat Topan yang baru saja selesai melaksanakan sholat subuh bertemu dengan nya di ruang keluarga.


"Mam," Sapa Topan seraya menghampiri Berta dan mengecup punggung tangan nya.


"Topan, apa yang kamu lakukan sepagi ini disini?" Tanya Berta yang masih terheran-heran melihat Topan yang berada di rumahnya.


"Maaf mam, saya sudah datang dari tadi malam. Saya numpang tidur disini. Maaf tidak memberitahukan mami sebelumnya. Soal nya mami sudah tidur waktu saya datang,"


"Nu-numpang tidur?" Bella tampak bingung dengan apa yang dikatakan oleh Topan.


"Iya mam. Maaf saya lancang," Ucap Topan seraya menundukkan wajahnya.


"Ah, tidak apa-apa.. hanya saja..." Berta melirik kamar Bella.


"Ti-tidak mam, Bella hanya membukakan pintu dan semalam kami hanya membakar jagung. Terus Bella kembali ke kamarnya dan saya tidur di atas sofa." Terang Topan.


"Oh.." Bella terlihat lega kali ini.


"Mami mau kemana? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Topan.


"Pasar?"


"Iya," Sahut Berta.


Topan terdiam, ia sudah berjanji akan membawa asisten rumah tangga untuk Berta dan Bella. Hanya saja, ia belum ada kesempatan untuk datang ke yayasan penyalur untuk mengambil asisten untuk ditempatkan di rumah itu.


"Hmmmm, saya saja yang ke pasar."


Berta mengerutkan keningnya, ia menatap Topan dengan tak percaya.


"Kamu?"


"Ya mam, saya sudah terbiasa kok ke pasar." Topan mencoba meyakinkan Berta.


"Hmmm tidak, saya saja."


"Saya saja mam, apa kalau tidak saya yang mengantarkan?"


Berta kembali menatap Topan dengan tak percaya.


"Kamu yakin?"


"Yakin mam," Topan langsung meraih kunci mobilnya dari atas meja.


"Hmmm tidak perlu memakai mobil. Pasarnya dekat kok, sekalian jalan pagi," Ucap Berta.


"Oh begitu. Ya sudah, yuk mam.." Ucap Topan dengan bersemangat.


Berta perlahan tersenyum dan menyambut tangan Topan yang siap untuk menggandeng wanita paruh baya itu.


"Kamu ini ya, benar-benar menantu idaman mami," Ucap Berta seraya menatap Topan sambil terus tersenyum bangga kepada Topan.


Topan tersipu malu dan menundukkan pandangan nya.


"Kenapa kamu tidak malu ke pasar, biasanya kan, anak laki-laki malu ke pasar."

__ADS_1


"Saya biasa mengantarkan ibu saya ke pasar mam,"


"Oh begitu.." Berta mengangguk paham dan kembali tersenyum bangga kepada Topan.


"Kenapa kamu menginap? Kok tumben..."


"Hmmmm.. Tidak apa-apa mam, saya hanya ingin memastikan mami dan Bella baik-baik saja," Ucap Topan, berbohong.


"Terima kasih loh Pan.."


Topan tersenyum dan mengangguk kepada Berta.


Di pasar tradisional, walaupun masih sepagi itu, sudah terlihat ramai para pedagang dan para pembeli yang datang ke pasar tersebut. Para pedagang menghimbau para pembeli untuk mampir ke lapak nya dan membeli dagangannya. Aroma khas pasar tradisional begitu dirindukan oleh Topan dan Berta. Sudah cukup lama mereka tidak lagi menginjakkan kaki di pasar tradisional.


Berta membeli kebutuhan pokok untuk bekal dirinya dan Bella selama satu minggu. Agar ia tidak perlu setiap hari ke pasar, hanya untuk membeli kebutuhan tersebut. Sedangkan Topan, lelaki itu membawa belanjaan Berta, tanpa diminta oleh Berta. Banyak pasang mata yang menatap Topan, si tampan yang mendadak masuk ke pasar tradisional. Tidak sedikit sorot mata yang begitu mengagumi sosok dirinya.


"Anak nya ya bu?" Tanya pedagang sayuran yang sedang disinggahi oleh Berta.


"Bukan, menantu saya ini," Sahut Berta.


Topan tersipu malu saat Berta menyebut dirinya adalah menantu Berta.


"Masa sih, ya ampuuunn.. menantu? Saya kira anak nya ibu."


"Menantu juga anak saya loh bu," Sahut Berta.


"Jarang ada menantu seperti ini loh bu. Ngomong-ngomong, anak nya mana? Mengapa tidak anak nya dan menantu ibu yang ke pasar?" Tanya tukang sayur itu lagi.


Berta terdiam, ia tidak mungkin mengatakan bila anak nya masih tertidur lelap di rumah.


"Istri saya lagi hamil muda. Jadi butuh beristirahat yang banyak," Celetuk Topan.


"Ahhh... iya... betul mas. Wah.. menantu idaman..!"


Berta melirik Topan dan ia tersenyum tipis. Lagi-lagi Topan begitu paham bagaimana cara melindungi dirinya dan Bella. Hal itu tentu saja membuat Berta semakin terpesona dengan Topan.


"Ini sayur nya bu, dan ini kembalian nya.. Terima kasih ibu.. Terima kasih mas ganteng," Ucap pedagang sayur tersebut.


"Sama-sama bu," Sahut Topan dan Berta. Mereka pun melangkah menyusuri pasar tradisional itu.


"Jadi, kapan kamu mau menikahi Bella?" Tanya Berta.


Topan menatap Berta yang tersenyum kepada dirinya.


"Mami setuju?"


"Tentu saja, kalau bisa lebih cepat lebih baik. Kalian kan kerap berduaan."


Topan menundukkan wajahnya, ia tersenyum semringah.


"Saya akan segera membicarakan nya dengan keluarga saya." Janji Topan.


"Benarkah?" Tanya Berta dengan sorot mata bahagia.


"Iya mam,"


"Alhamdulillah..." Berta tertawa girang dan menyenderkan kepalanya di lengan Topan.


"Kamu harus jadi menantu saya Pan.. Tidak ada yang bisa menggantikan kamu pokok nya."


Topan tersenyum semringah dan merangkul Berta layaknya ibu kandungnya sendiri.


"Saya hanya ingin melihat Bella menikah. Mumpung saya masih ada. Mumpung Pongki masih ada. Saya yakin, Pongki pun ingin menikahkan Bella."


Topan terdiam, rasa bersalah itu kembali hinggap di benak nya.


"Tetapi, apa keluarga mu akan merestuinya Pan?"


Topan masih terdiam, ia menatap Berta dengan seksama.


"Mami takut, bila keluarga kamu tidak merestui kalian. Mami tahu, kamu adalah anak orang berpangkat. Sedangkan Bella....."


"Direstui atau tidak, aku akan tetap menikahi Bella mam," Potong Topan.


"Wow... kamu benar-benar jantan ya.." Ucap Berta seraya terkagum-kagum menatap Topan.


"Saya laki-laki, saya tidak perlu ada pendamping saat menikah. Saya akan terus memperjuangkan Bella. Itu janji saya pada diri saya sendiri."

__ADS_1


Berta terus terperangah mengagumi calon menantunya itu.


__ADS_2