
Di kantor polisi, luka Topan di periksa dan di obati oleh seorang petugas yang membantu Topan. Sedangkan kelima pemuda, termasuk pemuda yang sempat bersama Bella sedang di interogasi dan diberikan hukuman membersihkan kantor polisi, setelah ada perjanjian damai antara kelima pemuda itu dan Topan.
Topan memang tidak menuntut kelima pemuda itu, karena ia tidak ingin ada urusan disana. Ia harus mengejar waktu sebelum Pongki kembali ke hotel. Karena, Topan harus mengembalikan ponsel Pongki yang kini berada di tangan seorang rekan yang bertugas disana.
Setelah menjalankan pemeriksaan, akhirnya polisi disana, mengetahui bila Topan adalah rekan mereka. Lalu, mereka mempersilahkan Topan untuk kembali ke hotelnya. Topan pun meninggalkan kantor polisi itu dengan menumpangi mobil patroli untuk cepat kembali ke hotel.
Beruntung, hotel tempat Topan menginap, hanya berjarak 7 menit saja dari kantor polisi itu. Kini, Topan sudah berada di depan lobby hotel tersebut dan disambut oleh rekan nya yang hendak menyerahkan ponsel milik Pongki.
Topan menarik tangan rekan nya saat melihat Pongki dan Berta sudah tiba di hotel tersebut. Dengan wajah panik, ia meminta ponsel milik Pongki dan mengantonginya.
"Sudah?" Tanya Topan.
Rekan nya pun mengangguk dengan wajah yang ikut tegang.
"Ok thanks," Ucap Topan seraya menepuk pundak rekan nya dan saat itu juga Topan berlari memasuki pintu darurat. Dengan sekuat tenaga, Topan mencoba secepat mungkin untuk terlebih dahulu tiba di kamar Pongki.
Saat yang sama, Pongki dan Berta menekan tombol lift dan berdiri bersebelahan menunggu pintu lift terbuka. Dan tak lama kemudian, pintu lift tersebut pun terbuka. Masih dengan wajah yang kesal, Berta memasuki lift tersebut terlebih dahulu dan disusul oleh Pongki, setelahnya.
Keringat bercucuran di dahi Topan. Ia pun membuka pintu tangga darurat di lantai 5 dan dengan sisa tenaganya, ia langsung berlari menuju ke kamar Pongki.
Jantung Topan berdegup kencang. Ia takut sekali bila ia terpergok oleh Pongki saat mengembalikan ponsel tersebut kembali ke dalam koper. Topan berhenti berlari, saat ia tiba di kamar Pongki. Dengan tangan gemetar, Topan mengeluarkan kartu kamar Pongki dan menempelkan nya ke sensor kunci kamar tersebut.
Klikkk.!
Kamar itu pun terbuka, dengan cepat, Topan berlari kearah koper, dan membuka koper tersebut. Dengan panik, Topan mencoba mengingat posisi ponsel itu sebelum ia mengambilnya dari dalam koper itu.
"Hmmmmm," Topan memejamkan matanya dan mencoba mengingat-ingat.
"Ahhh...!" Topan mengingat posisi ponsel tersebut dan kembali meletakkan nya dengan rapi di dalam koper. Dengan cepat, Topan pun kembali menutup koper itu dan langsung beranjak meninggalkan kamar itu.
Ting!
Terdengar bunyi pintu lift terbuka di lorong tersebut. Topan mulai panik, ia mencoba meraih kartu cadangan miliknya dari kantung celananya, sambil terus melihat kearah lift di ujung lorong itu.
__ADS_1
Dan, saat Berta mulai melangkah keluar dari lift itu, saat itu juga Topan menemukan kartunya. Dengan cepat, ia menempelkan kartu itu ke sensor kunci.
Klik!
Pintu pun terbuka, dengan nafas yang tersengal, Topan melangkah masuk dan langsung menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Terdengar langkah kaki menggema di lorong itu. Topan yang nyaris saja ketahuan jati dirinya, hanya bisa bersender di daun pintu kamarnya dan mencoba mengatur nafasnya agar kembali normal.
"Fuihhhhh... nyaris saja!" Topan mengusap dadanya yang terasa sesak.
.
"Dimana Paijo?" Terdengar Berta bertanya prihal dirinya kepada Pongki.
"Ini kamar Paijo. Tetapi, mungkin anak itu sudah tidur." Ucap Pongki, saat lelaki itu dan Berta melintas di depan pintu kamar Topan.
Langkah kaki pun berhenti di sana, jantung Topan masih berdegup kencang. Ia terus menahan luka yang terasa perih di perutnya.
"Ini kamarku, kamar kamu dimana?" Tanya Berta.
"Ini,"
Topan mendengar Pongki tertawa geli, saat mendengar ucapan Berta.
"Sayang, ikut ke kamarku sebentar yuk... Aku ada kejutan untuk mu," Ucap Pongki.
"Aku tidak mau,"
"Ayolah, sebentar saja," Pongki memohon kepada Berta.
Topan yang masih menguping, kini tersenyum kecil. Entah mengapa, ia senang sekali mendengar pembicaraan antara Pongki dan Berta.
"Nanti kamu macam-macam lagi, kejutan apa memangnya?" Tanya Berta.
"Kalau aku kasih tahu sekarang, apa itu disebut kejutan?"
__ADS_1
"Ya sudah. Tetapi, aku tidak mau terpedaya dengan mu! Catat itu Pongki!"
"Hahahah, tidak... aku tidak akan macam-macam. Aku tahu kamu masih marah padaku. Maka, izinkanlah aku berbicara dari hati ke hati dengan mu. Setelah itu, silahkan kembali ke kamar mu,"
"Baiklah," Ucap Berta.
Terdengar mereka melangkah menuju ke kamar Pongki.
Topan kini tampak lebih tenang, lalu ia menaruh tas Bella di atas lantai dan membuka kaos nya yang sobek karena terkena mata pisau yang ikut menyayat kulit perut nya. Lalu, ia melemparkan kaos tersebut kedalam tempat sampah, dan dengan langkah yang gontai, ia beranjak ke arah ranjang.
"Astaghfirullah!" Topan terkejut saat menyadari bila Bella masih di kamarnya.
Disana, diatas ranjang, terlihat Bella yang tengah tertidur lelap tanpa terbalut selimut. Darah Topan berdesir, saat melihat gadis yang belakangan ini mencuri perhatian nya tidur diatas ranjang nya, dengan busana yang sexy dan lekuk tubuh yang sangat mengagumkan.
Perlahan, Topan menghampiri Bella dan menatap wajah cantik gadis itu yang terlihat semakin cantik saat tertidur.
"Ya ampun." Gumam Topan sambil menelan salivanya.
Topan pun duduk di tepi ranjang dan terus menatap Bella. Hasratnya ingin sekali menyentuh gadis itu. Tetapi, akal sehatnya melarangnya untuk tidak melakukan apa pun kepada Bella.
"Arghhhhh!" Topan beranjak dari ranjang dan berjalan menuju ke kopernya. Topan membuka kopernya dan mengambil sebuah kaos yang akan ia pakai untuk menutupi tubuh bagian atasnya yang polos.
Tanpa pikir panjang, Topan mengambil tas Bella yang ia tinggalkan di depan pintu kamarnya, lalu ia mencari kartu kamar milik Bella yang berada di dalam tas tersebut. Setelah ia mendapatkan kartu tersebut, Topan kembali ke ranjang dan menatap Bella sekali lagi. Lalu, ia mencoba menepuk pelan pipi Bella.
"Non, non, non," Panggilnya. Namun, Bella tetap bergeming. Tampaknya gadis itu sedang menikmati tidurnya dengan sangat nyenyak.
Topan menghela nafas panjang dan mengangkat tubuh Bella, untuk membawanya keluar dari kamarnya. Sebelum ia membawa Bella keluar, Topan mencoba mengamati situasi. Setelah ia mengetahui bila lorong tersebut sepi, Topan pun menggendong Bella keluar dari kamarnya dan membawanya kedalam kamar Bella dan Berta.
Di dalam kamar Bella dan Berta, Topan menaruh tas Bella terlebih dahulu di atas meja, setelah itu, ia menaruh tubuh Bella diatas ranjang dan menyelimutinya. Saat ia hendak keluar, Bella bergerak dan memanggil namanya.
"Jo..."
Langkah Topan terhenti, ia memperhatikan Bella yang ternyata hanya mengigau saja. Lalu, ia tersenyum malu dan kembali menghampiri Bella. Lalu, Topan mengusap lembut kening Bella dan memberanikan diri untuk mengecup kening gadis itu.
__ADS_1
"Tidur yang nyenyak ya, jangan begini lagi. Ada aku untuk kamu," Ucap nya, setelah Topan mengecup kening Bella dengan lembut. Setelah itu, Topan pun bergegas meninggalkan Bella dikamar itu. Tanpa ia sadari, ucapan nya saat Bella tertidur, adalah ucapan yang merupakan doktrin bagi Bella. Bella memang tertidur, tetapi alam bawah sadarnya dapat mendengar ucapan Topan.
"Jooo..." Gumam Bella yang kembali mengigau.