
Srekkkk...!
Pintu ruang rawat inap yang ditempati Berta terbuka. Seketika, raut wajah Berta terlihat semringah, saat melihat Topan berjalan memasuki ruangan tersebut.
"Kamu, kamu menepati janjimu," Ucap Berta seraya terus menatap Topan dengan tatapan yang terkagum-kagum.
"Selamat pagi bu. Ya, saya datang menepati janji." Topan tersenyum manis. Lalu, ia melirik Bella yang baru saja selesai mandi dan hendak memoleskan make-up di wajah cantiknya.
"Selamat pagi," Sapa Topan kepada Bella.
Bella melirik Topan dengan sikap yang canggung. Lalu, ia hanya tersenyum dan kembali memoleskan make-up tipis di wajahnya.
Berta menatap sikap Topan dan Bella. Lalu, ia tersenyum sendiri. Ia ingat betul saat dimana dirinya dan Pongki mulai merajut kisah asmara. Sikap Topan dan Bella mengatakan bila diantara mereka ada sesuatu yang sangat berarti.
"Bu, kita tinggal menunggu dokter datang, sekitar pukul sepuluh. Yang berarti dua jam dari sekarang. Saya harap, ibu bersabar ya.... Saya juga sudah mengatakan pada rekan saya, untuk menyiapkan sebuah ruangan, untuk ibu dan bapak saat bertemu nanti," Ucap Topan.
"Baiklah," Berta mengangguk dan tersenyum kepada Topan.
"Ibu sudah sarapan?" Tanya Topan lagi.
"Sudah, tadi disuapi sama Bella."
Topan kembali melirik Bella yang baru saja selesai berdandan, dan kini, gadis itu terlihat akan membereskan barang-barang miliknya dan Berta. Karena sebentar lagi ia dan Berta akan meninggalkan rumah sakit tersebut.
Tanpa diminta, Topan langsung bergerak untuk membantu Bella. Sampai tidak disengaja, mereka sama-sama mengambil satu barang yang akan mereka kemas. Tangan Topan menyentuh punggung tangan Bella. Sesaat, mereka saling bertatapan dan mulailah muncul rona merah di pipi Bella. Sedangkan di bibir Topan, mulai mengembang senyuman manis yang menjadi ciri khas lelaki tersebut.
"Kamu saja," Topan mengurungkan niatnya untuk mengambil benda itu.
__ADS_1
Bella mengangguk dan meraih benda tersebut dan memasukan nya kedalam tas koper milik Berta.
Berta yang masih berada di ranjang, terus menatap sikap dan tingkah laku dua insan tersebut.
"Kalian berpacaran?" Tanya Berta.
Wajah terkejut pun muncul di wajah Bella dan Topan yang baru saja menoleh kearah Berta.
"Maksudnya mam?" Tanya Bella.
"Kalian berpacaran kan? Mami tahu,"
"Tahu dari mana?" Tanya Bella lagi, tetapi saat ini di iringi dengan sikap yang tampak salah tingkah.
"Mami pernah muda Bella.. dan... siapa namamu?"
"Ah iya, Topan. Sebenarnya saya lebih suka memanggilmu Paijo," Ucap Berta serata tersenyum getir.
Topan terdiam, ia tahu betul, orang yang bernama Paijo lah yang sangat di sayangi oleh Berta. Buka orang yang bernama Topan.
Sedangkan Bella, gadis itu kembali membereskan barang-barang dan memasukan nya kedalam koper.
"Apakah benar, suami ku meminta kamu untuk menjaga kami?" Tanya Berta lagi.
Topan terdiam beberapa saat, lalu ia mengangguk membenarkan apa yang baru saja menjadi pertanyaan bagi Berta. Sedangkan Bella, tertegun dan mulai menundukkan wajahnya. Bagaimana pun, ia merasa ada yang aneh dengan permintaan Pongki yang menitipkan anak dan istrinya pada orang yang telah mengkhianati dirinya.
"Mengapa daddy menitipkan kami kepadamu?" Tanya Bella dengan suara yang tercekat.
__ADS_1
"Aku tidak tahu," Ucap Topan.
Dan hening..
..
Wajah Pongki terlihat begitu lelah. Ini adalah hari ketiga dia dalam tahanan. Pagi ini, ia termenung dengan semangkuk bubur ayam di hadapannya. Bubur ayam itu masih utuh, belum tersentuh sama sekali. Bahkan, bubur ayam itu sudah dingin. Karena, ia membiarkan nya sudah lebih dari satu jam lamanya.
Wajah Berta dan Bella terus terbayang di pelupuk matanya. Kilas balik atas segala perbuatan dan kejahatan nya pun ikut terlintas. Seperti ia memutar kembali masa-masa dirinya selama hidup.
Mulai dari masa dirinya masih kanak-kanak. Pongki memiliki seorang ayah yang pekerja keras. Ayah pongki adalah seorang petani. Sedangkan ibunya hanya ibu rumah tangga yang membantu pekerjaan suaminya sehari-hari di sawah.
Begitu besar harapan kedua orangtuanya kepada Pongki. Ia berhasil di sekolah kan hingga ke jenjang S1. Pun, begitu juga dengan adik-adik Pongki. Mereka sukses menjejakkan diri di universitas dan mendapatkan gelar S1 nya.
"Kamu jadi orang yang baik. Ingat, orangtuamu memperjuangkan kamu seperti apa. Jadi orang yang sukses dengan keringat sendiri. Jangan pernah melakukan hal yang bodoh. Kamu bisa menghindari masalah, tapi tidak akan pernah bisa menghindari penyesalan." Itulah yang dikatakan ayah nya Pongki saat dirinya duduk di bangku sekolah menengah pertama.
Air mata mulai mengalir di pipi Pongki. Mengingat betapa dirinya sudah mengabaikan nasihat baik yang diberikan oleh ayahnya. Tidak banyak anak yang memiliki orangtua hebat seperti orangtuanya. Tetapi, sebaik apa pun orangtuanya, pilihan hidup tetap berada di genggaman sang anak.
Lalu, terbayang kembali saat Pongki meninggal kampung halaman untuk berkuliah di Ibukota. Betapa orangtuanya melepaskan dirinya dengan hati yang bangga, namun terlihat jelas kesedihan di sorot mata kedua orangtuanya. Namun, semua itu dapat Pongki tebus dengan senyuman bangga yang tak terkira, saat Pongki berhasil menyelesaikan pendidikan nya di Ibukota.
Raut kesedihan kembali terukir di wajah kedua orangtuanya saat melihat Pongki pulang ke Kampung halamannya dalam keadaan hancur karena cinta. Disusul dengan kehadiran Berta yang tengah mengandung anak pertamanya. Malu yang ia lempar ke wajah orangtuanya membuat ia di acuhkan oleh bapak dan ibunya.
Tetapi, ia kembali mendapatkan senyum, saat ia berjanji akan memperbaiki semuanya. Lagi-lagi, orangtua adalah makhluk yang luar biasa. Mereka memiliki kasih dan maaf yang tak terhingga. Akhirnya, ia mampu bangkit, walaupun harus menempuh jalan yang kotor, dan berhasil mendapatkan restu dari orangtuanya dan orangtua Berta untuk dapat menikah dan melangkah dengan janji suci.
Pongki mulai menangis tersedu-sedu. Ketika ia mengingat betapa ia berusaha tersenyum kepada anak dan istrinya. Sedangkan dirinya sedang menjadi target operasi polisi dan mengalami kecemasan yang luar biasa, hingga ia memilih untuk berpisah sementara waktu dengan Berta dan Bella. Akhirnya, ia bertemu dengan Anna yang pernah singgah dalam hidupnya. Dan kini, angan nya membawa dirinya kembali ke kenyataan hidup. Ia terkurung dan sendirian. Untuk mempertanggung jawabkan apa yang telah ia perbuat selama ini.
Ada benarnya pepatah mengatakan, setinggi-tingginya burung terbang, akhirnya ke pelimbahan juga. Seberapa tinggi kita terbang atau berada di atas? Apakah tidak akan terjejakkan tanah? atau pelimbahan? Apalagi, apa yang telah kita lakukan itu bukanlah hal yang baik.
__ADS_1
Pongki mengusap air matanya. Ia menatap bubur yang kini mulai semakin lembek. Hidupnya sudah seperti bubur itu. Mulanya nasi, hingga menjadi bubur. Kini lembek dan mengeluarkan air, mau makan pun terasa malas. Akhirnya ia mendorong mangkuk bubur itu menjauh dari hadapannya. Ia beranjak dari duduknya dan meringkuk di atas tilam tipis yang beberapa hari ini menemani dinginnya malam-malam nya.