
Di dalam lift, Topan dan Bella berdiri bersebelahan. Topan tersenyum melirik ke arah Bella. Sedangkan Bella, ia juga tersenyum, namun ia lebih memilih untuk menyembunyikan senyuman nya dengan menundukkan wajahnya.
Perlahan, tangan topan menyentuh tangan Bella. Jari kelingking mereka saling berkaitan. Senyum terus mengembang di bibir mereka berdua.
Ting!
Pintu lift pun terbuka di lantai 5 hotel tersebut. Bersama, mereka berdua melangkah dan berjalan di lorong hotel itu dengan jari kelingking yang masih terkait. Akhirnya, Topan menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamarnya. Sedangkan Bella, langsung melepaskan jari kelingking nya dari jari kelingking Topan. Lalu, ia melangkah menuju ke depan pintu kamarnya yang berada tepat di sebelah kamar Topan.
"Bye," Ucap Bella sambil tersenyum manis kepada Topan.
"Sampai jumpa lagi, saat makan malam," Ucap Topan yang juga membalas senyuman Bella.
Bella mengangguk dan bergegas membuka pintu kamarnya. Sedangkan Topan, lelaki itu membiarkan Bella menghilang di balik pintu kamar itu. Setelah itu, barulah ia masuk kedalam kamarnya.
Baru saja Topan masuk kedalam kamarnya, ia pun langsung bergegas mengisi daya baterai ponselnya. Sudah hampir 24 jam dirinya tidak melapor kepada team nya. Ia sangat khawatir bila team nya berpikir sesuatu tentang dirinya.
Topan mencoba menyalakan ponselnya. Namun, ponsel Topan tampaknya terlalu kehabisan daya, sehingga tidak bisa langsung dinyalakan. Akhirnya, Topan memutuskan untuk mandi. Ia beranjak ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya yang mulai terasa lengket.
.
Berta mengerutkan keningnya saat Pongki memintanya untuk meninggalkan Pongki bersama lelaki yang bernama Andika itu. Lalu, dengan hati yang bertanya-tanya, Berta melangkah menuju ke arah lift. Ia menekan tombol lift dan menunggu pintu lift terbuka. Sambil menunggu, Berta terus menoleh kearah Pongki yang sedang berjalan ke arah restoran hotel itu.
"Ada apa? Sepertinya sangat penting. Apa menyangkut bisnis ilegalnya?" Gumam Berta yang sangat merasa khawatir saat melihat sikap Andika dan Pongki yang sangat mencurigakan.
"Ah, semoga tidak ada apa-apa. Pongki berjanji akan mengakhiri bisnis itu. Dia juga berjanji akan selalu bersama dengan ku, menghabiskan masa tua yang sangat indah. Aku tidak sabar menunggu masa-masa itu dengan nya." Gumam Berta lagi. Kali ini, tersungging senyuman di bibirnya yang tipis.
__ADS_1
Masa tua yang indah, adalah impian semua manusia yang berada di muka bumi ini. Hidup bahagia, serba kecukupan. Sehat lahir dan batin, melihat anak sukses dan menikah, lalu memiliki cucu-cucu yang cantik dan tampan. Siapa yang tidak memimpikan hal itu?
Ting!
Pintu lift terbuka, Berta pun melangkah masuk kedalam lift tersebut dan melanjutkan khayalan nya tentang masa tua bersama Pongki. Lelaki terkasih yang mengisi hari-hari nya lebih dari 30 tahun belakangan ini.
.
Pongki terdiam saat mendengar informasi dari Andika. Matanya terus menatap Andika dengan tatapan yang tajam.
"Tidak mungkin," Ucap nya dengan suara yang parau.
"Tidak ada yang tidak mungkin boss. Ini informasi terpercaya yang saya pegang." Andika membuka kolom percakapan nya dengan orang yang membocorkan informasi tentang Topan kepada Pongki.
Pongki meraih ponsel Andika dan membaca pesan dari kenalan Andika itu. Ia juga membaca tentang kasus yang melibatkan kenalan Andika tersebut hingga bagaimana lelaki itu mengenal Topan.
Misi Topan di Semarang nyaris saja gagal. Karena Topan sempat di sekap dan di siksa habis-habisan oleh gembong nark*ba targetnya. Beruntung, team Topan dan yang lain nya, datang di waktu yang tepat. Bila saja terlambat lima menit saja, bisa jadi Topan sudah kehilangan nyawanya.
Saat itu, Topan sudah di todong pistol di kepalanya. Darah mengalir dari mulut dan hidung nya. Tatapan Topan sudah nanar, karena dirinya menerima pukulan-pukulan keras yang mendarat di kepala dan wajahnya.
Pelatuk pistol sudah di tarik, peluru sudah siap di posisinya. Senjata itu tinggal di letuskan dan peluru pun akan menembus kepala Topan. Topan merasa pasrah akan apa yang terjadi. Mau tidak mau, ia harus mengabdi pada apa yang menjadi pilihan hidupnya. Yaitu menjadi abdi negara.
Brakkkk..!
Sebuah mobil jeep dengan tameng besi, menghantam pintu gudang tersebut. Saat pimpinan gembong tersebut lengah, Topan berguling ke arah kolong meja. Lalu, aksi tembak tembakan pun terjadi. Dalam tugas itu, Topan pun harus menerima sakitnya di tinggal oleh rekan kerjanya, sekaligus sahabat karib nya sejak jaman pendidikan dulu.
__ADS_1
Beruntung, aksi baku tembak itu dimenangkan oleh kepolisian. Gembong nark*ba itu pun terkena peluru yang menembus tangan dan kakinya. Sedangkan korban nyawa tidaklah sedikit. Dari kepolisian harus merelakan dua abdi yang harus kembali kepangkuan NYA. Sedangkan dari pihak gembong nark*ba, mereka harus kehilangan 5 orang anak buah mereka.
Kasus itulah yang membuat Topan sempat membutuhkan pengawasan psikolog, sebelum ia kembali bertugas 9 bulan kemudian. Polisi korup yang sudah membocorkan identitas Topan, pun di cari. Ternyata, Polisi itu adalah orang terdekat Topan juga. Saat itu juga, polisi korup itu pun di pecat dan ikut di adili dan mendapatkan hukuman yang setimpal.
Pongki menaruh ponsel Andika di atas meja. Lalu, ia menghela nafas panjang dan terdiam. Ia tidak menyangka, bila bocah polos yang sudah ia anggap sebagai anak nya sendiri itu ternyata adalah orang yang akan menyeretnya ke dalam jeruji besi.
Hatinya merasa terkhianati. Namun, ia tidak merasakan marah sama sekali dengan Topan. Entah mengapa, ia jatuh cinta dengan Topan. Topan adalah anak yang baik dan tulus, Pongki dapat merasakan ketulusan itu di mata Topan. Tidak, Topan sedang tidak berakting tulus saat menatap dirinya, dan Pongki sangat tahu itu.
"Mobil mu akan segera datang. Berikan aku alamat rumah mu," Ucap Pongki. Lalu, lelaki paruh baya itu pun beranjak dari duduknya dan meninggalkan Andika yang tersenyum puas di mejanya.
.
Topan yang baru saja selesai berpakaian, langsung menyalakan ponselnya. Baru saja ponsel itu menyala, ada banyak pesan yang langsung ia terima. Beberapa diantaranya adalah pesan dari dua orang sahabat nya, yaitu Antok dan Suprapto.
Bro, apa kamu baik-baik saja?
Pesan dari Antok.
Woi, masih hidup atau sudah mati?
Pesan dari Suprapto.
Topan tersenyum saat membaca pesan dari para sahabat nya itu. Lalu, ia membalas satu persatu pesan yang ia terima. Ia pun merasa lega, karena selama ponselnya tidak aktif, tidak ada satupun kejadian yang membuat ia merasa gagal dalam menjalankan tugas.
Topan beranjak ke arah cermin, lalu ia merapikan rambutnya dan tersenyum semringah. Malam ini, ia dan Bella berencana menghabiskan waktu bersama di sebuah pantai. Sebelum esok masing-masing dari mereka akan kembali ke rutinitas seperti hari sebelumnya dan berpura-pura menjadi supir dan majikan bila berada di lingkungan rumah Bella.
__ADS_1
"Bella... Bella... I love you..!" Gumam nya.
Tanpa ia sadari, sesuatu akan terjadi cepat atau lambat. Tanpa ia sadari, identitas nya sudah berada di tangan target nya sendiri. Yaitu, Pongki.