Masteng

Masteng
121. Cerita puluhan tahun yang lalu


__ADS_3

1986


Dimana pertemuan dua insan, bernama Erna dan Galang. Saat itu, Erna masih memakai seragam Sekolah Menengah Atas. Mereka bertemu tatap saat Erna baru saja pulang sekolah. Ia melihat Ajudan baru Ayah nya yang tampak sangat gagah, tampan dan tegas.


Hatinya berdegup kencang, saat lelaki bernama Galang itu menatap dirinya. Erna mencoba tersenyum ramah, tetapi tidak ada balasan apa pun dari lelaki itu.


"Itu siapa yah?" Tanya Erna.


"Oh, Ajudan ayah. Dia akan tinggal bersama dengan kita dan dua Ajudan lain nya.


Erna pun merasa senang, bila ada kemungkinan dirinya akan terus berjumpa dengan lelaki gagah bernama Galang tersebut.


1987


Dimana Erna dengan Galang semakin dekat. Mereka sering berbincang dikala senja datang. Saat itu, ayahnya sedang melepas penat saat baru saja pulang dari tugasnya.


Semakin hari, semakin menggebu. Perasaan itu pun tumbuh bagai semak belukar. Begitu cepat, begitu sulit untuk dimatikan. Akhirnya, tanpa kata, mereka resmi menunjukan perasaan cinta. Walaupun tak terucap, tetapi perasaan itu selalu terasa nyata kala mereka bersama.


Bersama Galang lah Erna dapat menjadi dirinya sendiri. Mereka kerap tertawa, bernyanyi bersama, bahkan berboncengan motor kala Galang sedang bebas tugas.


"Dek, setelah lulus, apa kamu kuliah?" Tanya Galang, saat mereka sedang berbincang di suatu senja. Tepat di sebuah pantai dengan sunset yang jingga.


"Belum tahu mas," Jawab Erna, yang kala itu akan lulus Sekolah Menengah Atas.


Di hari yang sama, saat Erna pulang dari menghabiskan waktu bersama dengan Galang, terdengar percakapan seru antara empat orang dewasa. Yaitu, kedua orangtua Erna dan kedua orangtua Amoroso. Disana juga terlihat Amoroso yang masih memakai seragamnya. Lelaki itu tersenyum kala melihat Erna yang baru saja masuk kedalam rumah bersama dengan Galang.


"Dari mana saja kalian?" Tanya Ayah nya Erna.


"Ng... aku diantarkan mas Galang membeli buku yah," Ucap Erna berbohong.


"Mana bukunya?" Tanya ayah Erna yabg begitu tegas dalam mendidik anak nya.


"Tidak ketemu. Tidak ada yang jual," Sahut Erna.


Ayahnya Erna menatap Galang yang berdiri dengan sikap sempurna di sudut ruangan itu.


"Apa benar Galang?"


"Siap pak! Benar!" Sahut Galang yang ikut membantu Erna berbohong kepada kedua orangtuanya.


"Ya sudah, kamu keluar. Biarkan kami berbincang."


"Siap pak!" Sahut Galang. Lelaki itu pun keluar dari ruangan itu dan berjaga di depan rumah dinas yang ditempati oleh keluarga Erna.


"Kenalkan, ini adalah calon suami mu," Ucap Ayah Erna.


Bagaikan tersambar petir, Erna terpaku menatap Amoroso.

__ADS_1


"Ca-ca-calon suami?" Tanya Erna.


"Iya, bulan depan kamu akan lulus sekolah. Baiknya kamu langsung menikah dengan Amoroso. Dia adalah Polisi yang baik. Ayah sangat ingin kaku menikah dengan nya."


"Ta-tapi yah..."


"Tidak ada tapi-tapi! Salam kepada calon suami mu!" Bentak ayahnya Erna.


Erna menatap Ayahnya dengan tatapan tak percaya.


"Lelucon apa ini! Aku tidak mau!"


"Erna! Jangan membangkang!"


Erna berlari ke kamarnya, ia merasa kecewa kepada kedua orangtuanya yang seenaknya menjodohkan dirinya dengan orang yang belum pernah ia kenal sebelumnya.


Pertengahan tahun 1987.


Kala itu, hujan turun sangat deras. Erna berlari di derasnya hujan ke tempat dimana ia biasa bertemu dengan Galang. Tubuhnya basah kuyup, bibirnya membiru dan tubuhnya gemetar karena kedinginan. Galang melepaskan jaketnya dan membalutnya nya ke tubuh Erna.


"Mengapa kau nekat? Padahal pernikahan mu tinggal dua hari lagi."


Erna menatap Galang dengan tatapan putus asa. Lalu, ia memeluk Galang dengan erat.


"Ayo kita pergi, bawa aku." Pinta Erna.


"Aku tidak peduli!" Ucap Erna dengan air mata di pipinya.


"Erna, bukan aku tidak mencintai kamu. Tetapi, aku rasa.. inilah yang terbaik," Ucap Galang.


Erna menatap Galang dengan tatapan tak percaya. Hatinya hancur saat mendengar ucapan Galang.


"Kamu menyerah?" Tanya Erna.


"Bukan, hanya saja...."


"Hanya saja kamu menyerah! Itu namanya menyerah! Apakah itu yang dinamakan cinta?" Cerca Erna.


"Kamu tidak mengerti Erna..." Galang berusaha memeluk Erna. Tetapi, gadis itu menepis tangan Galang dan menatapnya dengan tatapan kecewa.


"Aku tidak mengerti? Dari segi apa!"


"Erna ku mohon..."


"Aku kecewa!"


Erna melepaskan jaket milik Galang dan menjatuhkan nya di atas tanah. Gadis itu berlari dan kembali pulang dengan sejuta kecewa di hatinya. Sedangkan Galang, ia hanya mampu menatap kepergian Erna dengan hati yang hancur.

__ADS_1


Akhir Juni, 1987.


Erna bersanding di pelaminan bersama lelaki yang bernama Amoroso. Terlihat kesedihan yang begitu mendalam di wajah Erna. Bagaimana pun, ia tidak bisa menghindari perjodohan itu. Walaupun merasa tertekan, tetapi Galang yang menghadiri acara pernikahan Erna pun mencoba memberikan kekuatan kepada gadis itu.


"Aku baik-baik saja, hiduplah dengan baik setelah ini," Ucap Galang.


Erna sempat menitikkan air matanya. Kala Galang menyalami dirinya di pelaminan.


Pernikahan Erna dan Amoroso berjalan dengan lancar. Walaupun Erna tidak mencintai Amoroso, tetapi ia berusaha keras untuk mencoba mencintai lelaki itu. Erna berusaha menjadi seorang istri yang baik. Melayani, memasak untuk Amoroso dan menyiapkan segala kebutuhan suaminya itu.


Tetapi, sejak Amoroso di kirim untuk bertugas di luar pulau, rasa rindu Erna kepada Galang tidak dapat ia kontrol. Semua bagaikan dinamit yang kerap meledak-ledak di hatinya. Akhirnya dengan berbagai alasan, pada bulan September, Erna memutuskan untuk pindah kerumah orangtuanya.


Pertemuan demi pertemuan, membuat rasa cinta yang harusnya dipadamkan, malah tumbuh semakin besar. Rasa ingin memiliki pun begitu dahsyat hingga akal sehat Erna dan Galang tidak lagi terkontrol. Hingga pada bulan Oktober, tepatnya satu bulan Erna tinggal di rumah orangtuanya, Erna dan galang sepakat diam-diam bertemu di luar. Seperti mengulang memori indah mereka kembali. Semua terasa begitu menggebu-gebu. Hingga akhirnya, terjadilah peristiwa dimana mereka bercinta dengan sangat panas. Bagaikan melepas kerinduan, mereka larut dalam hubungan terlarang yang begitu menggoda.


Januari 1988.


Dimana Amoroso mendapatkan libur pertama nya. Ia pun langsung pulang ke Jakarta untuk menemui istri tercinta nya, yaitu Erna. Saat ia sampai dirumah, ia tidak menemukan Erna. Lalu, ia pun bergegas kerumah Ayah mertuanya. Saat itu ia menemukan Erna disana. Cukup aneh bagi Amoroso, mengapa Erna lebih memilih tinggal disana. Hingga akhirnya Gosip pun mulai merebak, Amoroso mengetahui bila Erna pernah memiliki hubungan spesial dengan Galang.


Pertengkaran hebat pun terjadi, namun Erna berhasil meyakinkan Amoroso bila dirinya dan Galang tidak memiliki hubungan apapun selain hanya sebagai mantan kekasih saja. Pertengkaran mereka pun reda, kala Erna mau kembali ke rumah dinas mereka. Tetapi, setelah Amoroso kembali kepada tugasnya, Erna pun kembali tinggal dirumah orangtuanya, tanpa sepengetahuan Amoroso.


Hubungan terlarang itu kian berjalan, tanpa ada satu orangpun yang tahun Hingga suatu hari, di bulan Juli. Erna dan Galang semakin menggila. Mereka kerap melakukan hubungan suami istri. Tanpa Erna ketahui, bulan itu juga Amoroso kembali ke Jakarta.


Erna sempat terkejut saat Amoroso kembali tanpa memberitahu dirinya. Nasib baik bagi dirinya, saat Amoroso pulang, dirinya sedang berada di rumah bersama dengan keluarganya. Amoroso pun merasa semua baik-baik saja, tanpa ia sadari, ia telah habis-habisan di bohongi oleh Erna dan Juga Galang.


Setiap Amoroso pulang, mereka kembali ke rumah dinas mereka. Selama satu minggu, Erna menghabiskan waktu bersama dengan Amoroso. Hingga tiba saatnya Amoroso kembali bertugas, Erna mulai merasa bebas bisa bertemu kembali dengan Galang.


Jangan ditanya perasaan Galang saat Erna bersama dengan Amoroso, hatinya hancur berkeping-keping. Hingga ia merasa, dirinya adalah bajingan yang tega merebut istri orang dan membohongi suami orang tersebut. Ia kerap menyalahkan dirinya sendiri, namun cinta yang menggebu itu, tidak mampu ia padamkan. Ia tetap berusaha berjalan dengan Erna, walaupun perasaan bersalah kerap menghantui dirinya.


Hingga pada bulan Agustus tahun 1988. Erna mendapatkan dirinya tengah mengandung. Perasaan hancur dan bingung hinggap di hatinya. Ia merasa bingung siapa ayah dari bayi yang tengah ia kandung. Hingga kabar kehamilan itu singgah di telinga Galang.


Galang bukan hanya Erna, Galang pun mulai bertanya-tanya, siapa ayah dari bayi yang Erna kandung. Seberapapun seringnya Galang bertanya, Erna tetap mengatakan bisa bayi yang ia kandung adalah anak dari Amoroso. Hingga membuat Galang pun menyerah, ia merasa harus menjaga jarak dengan Erna.


Hubungan mereka berakhir begitu saja, saat Erna melahirkan anak pertama nya di bulan April tahun 1989, yang diberikan nama Topan Alexander. Nama itu adalah pemberian dari ayah Erna yang begitu bahagia, saat mengetahui cucu pertamanya adalah anak laki-laki.


Meskipun hubungan itu berakhir, namun Erna dan Galang berusaha biasa saja. Walaupun masih ada perasaan cinta yang begitu dalam diantara dua hati itu, namun semua harus mereka bunuh. Karena memang tidak seharusnya terus di pelihara, karena saat ini, Erna sudah menjadi seorang ibu dari anak hasil pernikahan nya dengan Amoroso.


Walaupun begitu, bagi Galang, ia tetap meyakini bila Topan adalah anak kandungnya. Ia merasa Topan bagaikan dirinya saat masih balita. Banyak kemiripan diantara mereka membuat desas desus perselingkuhan itu semakin menguat.


Cara Galang untuk menyalurkan perasaan cintanya yang terlarang kepada Erna adalah, dengan cara menyayangi Topan. Walaupun sebenarnya, Erna merasa enggan bila Galang dan Topan begitu dekat. Ia takut, gosip itu akan terus menguap dan terdengar oleh Amoroso yang akan pulang pada bulan Mei 1990.


Satu tahun sudah Amoroso bertugas, akhirnya ia dapat pulang untuk melihat anak pertamanya untuk yang pertama kali. Kala itu, usia Topan sudah genap satu tahun. Perasaan hancur tidak dapat Amoroso hindari saat Topan begitu takut melihat dirinya yang baru saja pulang dan berjalan menghampiri Topan yang sedang bermain di halaman rumah orangtua Erna.


"Baba! Atut!" Seru Topan. Topan berlari menghampiri Galang yang terdiam saat menatap Amoroso yang terlihat begitu kesal kepada dirinya.


Tidak hanya sampai disitu, suatu malam, ia mendengar percakapan antara dua orang Ajudan yang tinggal bersama dengan mertuanya. Mereka terlihat asik membicarakan hubungan Erna dan Galang.


"Si Galang mati kutu, karena suami Erna sudah pulang. Mereka tidak berduaan lagi." Begitulah kalimat yang Amoroso dengar, yang membuat jantung dan hatinya terbakar cemburu.

__ADS_1


Pertengkaran hebat pun dimulai. Hingga akhirnya Galang terusir dan dipindahkan ke pelosok Negeri ini. Sedangkan Amoroso, ia kembali menjalani hari sebagai seorang abdi Negara dan juga suami dari wanita yang ia cintai, serta Bapak dari anak yang sampai detik ini ia ragukan, yaitu Topan Alexander.


__ADS_2