Masteng

Masteng
131. Persidangan


__ADS_3

Dreett..!


Bella yang sedang duduk di samping Berta, menatap ponselnya dan mendapati nama Topan di layar ponselnya. Ingin sekali ia mengangkat panggilan dari Topan. Namun, sidang sedang berjalan, suasana begitu tenang, hanya terdengar suara dari hakim jaksa penuntut umum yang sedang mengajukan pertanyaan kepada Pongki.


Bella menolak panggilan dari Topan. Namun, ia langsung mengirim pesan kepada lelaki yang sangat ia cintai itu.


Maaf, aku sedang di ruang sidang. Sidang baru saja di mulai 30 menit yang lalu.


Tak berapa lama kemudian, Bella mendapatkan balasan pesan dari Topan.


Ya sudah, aku minta maaf bila aku tidak bisa mendampingi kamu. Aku sedang bertugas. Salam buat mami ya.. dan aku berharap segala yang terbaik untuk pak Pongki.


Bella tersenyum, lalu ia membalas pesan tersebut.


Terima kasih, Aamiin. Selamat bertugas mas. I love you.


Mas?


Balas Topan.


Aku calon istri mu, jadi sudah saat nya aku memanggil kamu 'mas'.


Balas Bella.


So sweet.. Baiklah adinda. Mas kerja dulu, kamu baik-baik ya..


Balas Topan.


Iya mas sayang. Jangan lupa nanti malam ajak aku jalan-jalan. Aku mau cerita banyak sama mas.


Balas Bella.


Iya sayang. Sampai jumpa nanti malam. Cinta kamu banyak-banyak.


Balas Topan.


Cinta kamu banyak-banyak juga mas.


Balas Bella.


Setelah itu, Bella kembali melihat proses persidangan. Di depan sana, terlihat Pongki yang duduk di kursi pesakitan. Lelaki tua itu terlihat tenang dan menjawab segala pertanyaan dengan jelas dan sejujur-jujurnya.


"Jadi, apakah saudara mengakui bila pabrik itu milik saudara?"


"Iya, itu milik saya," Sahut Pongki.


"Sudah berapa lama berdirinya pabrik tersebut?"


"Sudah sekitar tiga tahun lebih di daerah itu." Jawab Pongki.


"Sebelumnya dimana?"


"Sebelumnya di daerah Jakarta Selatan. Tetapi, karena di curigai, saya memindahkan pabrik itu di sana."


Semua yang berada di ruangan itu mengangguk paham. Pongki memang pernah di curigai menjadi pemilik pabrik narkoba di Jakarta Selatan. Dulu sempat berita itu viral. Hanya saja, berita itu menghilang begitu saja, bersama Pongki yang melarikan diri dan bertemu dengan Anna.


Jalan nya persidangan itu sekitar 3 jam, lengkap bersama dengan para saksi yang bersaksi atas kejahatan Pongki. Akhirnya, sidang tersebut pun berakhir. Dan akan di adakan sidang kedua beberapa minggu lagi.


Pongki pun di bawa oleh Polisi berseragam hitam untuk kembali ke bus yang akan membawa dirinya kembali ke Lapas, bersama beberapa narapidana lain nya. Sedangkan Bella dan Berta, langsung di serbu wartawan untuk di mintai keterangan atas pengakuan dari Pongki selama di persidangan.


Berta mencoba menghindari wartawan. Namun, tidak dengan Bella. Bella melepaskan genggaman tangan Berta yang mengajak nya untuk menyelamatkan diri dari pertanyaan para wartawan.

__ADS_1


"Bella!" Berta terlihat bingung dengan Bella yang menghentikan langkahnya dan menatap para pencari berita dengan wajah yang terlihat tegar dan tegas.


"Mbak Bella, bagaimana pendapat mbak tentang pengakuan ayahanda?" Tanya para wartawan.


"Saya, Bella Anastasya Susilo. Mewakilkan daddy saya, Pongki Susilo. Ingin menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh rakyat Indonesia. Atas kesalahan daddy saya yang telah merusak generasi bangsa." Bella merunduk di depan banyak orang dan kamera yang sedang menyorot dirinya.


"Saya tahu, perbuatan daddy saya tidak akan termaafkan dan sangat memalukan. Tetapi, disini daddy saya dan juga keluarga telah menebus kesalahan itu. Terima kasih," Ucap Bella. Lalu, bella kembali berjalan menerobos para wartawan yang terlihat kurang puas dengan jawaban Bella.


"Satu lagi mbak Bella, bapak Pongki kemungkinan akan menerima hukuman mati atau seumur hidup. Apa tanggapan keluarga?"


Bella menghentikan langkahnya dan menatap wartawan yang bertanya. Lalu ia tersenyum kepada wartawan itu.


"Mohon doa yang terbaik saja. Bila memang itu hukum yang di dapat. Mungkin daei keluarga dan daddy saya pun sudah siap untuk menerimanya." Bella kembali melangkah dan memasuki mobilnya.


"Mbak Bella... satu lagi mbak!" Panggil para pencari berita tersebut.


Namun, Bella bergeming. Ia menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan halaman gedung pengadilan tersebut.


Berta terdiam sambil menatap Bella yang sedang mengendarai mobil tersebut.


"Mengapa sekarang kamu terlihat sangat dewasa dan bijak? Mami seperti menemui Bella dengan versi terbarunya."


Bella menoleh sebentar kepada Berta, lalu ia tersenyum tipis dan kembali menatap ke arah jalanan Ibukota yang terlihat sangat padat pada siang hari itu.


"Semua orang bisa berubah mam. Tetapi, berubah menjadi lebih baik itu adalah pilihan yang seharusnya," Ucap Bella.


Berta tersenyum, ia mengusap rambut Bella dengan lembut.


"Mami makin sayang dengan kamu Bell. Mami jadi yakin, bila suatu saat mami sudah tiada, kamu bisa hidup mandiri dengan lebih baik," Ucap Berta.


"Sssttt.. sudah, jangan ngomong gitu dong mi. Mami akan selalu dengan Bella, bisa melihat Bella menikah, melihat cucu mami lahir, dan melihat Bella bahagia bersama dengan Topan."


"Aamiin, sayang.." Ucap Berta.


...


Erna terdiam di bangku tunggu tepat di depan ruangan dimana Amoroso di rawat. Ia memikirkan segala yang pernah terjadi. Termasuk kesalahan nya dimasa lalu, hingga apa yang terjadi saat ini.


Ia begitu mengenal sikap siapa yang ada pada diri Topan. Tidak bisa ia pungkiri bila itu semua adalah warisan dari Galang. Ya, hatinya selama ini mengatakan Topan adalah anak Galang. Hanya saja, ia terus mengingkarinya. Dan hari ini, ia diselamatkan oleh Topan. Anak yang sangat ia sayangi. Bila saja Topan tidak melakukan hal itu, mungkin saja saat ini Amoroso akan kembali anfal.


Erna mengusap air matanya yang terjatuh di pipinya. Angan nya kembali ke puluhan tahun yang lalu. Saat dimana ia mengatakan bahwa dirinya sedang mengandung.


"Mas, aku hamil."


"Benarkah?" Galang tersenyum dan langsung memegangi perut Erna yang belum membuncit.


"Mas, tetapi ini bukan anak mu,"


Seketika senyum di bibir Galang memudar. Lelaki tampan itu terdiam dan menatap Erna dengan sorot mata yang terlihat kecewa.


"Bukankah selama ini kau bersama denganku?" Tanya Galang.


"Ya, tetapi bulan lalu kan Amoroso pulang. Sudah pasti aku melakukan nya dengan dia."


"Apa kau yakin itu anak Amoroso? Bukan kah dia anak ku?"


"Tidak, dia anak Amoroso. Dia anak dari suamiku. Mas, aku rasa... hubungan kita sampai disini saja."


Bagaikan tersambar petir, Galang terkejut mendengar ucapan Erna.


"Maksudnya?" Tanya Galang.

__ADS_1


"Mas, aku mengandung dan tidak mungkin kita tetap bersama. Sudah saat nya kita akhiri semuanya. Hadirnya anak akan membuat aku semakin terikat dengan Amoroso. Aku mohon, mas mengerti. Lagi pula, hubungan kita tidak mungkin. Orangtuaku sangat menyayangi Amoroso. Aku tidak mungkin meninggalkan dia."


"Tetapi... Aku yakin anak yang kamu kandung itu anak ku Erna.."


"Tidak, ini adalah anak Amoroso. Kita telah melakukan berbulan-bulan. Tetapi, sejak Amoroso pulang, aku langsung hamil."


"Erna, tapi bisa saja itu anak ku."


"Bukan.. kita akhiri sampai disini. Maafkan aku mas," Ucap Erna, seraya pergi meninggalkan Galang begitu saja.


"Erna!" Galang memanggil Erna dan mengejar wanita itu. Galang meraih pergelangan tangan Erna dan menahan langkah Erna.


"Apa lagi mas... aku mau kita berakhir. Aku sedang mengandung, dan itu tidak pantas bila aku terus-menerus bersama denganmu!" Erna berusaha melepaskan cengkraman tangan Galang dari pergelangan tangan nya.


"Jadi hubungan kita benar-benar berakhir sampai disini?" Tanya Galang.


Erna menganggukkan kepalanya.


"Kalau saja itu anak ku bagaimana?" Tanya Galang lagi.


"Aku yakin, ini bukan anakmu." Ucap Erna dengan tegas.


"Kalau, aku berbicara kalau!" Galang terlihat sangat frustasi.


"Tidak ada kata kalau."


"Erna, aku mencintaimu. Aku mohon jangan seperti ini. Aku tidak siap kehilangan kamu." Galang mencoba memeluk Erna, namun Erna mencoba menghindarinya.


"Mas, gak enak dilihat orang mas,"


"Aku tidak peduli dengan orang-orang! Aku mencintaimu! Sangat-sangat mencintai kamu. Aku tidak ingin kehilangan kamu Erna!"


"Mas, aku sudah bersuami! Tolonglah.. aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Sudah cukup kita berdosa. Aku tidak ingin membawa anak ini di dalam dosa kita juga. Aku ingin berakhir, sungguh."


Galang terdiam, lalu ia melepaskan cengkraman tangannya dari pergelangan tangan Erna. Lalu, dengan pasrah ia membiarkan Erna mulai melangkah meninggalkan dirinya.


"Erna," Panggil Galang.


Erna menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Ia menatap wajah sendu dari lelaki yang sangat ia cintai itu.


"Aku akan menunggu kamu. Mau itu setahun, dua tahun, lima tahun, sepuluh tahun, atau bahkan seumur hidup ku. Aku mencintaimu bagaikan Rahwana yang mencintai Shinta, dan aku harus merelakan kamu untuk sang Rama. Merelakan bukan berarti berhenti mencintai. Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan bila kamu kecewa kepadanya. Kembalilah kapan pun itu. Aku akan selalu menerima apa pun kondisi kamu."


"Kamu tidak perlu melakukan itu untuk ku," Ucap Erna.


"Ini tentang hati, Erna..."


"Tetapi kamu punya kehidupan! Kamu berhak bahagia setelah ini! Carilah wanita lain, lalu menikah, punya anak dan hidup bahagia."


"Tidak, hatiku berhenti di kamu. Cinta ku abadi untuk kamu. Itu janji ku,"


"Sudahlah," Erna kembali melanjutkan langkahnya.


"Aku tidak main-main Erna!" Teriak Galang.


Namun, Erna terus berlalu begitu saja.


"Kamu lihat nanti Erna!" Teriak Galang lagi.


..


Erna menangis mengingat kejadian dimana perpisahan antara dirinya dan Galang. Walaupun mereka masih kerap bertemu, namun mereka sudah tidak menjadi sepasang kekasih lagi. Terlebih saat kelahiran Topan. Erna terus membatasi dirinya dengan Galang. Walaupun Topan sangat dekat dengan Galang, sang ayah kandung.

__ADS_1


__ADS_2