
"Besok kita pulang ke Jakarta," Ucap Bella, saat ia menyerahkan obat demam kepada Topan.
"Hmmm..." Topan menyambut obat itu dan meminum nya dengan air mineral.
"Iya ya... ini sudah hari ke empat ternyata,"
Bella menatap Topan dengan wajah yang tampak sedih.
"Loh, kenapa kok sedih?" Tanya Topan, sambil menaruh botol air mineral ke atas meja di samping ranjang itu.
"Gak, gak apa." Bella beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ke jendela kamar itu.
"Apakah, di Jakarta sikap mu akan berubah?" Tanya Bella sambil menatap ke luar jendela. Rinai gerimis masih membasahi dedaunan di sekitar penginapan itu.
"Ya.. saya kan supir,"
"Tetapi kamu kekasihku," Ucap Bella dengan tegas, sambil menatap Topan dengan tatapan yang penuh keyakinan.
Dan hening....
Topan beranjak dari duduknya dan melangkah menghampiri Bella. Sedangkan Bella kembali menatap keluar jendela kamar itu.
Topan memeluk Bella dari belakang dan mengecup lembut puncak kepala gadis itu. Tidak seperti biasanya, Bella tidak lagi merasa jijik dengan lelaki itu. Justru, ia menggenggam tangan Topan yang sedang melingkar di perutnya.
"Saya janji, saat berdua denganmu, saya akan bersikap layaknya pasanganmu. Tetapi, bila didepan mami dan daddy mu, saya terpaksa bersikap biasa saja."
Bella memutar tubuhnya dan menatap Topan begitu dalam.
"Harus seperti itu?" Tanya Bella.
"Ya, karena aku yakin, tidak ada satupun orangtua yang ingin anak nya berpacaran dengan seorang supir."
Bella terdiam membisu. Tanpa kata, ia merebahkan kepalanya di dada Topan. Topan pun membalas nya dengan pelukan yang hangat.
"Sudah tidak dingin lagi?" Tanya Bella.
"Tidak, tetapi masih meriang sedikit," Sahut Topan.
"Jo..."
"Ya..?"
"Siapa kamu sebenarnya?"
Topan melepaskan pelukannya dan menatap Bella dengan seksama.
"Apa tujuan mu melamar pekerjaan di rumah ku. Kalau kamu mencintai aku, jujur lah kepadaku," Pinta Bella.
Topan menundukkan wajahnya dalam-dalam. Lalu, ia kembali menatap kedua mata Bella yang bulat dan indah.
"Please, kamu bukan supir beneran kan?" Bella terus memaksa Topan untuk jujur kepadanya.
"Aku supir,"
"Kamu bohong, apa jangan-jangan kamu adalah polisi yang sedang menyamar ya? Atau agen rahasia seperti di film-film itu?" Ucap Bella sambil tertawa geli.
Topan terdiam, ia terduduk di tepi ranjang. Perlahan, senyum Bella memudar, tadinya ia tertawa geli dan berniat bercanda, setelah melihat ekspresi wajah Topan yang tidak tersenyum sedikitpun membuat hatinya bertanya-tanya.
"Jo... kenapa? Apa jangan-jangan..." Bella menutup mulutnya dan memilih tidak melanjutkan ucapannya.
"Apa yang harus aku lakukan? Apa aku jujur saja? Tetapi.... ini adalah pekerjaan ku, sumpahku pada negara ini," Batin Topan.
"Jo.."
__ADS_1
"Ah... ya?" Topan mengerjapkan kedua matanya dan menatap Bella dengan seksama.
"Apa kamu... memang seorang agen atau polisi? Mengapa kamu menyamar dan bekerja di rumahku? Siapa yang mau kamu incar?" Tanya Bella.
Topan menegaskan rahangnya. Lalu, menelan salivanya dan menundukkan wajahnya.
"Hhhhh...." Topan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan nya.
"Jo... Jujur sama aku, ada apa? Siapa kamu sebenarnya? Siapa yang akan kamu tangkap?" Desak Bella.
"A-aku..." Topan kembali menelan salivanya. Ia terus menatap Bella dengan jantung yang berdebar kencang.
"Kamu apa?" Tanya Bella.
"Ya Allah..." Topan bangkit dari duduknya dan memeluk Bella dengan erat.
"Aku tidak mungkin menghianati negara ku." Batin Topan.
"Aku sudah bilang, aku hanya supir biasa," Bisik Topan.
Bella melepaskan pelukan Topan dan menatap Topan, ia memastikan bila Topan tidak berbohong kepada dirinya. Lalu, Bella menggelengkan kepalanya, menandakan dirinya tidak percaya dengan Topan.
"Tidak, kamu sedang berbohong." Tegas Bella.
"Siapa namamu sebenarnya, dan apa tujuan mu. Apa pekerjaan mu yang sebenarnya?" Tanya Bella lagi.
Topan memejamkan kedua matanya dan kembali memeluk Bella dengan erat.
"Aku hanya seorang Paijo. Lelaki Desa yang kampungan. Aku Paijo yang mencintai anak majikan ku. Hanya itu informasi yang dapat aku katakan," Ucap Topan.
"Tetapi.. Jo..."
Tok! Tok! Tok!
Bella dan Topan saling bertatapan,
"Kamu memesan apa lagi?" Tanya Topan.
"Aku tidak memesan apa-apa,"
Sebagai abdi negara, sikap was-was Topan pun keluar. Lalu, ia melepaskan tangan nya yang melingkar di pinggang Bella, lalu ia pun melangkah dengan berhati-hati dan dengan perlahan ia membuka pintu kamar itu.
Terlihat dua orang berkacamata hitam berdiri di depan pintu kamar mereka. Topan mulai bersikap siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.
"Paijo?" Tanya lelaki dengan rambut halus yang tumbuh di dagunya.
"Bapak siapa ya?" Tanya Topan.
"Kami adalah orang suruhan bapak Pongki. Kami mendapat perintah untuk mencari anda dan anak dari bapak Pongki, yaitu mbak Bella.
Topan menatap kedua orang tersebut, mencoba mengukur dan mencari kejujuran di wajah mereka berdua.
"Bisa saya bicara dengan bapak Pongki? Ponsel saya dan ponsel non Bella kehabisan baterai. Kami terperangkap disini semalaman hingga siang ini, karena hujan." Terang Topan.
Seorang di antara dua lelaki itu langsung meraih ponselnya dari dalam saku celana. Lalu, ia mencoba menghubungi Pongki.
"Siang pak, sudah ketemu. Tetapi, Paijo meminta untuk berbicara dengan bapak," Ucap lelaki itu.
Tidak berapa lama, lelaki itu menyerahkan ponselnya kepada Topan.
"Halo pak boss?" Sapa Topan, saat ponsel itu berada di genggaman nya.
"Paijo... Kemana saja kamu? Bella tidak apa-apa kan?"
__ADS_1
"Ah.. pak boss, kami baik-baik saja. Semalam kami terperangkap karena hujan dan kami kelelahan. Akhirnya non Bella meminta untuk menginap, karena tidak sanggup melanjutkan perjalanan pulang. Lagi pula, pakaian kami basah kuyup." Terang Topan.
"Lalu, apa kamu sekamar dengan anak saya?"
Topan terdiam, ia bingung akan menjelaskan nya bagaimana.
"Halo Jo..."
"I-i-iya pak.." Sahut Topan.
"Iya bagaimana? Kalian sekamar? Apa yang terjadi?"
"Ngg....." Topan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Siniin.." Bella merampas ponsel itu dan mencoba berbicara dengan Pongki.
"Dad, sampai jumpa di sana. Aku pulang sekarang. Nanti dibahas di hotel saja," Ucap Bella.
Gadis itu pun mematikan sambungan telepon itu dan menyerahkan nya kepada pemilik ponsel tersebut.
"Non Bella, saat nya pulang. Karena besok pagi-pagi sekali non Bella dan keluarga akan kembali ke Jakarta."
"Baik, bawa mobil kan?"
"Bawa non," Sahut orang suruhan Pongki.
"Motor nya gimana?" Tanya Bella.
"Tenang saja non, ada yang membawa motornya kembali ke Kuta. Jadi, non Bella dan Paijo pulang bersama dengan kami dengan mobil saya."
"Oh, baik. Biarkan kamu berberes dulu," Pinta Bella.
"Baik non," Kedua lelaki itu pun beranjak meninggalkan kamar Bella menuju ke lobby penginapan tersebut.
"Kita harus pulang," Ucap Bella.
Topan tersenyum dan mengangguk pelan.
"Kamu masih berhutang kejujuran dengan ku. Aku harap, suatu saat kamu akan jujur siapa kamu."
Topan terdiam mendengar ucapan Bella. Lalu, ia menahan tangan Bella yang hendak membereskan barang-barang nya.
"Bella.."
Bella menghentikan langkahnya dan menatap Topan dengan seksama.
"Ya...?"
"Apa pun yang terjadi, aku mencintaimu. Sangat mencintai kamu," Ucap Topan. Lalu, Topan menyenderkan bella di dinding kamar itu, dan mengecup bibir Bella dengan lembut.
"Humffffff..."
Bella tidak dapat menolak nya, dan juga tidak dapat berkata apa-apa. Ia memejamkan kedua matanya dan hanya mencoba untuk menikmati sentuhan lembut bibir Topan.
Hening....
Beberapa saat suasana kamar itu hening... hanya ada hati yang merasakan benih-benih cinta yang mulai mendewasa dan lalu siap untuk membara.
Topan menghentikan ciumannya, lalu ia menatap kedua mata Bella yang mulai terbuka perlahan. Lalu, Topan mengusap lembut bibir Bella dengan ujung ibu jarinya.
"Ayo kita pulang. Aku berjanji, akan menceritakan nya di Jakarta," Ucap Topan.
Bella tersenyum malu-malu, lalu ia mengangguk dan mulai membereskan barang-barang nya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian. Bella dan Topan muncul di lobby hotel tersebut. Layaknya pasangan yang terciduk, mereka di giring menuju ke mobil dan di bawa kembali ke Kuta, oleh orang suruhan Pongki.