Masteng

Masteng
149. Wawancara dan tes


__ADS_3

Tes Psikotes, Wawancara, dan Tes Kesehatan itulah yang akan dilakukan oleh Bella pada hari ini. Tes Psikotes dilakukan untuk mengatahui sifat atau karakter calon istri polisi. Sedangkan wawancara, dilakukan dengan cara mengisi di sebuah lembaran yang sudah di sediakan sebelumnya, yang harus di isi oleh calon Bella. Lalu, akan dilanjutkan dengan tes Kesehatan.


Bella memasuki sebuah ruangan dengan Topan. Disana sudah ada beberapa pasang calon pengantin polisi yang juga akan melakukan tes, sama seperti pasangan Topan dan Bella. Topan dan Bella diminta untuk duduk terpisah. Masing-masing dari mereka diberikan beberapa lembar kertas untuk mereka isi. Yaitu, mengisi psikotes.


Hal ini tentu gampang sekali oleh Bella. karena dirinya memang sudah terbiasa melakukan tes tersebut dan juga biasa memberikan lembar tersebut kepada klien nya.


Tes pertama, sangat mudah. Dilanjut oleh tes wawancara, yang sebelumnya Bella diharuskan untuk mengisi pertanyaan-pertanyaan yang berisi seputar tentang calon suaminya. Seperti siapa nama lengkap calon suami, tanggal lahir calon suami, berapa gaji calon suami, sudah berapa lama berpacaran, pangkat dan lain sebagainya. Semua dilakukan agar juri bisa menilai, seberapa mengenalnya Bella tentang sosok lelaki yang akan ia nikahi.


Bella sempat menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat pertanyaan tentang gaji. Bella tidak tahu menahu tentang gaji Topan. Pertanyaan wawancara tertulis kali ini sangatlah berat bagi Bella. Karena dia diharuskan benar-benar tahu dan mengenal Topan. Tidak hanya tentang Topan, tapi tentang kedinasan Topan sendiri.


"Huffffff!" Keluh Bella di dalam hatinya.


Bella melirik Topan yang tampak asik mengisi lembar wawancara yang sama. Karena selain Bella, Topan pun harus melakukan hal yang sama. Tetapi, tampaknya Topan sangat tenang dan sangat mengenal Bella. Bagaimana tidak, Topan sangat mengenal Bella dengan baik.


"Tidak tahu." Akhirnya Bella mengisi jawaban tentang gaji Topan dengan kalimat tersebut.


Bukan hanya pertanyaan itu yang membuat Bella merasa bingung. Pertanyaan dimana ia harus mengisi dengan sejujurnya adalah "Dimana Bella mengenal Topan untuk yang pertama kalinya."


Degggggg!


Apakah harus Bella mengatakan bila dirinya mengenal Topan saat Topan menyamar jadi supirnya?


"Astagaaaaa..! Tuhan helllpppp!" Jerit Bella di dalam hatinya. Tangan Bella berkeringat, pun dengan peluh yang mulai berjatuhan dari dahinya.


"Aku harus apa?" Batin nya lagi.


Tetapi Bella yakin, berbohong pun percuma. Dirinya sudah kerap masuk televisi karena ulah dari daddy nya. Kehidupan nya bukan lagi rahasia bagi kebanyakan orang diluar sana. Akhirnya Bella pasrah, ia menjawab semua pertanyaan dengan jujur. Karena hanya kejujuran lah yang mampu menyelamatkan dirinya dari penyesalan dikemudian hari. Belajar dari Pongki, Bella benar-benar tidak ingin terjerumus dalam kebohongan yang membuat Pongki harus berpisah dengan keluarganya. Andai saja Pongki jujur saat sebelum ia tertangkap. Mungkin Bella dan Berta meminta Pongki untuk berhenti sampai disitu.


Bella menghela nafas panjang dan mulai menulis segala kisah tentang nya dan Topan. Kisah singkat yang membuat mereka saling jatuh cinta. Kisah yang tidak biasa, yang mungkin hanya segelintir orang yang mengalami hal yang sama dengan dirinya. Bahkan, bisa dihitung dengan jari. Polisi yang jatuh cinta dengan putri targetnya sendiri dan memutuskan untuk ke jenjang yang lebih serius. Yaitu, pernikahan.


Topan lebih awal selesai mengisi tentang wawancara tertulis. Bella sempat melirik Topan yang terlebih dahulu mengumpulkan lembaran-lembaran pertanyaan itu.


Sepuluh menit kemudian, Bella beranjak dari duduknya dan dirinya pun diminta untuk keluar ruangan dan pergi ke ruangan lain nya untuk melakukan tes kesehatan. Sedangkan Topan beranjak ke ruang wawancara secara langsung dan membahas tentang pertanyaan-pertanyaan yang telah ia isi sebelumnya di lembaran wawancara tertulis tersebut.


Jantung Bella berdegup kencang saat dirinya menghadapi seorang petugas medis dari kepolisian. Wanita paruh baya dengan jubah medis itu duduk di balik meja kerjanya. Wanita itu tersenyum dan mempersilahkan Bella untuk duduk dihadapan.


"Bella Anastasya Susilo?" Ucap nya.


"Iya bu," Sahut Bella.


"Sudah siap untuk tes?"


"Sudah bu," Sahut Bella lagi, tentu saja dengan jantung yang semakin berdebar kencang.

__ADS_1


"Kita tes tensi darah dulu ya,"


Bella mengangguk dan menyerahkan lengan kanan nya untuk di pasangkan alat tensimeter digital.


Dokter wanita itu terlihat serius, tidak ada senyum di wajahnya. Dokter itu pun menekan tombol yang terdapat di alat tensimeter, setelah ia memasangkan nya di lengan Bella.


"Seratus dua puluh per delapan puluh ya. Normal," Ucap dokter itu.


"Iya dok." Sahut Bella.


Setelah itu dokter mengecek apa yang seharusnya ia cek. Hingga tibalah ke pengecekan di daerah pribadi Bella. Bella diminta untuk tidur di sebuah bed khusus. Dimana bed tersebut memiliki sanggaan untuk kedua kaki Bella.


Bella menelan salivanya. Selama ini tidak ada satupun orang yang pernah melihat daerah sensitifnya.


"Allahu Akbar!" Pekiknya di dalam hati.


Tetapi, mau bagaimana lagi. Demi bisa menikahi sang pujaan hati, Bella harus melakukan syarat-syarat mutlak tersebut. Itu karena status dia belum pernah menikah sebelumnya. Berbeda bila dirinya sudah pernah menikah dan terbukti sudah bercerai dengan suami sebelumnya.


Bella pasrah, ia berbaring dengan posisi yang diminta oleh dokter tersebut. Dokter mulai melakukan tugasnya dengan baik. Tidak lama kemudian, dokter tersebut sudah selesai melaksanakan tugasnya dan mulai melepaskan sarung tangan karet dari tangan nya.


"Sudah," Ucap dokter tersebut.


Bella tersenyum dan mulai memakai pakaiannya.


"Sekarang bisa langsung ke ruang wawancara," Ucap dokter itu lagi.


Sepeninggal Bella, dokter itu pun menatap berkas Bella. Ia tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Aku tahu siapa gadis itu, dia begitu hebat."


Melihat dari orangtua Bella yang memiliki kasus, tetapi dia memiliki kehidupan yang sehat, merupakan contoh nyata bagi dokter itu. Bila tidak selamanya orangtua penjahat, ingin anak nya mencicipi dunia hitam.


Dokter itu menandatangani berkas hasil pemeriksaan dan mulai menyerahkan nya kepada asistennya yang juga ada di ruangan itu.


"Serahkan ini ke juri." Pintanya.


..


Bella memasuki ruangan wawancara. Disana sudah ada Topan yang menunggu dirinya. Topan tersenyum saat melihat Bella memasang ruangan itu.


Bella duduk berdampingan dengan Topan yang sedang menunggu acara wawancara itu dimulai. Topan pun penasaran dengan apa yang telah dilakukan Bella di ruang tes kesehatan.


"Bagaimana?" Tanya Topan dengan suara yang nyaris tak terdengar.

__ADS_1


"Alhamdulillah lancar," Sahut Bella.


"Josss..!" Topan terlihat sangat bersemangat.


Bella mengulum senyumnya dan menatap kedua mata Topan yang berbinar.


Selang beberapa menit kemudian, Bella dan Topan mulai diajukan pertanyaan tentang berkas yang mereka isi tadi. 'Mengenal calon suami atau istri'. Mereka mulai di ajukan pertanyaan yang sama untuk mengetahui konsistensi dari apa yang mereka tulis sebelumnya.


Pertanyaan awal lancar-lancar saja. Hingga tibalah ke tentang pertanyaan dimana Bella mengenal Topan. Disitu juri sempat terdiam saat membaca jawaban tertulis dari Bella.


"Mbak Bella, apa benar yang tertulis disini?" Tanya petugas wawancara.


"Iya benar, saya adalah anak dari Pongki Susilo, terpidana mati karena kasus memiliki pabrik narkoba." Jelas Bella.


"Bagaimana kisahnya?"


"Saya bertemu dengan mas Topan di rumah saya. Beliau sedang menjalankan tugasnya untuk menangkap ayah kandung saya yang bernama Pongki Susilo. Misinya berhasil, namun dia juga berhasil memiliki hati saya."


Topan gemetar mendengar jawaban Bella.


"Karena dia menyamar menjadi supir saya, maka waktu kami berdua begitu intens. Benih-benih cinta pun tumbuh di hati masing-masing. Satu yang saya salut dengan nya, dia mempertahankan apa kewajiban nya walaupun dirinya dilema karena cinta."


Semua terdiam membisu.


"Mas Topan mencintai Negara nya, dan saya mendukungnya. Memang seharusnya ia lakukan itu. Itu sudah sangat benar sekali."


"Hal lain yang membuat saya mencintai dia. Dia tidak peduli siapa saya. Maka dari itu, saya tidak memiliki dendam apa pun dengan mas Topan. Saya mencintai dirinya, sejak dia menjadi sosok lelaki yang ia perankan dalam penyamaran." Jelas Bella dengan percaya diri.


Juri saling bertatapan, pun dengan Topan yang membalas tatapan Bella saat Bella menoleh kearahnya.


"Terima kasih," Ucap Topan.


Bella hanya tersenyum dan kembali menatap juri yang terlihat bingung akan bersikap apa. Memang, wawancara seperti ini baru kali ini mereka hadapi.


"Baik, ke pertanyaan lain nya," Ucap juri itu.


Seperti yang sudah di ceritakan Bella dalam lembaran pertanyaan. Semua yang tertulis, sama dengan apa yang Bella terangkan. Begitu juga dengan Topan.


Berbagai nasehat dan pembahasan tentang 'saling mengenal', sudah mereka lalui. Bella dan Topan pun keluar dari ruangan wawancara setelah lebih dari satu jam mereka melalui serangkaian pertanyaan-pertanyaan tersebut.


Hal pertama yang dilakukan Topan saat mereka di luar ruangan adalah mengecup kening Bella dengan perasaan cinta yang mendalam. Ia tidak menyangka bila Bella begitu jujur menjawab pertanyaan yang tertulis. Beruntung, Topan juga mengisi pertanyaan-pertanyaan dengan jawaban yang sama. Itulah yang ditakutkan oleh Topan, kalau saja jawaban mereka berbeda satu dengan lain nya. Karena Bella ingin menutupi aib tersebut. Namun ternyata tidak, maka Topan semakin merasa bangga memiliki Bella.


Tinggal sidang pernikahan. Mereka harus menunggu beberapa hari kedepan. Sidang pernikahan harus dihadiri oleh mereka berdua dan juga orangtua mereka. Apa pun kedepannya, mereka sudah siap untuk melalui bersama. Bersatu dalam ikatan pernikahan, apa pun yang terjadi kedepannya.

__ADS_1


Ini hanya ikhtiar, bila tidak di ACC pun, Topan akan bertekad menghalalkan Bella dengan cara apa pun. Karena Topan tidak ingin mengulang sejarah, Galang dan Erna.


"Tidak ada lagi kisah kelam dari kedua orangtuaku," Tekad Topan.


__ADS_2