Masteng

Masteng
130. Hari persidangan


__ADS_3

Terdengar langkah kaki para sipir di lorong penjara. Langkah kaki itu terdengar begitu menakutkan, menggema di lorong tersebut. Beberapa penghuni sel, mengintip keluar dengan melalui celah jeruji besi. Mereka ingin mencari tahu, apakah para sipir membawa tahanan baru, atau akan membebaskan seseorang dari blok tersebut.


Para sipir menghentikan langkahnya di sebuah sel yang paling ujung. Dengan cepat, mereka membuka gembok yang mengunci pintu jeruji besi di sel tersebut.


"Bapak Pongki," Panggil seorang sipir, seperti seorang guru yang sedang mengabsen siswa siswi nya di kelas.


Pongki yang sedang duduk berbincang dengan Amin, menoleh dan beranjak dari duduknya.


"Saya pergi dulu ya," Pamit Pongki kepada Amin.


Amin ikut berdiri dan menyalami Pongki.


"Pak, saya harap semua akan baik-baik saja. Semoga keberuntungan menyertai bapak," Ucap Amin.


Pongki tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih Min, semoga Allah mendengar segala doa baik mu, Aamiin."


Amin tersenyum, lalu ia memeluk Pongki dengan erat dan melepaskan kepergian Pongki yang akan ke pengadilan pada pagi ini.


.


Pongki berjalan di lorong, semua mata menatap dirinya. Termasuk Andreas dan beberapa orang anak buah nya yang ikut terciduk saat polisi menggerebek pabrik narkoba milik Pongki. Tidak ada kata-kata dari mantan anak buah Pongki yang juga ikut ke persidangan sebagai saksi dari kasus Pongki. Mereka semua hanya mampu menatap Pongki yang berjalan dengan kepala yang tertunduk dalam.


Saat Pongki terlihat keluar dari Lapas, dirinya langsung di serbu kerumunan wartawan yang memang bertugas untuk mencari berita tentang dirinya. Pongki dan Polisi yang menjaganya berusaha menerobos kerumunan wartawan yang bergerombol di pintu keluar Lapas.


"Pak, bagaimana perasaan bapak...?" Tanya seorang wartawan, dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang di lemparkan kepada Pongki.


Namun, Pongki lebih memilih untuk bungkam. Ia terus berjalan menerobos kerumunan wartawan itu, di dampingi oleh beberapa Polisi.

__ADS_1


"Pak, kasih kami waktu sebentar untuk mewawancarai pak Pongki," Ucap Wartawan kepada para Polisi yang mendampingi Pongki.


Disana juga terlihat pengacara Pongki yang siap untuk mendampingi Pongki dalam sidang perdananya. Wajah Pongki dan para pengacaranya terlihat begitu tegang. Team pengacara Pongki sengaja singgah ke Lapas tersebut, mereka sengaja ingin mendampingi Pongki dari Lapas, dan memastikan kondisi Pongki benar-benar siap untuk menghadapi sidang hari ini.


Pongki mulai memasuki bus tahanan, bersama beberapa narapidana lain nya yang mendapatkan jadwal sidang pada hari yang sama dengan Pongki. Dan juga para mantan anak buah Pongki yang siap bersaksi atas kasus yang membelitnya. Pengacara Pongki pun menyusul kedalam bus, lalu mereka berbincang beberapa saat sebelum pengacara tersebut kembali turun dan menyusul dengan mobil pribadinya.


Di dalam bus tahanan, Pongki yang kedua tangan nya di borgol dan menggunakan pakaian berwarna oranye layaknya tahanan pada umumnya, hanya mampu menatap keluar jendela. Sedangkan di samping kiri dan kanan Pongki, terlihat Polisi dengan seragam hitam dan bersenjata lengkap. Wajah mereka tertutup masker Balaclava, atau masker yang menutupi hampir semua bagian kepala, yang terlihat hanya di bagian mata saja, layaknya seorang ninja.


Tepat pukul 10.00, bus yang Pongki tumpangi tersebut, bergerak meninggalkan halaman Lapas tersebut menuju ke lokasi pengadilan.


.


.


.


.


"Yuk," Ucap Berta saat ia baru saja memasuki mobil.


Bella mengangguk dan langsung menyalakan mesin mobilnya. Lalu Bella melajukan mobil tersebut ke arah pengadilan, dimana Pongki akan di adili pada hari ini.


Sepanjang jalan menuju ke pengadilan, terlihat wajah Berta yang sangat gelisah. Sesekali ia menyeka air matanya yang entah mengapa terus meleleh dari sudut matanya. Sedangkan Bella, gadis itu juga tidak mengeluarkan sepatah katapun. Ia terus berkonsentrasi dengan kemudinya, dan mengusahakan dirinya dapat sampai ke pengadilan dengan tepat waktu.


Hampir 1 jam kemudian, mobil yang Bella kendarai telah sampai di halaman gedung pengadilan. Bella memarkirkan mobil tersebut dan setelah itu turun bersama Bella. Disaat yang bersamaan, bus yang membawa Pongki dan beberapa narapidana lain nya pun tiba.


Di sana lebih banyak lagi wartawan yang memang menunggu kehadiran Pongki dan mengikuti perjalanan sidang yang akan segera di gelar.


Selang beberapa menit kemudian, mobil team pengacara Pongki pun tiba. Mereka memarkirkan mobil mereka tepat di samping mobil Topan yang di pakai oleh Bella.

__ADS_1


"Ayo bu," Ucap pengacara Pongki, saat melihat Bella dan Berta masih berdiri di depan mobil mereka.


Bella dan Berta pun mengangguk dan mengikuti langkah kaki para pengacara Pongki.


Pongki dan narapidana lain nya pun turun dari bus yang membawa mereka. Kerumunan langsung tidak dapat di hindari. Mereka berusaha untuk mengambil foto narapidana kasus bandar dan pabrik narkoba terbesar, yaitu Pongki.


Pongki melihat kehadiran anak dan istrinya. Lalu ia tersenyum kepada Bella dan Berta, dan setelahnya ia kembali menundukkan wajahnya dalam-dalam.


Melihat pemandangan tersebut, hati Berta begitu perih. Lelaki yang selama ini ia kenal sangat baik dan berwibawa, kini bagaikan terjatuh dan tercela.


Para narapidana, termasuk Pongki di bawa keruangan khusus. Selagi menunggu sidang dimulai, mereka di tempatkan di ruangan khusus. Disana lah kesempatan bagi Bella dan Berta untuk mendekati Pongki. Mereka saling berpelukan, menguatkan satu dengan yang lain nya. Mensugesti diri mereka bila semua akan baik-baik saja.


Berta juga mengeluarkan makanan untuk Pongki sarapan, yang tadi pagi ia masak kan khusus untuk Pongki. Walaupun Pongki sudah sarapan di Lapas, namun dirinya tetap menghargai perhatian dari Berta yang dengan tulus memasak dan menyuapi dirinya di ruang tunggu gedung pengadilan.


Meskipun tegang, semua orang berusaha untuk tenang, termasuk Bella dan Berta. Tetapi tidak dengan Pongki. Lelaki itu terlihat santai dan pasrah. Dia tidak lagi merasa takut akan apa yang akan ia hadapi. Ikhlas, Pongki sudah berada di titik ke ikhlasan yang luar biasa.


"Sidang akan segera dimulai. Bapak Pongki, ikut kami," Ucap seorang Polisi berseragam serba hitam.


Pongki yang masih di suapi oleh Berta mengangguk dan beranjak dari duduknya.


"Pongki, minum dulu," Ucap Berta.


Pongki tersenyum dan meraih botol minuman yang diberikan oleh Berta. Dan lalu, ia meminum teh hangat yang berada di dalam botol tersebut.


"Terima kasih," Ucap Pongki, seraya mengembalikan botol minuman tersebut kepada Berta.


Berta tersenyum tipis dan lalu memeluk Pongki dengan erat.


"Bismillah, apa pun yang terjadi, aku akan tetap disamping kamu," Ucap Berta.

__ADS_1


Pongki mengangguk dan tersenyum, lalu ia mengecup lembut kening Berta dan Bella. Setelah itu, Berta harus rela melihat Pongki di giring ke ruangan sidang.


Berta dan Bella pun menyusul keruangan sidang dan duduk di kursi penonton yang mengikuti sidang perdana bandar narkoba yang terkenal sangat licin tersebut, bersama dengan orang-orang yang ingin menyaksikan jalan nya persidangan itu.


__ADS_2