
Topan terdiam di depan pintu kamar, saat dirinya dan Bella memasuki kamar tersebut. Air terus menetes dari pakaian Topan yang basah kuyup. Sedangkan Bella, gadis itu langsung menyambar handuk yang terletak di atas ranjang, dan langsung berlari menuju ke kamar mandi untuk membilas dan mengeringkan tubuhnya yang basah kuyup.
"Tidak ada air panas? Oh... come on..!" Keluh Bella.
Akhirnya, ia memberanikan membilas tubuhnya dengan air dingin saja. Lalu, ia meraih handuk dan mengeringkan tubuhnya. Mata Bella tampak mencari-cari sesuatu di dalam kamar mandi tersebut. Namun, ia tidak menemukan apa yang dia cari.
"Jooo..." Panggil Bella dari balik pintu kamar mandi tersebut.
"I-i-iya non," Sahut Topan yang masih berada di depan pintu kamar itu.
"Jo.. tolong ambilkan kimono handuk nya ya..."
"Kimono?" Gumam Topan.
"Cepetan Jo... dingin ini..." Keluh Bella.
"I-i-iya.." Sahut Topan. Ia pun melangkah mencari kimono handuk yang dimaksud oleh Bella. Saat Topan mencari kimono handuk itu, tiba-tiba ia teringat, bila penginapan itu hanya penginapan biasa. Bukan lah penginapan berbintang 5 seperti penginapan mereka di Kuta.
"Astaga!" Topan kembali ke depan pintu kamar mandi.
"Non," Panggil Topan.
Cklekkk!
"Mana?" Bella membuka pintu kamar mandi itu dan lalu mengulurkan tangannya keluar.
"Non, ini kan penginapan biasa. Bukan penginapan bintang lima?"
Deggggg!
Bella menampakkan wajah nya dan menatap Topan dengan seksama.
"Memangnya penginapan biasa tidak ada kimono handuk nya?"
Topan menghela nafas panjang, entah terlalu polos atau memang Bella tidak pernah menginap di penginapan biasa, sampai-sampai Bella tidak tahu bedanya penginapan biasa dan hotel berbintang 5.
"Ya gak ada lah non. Ini kan bukan bintang lima."
"Terus? Tadi maksud gue, kita disini saja. Gue bisa pakai kimono handuk dan baju nya di jemur. Kalau gak ada gimana? Handuk kan biasa gini doang?" Tanya Bella.
Topan menepuk dahinya, dan mencoba menatap langit-langit kamar itu.
"Jadi?"
"Ya gimana dong Jo... terus gue harus polosan depan elu gitu?"
"Ya enggak... bukan.. maksud saya.. duh.. gimana ya..." Topan terlihat panik.
"Jooo.... Maluu... Gimana? gue kira ada tadi loh.... Gue gak mikir kalau ini penginapan biasa. Berhubung gue panik, jadi alam bawah sadar gue ya gue merasa semua hotel sama."
"I-i-iya... tunggu sebentar.." Topan tidak kehabisan akal, ia berlari ke arah ranjang, dan mengambil selimut yang berada di atas ranjang. Lalu, ia kembali ke depan pintu kamar mandi dan menyerahkan selimut itu kepada Bella.
"Pakai ini saja non.."
Bella tertegun, tidak ada pilihan lain. seluruh pakaian nya basah kuyup hingga ke pakaian dalam nya. Mau tidak mau, Bella harus menggunakan selimut itu untuk menutupi seluruh tubuhnya.
Setelah Bella menutup seluruh tubuhnya, ia pun memberanikan diri untuk keluar dari kamar mandi itu. Topan mencoba untuk tidak menatap Bella. Suasana kikuk pun tercipta tanpa bisa mereka cegah.
Bella duduk di tepi ranjang dan terdiam dengan wajah yang di tekuk. Sedangkan Topan, masih berdiri di depan kamar mandi dengan pakaian yang basah kuyup.
__ADS_1
Non, saya ke kamar mandi dulu ya,"
Bella hanya mengangguk, tanpa mampu menatap Topan. Setelah Topan masuk kedalam kamar mandi, Bella langsung mengeluhkan kebodohannya.
"Belllaaaaaaa... lu emang bodoh banget! Stupid..! Begini gimana? Malah satu kamar lagi. Ya ampuuun...! Tadi pikiran gue ada piyama dua dan ada sofanya. Ternyata begini doang. Satu ranjang dan televisi ketinggalan jaman begini!" Bella terus menepuk dahinya.
Cklekkk...!
Terdengar pintu kamar mandi terbuka. Bella langsung mencoba bersikap tenang. Matanya pura-pura menatap acara di televisi yang ia pun tidak tahu apa yang sedang ia tonton.
Dengan langkah ragu, Topan melangkah menuju ke arah lemari kecil yang ada di pojok kamar itu.
"Loh... tidak ada gantungan?" Tanya Topan.
"Ada tadi dua, gue buat gantungin baju sama celana gue,"
"Terus, saya pakai apa non?"
Bella melirik Topan, mendadak pipinya merona merah dan sikapnya menjadi salah tingkah.
Bagaimana tidak? Tubuh Topan hanya terlilit handuk, mulai dari pinggang hingga menutupi setengah dengkulnya. Otot perut dan pinggang ramping Topan membuat nafas Bella menjadi sesak. Lalu, tanpa bisa Bella cegah, matanya mulai bergerilya ke arah otot dada Topan yang tampak kokoh bukan main. Bibir Bella pun bergetar, matanya mulai memanas dan tidak mau ia perintah untuk berhenti melihat lelaki itu.
"Non,"
"Ah, iya?"
Saya gantung bajunya bagaimana?" Tanya Topan dengan ekspresi wajah yang polos.
"Taruh di gagang pintu saja. Atau di situ..." Bella menunjuk tiang besi penutup gordin jendela.
Topan menghela nafas panjang dan melangkah mendekati tiang gordin itu. Mau tidak mau, ia berjalan di depan Bella yang terus menatap dirinya.
Topan yang sedang menggantung pakaian nya menoleh kepada Bella, dan mengangguk.
"Oh..." Bella mengangguk paham dan mengigit bibirnya.
"Kenapa? Keren ya badan saya?"
"Ah... gak, biasa saja." Ucap Bella sambil membetulkan letak selimut yang menutupi hampir seluruh tubuhnya, kecuali wajah.
"Masa sih tidak keren?" Topan berdiri di depan cermin dan memperhatikan semua otot-otot yang berada di tubuh bagian atas nya.
"Hmmmm... sudah, lu gak usah begitu kenapa sih!" Ucap Bella dengan wajah yang gelisah.
"Ah, maaf non. Oh iya, satu lagi... Saya bukan bermaksud kurang ajar. Saya terpaksa memakai handuk saja. Karena tidak ada apa-apa lagi."
"I-i-iya... ya sudah..!" Ucap Bella, tanpa berani menatap Topan sekalipun.
"Terus..."
"Apa?" Bella terlihat panik dan gelisah.
"Saya kan belum nanya," Ucap Topan yang masih berdiri di depan jendela kamar.
"Iya apa?" Tanya Bella yang tampak gugup.
"Sa-saya tidur dimana non?"
Bella terdiam, tidak mungkin ia membiarkan Topan tidur di atas lantai. Sedangkan dirinya tahu, betapa dingin nya lantai itu.
__ADS_1
"Non.."
"Apa sih!" Bella mulai panik. Ia merapatkan balutan selimut di tubuhnya.
"Sa-saya.... Ti-ti-tidur di sa-samping non Be-be-bella tidak apa-apa?" Tanya Topan.
Bella menatap Topan dengan wajah yang panik.
"Kenapa sih lu milih ini tempat?"
"Lah, kan non yang milih..."
"Iya... kenapa tadi tidak di cegah?" Keluh Bella.
"Tadi kan non sendiri yang takut petir. Saya sudah cegah loh..." Topan mencoba membela dirinya.
"Dasar mesuuummm!" Hardik Bella.
"Lah kok saya? Non Bella tuh!"
"Elu!"
"Saya tidak mikir begitu non, jangan-jangan......" Topan berjalan mendekati Bella yang tampak mulai takut dengan dirinya.
"Non Bella yang berpikiran yang tidak-tidak," Celetuk Topan, sambil mendekati wajahnya hingga berjarak sejengkal saja dari wajah Bella.
"Ih... apaan sih lu!"
Plakkkkkk!
"Aduh! Kok nampar sih non?" Topan memegangi pipi kiri nya yang terasa perih.
"Lagian! Ngapain lu dekat-dekat sama gue! Niat apa lu! Awas kalau berani macam-macam!" Bella mengepalkan tangannya dan mengacungkan nya kearah wajah Topan.
"Galak amat," Topan beranjak menjauh dan duduk di tepi ranjang di dekat kepala ranjang.
"Ngapain lu disitu!"
"Senderan lah non, saya pegal, dari tadi bawa motor dan berdiri. Saya butuh senderan ya non."
"Tapi nanti gue tidur dimana?"
"Di dada mas Paijo sini," Topan menepuk-nepuk dadanya sambil tersenyum nakal.
"Cuihhhh! Najisss deh..." Bella terlihat kesal kepada Topan.
Topan tersenyum dan merangkak mendekati Bella.
"Non, jangan suka bilang najis. Rata-rata orang yang bilang najis nanti berbalik perasaan loh," Bisik nya.
"Apaan sih lu Paijo! Sudah berani kurang ajar lu ya bisik-bisik sama gue. Sana! Menjauh gak!"
Topan tertawa jahil dan kembali menjauhi Bella.
Bella kembali menatap televisi, tetapi ia tidak benar-benar menonton acara di televisi itu. Jantung nya terus berdetak kencang. Bukan karena ia takut dengan Topan, tetapi ia takut dengan ucapan yang barusan Topan bisik kan ke telinganya.
"Apaan sih si Masteng!" Batin Bella.
Sedangkan Topan, lelaki itu terus menatap punggung Bella sambil terus menelan salivanya.
__ADS_1
"Astaga... cobaan cobaan...! Jangan sampai dia melihat si Paijo junior meronta-ronta. Duh... mikir apa aku ini! Tahannn... tahannn... Untung dia galak, kalau dia ramah sekali, gak tahu deh... di biarkan mubazir... di lakukan duh.. berat tanggungjawab nya..." Batin Topan, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.