
"Kita mau kemana pak?" Tanya supir pribadi Pongki.
"Kita pulang saja, saya sedang tidak ingin kemana-mana," Ucap Pongki.
Suprapto dan Antok yang mendengar dari alat penyadap mereka pun terlihat kecewa.
"Yahhhh....!" Seru Suprapto yang terlihat begitu gemas, hingga ia membanting earphone yang sedang ia pakai. Lalu, ia keluar dari mobil dan membakar sebatang rokok untuk menenangkan diri nya.
Dari jauh, sebuah mobil hitam mendekati mobil van yang menjadi markas berjalan team Topan yang berisi 4 anggota. Yaitu, Suprapto, Antok, Bojah dan Ilham.
Suprapto menatap mobil itu dan mencoba mengamati nya. Tangan nya sudah bersiap di pinggang, untuk mengeluarkan pistol, bila terjadi sesuatu yang mengancam dirinya.
Suprapto terlihat lega, saat orang yang mengendarai mobil tersebut adalah Topan. Topan keluar dari mobil tersebut dan berjalan menghampiri Suprapto.
"Gimana mas?" Tanya Topan.
Suprapto menghela nafas panjang dan mengangkat kedua bahunya. Topan pun mengerti, bila usaha mereka kali ini harus lebih lama lagi dan bersabar.
"Kamu kok bisa keluar-keluar Pan?" Tanya Suprapto.
Topan bersender di body mobil van tersebut, dan membakar sebatang rokok yang baru saja ia keluarkan dari bungkus nya.
"Majikan sedang ke luar kota mas," Sahut Topan.
Suprapto menatap penampilan Topan dari rambut hingga ke sepatu Topan.
"Tampaknya, majikan mu sangat sayang dengan ku Pan. Lihat penampilan kamu dan baju yang kamu kenakan, itu kan bermerek,"
Topan tersenyum dan menggelengkan kepalanya, lalu ia duduk di trotoar dan menghembuskan asap rokok nya ke udara.
"Totalitas mas, gak tahu kenapa mereka menyukai ku."
Suprapto pun duduk disamping Topan.
"Pan, istriku mau melahirkan bulan depan. Kalau bisa, akhir bulan ini, misi kita berhasil. Anak pertama, aku tidak bisa menyaksikan istriku melahirkan. Kali ini, aku ingin sekali mendampingi dia," Ucap Suprapto.
Topan menghela nafas panjang dan menatap wajah Suprapto yang tampak gelisah.
"Saya usahakan ya mas," Ucap Topan.
"Iya Pan, kami sangat tergantung dengan mu. Bila misi ini selesai dalam akhir bulan ini, mungkin aku akan mengajukan cuti. Tidak apa-apa bila aku hanya mendampingi istriku melahirkan saja, setelah itu aku bertugas. Aku cukup lega, karena aku belum pernah merasakan berada di sana saat istri ku berjuang membawa buah hati kami ke dunia," Ucap Suprapto.
__ADS_1
Topan kembali menghela nafas, ia menepuk bahu Suprapto. Baginya, Suprapto adalah ayah yang hebat, sama seperti bapak nya yang tidan pernah mendampingi ibunya saat melahirkan dirinya dan adik-adiknya.
Topan mengisap rokok nya dan mematikan rokok tersebut, lalu ia beranjak untuk kembali ke rumah Pongki.
"Mas, aku kembali dulu ya,"
"Siap, hati-hati kamu Pan," Ucap Suprapto.
"Terima kasih mas, doakan semua berjalan dengan lancar."
"Siap!" Sahut Suprapto. Lalu, lelaki berusia 40 tahun itu, hanya bisa menatap Topan yang kembali mengendarai mobilnya, menuju ke rumah target mereka.
....
"Mas Satrioooo," Sapa Berta saat mereka bertemu di sebuah restoran di kawasan Jimbaran.
"Halo Berta," Sahut Satrio, seraya mengecup kedua pipi Berta.
Berta dan Satrio sudah lama bersahabat. Satrio pernah menjadi asisten pribadi Ayah nya Berta, beberapa puluh tahun yang lalu.
"Halo mbak," Sapa Berta saat melihat istri Satrio yang tersenyum kepada dirinya.
"Baik mbak Suci." Sahut Berta.
"Ini bli Agung, teman kita dari Polda Bali," Satrio memperkenalkan seorang lelaki bertubuh tegap yang berdiri di samping kedua anggota nya yang turut hadir disana.
"Halo mbak," Sapa Agung.
"Hai bli Agung, senang berkenalan dengan Anda," Ucap Berta.
"Ini kedua anggota saya, Wayan dan Junaidi," Agung memperkenalkan dua anggotanya.
"Halo," Sapa Berta. Ia menjabat tangan kedua anggota Agung. Lalu, mempersilahkan mereka semua untuk duduk di sofa yang tersedia disana.
"Bagaimana kabar mas Pongki, Berta?" Tanya Satrio.
Berta terlihat canggung, dan menatap Satrio dengan seksama.
"Baik," Sahutnya, mencoba seperti tidak terjadi apa-apa antara dirinya dan Pongki.
"Syukurlah, jadi... bagaimana ceritanya?" Tanya Satrio yang merupakan seorang pengacara terkenal di Pulau Dewata.
__ADS_1
"Jadi begini, ada seorang lelaki yang memiliki hubungan dengan anak saya. Motif nya, menguras tabungan anak saya sebanyak kurang lebih lima milyar. Dia mendekati anak saya hanya ingin menguras tabungan anak saya, dan sekarang, ia sedang bersenang-senang dengan wanita lain," Terang Berta.
"Mami..." Bella mencolek lengan Berta yang sedang membicarakan kebodohan dirinya. Bella merasa malu, karena dirinya sudah terpedaya dengan lelaki busuk yang tidak memiliki modal apa pun selama berhubungan dengan dirinya.
"Wah... ini agak sulit ya, karena anak nya Bu Berta dengan sadar memberikan uang tersebut kepada target," Ucap Satrio.
"Mas, aku minta tolong, bagaimana pun caranya." Pinta Berta.
Satrio menghela nafas panjang dan menatap Agung yang masih mencoba mencerna kasus tersebut.
"Orang nya di sini?" Tanya Agung.
"Iya, dia sedang memakai uang anak saya untuk berfoya-foya dengan wanita lain," Sahut Berta.
"Paling, hanya bisa di selesaikan secara kekeluargaan dan ada surat perjanjian untuk mengembalikan uang tersebut. Atau, kerja sama dengan daerah asal, untuk menyita barang-barang nya sebagai jaminan saja. Tentunya harus persetujuan tersangka." Terang Agung.
"Tetapi, dia menipu anak saya. Dengan cara meminta anak saya menanam modal untuk membuka usaha bodong. Karena anak saya terlalu polos, dia percaya saja dan menganggap kekasih nya itu tidak akan mengkhianati dia." Terang Berta.
"Mami..." Lagi-lagi Bella merasa malu dengan ucapan Berta.
"Ah.. kalau begitu, bisa di kasus kan pasal penipuan. Tetapi, kita disini hanya bisa membantu memperingati tersangka saja. Kasus tetap dilimpahkan ke daerah asal, dimana kejadian anak Bu Berta memberikan uang tersebut." Terang Agung.
"Begitu ya?" Berta mengangguk paham.
"Kalau Bu Berta mau, laporkan kasus ini di Jakarta. Itu lebih mudah. Tetapi, kami tetap membantu untuk komunikasi antara tersangka dan pihak Bu Berta." Terang Agung.
"Baik pak Agung," Saya minta tolong dengan segala kerendahan hati. Saya sangat buta hukum, makanya saya butuh orang yang bisa mendampingi saya dan anak saya," Ucap Berta.
"Tidak masalah Bu Berta, dengan begini, kita bisa bersilaturahmi dan menambah kenalan," Ucap Agung.
Berta tersenyum, ia merasa sangat terbantu dengan adanya Satrio dan kawan-kawan.
"Dimana tersangka saat ini Bu Berta?" Tanya Agung.
"Ada di hotelnya, di daerah Kuta. Tetapi, malam ini dia akan menghadiri acara di sebuah Villa. Kita tunggu teman anak saya yang bernama Noel, yang selama ini memberikan informasi kepada kami," Terang Berta.
"Ok baik," Agung mengangguk paham.
Lalu, mereka menikmati makan malam sambil bercerita banyak tentang berbagai hal. Sementara, Bella hanya bisa diam membisu. Ia cukup merasa bodoh selama ini. Lelaki yang sangat ia cintai, tega memperdaya dirinya hanya untuk memperkaya diri.
Memang benar, terlalu berekspektasi tinggu, membuat kita gampang terjatuh dalam lembah kekecewaan. Itulah yang dirasakan Bella saat ini.
__ADS_1