
Setelah sidang BP4R, Topan, Bella dan keluarga mereka beranjak meninggalkan ruangan sidang. Di lorong, Erna menyapa Berta dengan sangat ramah.
"Halo ibu apa kabar, maaf kita belum sempat berbincang selama ini," Ucap Erna.
Saking terkejutnya Berta terhenyak dan melirik Bella dan Topan.
"Nenek lampir kenapa ya? Apa dia habis di rukiyah sama si Topan?" Batin nya.
"Mam," Bella menegur Berta yang tak kunjung menyahut sapaan Erna.
"Ah, iya.. apa kabar bu? Kabar saya baik." Sahut Berta masih dengan tatapan tak percaya.
Erna menyadari bila dirinya pernah membuat Bella dan ibunya tersinggung saat pemakaman Amoroso. Erna pun menghampiri Berta dan menjabat tangan Berta.
"Perkenalkan saya ibunya Topan, nama saya Erna. Saya minta maaf atas sikap dan segala perilaku saya selama ini bu. Saya akui saya salah menilai putri ibu. Ternyata putri ibu sangat luar biasa, dan saya ingin Bella menjadi menantu saya. Maaf juga bila saat hari lamaran saya tidak datang. Karena memang keadaan membatasi saya. Sekali lagi saya minta maaf ya bu,"
Berta semakin shock saat Erna meminta maaf kepada dirinya. Bagaimana tidak, di kaca matanya Erna adalah seorang nenek sihir yang sangat sombong dan judes.
"Ah... tidak apa-apa bu Erna. Saya Berta, ibu dari Bella. Saya juga sangat memuji kebaikan dan kehebatan putra ibu. Saya juga sangat merestui anak saya menikah dengan Topan." Berta tersenyum canggung.
"Alhamdulillah..." Erna tersenyum dan mulai menatap Bella.
"Bella, maafkan ibu ya.." Sambung nya.
Bella tersenyum dan meraih tangan Erna, lalu ia mengecup punggung tangan wanita paruh baya itu.
"Bella juga minta maaf bu... Mungkin Bella banyak kesalahan yang disengaja ataupun tidak disengaja."
Erna tersenyum, matanya terus menatap Bella yang terlihat sangat santun kepada orangtua.
"Ibu yang salah nak, maafkan ibu,"
"Sama-sama ya bu.." Sahut Bella.
Erna hampir saja menangis, lalu ia memeluk Bella dengan erat.
"Ya Allah, menantuku..." Gumam nya.
Hari ini, hari penuh dengan suka cita bagi Topan dan Bella. Orangtua mereka saling memaafkan, izin menikah sudah dikantongi. Maka, nikmat Tuhan mana lagi yang mau mereka dustai? Semua terasa begitu lancar bila ada niat baik dan doa-doa mereka untuk berjuang mendapatkan apa yang mereka inginkan selama ini.
Kedua keluarga pun pergi meninggalkan kantor tersebut. Mereka pun janjian di sebuah restoran untuk makan siang bersama, membahas hari pernikahan, dan juga segala kebutuhan nya. Semua tidak ada perbedaan, semua terasa begitu lancar dan selalu cocok. Hingga Berta dan Erna mulai merasa nyaman satu dengan yang lain nya.
"Pernikahan dengan adat Jawa dan internasional. Kita pakai gedung serbaguna di tengah-tengah jarak antara rumah kita. Undangan masing-masing mendata dan biaya pernikahan masing-masing lima puluh persen." Berta menegaskan hasil dari pembahasan pernikahan Topan dan Bella.
"Bagaimana Topan?" Tanya Erna.
"Biaya menikah biar saya tujuh puluh persen. Saya laki-laki," Sahut Topan.
Berta dan Bella terperangah mendengar ucapan Topan.
"Kamu yakin?" Tanya Berta.
"Yakin mam,"
"Tapi, kamu kan juga harus mengeluarkan biaya mahar dan lain-lain. Mami gak mau memberatkan kamu Topan," Ucap Berta.
"Saya sudah menabung untuk pernikahan selama ini mam. Jangan khawatir." Tegas Topan.
Berta merinding mendengar ucapan Topan. Sebenarnya saat ini Berta dan Bella bukan tidak mempunyai uang. Mereka memiliki banyak uang untuk menutupi 50 persen dari biaya. Namun Topan dengan suka rela menutupi 20 persen lagi biaya pernikahan mereka.
"Ya Allah anak ku," Berta meneteskan air mata dan memeluk Topan dengan erat.
"Pantas Pongki begitu mempercayai kamu nak," Sambung Berta lagi.
Topan tersenyum dan membalas pelukan calon mertuanya itu.
__ADS_1
"Ya, baik.. kalau begitu, pernikahan akan dilaksanakan dua bulan lagi. Saya sudah menghubungi semua, seperti gedung dan dekorasi. Sekarang, masalah MUA dan busana saya serahkan kepada jeung Berta."
"Siap jeung Erna," Sahut Berta dengan senyum yang semringah.
"Undangan?"
"Saya punya kenalan yang bisa mencetak undangan dengan cepat. Mereka juga menjual tanda mata khusus pernikahan." Sahut Topan.
"Oh ya sudah, tinggal mendata siapa saja yang mau diundang ya.." Ucap Berta.
"Iya mam,"
"Baiklah, semoga semua berjalan dengan lancar. Aamiin.." Ucap Berta lagi.
"Aamiin.." Sahut Topan, Bella, dan Erna.
Pertemuan kedua keluarga tersebut begitu terasa berkesan. Tidak ada perasaan yang tidak enak, semua berjalan dengan sebagaimana semestinya.
..
"Topan menikah dua bulan lagi mas," Ucap Erna kepada Galang, lewat sambungan telepon.
"Alhamdulillah, tidak ada kendala kan?" Tanya Galang.
"Alhamdulillah tidak mas, semua lancar-lancar saja."
"Alhamdulillah kalau begitu. Aku pasti datang."
"Iya mas. Hmmmmm... oh iya, bulan apa mas pensiun?" Tanya Erna.
"Akhir tahun. Ya...mungkin sekitar September atau Oktober. Kenapa?"
"Hmmmm, tidak apa-apa." Jawab Erna.
"Tidak apa-apa mas.."
"Hmmm.. ya sudah, oh iya... kamu sudah pindah kan?"
"Sudah mas,"
"Jadi, kalau aku ke Jakarta, bisakah aku menginap dirumah mu?"
"Tidak bisa." Tegas Erna.
"Loh, kenapa?"
"Tidak enak dilihat anak-anak dan orang."
Galang terdiam beberapa saat.
"Mas?"
"Ya..?"
"Kok diam?" Tanya Erna.
"Baik, aku akan tidur di hotel. Tetapi, maukah kamu akhir tahun ini hidup bersama dengan ku. Aku akan menikahi kamu."
Degggggg..!
"Erna, aku sudan menunggu puluhan tahun. Aku ingin memastikan sesuatu. Apakah kamu masih mencintai aku?"
Erna bergeming...
"Erna... aku mohon jawablah." Pinta Galang.
__ADS_1
"Akhir tahun Erna, aku tidak meminta untuk terburu-buru. Masih ada kurang lebih lima atau enam bulan lagi." Suara Galang terdengar sangat memelas.
"Apakah kamu masih mencintai aku?" Tanya Galang lagi.
"Aku masih mencintai kamu. Dalam pagi ku, siang ku, sore ku, malam ku, detik demi detik, menit, jam, hari dan tahun."
Degggggg!
Jantung Galang berdegup kencang saat mendengar ucapan dari Erna.
"Aku merindukan kamu, setiap saat. Setiap musim, dan itu tidak terhapus oleh usia ku yang sudah senja."
Galang membekap mulutnya agar tidak terdengar suara tangisan harunya oleh Erna.
"Tetapi, yang membuat ku bimbang, apa iya kita memang harus bersatu setelah ini?" Tanya Erna.
"Erna, surat wasiat Amoroso sudah mengizinkan kita..."
"Tapi mas... apa kata orang?"
"Apa kata orang? Apakah penting?" Tanya Galang.
Erna terdiam membisu.
"Erna, puluhan tahun kita menjalani hidup yang tidak adil. Apakah kita menyerah saat kesempatan itu terbuka?"
"Erna, aku sudah buktikan semuanya. Sekarang tergantung kamu. Aku tidak memaksa. Pun bila kamu menolak ku, aku tetap akan dengan kesendirian ku selamanya."
"Mas, aku akan bahas ini dengan anak-anak terlebih dahulu. Perasaan mereka harus aku nomor satukan mas,"
"Baik... aku akan menunggu, bila memang itu harus. Tidak masalah... apa pun keputusan anak-anak, aku akan menerimanya. Tetapi aku mohon, silaturahmi kuta jangan putus. Aku tetap ingin tahu kabarmu Erna."
"Iya mas,"
"Ya sudah, sudah malam, istirahat lah."
"Iya mas, assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam,"
Percakapan itu pun berakhir.
Kini Erna termenung di ruang keluarga. Tanpa dirinya sadari, bila Pinky dan Guntur sedang menguping pembicaraan dirinya dan Galang dari balik tangga yang tak jauh dari ruang keluarga.
Pinky dan Guntur saling bertatapan. Mereka terlihat iba dengan Erna yang masih memikirkan perasaan mereka.
"Gimana menurut kamu?" Tanya Pinky.
Guntur menghela nafas dan tampak berpikir.
"Aku punya rencana. Mari kita wujudkan." Bisik Guntur.
"Apa?"
Guntur membisikan sesuatu di telinga Pinky. Disusul senyum semringah Pinky yang mulai menghiasi wajah cantik nya.
"Setuju?"
"Ya.." Sahut Pinky.
"Mari kita kompakin kak Topan."
"Siapp.."
Mereka berjingkat meninggalkan ruangan tersebut, menuju ke kamar Guntur. Lalu mereka menghubungi Topan untuk menyusun strategi untuk mempersatukan Erna dan Galang.
__ADS_1