
"Pagi pengantin baru..." Sapa Berta sambil melirik Topan dan Bella yang baru saja keluar dari kamar.
"Pagi mam," Sahut Topan dan Bella. Keduanya terlihat canggung dan malu-malu.
"Sarapan nya sudah siap..." Berta terus tersenyum sambil menata menu makanan diatas meja.
Topan menarik kursi dan membiarkan Bella untuk duduk di sana, setelah itu ia duduk di samping Bella.
"Maaf mam kesiangan," Bella menundukkan wajahnya.
"Tidak apa-apa... Hari ini kamu tidak mengajar? Kok belum siap?"
"Jadwal ku kosong mam,"
"Oh, kalau Topan berangkat ya?" Tanya Berta sambil mengalihkan tatapannya kepada Topan. Walaupun Berta sudah tahu Topan akan berangkat bekerja, karena Topan sudah siap dengan baju dinas nya.
"I-i-iya mam," Sahut Topan seraya memberikan senyum canggungnya kepada Berta.
"Hmmmm.." Senyuman terus mengembang di bibir Berta. Entah mengapa, dirinya merasa sangat bahagia sekali. Baru saja semalam Topan dan Bella berada di satu kamar yang sama, tetapi angan Berta sudah melayang jauh, Membayangkan bila Bella hamil, kelak ia akan memiliki cucu dan bermain dengan cucu-cucunya.
Mereka pun melakukan sarapan pagi bersama. Tanpa ada perbincangan lagi di antara mereka. Antara Bella yang malu, namun berusaha biasa saja. Berta yang terus tersenyum dan Topan yang lebih banyak diam di depan Berta, menghiasi suasana pagi ini.
"Saya sudah selesai, saya berangkat dulu ya mam," Ucap Topan.
"Cepat sekali?" Berta menatap Topan dengan tatapan tak percaya.
"Iya mam, saya ada patroli pagi ini."
"Oh... ya sudah hati-hati ya Pan.."
"Iya mam, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Sahut Berta.
"Hmmm, aku berangkat dulu ya istriku." Topan mengecup kening Bella, pun dengan Bella yang langsung tersenyum dan mengecup punggung tangan Topan.
"Hati-hati mas,"
"Ya.. Terima kasih..Kamu baik-baik dirumah ya.."
"Iya mas,"
Bella mengantarkan Topan hingga Topan masuk kedalam mobilnya. Layaknya seorang istri pada umumnya, Bella memberikan senyum terbaik nya dan lambaian tangan yang terlihat sangat manja.
Topan membalas senyuman dan lambaian tangan Bella, sebelum dirinya beranjak meninggalkan halaman rumah tersebut.
Bella berbalik badan dan menutup pintu rumahnya, saat mobil topan sudah menghilang dari pandangan nya. Setelah itu, ia terlihat meringis dan memegangi pinggang dan perutnya.
"Pengen nangis, tapi kok malu..." Gumam nya sambil berjalan dengan langkah yang terlihat aneh.
"Kamu kenapa?" Tiba-tiba saja Berta muncul dan bertanya kepada Bella yang sedang meringis. Saat itu juga, Bella langsung berpura-pura biasa saja dan tersenyum kepada Berta. Ia tidak ingin terlihat ada yang aneh pada dirinya pada pagi ini.
"Ti-tidak ada apa-apa kok mam," Bella berusaha tersenyum dan bergegas beranjak dari hadapan Berta, menuju ke kamarnya.
Sesampainya di kamar, Bella kembali meringis. Ia langsung menuju kearah ranjang, disana Bella dapat melihat jelas tanda-tanda dirinya kehilangan keperawanan.
__ADS_1
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa! Gak tau apa yang gue rasa. Aneh banget, sakit, kayak ada yang hilang, dan.... dan.....dan... hmmm..." Bella tersenyum dan meringis. Lalu, ia tertawa sendiri sambil memegangi perut nya dan membayangkan aksi Topan pada malam tadi.
"Ah, gue mikir apa sih.." Batin nya lagi sambil mencopot seprai tersebut dan membawanya ke ruangan laundry.
Diruang laundry, Bella bertemu dengan Ijah, yang juga menatap dirinya dengan tatapan yang aneh.
"Eh non Bella." Sapa Ijah, sambil tersenyum.
"Bi..." Bella membalas senyuman Ijah dengan senyuman canggung nya.
"Seprai nya kotor ya..?" Tanya Ijah lagi, masih dengan senyuman di wajahnya.
"I-i-iya bi." Sahut Bella.
"Ya sudah, sini bibi cuci." Ijah meraih seprai itu dari tangan Bella.
"Ta-tapi.." Bella mencoba mempertahankan seprai itu dengan menahan nya.
"Kenapa non?"
"Ti-tidak apa-apa. Biar saya saja yang cuci,"
"Tidak apa-apa, biar saya saja bi."
"Gak apa kok mbak.."
"Saya saja bi..." Bella terus mempertahankan seprai yang ada di tangan nya.
"Memang kenapa mbak?"
"Tidak apa-apa kok bi.." Bella terlihat malu-malu.
"Iya bi." Sahut Bella sambil menghela nafas lega.
Pun dengan Topan yang sedang berada di kantor. Ia terus tersenyum sendiri sambil menikmati sebatang rokok dan kopi yang ada di hadapannya. Saat itu juga ia melihat Antok yang baru saja datang dengan wajah yang di tekuk, tanpa semangat.
"Kenapa kau?" Tanya Topan dengan senyuman khasnya.
Antok melirik Topan tanpa menjawab pertanyaan dari Topan.
"Kau kenapa senyum-senyum. Berhasil kau?"
"Ya iya lah..!" Seru Topan sambil tersenyum semringah.
"Mantap, kado ku kau pakai kan?"
"Enggak."
Antok menatap Topan dengan tatapan yang tak percaya.
"Kau gila, kado macam apa yang kau berikan kepadaku. Macam-macam aroma buah, memangnya aku mau bikin sup buah!"
Antok terus menatap Topan dengan tatapan curiga. Lalu ia tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Topan.
"Gimana durasi? Minum jamu kau?"
__ADS_1
"Gak," Sahut Topan sambil kembali tersenyum penuh kemenangan.
"Bah! Terus? Dua menit?"
"Sembarangan!"
"Hahahahaha...! Mantap kau kawan.." Antok kembali tertawa dan mengangkat kedua jempolnya.
"Ya sudah, aku patroli dulu. Oh iya, bagaimana kabar kau dan Lestari?" Tanya Topan sambil memakai rompinya.
"Ah.. payah, putus aku. Tidak pengertian..!"
"Hah?" Topan menatap Antok dengan tatapan yang bingung.
"Iya tidak pengertian, semua wanita sama saja," Ucap Antok sambil bersungut-sungut.
"Memang dia ngapain?" Tanya Topan sambil meraih kunci sepeda motor yang akan ia pakai untuk patroli.
"Dia aku ajak ke taman, tiba-tiba dia marah-marah tidak jelas. Katanya lapar dan pergi begitu saja. Sebelum pergi, dia bilang putus kepadaku. Apa pulak.. malas aku. ada-ada saja, terlalu kekanak-kanakan..!" Antok terus meracau mengungkapkan perasaan kesal nya tentang Lestari, kepada Topan.
"Mungkin tidak kau jajani?" Tanya Topan.
"Di taman kan tidak ada pedagang!"
"Ya kau ajak ke restoran lah!" Seru Topan.
"Ah, malas aku. Itu saja aku di tinggal di pinggir jalan!"
"Memangnya tidak pakai mobil mu?" Tanya Topan dengan tatapan tak percaya.
"Kalau dia punya mobil, mengapa tidak pakai mobilnya?" Ucap Antok, masih dengan wajah yang terlihat kesal.
Topan terperangah menatap Antok.
"Kenapa kau?" Tanya Antok dengan tatapan yang terlihat semakin kesal.
"Jadi kau tak modal?" Tanya Topan.
"Bukan tak modal, tapi..."
"Alahhh... patroli lah aku. Gawat kau Tok..! Kalau kau begitu terus, tidak ada wanita yang mau sama mu."
"Eh... kenapa? Apa salah ku?" Tanya Antok penasaran.
"Pelit kau! Perempuan tidak masalah lelakinya kekurangan. Tapi, usaha dong mengerti sedikit saja. Jangan semuanya perempuan. Gawat kau!"
"Bah..!
"Percaya apa kata ku, gak kawin-kawin kau nanti..!" Topan terkekeh dan beranjak keluar dari ruangan itu.
"Pan..!"
"Apa?" Topan menoleh dan menatap Antok yang terlihat gelisah.
"Serius kau?"
__ADS_1
"Ya, kalau tidak good looking, usahakan good rekening. Kalau gak good rekening, usahakan good looking lah.." Ucap Topan sambil beranjak pergi begitu saja.
"Bah! Aku kan good looking, jadi gak masalah dong!" Gumam Antok sambil memperhatikan dirinya lewat pantulan cermin di depan nya.