Masteng

Masteng
171. Peluru terakhir


__ADS_3

"Eh sudah pulang," Erna menyapa Topan yang baru saja pulang dan berjalan menuju ke kamar nya, untuk menemui anak dan istrinya.


"Ibu?" Topan menatap Erna yang sedang menata hidangan makanan di meja makan rumah Berta.


"Kok terkejut begitu melihat ibu?"


Topan tersenyum kecil dan menghampiri Erna dan mengecup punggung tangan wanita yang telah melahirkan nya hampir 34 tahun yang lalu itu. Lalu ia melakukan hal yang sama kepada Galang yang setia menunggui Erna yang sedang sibuk di dapur.


"Bagaimana pekerjaan mu?" Tanya Galang.


"Alhamdulillah baik ba," Sahut Topan.


"Ya sudah, mandi dulu dan temui anak istrimu. Nanti baru kita makan malam bersama," Ucap Erna.


"Iya bu," Topan melangkah meninggalkan ruang makan tersebut menuju ke kamarnya.


Dengan pelan, Topan membuka pintu kamarnya. Ia takut sekali membuat suara yang akan menggangu Jagat atau Bella yang sedang tertidur dikamar tersebut. Saat Topan melangkah masuk, terlihat Bella sedang menatapnya sambil tersenyum.


"Assalamualaikum, ku kira kamu sedang tertidur," Ucap Topan yang langsung menghampiri Bella dan mengecup lembut kening istrinya itu.


"Waalaikumsalam, sudah pulang mas?"


"Sudah, Jagat sedang tidur?"


"Iya mas,"


"Dari tadi?"


"Baru saja."


"Ya sudah, aku mau mandi dulu ya.." Ucap Topan.


"Iya mas," Sahut Bella.


"Oh iya, dua hari lagi aku akan dinas keluar Kota," Ucap Topan lagi.


Bella tertegun dan menatap Topan dengan tak percaya.


"Tapi mas, bukankah kita harus menghadiri hukuman daddy?" Tanya Bella.


Topan terdiam, wajahnya tertunduk dalam.


"Mas, apakah mas tidak akan hadir?" Tanya Bella lagi.


Topan mengangkat wajahnya, menatap Bella dan kembali menghampiri istrinya itu. Topan duduk di tepi ranjang dan meraih tubuh Bella dan merengkuhnya di dalam pelukan nya.


"Mas kenapa?" Tanya Bella yang merasa ada perubahan di dalam diri Topan yang memang terlihat sangat gelisah pada malam ini.


"Tidak ada apa-apa, aku hanya sedikit lelah. Aku juga mau minta maaf, ada tugas yang menanti. Jadi, aku tidak bisa menghadiri hari eksekusi itu." Tegas Topan.


Bella melepaskan pelukan Topan dan menatap Topan dengan seksama.


"Memangnya tugas apa sih mas?"


"Ini rahasia sayang,"


"Gak bisa di kasih tahu istri?" Tanya Bella.


"Ya... tidak dong," Topan tersenyum dan membelai lembut rambut Bella yang menutupi sebagian wajah cantik nya.


"Terus, kalau bila daddy bertanya tentang mas bagaimana?" Tanya Bella lagi.


Topan menelan salivanya dan membuang tatapan nya ke sudut kamar itu.

__ADS_1


"Aku akan menulis surat untuk daddy mu. Aku harap, daddy akan mengerti, bila aku sedang bertugas. Nanti, kamu apa mau hadir?"


"Aku rasa aku tidak kuat mas, lagi pula aku memiliki bayi. Biar aku menunggu jasad daddy aja di sini," Air mata Bella menetes di pipinya.


Topan menghela nafas panjang dan kembali memeluk Bella dengan erat.


"Ya sudah, memang seharusnya kamu dirumah saja sama ibu. Biar nanti sebagai wakil ku, biar baba saja yang hadir disana."


"Iya mas," Bella mengusap air matanya.


"Sudah, jangan menangis. Nanti ASI mu akan berkurang banyak. Kasihan Jagat," Topan mengecup kening Bella. Sedangkan Bella mencoba tersenyum dan kembali mengangkat wajahnya.


"Aku mandi dulu,"


"Iya mas."


Topan beranjak kedalam kamar mandi dan termenung di sana. Dua hari lagi, eksekusi mati Pongki akan dilaksanakan dan dirinya sudah mencoba untuk menolak untuk menjadi salah satu dari lima orang eksekutor yang bertugas mengeksekusi Pongki. Tetapi itu permintaan khusus dari Pongki, dirinya tidak mungkin menolak permintaan terakhir dari mertua yang sangat ia cintai itu. Topan menangis di depan cermin yang berada di dinding kamar mandi itu. Sama dengan Bella, ia tak kuasa menahan kesedihannya. Mungkin saat ini, kesedihan Topan melampaui kesedihan dari Bella sendiri. Bagaimana mungkin dirinya berdiri di depan Pongki yang kedua matanya tertutup kain berwarna hitam dan membidik moncong senjatanya tepat di jantung mertuanya itu.


"Ya Allah... Mengapa harus begini," Batin nya.


.


Saat makan malam keluarga, Topan lebih banyak diam. Diam nya dirinya menarik perhatian kedua orangtuanya dan juga Bella. Topan kerap termenung dan tidak mendengar saat diajukan pertanyaan dari kedua orangtuanya maupun Bella.


"Mas," Bella menyentuh punggung tangan Topan.


Topan tersentak dan menatap wajah Bella dengan ekspresi wajah yang gugup.


"Mas sakit?" Tanya Bella lagi.


"Ti-tidak," Sahut nya.


"Kamu itu kenapa sih le?" Tanya Erna.


Galang, Erna dan Bella saling berpandangan. Hingga akhirnya Galang berinisiatif untuk menyusul Topan yang sedang merokok di beranda rumah itu.


"Merokok lagi?"


Topan menoleh dan menatap Galang yang sedang beranjak duduk di sampingnya.


"Maaf baba," Topan segera mematikan rokoknya di dalam asbak yang terdapat diatas meja di depan nya.


"Berhentilah merokok, apa lagi saat ini kamu ada bayi."


Topan tersenyum kikuk mendengar nasihat Galang.


"Iya, nanti di kurangi ba."


"Bukan di kurangi, tapi coba berhenti,"


"Iya ba," Sahut Topan, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kamu terlihat sangat gelisah, ada apa?"


Topan menatap Galang dengan seksama, lalu ia kembali tersenyum dan menundukkan wajahnya.


"Ada apa nak? Katakan pada baba."


"Ini tentang pekerjaan saja ba," Sahut Topan.


"Ok lah kalau kamu tidak mau mengatakan nya. Tetapi, baba rasa kamu butuh seseorang yang menghibur kamu."


Topan menoleh ke arah Galang yang duduk di sampingnya sambil tersenyum menatap dirinya. Saat itu juga, matanya mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


"Baba pernah punya tugas yang tidak bisa baba lupakan seumur hidup baba?" Tanya Topan.


Galang menghela nafas panjang dan membuang pandangannya kearah taman rumah itu. Sedangkan Topan dengan sabar menunggu jawaban Galang yang terlihat gelisah.


"Pernah," Sahut Galang, setelah beberapa menit dirinya terdiam.


"Apa?" Tanya Topan penasaran.


Galang tersenyum tipis dan kembali menatap Topan dengan tatapan yang teduh.


"Baba terpaksa menembak mati sahabat baba sendiri."


Topan terhenyak dan menatap Galang dengan tak percaya.


"Bagaimana bisa?"


"Semua bisa saja terjadi di dalam tugas."


"Bagaimana ceritanya ba?" Tanya Topan yang tampak sangat tertarik dengan cerita tentang Galang masih bertugas.


Galang kembali menghela nafas panjang dan menundukkan wajahnya.


"Saat itu baba bertugas di daerah konflik. Baba sudah menangkap pimpinan dari kelompok organisasi yang membuat rusuh di suatu daerah. Baba sudah menyerahkan tersangka pada polsek setempat. Saat itu, polsek itu adalah sahabat baba yang kebetulan berdinas disana. Kita bersahabat sejak masa pendidikan, dan bertemu lagi disana."


"Lalu?" Topan tampak sangat tidak sabar untuk mengetahui apa yang terjadi.


"Singkat cerita, Sahabat baba itu melepaskan tersangka dan menerima uang suap dari kelompok tersebut. Bayangkan, baba menangkap pimpinan kelompok itu mempertaruhkan nyawa. Tidak hanya baba, melainkan team baba yang nyaris saja mati di medan pertempuran melawan kelompok tersebut."


"Saat baba kembali ke polsek tersebut, dan tersangka tidak terlihat lagi disana, emosi baba meledak. Baba benar-benar kecewa pada sahabat baba. Usut punya usut, ternyata dia adalah keponakan dari pimpinan kelompok tersebut. Baba juga melihat banyak uang yang tersusun rapi di laci meja kerjanya."


"Lalu? Baba menembaknya?" Tanya Topan.


"Belum, tetapi baba memperingatkan dia. Baba sangat emosi. Baba mencoba memberitahukan dia bila baba dan team mempertaruhkan nyawa dan menjaga kedaulatan serta kedamaian negeri bersama dengan para TNI dan Polri yang bertugas di lapangan."


"Tetapi, dia malah berniat akan menembak baba, saat baba mencoba untuk membawanya kepada pimpinan. Kalau tidak dia yang mati, pastilah baba yang mati. Lantas, bila baba mati, bagaimana baba bisa menepati janji baba pada ibumu dan kamu?" Galang menatap Topan dengan seksama.


Topan menghela nafas berat, dan menggelengkan kepalanya, tanda dirinya benar-benar tidak habis pikir dengan sikap sahabat baba nya.


"Dengan cepat dia meraih pistol nya yang terselip di pinggangnya, dan menembakkan nya tepat ke arah kening baba. Beruntung, peluru itu meleset. Peluru itu hanya menyerempet helm yang baba pakai. Baba merasa sangat terancam saat dia akan meletuskan tembakan kedua. Akhirnya baba memutuskan untuk menembakkan peluru terakhir baba tepat di jantung nya. Dan dia pun roboh tepat di samping mejanya."


Topan kembali menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar tidak menyangka dengan apa yang pernah Galang hadapi di lapangan saat dirinya bertugas.


"Lalu, apa yang terjadi pada baba?"


Galang menghela nafas panjang dan tersenyum getir.


"Baba ditarik ke pusat. Di interogasi, baba sebagai pimpinan team, mencoba melindungi semua anggota team. Maka dari itu, baba juga sempat mendapatkan hukuman karena kejadian itu. Baba disuruh menghilang beberapa waktu hingga keadaan kembali kondusif. Akhirnya yah begini, setelah kesana kemari, akhirnya baba terdampar di Riau dan bertugas disana hingga pensiun."


"Bayangkan bila saat itu baba meninggal dunia, kamu tidak akan pernah bertemu dengan baba. Baba juga tidak akan pernah bisa menepati janji baba pada ibumu. Saat itu, yang terbayang hanya wajah kalian berdua. Tidak bisa, itu bukan saatnya baba mati. Baba harus mempertahankan nyawa ini demi kamu dan ibumu. Demi janji yang sudah terkontrak mati di hati baba pada ibumu."


Topan tertunduk gelisah, ia mengusap wajahnya dengan kasar.


"Sekarang, apa yang akan kamu hadapi?" Tanya Galang.


Topan menatap Galang dengan seksama. Air mata mulai menggenang kembali di pelupuk matanya.


"Sama dengan baba, aku akan menembakan peluru terakhir," Ucap Topan.


Galang menghela nafas dan merangkul Topan dengan erat. Tanpa banyak bertanya lagi, ia hanya ingin mencoba menenangkan Topan yang malam ini sangat membutuhkan sandaran bahu nya.


"Sini nak, bersandar lah di bahu baba,"


Topan menangis tersedu-sedu, meluapkan segala emosi di hatinya. Rasa yang begitu membebani dirinya sebagai seorang menantu yang akan mengeksekusi mati mertua yang sangat dirinya cintai.

__ADS_1


__ADS_2