
Suasana di Villa begitu tegang. Beberapa orang yang sedang berada di dalam kolam, terlihat keluar dan mencoba menutupi tubuhnya dengan handuk. Sebagian lagi, terlihat gemetar, karena mereka menyembunyikan atau bahkan telah terlanjur memakai barang haram, untuk membuat dirinya semakin menikmati pesta.
Beberapa anggota kepolisian ikut menyusul dan mengamankan lokasi. Mereka juga meminta satu persatu dari para tamu undangan, untuk melakukan test nark*ba. Walaupun sebenarnya ini adalah misi Berta dan Bella, para anggota juga berhak melakukan pemeriksaan, karena pesta itu dilakukan tanpa izin sebelumnya dan terlihat dari para tamu yang kesadaran nya mulai menghilang. Entah itu karena alkohol atau obat-obatan terlarang.
"Bella sayang... aku bisa menjelaskan..." Frans berdiri di depan Bella, seraya meraih kedua bahu Bella.
"Bajingan! penghianaaaaattttttt!" Ucap Bella sambil melayangkan tamparan nya di pipi kiri Frans.
Plakkkkkk...!
Frans terdiam, Erna terlihat menyusul mereka dan menarik tangan Frans dengan kasar.
"Siapa dia?" Tanya Erna.
Frans melepaskan tangan nya dari cengkraman tangan Erna. Ia sudah tidak peduli dengan Erna. Yang ia pikirkan hanya Bella. Bagaimana bila Bella marah kepadanya atau bahkan mengakhiri hubungan mereka. Sudah bisa dipastikan, Frans tidak akan bisa mendapatkan dana segar kembali. Ia akan kembali ke asal nya, yaitu pemuda tampan, pengangguran dan hidup pas-pasan.
"Frans!" Bentak Erna.
"Kamu yang siapa? Saya pacar nya, lima tahun belakangan ini. Dan kamu tahu, dia kamu bisa kesini, karena modal dari saya!" Ucap Bella dengan segenap emosi yang tengah ia rasakan.
"Sini kau bajingan!" Berta menarik Frans dengan kasar, ke arah ruang tamu Villa tersebut.
"Tante.. saya bisa jelaskan.." Ucap Frans yang mulai merasa takut, saat melihat Berta dan Bella membawa anggota kepolisian bersama mereka.
"Diam kau! Sini... duduk!" Berta mendorong Frans ke arah sofa, hingga lelaki itu terduduk di atas sofa.
"Tanda tangani ini!" Bentak Berta.
Tangan Frans gemetar, ia menatap beberapa lembar kertas yang ada di hadapannya.
"Apa ini tante?" Tanya Frans dengan wajah yang pucat.
"Kau bisa baca kan?" Tanya Berta.
Frans terdiam, ia meraih kertas tersebut dan mulai membacanya.
__ADS_1
Sebelum Bella dan Berta menyambangi Villa tersebut, mereka dan pengacara nya, membuat surat pernyataan agar Frans mengembalikan uang yang sudah diberikan oleh Bella. Bila ia tidak memiliki uang tersebut, maka aset yang ia punya, akan di sita oleh Berta dan Bella. Bila tidak ada aset atas nama Frans, maka Bella dan Berta akan menggugat Frans dengan pasal 378, yaitu penipuan.
Frans terbelalak, ia menatap Berta dan Bella dengan tatapan memohon.
"Tante, Bella... aku bisa jelaskan.. Aku tidak berselingkuh, sumpah! Aku juga berniat untuk serius dengan Bella."
"Kau pikir, kami disini buta semua? Kami melihat kamu berciumaaaaannn Frans!" Ucap Bella.
"Tapi itu biasa kan? Just for fun Bella! Yang penting hati ku hanya untuk mu Bell.."
Bugggg..!
Noel melayangkan tinju nya di wajah Frans.
"Just for fun? Otak lu gak ada? Gila lu ya!" Noel terlihat gemas kepada Frans, dan disamping itu ia pun berniat mencari perhatian Bella yang sedang kecewa.
"Noel! Lu lok ikut-ikutan?" Ucap Frans sambil mengusap pipinya yang baru saja menerima pukulan dari Noel.
"Gue sudah pernah bilang sama lu Frans! Gue mencintai Bella. Gue rela dia dengan elu, asalkan satu, jangan pernah lu khianati Bella. Ternyata lu cuma mau uang Bella saja. Sekarang, gue bahagia lihat elu seperti ini. Lu laki-laki bajingan memang Frans!" Hardik Noel.
Frans terdiam, ia seperti seorang terdakwa di ruang pengadilan.
"Bell..." Frans menatap Bella yang bergeming menatap dirinya. Air mata Bella terus mengalir di kedua pipinya. Perasaan hancur, sakit hati, kecewa dan bodoh, membuat dirinya dan kepercayaan nya kepada sosok lelaki, hancur begitu saja.
Bagaimana tidak? Setelah kasus Pongki, daddy nya yang tega mengkhianati Berta, sudah cukup membuat dirinya membenci pernikahan. Di tambah dengan Frans yang diam-diam menghianati dirinya dan menguras tabungan nya selama ini, dengan hanya satu kata, yaitu "Cinta". Lalu, ia teperdaya tanpa mampu menyadari nya dari dulu.
"Tanda tangani itu, atau lu gue bunuh saat ini juga," Ucap Bella dengan nada suaranya yang dingin dan terkesan memang akan berniat untuk membunuh Frans.
Mau tidak mau, Frans menandatangani surat pernyataan itu. Lalu, dengan cepat, Satrio mengambil kertas tersebut dan menaruhnya di dalam map berwarna cokelat.
"Sudah jelas ya, tanggung jawab mu kami pegang. Tinggal kita lihat inisiatif mu dalam mengembalikan uang yang telah kamu kuras dari Bella. Bila tidak ada inisiatif darimu, saya berani jamin, hidup mu tidak akan tenang. Saya juga sudah meminta kamu untuk di cekal, jangan sampai kamu melarikan diri ke luar negeri. Hidup mu kini seperti katak dalam tempurung. Bila mau bebas, selesaikan masalah kalian terlebih dahulu. Atau, kau menginap di hotel prodeo." Tegas Satrio.
Frans termenung, ia menangis penuh penyesalan.
Setelah semua selesai, Bella, Berta, Noel dan Satrio, pun pergi meninggalkan Villa tersebut. Sedangkan Agung dan anggota nya, menangani orang-orang yang memang masuk dalam pelanggaran penyalahgunaan obat-obatan terlarang.
__ADS_1
Bella hanya bisa menangis, sepanjang perjalanan kembali ke hotelnya. Ia merasa begitu hancur dan sia-sia dalam menjalani hubungan selama 5 tahun dengan Frans.
"Mengapa? Mengapa lelaki rata-rata penghianat!" Sesal nya.
Di sebelah Bella, Berta terus memeluk putri nya itu, dan mencoba memberikan kekuatan disaat dirinya pun tengah merasa rapuh. Walaupun Berta terlihat biasa saja, tetapi hatinya tengah merasa terluka parah. Jangankan Bella yang masih berpacaran 5 tahun dengan Frans. Berta sudah menjalani rumah tangga hampir 30 tahun, tetapi masih saja di khianati.
Luka, itulah yang dirasakan dua wanita beda generasi tersebut. Hingga mereka larut dalam perasaan "Tidak lagi percaya dengan lelaki mana pun" "Semua lelaki brengsek" "Lelaki tidak bisa di percaya dan Penghianat" dan masih banyak kata-kata yang pantas buat lelaki yang saat ini sedang melukai hati mereka berdua.
Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka sampai di hotel, dimana Bella dan Berta menginap. Bella turun dari mobil dan langsung beranjak masuk ke hotel itu dan menuju ke kamarnya. Sedangkan Berta, harus berbasa basi terlebih dahulu dengan Satrio dan Noel, yang sudah bersedia membantu mereka pada malam ini, untuk menghadapi kasus yang sedang mereka hadapi.
"Ya sudah Berta, kamu dan Bella tenang saja. Jakarta dan Bali dekat kok. Kalau ada apa-apa, saya bisa langsung terbang ke Jakarta dan mengurus ini semua. Kapan kamu akan kembali ke Jakarta Berta?"
"Hmmmm... saya belum tahu mas. Lebih baik, mas urus semua ya. Masalah semuanya gampang. Pokoknya, saya serahkan semuanya kepada mas Satrio. Saya juga minta tolong, masalah aset si bajingan itu, di urus dan dia tolong di awasi, kalau bisa sih secepatnya." Pinta Berta.
Satrio tersenyum dan mengangguk dengan cepat.
"Tenang Berta, kamu berlibur saja. Aku yang urus,"
"Terima kasih ya mas,"
"Sama-sama," Sahut Satrio.
"Ya sudah, saya pulang dulu ya," Sambung nya.
"Iya mas, hati-hati." Sahut Berta.
"Saya juga ya tante. Kalau ada apa-apa, Bella dan tante bisa hubungi Noel saja," Ucap Noel.
Berta tersenyum dan mengangguk dengan perlahan.
"Saya pamit tante.... salam untuk Bella," Ucap Noel lagi, sambil mengecup punggung tangan Berta.
"Terima kasih ya Noel,"
"Sama-sama tante," Sahut Noel seraya tersenyum dan melangkah menuju ke taksi yang terparkir di lobby hotel tersebut.
__ADS_1
Sepeninggal Satrio dan Noel, Berta berdiam diri di lobby hotel itu. Ia memesan sebuah minuman hangat untuk menemani dirinya yang sedang gundah. Ia merasa iba dengan Bella, dan juga merasa Iba dengan dirinya sendiri.
"Entah apa mau lelaki?" Gumam nya.