Masteng

Masteng
122. Surat yang tak pernah dikirim


__ADS_3

Dear mas Galang, aku minta maaf bila aku lebih memilih Amoroso. Bukan karena aku tidak mencintai kamu. Tetapi, bagaimanapun, semua tidak sesederhana yang terlihat. Aku harus menjaga nama baik keluargaku. Aku harus mengikuti apa mau kedua orangtuaku. Maaf, bila keputusan ku ini, sangat menyakitimu.


Tahukah kamu, aku pun tersiksa karena perjodohan ini. Setiap malam aku selalu memikirkan kamu. Hatiku hancur, tetapi aku tidak memiliki pilihan lain, selain menjalaninya. Kecuali, kalau kau benar-benar mencintai aku, bawalah aku pergi dari sini. Bagaimana?


Juni, 1987.


..


Hatiku begitu sakit, saat kamu memilih menyerah. Baiklah, aku akan menikah. Walaupun aku terpaksa, hatiku hancur lebur, aku harus kuat menjalaninya. Karena, saat ini pun kamu menyerah dan tidak berani membawaku pergi jauh.


Juni, 1987


...


Aku melihat tatapan tak rela darimu. Tetapi, hatiku sakit, mengapa kamu tidak rela, namun kamu menyerah?


Aku bersanding di pelaminan itu, kamu pun menyalamiku, seakan semua cerita indah tidak pernah terjadi diantara kita.


Mas, kamu bilang kamu akan selalu mencintaiku. Namun mana buktinya? Kamu menatapku bagaikan seorang pengecut yang bersembunyi dibalik ketegaran mu.


Juni, 1987.


...


Aku sangat menikmati, pada malam dimana kita memadu kasih. Kau begitu hebat, hingga aku terlena karena mu. Mas, aku tahu kita telah melakukan kesalahan. Tetapi, izinkan aku terus melihat mu. Bersama denganmu. Aku tidak peduli dengan status ku saat ini. Aku sangat membutuhkan kamu.


Oktober, 1987.


...


Suami ku pulang, maaf bila kita harus berpisah sementara waktu. Aku sangat mencintai kamu. Tetapi, tugasku sebagai istri begitu mendesak ku untuk mengabdi pada dirinya.


Sampai jumpa minggu depan. Selama dia ada di Jakarta, lebih baik kita tidak bertemu. Soalnya, dia sudah mulai mencurigai hubungan kita.


Januari, 1988.


...


Mas Galang, apa kamu tidak jenuh dengan hubungan kita? Apakah kamu tidak ingin memiliki aku seutuhnya? Bila memang aku harus bercerai dengan suamiku, aku akan lakukan itu. Hanya saja, aku harus meyakinkan diriku sendiri, bila kamu memang berniat bersama dengan ku selamanya.


Bagaimanapun, aku merasa berdosa dengan Amoroso. Tetapi, rasa cintaku kepadamu tidak bisa aku padamkan. Mas, bisakah kita bersatu? Mengapa saat itu kamu tidak berani membawaku pergi?


Aku sangat mencintai kamu, aku ingin selamanya dengan dirimu. Ini bukan dusta. Mas, beri aku kepastian, agar aku tentang segala yang menghalangi kita.


Juli, 1988.


...


Aku minta maaf, bila hubungan kita harus berakhir. Aku telah mengandung anak dari Amoroso. Mau tidak mau, aku harus menjaga anak ini hingga dia lahir.


Mas, maafkan aku.


Agustus, 1988.


...


Mengapa kamu begitu keras kepala mas? Aku sudah katakan, bila bayi yang ada dikandungan ini bukan anak mu! Berhentilah mengaku-ngaku bila bayi ini adalah anak mu. Jangan membuat aku menjadi gila.


Mas, bila kamu mencintai aku. Lupakan aku. Ikhlaskan aku.


Agustus, 1988.


....


Aku sangat berterima kasih, bila kamu begitu memperhatikan aku dan bayi yang sedang aku kandung. Mas, tetapi kita sekarang tidak bisa bersama. Berhentilah memberikan aku perhatikan yang membuatku susah untuk melupakan kamu.

__ADS_1


Aku sudah bilang, bila bayi ini adalah anak dari Amoroso. Jangan pernah berharap lebih padaku. Bila memang kamu menginginkan aku, mengapa tidak kamu perjuangkan aku saat aku belum menikah dengan Amoroso?


Maret 1989.


...


Mas, aku sudah bilang, hubungan kita sudah berakhir. Kini, hidupku hanya untuk keluarga kecil ku. Jangan pernah bertanya tentang cinta lagi. Walaupun hatiku untuk kamu, lalu kita bisa apa?


Mas, aku harap kamu menemukan wanita lain yang baik. Yang bisa kamu nikahi dan memiliki keluarga yang bahagia. Lupakan aku dan Topan. Kamu sudah sangat terlambat untuk berjuang.


Maaf bila semua ini membuat kamu harus di tugaskan ke perbatasan. Mungkin inilah jalan satu-satunya untuk kita saling melupakan.


Mei, 1990.


...


Mengapa kamu terus mengirimi aku surat? 6 tahun telah berlalu. Sadarkah kamu, setiap menerima surat darimu, aku selalu merasa tersiksa. Bagaimanapun aku tidak pernah bisa melupakan kamu. Bagaimana caranya aku bisa melanjutkan hari-hari ku yang seperti ini? Bila aku selalu menerima kabar dengan pesan yang selalu penuh cinta untuk ku dan Topan.


Mas, mulailah hidup baru. Sesakit apapun itu, kita berada di jalan yang berbeda kini. Lupakan aku... maafkan aku.


Januari, 1996.


...


Mas.... Dimana dirimu berada kini. Maafkan aku yang selalu mengabaikan setiap surat-surat mu. Sepuluh tahun sudah, perasaan ini belum juga hilang.


Mas, apakah kau baik-baik saja disana? Entah dimana kau berada. Mas, hidup ku kosong, hidupku hampa. Hari-hari ku begitu terasa semakin berat saat Amoroso terus meragukan Topan adalah anaknya.


Mas, aku butuh kamu. Tetapi, entah kemana aku harus mengirim surat ini.


Mas, andaikan suatu saat kita bertemu, izinkan aku memelukmu dan menangis di pelukanmu. Mas, aku membutuhkan kamu.


Januari, 2000.


..


Lalu, mata Topan menatap tumpukan surat dari Galang untuk Erna. Lalu, ia pun mulai membaca surat itu.


Untuk yang terkasih, Erna. Bunga mawar ku yang berduri.


Menggapai kamu bagaikan menggapai bintang di langit. Suatu yang tidak mungkin aku lakukan. Tetapi, bolehkah aku bermimpi untuk memetik bintang itu?


Erna, walaupun aku merelakan kamu. Bukan berarti cintaku padam untuk kamu. Aku akan tetap mencintai kamu, selamanya. Entah mengapa, perasaan cintaku berhenti di kamu. Hanya kamu dan cuma kamu.


Maaf bila kesan nya aku tidak berjuang. Hanya saja, hubungan kita terlalu rumit untuk di pertahankan. Biarlah aku menyimpan perasaan ini, hingga ajal menjemput ku di kemudian hari.


Juni, 1987.


...


Erna, maafkan aku yang telah menjamah mu. Maafkan aku yang membuat kamu menghianati suami mu. Aku melakukan nya karena aku sangat mencintai kamu. Bila terjadi apa pun di kemudian hari, aku siap untuk bertanggung jawab. Aku sudah tidak peduli apa pun lagi. Aku sadar, aku tidak akan bisa hidup tanpa kamu. Walaupun aku terlambat berjuang, kali ini aku harus memperjuangkan kamu. Karena aku sangat-sangat mencintai kamu.


Oktober, 1987.


...


Erna, izinkan aku mengatakan kepada keluargamu, bila anak yang tengah kamu kandung adalah anak ku. Aku yakin itu anak ku, walaupun kamu menampik nya.


Erna, apakah kamu sudah tidak mencintai aku lagi? Mengapa kamu memilih untuk memperjuangkan Amoroso?


Maret, 1989.


...


Tidak peduli berapa jauh pun aku di campakkan. Aku akan membawa cinta kita di hatiku. Erna, aku titip Topan. Bagaimana mungkin kamu mengingkarinya bila Topan sangat mirip dengan ku?

__ADS_1


Erna, aku akan selalu menunggumu. Mau itu setahun, dua tahun, lima tahun, sepuluh tahun, atau selamanya. Cinta ku akan selalu abadi untuk kamu dan Topan.


Aku akan tetap menunggu, hingga hatimu memilih untuk bersama denganku.


Erna, aku sudah tidak peduli, orang mau berkata apa, bahkan bila aku dipecat dari kesatuan ku, aku tidak peduli. Aku tahu ini sangat terlambat. Tetapi, semua tergantung pilihan mu. Bila kamu memilih ku, aku akan menjemputmu dan mari kita hidup dari nol, dan ikutlah kemanapun aku pergi.


Tetapi, bila kamu tetap memilih bersama dengan Amoroso, aku bisa apa? Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk mu. Tetapi ingat, rasa cinta ku tidak akan pernah padam. Dan jangan pernah memaksaku untuk mencintai orang lain selain dirimu. Hatiku berhenti di kamu.


Mei, 1990.


...


Dear Erna, enam tahun sudah berlalu. Bagaimana kabar mu dan Topan? Aku harap kalian baik-baik saja. Aku akan dipindahkan tugas ke daerah konflik. Mungkin ini adalah surat ku yang terakhir bila aku tidak selamat dalam bertugas. Aku juga mengirimkan kamu album yang berisi foto-foto kita berdua. Kamu bisa lihat apa yang tertulis didalam nya.


Erna, sudah enam tahun, dan aku masih sendiri. Aku masih menunggu kabar darimu, bila kamu akan memilih bersama dengan ku. Tetapi, kabar itu tidak kunjung datang. Aku harap, kamu benar-benar merasa bahagia dengan nya.


Doa ku selalu.


Januari, 1996.


...


Erna, aku kembali ke Jakarta. Maukah kamu menemui aku? Aku sangat merindukanmu. Bagaimana kabarmu dan Topan? Bawalah Topan bila kamu ingin bertemu dengan ku. Jumpai aku di hotel Indonesia pukul tujuh malam.


aku tunggu.


Oktober, 1998.


...


Topan melipat surat terakhir dari tumpukan surat-surat itu. Lalu, ia menatap Erna yang terus menangis di samping dirinya.


"Lalu, setelah surat terakhir, apa yang terjadi? Apakah ibu menemui dia?" Tanya Topan.


Erna menggelengkan kepalanya. Lalu, ia memberanikan diri menatap Topan.


"Tidak, semua sudah berakhir. Adik-adik mu juga sudah lahir. Ibu bisa apa? Haruskah ibu mengejar cinta itu lagi?" Ucap Erna.


Topan menghela nafas panjang, dan mengusap punggung Erna.


"Bu, apakah benar aku anak nya? Katakan yang sejujurnya bu.."


"Ibu tidak tahu."


"Tetapi mengapa dia begitu yakin? Apakah benar aku mirip dengan dia? Apa hanya perasaan ku saja?" Tanya Topan.


Erna kembali menatap Topan. Air mata terus membasahi pipinya.


"Haruskah ibu akui itu?" Tanya Erna.


"Ya, tentu saja," Ucap Topan.


Erna terdiam beberapa saat. Lalu, ia menundukkan wajahnya.


"Ya, kamu memang sangat mirip dengan nya. Mungkin ini hukuman karena ibu telah mengkhianati bapak mu."


Topan terdiam, dadanya terasa sesak sekali.


"Jadi benar, aku anaknya? Mengapa ibu tidak pernah mengakuinya? Mengapa ibu menyiksa bapak?" Tanya Topan.


Erna terisak hingga bahunya terguncang.


"Sudah ibu katakan, ibumu ini pengecut!"


Topan terdiam. Hanya terdengar tangisan Erna hingga adzan subuh berkumandang dengan indahnya.

__ADS_1


__ADS_2