Masteng

Masteng
51. Hujan


__ADS_3

Pukul 14.00, matahari semakin menyengat. Topan beranjak dari duduknya dan bergegas untuk membayar minuman dirinya dan Bella. Bella menatap Topan yang membelakanginya. Kali ini, ia tidak membatin apa pun tentang Topan. Ia hanya ingin menatap Topan tanpa sepengetahuan lelaki itu.


Bella terhenyak, saat melihat Topan mengeluarkan selembar uang pecahan 50.000 rupiah untuk membayar minuman mereka. Bella pun langsung bergegas menghampiri Topan dan melarang nya untuk membayar minuman mereka.


"Gue saja yang bayar!" Cegah nya, saat pedagang tersebut hendak meraih uang pecahan 50.000 rupiah itu dari tangan Topan.


Saat itu juga Topan menatap Bella dan tersenyum manis kepada gadis itu.


"Tidak apa-apa, sekali-kali aku yang membayar untuk non Bella," Ucap nya.


"Tidak, masukan kembali uang mu, biar aku saja yang membayarnya." Bella mengeluarkan uang 100.000 rupiah dan menyerahkan nya kepada pedagang itu.


Pedagang itu tampak bingung, uang mana yang akan ia ambil.


"Ambil ini pak! Kembalian nya buat bapak saja," Ucap Bella.


Pedagang itu pun tersenyum semringah, dan langsung menyambar uang yang berada di tangan Bella.


Topan menggelengkan kepalanya dan menyerahkan uang 50.000 itu kepada Bella.


"Ini, ambil," Ucapnya.


"Gak, selama elu sama gue. Ya, lu tanggung jawab gue," Ucap Bella sambil berjalan meninggalkan kios tersebut.


Topan mengikuti Bella dari belakang dan terus menatap gadis itu.


"Tapi, tadi saya bayar tiket sendiri," Celetuk Topan.


Bella menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang. Lalu, ia menundukkan wajahnya dan terlihat salah tingkah. Ia sangat merasa bersalah, karena telah mempermainkan Topan, saat berada di gerbang tiket tadi.


"Tetapi, tidak apa. Yang penting bisa bertemu dengan non Bella lagi. Bukan apa-apa, selama non Bella bersama saya, berarti non Bella tanggung jawab saya," Ucap Topan.


Bella kembali melangkah dan mengabaikan ucapan Topan.


"Sekarang mau kemana non?"


"Hmmmm, ke pantai Sanur yuk," Ucap Bella, seraya menoleh dan tersenyum kepada Topan.


Topan membalas senyuman Bella dan mengangguk dengan cepat.


Mereka berdua meninggalkan lokasi wisata itu. Butuh berjalan kaki beberapa menit, hingga sampai di tempat berkumpulnya para pengemudi taksi yang sedang menunggu penumpang di wilayah wisata tersebut.


Setelah mendapatkan taksi, seperti tadi saat berangkat, Topan duduk di samping supir, sedangkan Bella duduk sendirian dibelakang. Sepanjang jalan, Bella terus menatap Topan yang tak sekalipun menoleh kebelakang. Entah mengapa, ia merasa mulai mencair dengan lelaki itu. Bagaimana tidak, Topan begitu sabar menghadapi dirinya. Topan juga ternyata lebih pintar dibandingkan bayangan nya selama ini. Bahkan, Topan terlihat sangat terpelajar di mata Bella.


"Sudah ganteng, baik, bahasanya itu kayak orang terpelajar. Padahal dia hanya supir, yang lulus sekolah dasar pun tidak," Batin Bella.

__ADS_1


Jarak antara Tanah Lot ke Pantai Sanur sekitar satu jam. Selama satu jam juga Bella tidak melepaskan pandangannya dari Topan. Ia cukup merasa puas memandangi lelaki itu, tanpa harus merasa gengsi. Pasalnya, bila bertatap muka, ia merasa Topan hanya supir nya saja. Yang berasal dari desa, dan bernama Paijo, nama yang sangat kampungan menurut Bella.


Akhirnya, taksi yang ditumpangi mereka, berhenti di gerbang pantai Sanur. Setelah Bella membayar ongkos taksinya, mereka pun bergegas turun dari taksi tersebut. Mereka pun berjalan kaki untuk mencapai bibir pantai tersebut.


Tidak ada kata yang terucap diantara mereka. Tetapi, kali ini mereka jalan berdampingan. Seperti layaknya sepasang kekasih. Hanya saja, tidak bergandengan tangan.


Pantai Sanur terkenal dengan pantai yang berpasir putih dengan ombak yang tenang. Sangat cocok bagi orang seperti Bella yang sedang ingin ketenangan disaat patah hati.


Bella menanggalkan sandalnya dan berlari ke bibir pantai, saat mereka sampai di pantai tersebut. Bella sangat menikmati angin yang bertiup sepoi-sepoi, dan sapuan air laut yang membasahi kakinya. Sedangkan Topan hanya berdiri beberapa meter dari Bella sambil terus mengawasi gadis itu.


Topan tampak tersenyum, saat melihat Bella berlarian. Gadis itu juga bermain pasir dan berteriak kencang untuk melepaskan beban dihatinya. Setelah capai bermain di bibir pantai, Bella beranjak mendekati Topan.


"Lu tahu tidak, mengapa gue suka kesini?" Tanya Bella.


Topan menggelengkan kepalanya.


"Karena disini tenang, pasirnya putih. Kesenangan gue sesederhana itu kan?"


Topan tersenyum dan duduk di samping Bella yang tengah duduk di atas pasir putih itu.


"Lain kali, jangan minum-minum lagi ya non. Kalau non Bella merasa bosan dan sedih, ada saya yang siap mengantarkan non Bella kemanapun non Bella mau,"


"Ada saya... Ada aku...." Kata-kata itu terngiang di telinga Bella. Sepertinya, kata-kata dan suara itu pernah ia dengar sebelumnya. Bella menoleh dan menatap Topan dengan seksama.


"Perasaan lu pernah bilang itu deh sama gue," Ucap Bella.


"Iya, semalam," Jawabnya dengan jujur.


Bella terperangah dan mengangguk dengan perlahan. Lalu, ia ikut tertawa dan menggelengkan kepalanya.


"Jo,"


"Ya non..."


"Terima kasih, sudah baik sama gue,"


Deggggg!


"Seorang Bella berterima kasih sama aku?" Batin Topan.


Topan menatap kedua manik mata Bella dalam-dalam. Ia menemukan ketulusan disana, saat Bella mengucapkan kata terima kasih kepadanya.


Topan tersenyum dan terlihat salah tingkah.


"Sama-sama non," Sahut Topan.

__ADS_1


Tiba-tiba saja, hujan deras mengguyur pantai itu. Memang, sejak mereka tiba di pantai itu, langit tengah mendung. Tetapi, Bella tetap memaksa untuk mendekati bibir pantai itu.


Refleks saja, Topan menghalangi air hujan agar tidak membasahi kepala Bella, dengan kedua tangan nya. Lalu, mereka beranjak dari duduk dan mencari tempat untuk berteduh.


Hujan semakin deras, bagaikan air di tumpahkan dari langit. Topan dan Bella berlarian menuju ke salah satu cafe yang berada beberapa meter dari bibir pantai. Mereka berdua mencoba berteduh di depan cafe itu. Tetapi, angin sangat kencang, hingga mereka tetap terkena tempias air hujan. Sedangkan mau masuk kedalam cafe itu, mereka merasa tidak enak, karena mereka akan membasahi lantai cafe itu.


"Mas, masuk saja," Ucap seorang pegawai yang berada di cafe itu.


"Gak usah, kami basah kuyup," Sahut Topan.


"Tidak apa, disana ada kursi rotan. Nanti lantainya kami pel," Ucap pegawai itu.


Bella dan Topan saling bertatapan, lalu mereka memutuskan untuk masuk kedalam cafe itu, dan duduk di tempat yang di tunjuk oleh pegawai cafe tersebut. Mau tidak mau, mereka memesan minuman hangat untuk menunggu hujan reda.


"Ah... basah semua," Gumam Topan. Tanpa sungkan, lelaki itu membuka kaos nya dan berjalan menuju ke arah taman cafe itu. Lalu, ia memeras kaos nya disana.


Bella terperangah saat melihat Topan membuka kaos nya. Otot perut Topan terlihat sangat sempurna, berjejer kanan dan kiri masing-masing 3 kotak ke bawah dan 2 kotak ke samping. Di tambah saat ia melihat topan memeras kaos nya. Otot lengan dan dada Topan begitu mengagumkan. Bella terpaku, jantung nya berdegup kencang tanpa mampu ia kendalikan.


"Dari luar biasa saja, tetapi kok...." Bella tidak sanggup untuk melanjutkan kata-katanya saat ia melihat sebuah perban putih yang menempel di bawah perut Topan, agak ke samping.


"Itu kenapa ya?" Batin nya.


Topan yang baru kembali dari memeras kaos nya, menjemur kaos itu di sandaran kursi dan kembali duduk di depan Bella dengan bertelanjang dada.


Matanya menatap kedua mata Bella yang sedang fokus melihat perban yang menempel di perutnya.


"Kenapa non?"


"Eh.. itu kenapa?" Tanya Bella dengan ekspresi yang khawatir.


"Oh, ini... biasa.. oleh-oleh saat mengambil tas non Bella yang tertinggal di tempat jedak jeduk," Ucap Topan sambil tersenyum.


"Apa?! Seriusan? Itu kenapa?" Ucap Bella dengan wajah yang tak percaya.


"Serius, jadi... kan saya berantem tuh sama lelaki yang peluk-peluk non Bella. Nah... waktu saya kembali lagi kesana, untuk mengambil tas non Bella. Lelaki itu mengeroyok saya dengan 4 orang teman nya. Jadi, inilah hadiah nya." Terang Topan, diakhiri dengan senyuman yang luar biasa manis nya.


Bella tertegun, kini ia merasa sangat-sangat bersalah dengan Topan.


"Jo... kenapa tadi tidak bilang?" Bella terlihat malu dengan perjuangan Topan untuk dirinya.


"Sudahlah, hanya goresan tipis. Nanti juga sembuh. Yang penting, saya bisa kembali ke hotel dan membawa tas non Bella. Biar bisa mindahin non Bella ke kamar non sendiri," Ucap Topan, masih di akhiri dengan senyuman yang manis.


"Ya Allah... laki-laki ini..."


Deg.... Deg.... Deg.... Deg.... Deg....!

__ADS_1


Seakan suara jantung Bella menggema di seluruh ruangan cafe itu.


__ADS_2