
Bella terdiam di ruangan nya. Bukan karena hatinya sedang gundah. Hanya saja, ia merasa bingung dengan Erna yang tiba-tiba merestui dirinya dengan Topan untuk menikah.
"Bukanya ibunya mas Topan tidak menyukai aku? Kok tiba-tiba...." Bella mengerutkan keningnya.
"Semoga benar-benar merestui. Bukan sandiwara yang akhirnya melukai pernikahan aku dan mas Topan," Gumam Bella.
Bella beranjak dari duduk nya dan bersiap untuk menghadiri sebuah seminar, dimana membahas masalah kenakalan remaja. Dirinya yang di undang sebagai salah satu pembicara di seminar tersebut pun menyetujui untuk menghadiri acara tersebut. Karena, dirinya sudah berjanji di depan rektor dan seluruh orang yang berada di acara wisudanya saat ia menerima gelar S2 nya. Bila ia akan mengabdi dengan apa yang sudah ia capai. Menyelamatkan banyak generasi muda, sebagai bentuk menebus kesalahan yang telah di buat oleh daddy nya, yaitu Pongki.
Bella menyambar kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja kerjanya. Lalu, ia bersiap untuk pergi ke lokasi seminar.
.
Erna dan Topan melangkah masuk ke dalam rumah milik Galang. Rumah itu terlihat sepi. Seorang wanita paruh baya, berjalan menghampiri Galang, Erna dan Topan yang sedang berjalan ke arah ruang keluarga.
"Sudah pulang pak?" Tanya wanita yang bekerja di rumah Galang tersebut.
"Sudah bi. Tolong buatkan minum untuk anak dan calon istri saya." Pinta Galang.
Wanita paruh baya bernama Marni itu pun terpaku, ia menatap Galang dengan tatapan tak percaya.
"Maaf pak?" Ucap nya, agar Galang mengulang ucapan nya sekali lagi. Ia hanya ingin memastikan apa yang ia dengar itu tidak salah.
"Tolong buatkan minuman, kalau perlu buatkan makan malam untuk anak saya dan calon istri saya." Galang mengulang kalimat yang telah ia ucapkan sebelumnya.
"A-anak?" Tanya Marni dengan ekspresi wajah yang tak percaya.
"Ya, saya anak kandung dari bapak Galang." Sahut Topan.
Galang hanya tersenyum dan menepuk pundak anak kandungnya itu dengan bangga.
"Kok bisa?" Tanya Marni, masih dengan ekspresi wajah yang tak percaya.
"Bisa lah bi, saya kan normal. Ini namanya ibu Erna. Dia mantan istri saya, dan akan menjadi istri saya lagi." Galang memperkenalkan Erna pada Marni.
Erna sempat terkejut, ia tidak menyangka bila Galang memperjelas dirinya sebagai calon istri.
"Mas.." Erna ingin sekali protes, namun Galang langsung menggelengkan kepalanya. Tanda ia tidak ingin Erna memprotes apa yang telah ia ucapkan kepada Marni.
"Oh... mantan istri bapak. Salam kenal bu, saya Marni."
"Salam kenal kembali bi Marni," Sahut Erna.
"Jadi ini anak bapak?"
"Ya, ganteng kan? Seperti saya?" Tanya Galang dengan raut wajah yang terlihat begitu bangga memiliki Topan.
"Mirip sekali pak, gagah dan tampan seperti bapak. Saya yakin, saat bapak masih muda, pasti seperti ini," Ucap Marni.
"Jelas dong, siapa dulu.. kan saya bapaknya," Ucap Galang dengan bangga.
"Hehehe, baik pak, saya akan persiapkan minum dan makan malam." Marni berpamitan ke dapur untuk menyediakan apa yang di pinta oleh Galang.
__ADS_1
Kini, mereka duduk diruang keluarga. Galang terus menatap Topan dan ibu dari anak nya itu. Dirinya belum pernah merasakan kebahagiaan seperti pada hari ini. Dimana akhirnya ia bisa bertemu, bahkan mengakui bila dirinya mempunyai anak yang setampan dan segagah Topan.
Tidak bisa dilukiskan, itulah yang ada di hati Galang. Terlebih saat ia merasa antara dirinya dan Erna, tidak ada lagi penghalang yang begitu membuat dirinya patah hati selama ini.
Ya, kedua orangtua Erna sudah meninggal. Amoroso pun sudah tiada. Lalu, apa yang harus ia khawatirkan. Penilaian orang lain? Sudah pasti Galang tidak peduli, bila ada yang mengatakan dirinya menikahi janda dari seorang Jenderal. Bahkan, bila dunia tidak berpihak pun kali ini, ia akan berusaha menentang apa pun yang ada di depannya.
"Kapan rencana kamu mau melamar gadis itu? Siapa namanya?"
"Bella, kalau bisa secepatnya," Ucap Topan.
"Hebat, berapa lama kamu mengenal dia?"
"Baru terhitung bulanan lah ba. Namun, hati ini sudah yakin. Bila harus melamar Bella kepada Ayahnya yang berada di Lapas, saya akan lakukan," Ucap Topan lagi.
"Good, kamu memang benar-benar laki-laki yang baik."
"Hhhhh.... aku salut kepada Amoroso," Celetuk Galang.
Erna dan Topan terdiam mendengar ucapan Galang.
"Mengapa begitu? Karena dia lelaki hebat yang pernah aku kenal. Dia lelaki yang sangat baik. Dia mendidik anak-anak nya dengan baik. Menuntun kamu, Erna.. dengan sangat baik. Aku mengagumi dirinya sebagai seorang lelaki. Andai, disaat terakhir aku bisa bertemu dengan nya."
Erna dan Topan masih terdiam, mereka hanya mampu menatap ekspresi wajah Galang yang benar-benar terlihat sangat mengagumi sosok dari almarhum Amoroso.
"Sebenarnya, aku pernah bertemu dengannya pada tahun dua ribu lima, di Surabaya. Aku bersalaman dengan nya. Dia bersikap biasa saja, bahkan menggenggam tangan ku dengan erat. Dia bertanya tentang kabar ku. Tanpa terlihat kebencian dimatanya. Saat itu aku merasa malu dengan lelaki itu. Dia memiliki hati yang sangat luas dalam mencintai kamu Erna. Apakah dia pernah cerita?"
Erna menundukkan pandangan nya. Lalu, ia menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar baru mengetahui pertemuan antara Amoroso dengan Galang. Selama ini, Amoroso tidak pernah bercerita sedikit pun tentang pertemuan itu. Pantas saja, Amoroso begitu yakin bila Galang adalah ayah kandung dari Topan. Karena pada tahun tersebut, Amoroso pernah berkata, bila ia melihat sosok Galang dalam diri Topan. Pertengkaran pun tidak terhindari antara Erna dan Amoroso. Amoroso yang terus membahas, sedangkan Erna yang terus menutupi. Kini, Erna benar-benar merasa berdosa kepada Amoroso. Ia baru sadar, bila suaminya itu adalah lelaki yang sangat baik sekali.
"Terima kasih," Sahut Galang, Topan dan Erna.
"Minggu depan saja Baba datang ke Jakarta dan melamar Bella untuk mu. Baba juga ingin ikut ke Lapas dan bertemu dengan bapak nya Bella. Agar ia merasa di hargai," Ucap Galang.
"Minggu depan sidang putusan hukuman untuk daddy nya Bella Ba.." Ucap Topan.
"Oh ya?"
"Iya," Sahut Topan.
"Ya sudah, kita bisa bertemu di persidangan. Baba pasti akan menyusul kamu ke Jakarta." Janji Galang.
"Baik Ba... Ya sudah, silahkan berbicara berdua bersama dengan ibu. Bolehkah aku melihat album foto baba?" Tanya Topan yang sengaja memberikan ruang antara ibunya dan Galang.
"Boleh sekali." Galang beranjak dari duduknya dan berjalan kearah bufet, dimana ia menyimpan semua foto pribadi dirinya selama ia bertugas selama ini. Lalu, ia mengambil lima tumpuk album dari dalam laci. Lalu, ia memberikan album itu kepada Topan.
"Saya bawa kedepan ya Ba. Saya ingin duduk di beranda sambil merokok," Ucap Topan.
"Kurangi rokok mu anak muda," Ucap Galang.
"Hahaha, siap pak Kapolda!" Ucap Topan sambil tertawa.
Galang membalas tawa putra semata wayangnya itu, lalu sorot matanya terus mengikuti langkah Topan yang berjalan ke arah beranda dengan membawa tumpukan album di tangan nya.
__ADS_1
Kini, dirinya kembali berdua saja dengan Erna yang duduk di depan nya. Ia melihat Erna hanya diam dengan pikiran yang kosong.
"Erna.." Panggil Galang.
"Ya mas?" Erna tersentak dan menatap Galang.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Galang.
Erna menghela nafas panjang dan membalas tatapan Galang.
"Tidak ada," Sahut Erna.
"Katakan saja, bicara lah. Kita sudah lama tidak bertemu. Aku rindu semua tentang mu."
Erna menundukkan wajahnya, lalu ia terisak, hingga bahunya terguncang.
Galang pun merasa bingung, mengapa tiba-tiba saja Erna menangis. Hingga ia memberanikan diri untuk duduk disamping Erna.
"Ada apa?" Tanya Galang, sambil mengusap punggung Erna yang sedang menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan nya.
"Aku baru menyadari, betapa hebat cinta yang diberikan Amoroso kepadaku. Walaupun dia memenjarakan aku di dalam cintanya, tetapi ia benar-benar memperlakukan aku dengan baik. Aku sungguh baru menyadarinya. Terlebih saat mas Galang mengatakan bila mas pernah bertemu dengan nya. Aku merasa sangat bersalah dengan Amoroso," Erna terus menangis, menyesali sikapnya selama ini pada almarhum suaminya itu.
Galang terdiam, ia menghela nafas panjang dan menatap Erna dengan sorot mata yang prihatin.
"Kita doakan saja, semoga Amoroso mendapatkan tempat terbaik disisi-Nya."
"Pasti, dia akan masuk surga. Dia orang baik, dan aku bersaksi akan itu," Ucap Erna yang masih menangis sesenggukan.
"Ya sudah, sekarang apa yang harus kita lakukan dengan apa yang tertulis di surat wasiat Amoroso?" Tanya Galang.
Erna menatap Galang dan mengusap air matanya.
"Apakah harus? Disana tertulis jika mungkin, bukan menyuruh kita akan kembali."
Galang terdiam, ia terus menatap sorot mata Erna yang tidak dapat ia artikan.
"Lalu?" Tanya Galang dengan jantung yang berdegup kencang.
"Aku tidak tahu, apakah kita masih mungkin." Jawab Erna.
"Tapi kita saling mencintai, Erna... Aku tidak ingin kehilanganmu lagi."
"Mas, biar waktu yang menjawab. Aku tidak bisa berjanji apapun kepadamu."
Galang menghela nafas berat dan mengangguk dengan perlahan.
"Baiklah, semoga waktu berpihak kepada kita. Aku akan berusaha untuk terus meyakinkan kamu. Bila kita bisa bersatu kembali. Aku tahu aku salah waktu, aku selalu hadir di waktu yang tidak tepat. Maafkan aku..."
"Aku pun minta maaf kepadamu. Aku lah biang dari segala apa yang terjadi. Aku benar-benar minta maaf, aku juga merasa sangat berdosa dengan Amoroso. Aku lah yang bersalah..!" Erna kembali terisak.
Galang meraih tubuh Erna dan menyenderkan kepala Erna di bahunya.
__ADS_1
"Apakah mungkin? Bahkan saat tidak ada penghalang lagi, hati dan dirinya masih begitu sulit untuk aku miliki seutuhnya." Batin Galang.