Masteng

Masteng
166. Jagat Raya Putra Alexander


__ADS_3

Topan berlari di lorong rumah sakit, dimana Bella sedang berjuang untuk membawa anak nya ke dunia ini. Peluh berjatuhan dari dahi Topan. Matanya menyapu ke segala penjuru, sampai ia melihat seorang suster yang berjalan di lorong tersebut.


"Sus!" Panggil Topan.


Suster itu menghentikan langkahnya kala Topan berlari mendekati dirinya.


"Ya pak?"


"Dimana ruang bersalin? Istri saya melahirkan, dia sedang ada di ruang bersalin!"


"Oh, bapak bisa mengikuti lorong ini, nanti belok kiri dan di ujung sana belok kanan. Sebelah kiri, itu ruangan bersalin," Terang suster itu.


"Baik sus, terima kasih," Ucap Topan yang kembali berlari di lorong tersebut.


Sedangkan di ruangan bersalin, Bella sedang di dampingi Berta untuk mengejan. Seorang dokter wanita sedang memberikan Bella aba-aba untuk mengejan.


"Aaaaaaaaaarrrrgggghhhh..." Bella tersu berusaha untuk mengejan sekuat tenaga.


"Sabar ya nak, Topan sedang dalam perjalanan. Ya Allah, semoga anak dan cucu ku selamat ya Allah..." Berta terus berdoa, ia tampak sangat gelisah sekali.


Brakkkkkk!


Topan berlari memasuki ruangan bersalin.


"Pak!" Tegur seorang suster yang baru saja menyusul Topan yang menerobos masuk begitu saja.


"Maaf sus! Istri saya mau melahirkan!" Topan masih menyempatkan diri untuk meminta maaf kepada suster yang mencoba untuk mencegahnya masuk kedalam ruangan itu.


"Mas!" Bella yang sedang terbaring di ranjang bersalin, menatap Topan yang terlihat begitu panik.


"Bella!" Topan menghampiri Bella dan langsung memeluk dan mengecup kening Bella.


"Ya Allah maafkan aku datang terlambat ya sayang..." Topan merasa bersalah karena tidak sempat mengantarkan istrinya ke rumah sakit.


"Tidak apa-apa, yang terpenting aku ada disini sekarang mas," Bella masih sempat tersenyum dan membalas pelukan Topan.


"Aduh...!" Bella mulai mengeluh lagi karena kontraksi yang tengah ia rasakan.


"Siapa yang mau menunggu, salah satu silahkan keluar dulu ya," Pinta seorang suster yang mendampingi dokter yang sedang menangani Bella.


"Saya saja," Ucap Berta, seraya beranjak meninggalkan ruangan bersalin itu.


"Mam,"


"Ya?" Berta menoleh dan menatap Topan dengan seksama.


"Terima kasih mam, aku tidak tahu bila tidak ada mami di rumah."


"Jangan sungkan anak ku," Berta tersenyum dan melanjutkan langkahnya.


Mata Topan kembali fokus kepada Bella yang mulai kembali mengejan.


"Aaaaarrrrggghhhhh...!" Bella sekuat tenaga berjuang.


"Ayo sayang, kamu pasti bisa. Ada aku disini, aku mencintaimu. Semoga anak kita sehat... Kamu pasti bisa sayang!" Topan terus menyemangati Bella yang sudah banjir oleh peluh di atas ranjang bersalin itu.


"Bismillahirrahmanirrahim... ayo.. satu... dua.. tiga... sedikit lagi bu..." Ucap dokter itu.


"Arrrrrrgggggghhhhh...!" Bella mengejan, membungkukkan tubuhnya dengan sisa tenaganya yang kian menipis.


"Oeeeeeeeeeee....! Oeeeeeeeeeee!" Tangisan seorang bayi menggema di ruangan bersalin itu.


Dokter yang menangani persalinan pun segera mengangkat bayi itu dan menunjukkan nya kepada Bella dan Topan.

__ADS_1


"Selamat ibu, bapak, anak nya laki-laki."


"Alhamdulillah," Topan menangis haru, ia memeluk erat Bella yang terkulai lemas di atas ranjang.


"Anak kita laki-laki Bella! Terima kasih kamu sudah memberikan aku keturunan. Terima kasih sudah berjuang untuk membawa anak kita ke dunia ini. Terima kasih wanita tangguh ku," Topan mengecup kening Bella yang masih basah oleh peluh. Lalu Topan memeluk erta wanitanya itu.


"Bayinya di bersihkan dulu ya. Bapak nya silahkan ikut,"


"Aku lihat anak kita dulu ya.. Nanti aku akan kembali lagi," Ucap Topan kepada Bella.


Bella hanya mampu tersenyum dan mengangguk dengan lemah.


Topan mulai mengikuti suster ke ruangan khusus untuk membersihkan bayi. Disana, sudah ada seorang dokter anak yang menunggu bayi Topan dan Bella. Bayi mereka langsung di bersihkan dari selaput yang menutupi kulitnya yang agak kemerahan. Bayi itu terus menangis dan mencoba untuk mencari pegangan, agar tidak gamang. Topan menyodorkan jarinya yang langsung di tangkap oleh tangan mungil malaikat kecil itu. Bayi itu pun diam, karena merasa tenang. Setelah dibersihkan, bayi itu pun di taruh di atas timbangan bayi.


"Berat nya tiga koma lima kilo ya pak, dan panjang nya lima puluh senti."


"Iya sus," Topan mengangguk tanpa melepaskan sedikitpun pandangan nya dari sosok malaikat kecil itu.


"Kita pakaikan pakaian dulu ya pak, setelah itu silahkan di adzan kan."


"Iya sus,"


..


Di luar ruangan, tampak Erna dan Galang yang baru saja tiba, menghampiri Berta yang terlihat gelisah di lorong itu.


"Jeung!" Panggil Erna.


"Jeung Erna!" Berta menyambut kedatangan Erna dengan suka dan cita.


"Bagaimana?"


"Masih di dalam," Sahut Berta seraya melepaskan pelukannya dari tubuh Erna. Lalu ia menyalami Galang yang kini selalu bersama dengan Erna, kemanapun Erna pergi.


"Alhamdulillah baik," Galang tersenyum dan menyambut jabatan tangan dari Berta.


"Topan sudah di dalam?" Tanya Erna agi.


"Sudah jeung, dari kantor tadi, dia langsung menyusul."


"Alhamdulillah," Erna terlihat lega. Setidaknya ia merasa bersyukur bila Topan sempat menunggu dan menyaksikan kelahiran anak kandungnya.


Tak lama kemudian, pintu ruang persalinan pun di buka. Terlihat seorang dokter keluar dari ruangan itu. Ya, dia adalah seorang dokter anak yang baru saja mengecek keadaan anak Topan dan Bella yang baru saja dilahirkan.


"Dok, bagaimana keadaan cucu dan anak saya, Bella?" Tanya Berta dengan ekspresi wajah yang terlihat penasaran.


"Alhamdulillah bu, cucu ibu berjenis kelamin laki-laki, dan keadaan ibu Bella nanti biar dokter kandungan saja yang menjelaskan nya ya bu. Saya permisi dulu." Dokter itu tersenyum dan berjalan menuju ke ruangan nya.


"Cucu kita laki-laki jeung!" Seru Berta.


Terlihat raut wajah yang berbahagia dari dua keluarga tersebut.


Tak lama kemudian, terlihat Topan keluar dari ruangan itu, di susul oleh seorang suster yang mendorong box bayi keluar untuk di bawa ke ruangan bayi.


"Topan.. selamat ya nak!" Ucap Berta, Erna dan Galang.


"Terima kasih, mam, bu, ba.." Sahut Topan dengan wajah yang terlihat semringah.


"Ini bayinya?" Tanya Erna dan Berta seraya menghampiri suster yang sedang mendorong box bayi itu.


"Iya."


"Alhamdulillah..!" Seru semua yang berada di sana.

__ADS_1


Box bayi itu pun di kelilingi oleh Erna, Berta dan Galang. Senyuman terus mengembang di wajah mereka.


"Ganteng nya.. kayak Topan," Ucap Erna.


"Kayak kakek nya dong!" Galang terlihat tidak mau kalah.


Sedangkan Berta hanya tersenyum dan menatap Erna dan Galang dengan tatapan yang sendu.


"Andaikan disini ada kamu mas, mungkin kelahiran cucu kita akan terasa semakin indah." Batin Berta yang saat ini sedang merasakan duka karena menerima surat pemberitahuan eksekusi mati yang akan dihadapi oleh Pongki minggu depan.


"Tetapi, rambut nya dan bentuk hidungnya mirip neneknya ya... Mirip jeung Berta," Ucap Erna, yang menyadari bila ada raut kesedihan di wajah Berta.


"Gitu ya jeung, hehehehe... yang penting cucu kita sempurna, sehat dan tumbuh dengan baik. Aamiin.." Ucap Berta.


"Aamiin..." Sahut Erna dan Galang.


"Bayinya dibawa dulu ya bu, pak," Ucap Suster.


"Ah iya, silahkan." Berta memberikan jalan untuk suster tersebut.


"Topan mau mengantarkan anak Topan dulu ya bu, ba, mam.."


"Iya, silahkan," Ucap Galang, Erna dan Berta.


.


Tepat pukul 12 siang, Bella sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Disana ia bisa beristirahat dengan nyaman, di temani oleh keluarganya, sambil menunggu bayinya dibawa kepadanya untuk ia berikan ASI.


"Mau minum?" Tanya Topan yang begitu melayani Bella dengan baik sebagai seorang suami yang sangat bersyukur karena memiliki istri yang setangguh Bella.


"Boleh mas," Sahut Bella.


Topan meraih botol minum dan membuka tutup nya. Lalu ia memberikan nya kepada Bella, dan menuntun Bella saat meminum air tersebut.


"Oh, so sweet.." Berta terkagum-kagum saat melihat sikap Topan kepada putri semata wayangnya itu.


"Permisi..." Ucap seorang suster yang baru saja memasuki ruangan itu.


"Ya?"


"Saat nya bayi diberikan ASI ya..." Ucap Suster itu.


"Iya sus," Sahut Erna.


"Ini bayinya.." Ucap suster itu saat seorang rekan nya masuk membawa bayi laki-laki yang baru saja beberapa jam yang lalu terlahir ke dunia ini.


Suster itu menyerahkan bayi itu ke pelukan Bella. Dengan wajah yang semringah, Bella menerima bayinya dan menatap bayi itu dengan seksama. Bayi itu mulai merengek karena merasa haus. Sedangkan Galang berpamitan untuk meninggalkan ruangan itu. Karena ia tahu, Bella butuh privasi untuk menyusui bayinya. Sedangkan Erna, Topan dan Berta masih bertahan disana. Mereka sangat ingin melihat bayi itu meminum ASI pertamanya.


Bella mulai memberikan bayi itu ASI, dengan lahap bayi itu meminum ASI yang diberikan oleh ibunya. Tatapan penuh kasih terpancar dari mata semua orang yang mengelilinginya.


"Siapa namanya?" Tanya Erna kepada Topan.


Topan tersenyum dan membalas tatapan ibunya.


"Jagat Raya Putra Alexander." Tegas Topan.


"Wow...!" Erna dan Berta terperangah saat mendengar nama yang baru saja disebut oleh Topan.


"Nama yang bagus," Ucap Berta sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Bagaimana?" Tanya Topan kepada Bella yang masih memberikan putranya Asi.


"Setuju mas," Bella tersenyum bahagia. Lalu ia kembali menatap bayi laki-laki yang baru saja di berikan nama oleh ayah kandung.

__ADS_1


"Jagat Raya, semoga nama mu terdengar di seluruh pelosok negeri, dan jagat raya ini. Semoga kamu menjadi anak Sholeh dan membanggakan keluargamu. Aamiin," Doa Bella untuk sang buah hati tercinta.


__ADS_2