Masteng

Masteng
178. Kembali Pulang


__ADS_3

Satu bulan berlalu...


Bella sedang menimang Jagat di teras rumah nya, bibirnya sedang menyenandungkan lagu yang berjudul you are my sun shine, sambil terus tersenyum menatap wajah tampan buah hatinya itu. Sedangkan Berta sedang menyiram tanaman hias di halaman rumah itu. Sesekali ia menatap kearah Jagat yang sedang menatap mamanya dengan tatapan penuh cinta.


"Jagat... ini oma nih... sayang..." Sesekali Berta memanggil-manggil Jagat dan menggoda bayi mungil itu.


Hari ini, usia Jagat tepat 40 hari. Bayi mungil itu sangat menyenangkan, tidak rewel dan mengerti bila di ajak bercanda. Wajahnya yang sangat mirip dengan Topan membuat Bella semakin merindukan sosok Topan yang belum juga kembali ke rumah.


"Dimana kamu mas?" Batin Bella.


"Belum ada kabar dari Topan?" Tanya Berta yang melihat Bella yang tiba-tiba saja termenung mengingat suaminya yang belum juga kembali.


Bella menghela nafas panjang dan mencoba tersenyum, lalu ia menggelengkan kepalanya.


"Resikonya memiliki suami Polisi atau TNI ya begitu, sabar-sabar saja ya Bell... Mami yakin sekali bila Topan adalah lelaki yang setia. Dia tidak akan macam-macam diluar sana. Andaikan pun dia tidak ada kabar, kita harus siap menguatkan hati kita sendiri. Namanya ada tugas yang sangat mendadak dan mungkin awalnya mau sehari dua hari, ternyata sampai satu bulan, tidak ada yang tahu. Sama seperti dia bertugas di rumah kita," Ucap Berta dengan ujung suara yang tercekat.


Bella mulai menyadari bila mami nya kembali teringat Topan yang sedang menjalankan misi untuk menangkap Pongki. Maka, ia pun mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.


"Oh iya mam, sebentar lagi empat puluh harian daddy. Apakah kita mau membuat acara, atau hanya pengajian biasa saja?" Tanya Bella.


Berta menatap Bella sejenak, lalu ia mematikan keran air, karena dia sudah selesai menyiram tanaman. Setelah itu, ia pun beranjak duduk di kursi yang berada di beranda rumah itu.


"Mami mau mengadakan acara, menyantuni anak yatim dan piatu. Dan mau menyekar ke makam daddy mu."


Bella mengangguk paham dan ikut beranjak duduk di samping Berta.


"Apakah sekarang mami sudah baik-baik saja?"


"Ya.. mami sudah baik-baik saja, mami sudah ikhlas." Tegas Berta.


Bella tersenyum lega dan menatap Berta dengan penuh kasih.


"Mami akan menjalani hari dengan bahagia bersama dengan kamu, Jagat dan Topan. Karena Topan jarang di rumah, mami bisa menjadi teman kamu, hingga saat nya tiba."


"Mami ngomong apa sih," Bella mengerutkan dagu nya.

__ADS_1


"Yah.. namanya usia, tidak ada yang tahu kan?"


"Iya sih mi, tapi Bella mau nya mami tuh panjang umur. Masa iya mami tega meninggalkan Bella?"


Berta tersenyum dan menundukkan pandangan nya.


"Siapapun akan meninggalkan kita. Satu-satunya yang setia, hanya diri kita dan amalan kita semasa hidup. Tidak ada yang lain... Kecuali doa anak kepada orang tuanya, atau doa orang tua kepada anak nya. Insya Allah akan sampai dan mengiringi selalu. Itupun kalau anak atau orang tuanya ingat untuk berdoa di sela kesibukan sehari-hari."


Bella tertunduk lesu saat mendengar ucapan Berta.


"Makanya, ajarkan selalu anak-anak mu kelak menjadi anak yang soleh dan solehah. Pendidikan agama itu penting sejak dini, agar ada yang membentengi dirinya seiring tumbuh kembang nya."


"Iya mam, Insya Allah," Bella tersenyum menatap Berta.


Saat itu juga, sebuah mobil berhenti di luar gerbang rumah mereka. Bella dan Berta pun saling bertatapan.


"Siapa ya mam?"


"Loh, mana tahu mami." Berta mencoba mencari tahu siapa yang datang ke rumah nya.


Pintu mobil hitam sejenis minibus tersebut pun terbuka. Terlihat seorang lelaki turun dari mobil tersebut.


"Siapa Bella? Kamu keliatan tidak? Kalau mami buram, maklum mata mami sudah tua," Ucap Berta.


"Mam, tolong gendong Jagat sebentar ya.."


Bella pun langsung menyerahkan Jagat ke pangkuan Berta.


"Ada apa? Siapa? Topan?" Tanya Berta sambil menerima Jagat dari tangan Bella.


Bella mengacuhkan pertanyaan Berta, ia langsung berjalan ke arah lelaki yang sedang membuka pagar rumah tersebut. Dengan langkah yang lebar, Bella terlihat sangat terburu-buru menghampiri lelaki tersebut.


"Mas Topan!" Panggil Bella.


Lelaki itu tersenyum dan merentangkan kedua tangan nya saat Bella hendak menabrak tubuhnya dan memeluknya dengan erat.

__ADS_1


"Bella.." Ucap Topan seraya membalas pelukan erat Bella.


"Mas, aku sangat merindukanmu! Mas kemana saja? Kenapa mas tidak memberikan ku kabar? Mas... tidak kah mas merindukan aku?"


"Maafkan aku sayang, aku sangat merindukanmu. Aku bertugas, maaf bila aku tidak pernah memberikan kabar. Ponsel ku juga tidak ada sinyal, maafkan aku baru bisa pulang sekarang," Ucap Topan dengan penuh rasa penyesalan.


"Tidak apa-apa mas, asal kamu kembali dengan selamat dan sehat. Akun sangat merindukanmu," Bella melepaskan pelukan nya dan menatap wajah Topan dengan penuh kerinduan.


Mendengar ucapan Bella, Topan terlihat salah tingkah. Matanya pun mulai menggenang air mata, beruntung Topan sedang memakai kaca mata hitam, maka air mata tersebut tidak dapat di lihat oleh Bella.


"Ayo masuk mas," Bella menarik manja lengan Topan.


"Ah iya," Topan berusaha tersenyum dan mengikuti Bella menuju ke beranda rumah itu.


"Kamu apa kabar? Jagat bagaimana? Mami?"


"Alhamdulillah, semua baik-baik saja. Aku, mami, Jagat, ibu dan baba, juga adik-adik mu. Mereka sering sekali datang kesini, memastikan kami baik-baik saja selama kamu tinggalkan mas,"


Lagi-lagi Topan merasa bersalah dengan Bella. Lalu ia menundukkan wajahnya.


"Topan.." Sapa Berta.


"Mami, apa kabar?" Tanya Topan seraya melepaskan kaca mata hitam nya saat berhadapan dengan Berta.


"Ya Allah anak mami kemana saja? Kabar mami baik, kabar mu bagaimana? Kemana saja kamu selama ini? Bertugas dimana?"


Topan sudah mempersiapkan dirinya untuk menerima pertanyaan seperti ini dari Berta dan Bella. Maka, ia berusaha untuk bersikap biasa saja dan mulai tersenyum kepada Berta.


"Alhamdulillah, kabar saya baik mi. Saya bertugas di luar pulau. Maaf tidak sempat memberikan kabar kepada mami dan Bella." Topan meraih tangan Berta dan mengecup punggung mertuanya itu.


"Oh begitu. Nah.. ini Jagat... Sayang, itu papa mu pulang.." Ucap Berta kepada Jagat yang sedang berada di gendongan nya. Lalu ia menyerahkan Jagat kepada Topan yang sudah bersiap untuk melepaskan rindunya kepada putra yang sudah ia tinggalkan selama satu bulan ini. Bahkan, saat itu usia Jagat pun belum genap satu minggu. Tetapi Topan terpaksa meninggalkan Jagat, karena tugas nya sebagai eksekutor Pongki, dan setelah menjadi eksekutor, Topan butuh perawatan dari psikolog dan psikiater di suatu tempat yang dirahasiakan. Karena Topan sempat mengalami tekanan mental yang begitu berat pasca menjadi seorang eksekutor.


Selain itu, Topan juga di dampingi oleh seorang ustadz yang mengajarkan dirinya untuk selalu bersabar dan ikhlas, karena apa pun yang terjadi di dunia ini, semua sudah menjadi kehendak sangat pencipta. Bersyukur, Topan sudah jauh membaik. Setelah ia membaik pun, dirinya di izinkan pulang untuk bertemu keluarganya dan di berikan cuti selama beberapa hari untuk menghabiskan waktu bersama keluarga kecil nya.


Ya, begitu beratnya beban yang di pukul Topan. Hingga ia harus mengalami itu semua.

__ADS_1


.


Begitulah hidup, terkadang semua tidak terduga. Terkadang juga di luar nalar, di luar kendali kita sebagai manusia. Tetapi, sudah semestinya kita sebagai manusia mencoba untuk menerima dan menjalani. Tanpa mengurangi rasa syukur kita untuk kehidupan yang masih di hadiahkan untuk kita hingga detik ini. -De'rini-


__ADS_2