
"Jeung Erna.. Saya sangat berterima kasih kepada Jeung Erna. Berkat Jeung Erna, impian suami saya dan Bella terwujud," Ucap Berta dengan tangisan haru nya, saat mereka baru saja mendarat setelah menumpangi kapal kecil dari pulau Nusakambangan.
"Sudahlah Jeung, saya senang melakukannya." Pungkas Erna.
Berta merasa sangat terharu, lalu ia memeluk Erna dengan erat. Tidak terbayangkan bagi Berta, apa jadinya bila ia tidak berbesan dengan Erna. Sudah dapat dipastikan bila Pongki tidak akan bisa menikahkan Bella dengan lelaki pujaan hatinya.
"Ayo kita kembali Ke Jakarta," Ucap Erna.
"Iya Jeung," Berta mengusap air matanya.
Mereka semua numpang sebuah mobil travel untuk mengantarkan mereka ke stasiun kereta api Cilacap. Disana mereka menunggu untuk kereta api yang akan membawa mereka kembali ke Jakarta.
Tepat pukul lima sore, kereta api pun tiba. Mereka sekeluarga langsung memasuki gerbong kereta api yang akan berangkat pada pukul 17.15 waktu Indonesia barat. Erna duduk bersama dengan Galang. Berta duduk bersama dengan Bella. Topan duduk bersama dengan Antok dan Guntur duduk bersama dengan ustad yang ikut bersama dengan mereka. Sedangkan Pinky duduk sediri di baris ke empat bersama seorang wanita asing yang juga menjadi penumpang di kereta api itu.
Topan yang kini sudah menjadi suami dari Bella duduk berbaris tepat di barisan bangku Bella, hanya lorong lah yang memisahkan Bella dan Topan. Topan menatap Bella yang terlihat grogi saat Topan menatap dirinya. Topan memberikan senyuman nya kepada istri yang baru saja ia nikahi beberapa jam yang lalu.
"Woi.. sabar!" Antok mengusap wajah Topan yang terus menerus menatap Bella.
"Apaan sih!" Topan mendorong tangan Antok yang baru saja mengusap wajah nya.
"Gak sabar kau ya? Mau malam pertama kau ya?" Tanya Antok.
Topan menggelengkan kepalanya dengan malas, dan tersenyum kecil.
"Sabar, perjalanan ke Jakarta butuh waktu yang panjang. Tidur saja, siapkan stamina mu untuk nanti malam,"
Lagi-lagi Topan tersenyum dan menundukkan wajahnya. Lalu, ia kembali melirik Bella yang sedang berbincang dengan Berta.
"Apa yang kau pikirkan setelah jadi suami?" Tanya Antok, layaknya seorang wartawan untuk berita gosip.
"Durasi," Celetuk Topan..
"Omakjangggg... hahahahahhaha...!" Antok terkekeh hingga orang satu gerbong kereta itu menoleh kepada dirinya. Tak terkecuali Bella yang melirik mereka dengan kerut di keningnya.
"Pelan kan suaramu!" Topan langsung membekap mulut Antok yang terbuka lebar saat tertawa.
"Mas ada apa?" Tanya Bella dari seberang bangku Topan.
"Ti-tidak ada apa-apa," Sahut Topan, lalu ia mengalihkan tatapan nya kepada Antok yang mulutnya masih Topan bekap dengan tangan kirinya.
"Kau ini!" Seru Topan, seraya melepaskan tangan nya dari mulut Antok.
"Beuhhhh...! Tangan mu bekas cebok ya Pan! Kok bau?"
"Habis garuk-garuk bokong aku!"
"Hoekkkk!" Antok hampir saja memuntahkan isi perutnya.
"Serius lah!"
"Enggak lah...! Gila kau ya?" Celetuk Topan.
"Ku kira kan..! Eh, ngomong-ngomong kenapa durasi?" Antok bertanya sambil tersenyum jahil.
"Sudah ku bilang pelan kan suaramu!" Lagi-lagi Topan hendak menutup mulut Antok. Antok langsung menghindar dan menutup mulutnya rapat-rapat.
"Iya-iya..." Ucap Antok setengah berbisik.
"Kenapa?" Desak Antok lagi.
Topan melirik Bella dan lalu menatap Antok.
__ADS_1
"Kau diam-diam saja ya,"
"Kenapa? Cepat lah cerita, gak sabar aku!"
"Iya.... jadi begini..."
"Apa cepatttt...! Lama kali pun!"
"Sabar...! Ya Allah...!" Topan menatap Antok dengan ekspresi wajah yang terlihat kesal.
"Iya cepat... cepat...!"
"Aku pernah mimpi sama Bella,"
"Terus?" Antok menahan tawanya dan terlihat sangat antusias.
"Di dalam mimpi dia menghinaku?" Sambung Topan.
"Terus? Dia hina apa? Durasi kau?" Wajah Antok mulai memerah karena menahan tawa geli nya.
"Iya.." Topan tertunduk malu.
"Wakakakakakakakakkakakaakakakkakakakakakakakakakak! Mampossssss! Langsung krisis percaya diri lah kau ya!" Tawa dan suara Antok kembali membuat gaduh di gerbong kereta tersebut.
"Ada apa sih!" Bella terlihat sangat terganggu.
"Ya Allah... ck!" Topan menyesali keputusan nya menceritakan mimpinya kepada Antok.
"Wakakakakkakakakaka...! Geli kali! Wkakakakakaka...!"
"Diam kau!" Bentak Topan dengan ekspresi wajah kesalnya.
Antok membekap mulutnya dan menatap Topan dengan sorot mata yang terlihat begitu geli.
"Mas, ada apa sih?" Tanya Bella lagi.
"Tidak, tidak ada apa-apa," Sahut Topan dengan wajah yang memerah.
"Eh, sini aku bilang sama mu," Antok menarik kemeja Topan dan mendekatkan bibirnya di telinga Topan.
"Apaan sih!" Topan berusaha menghindar.
"Mau kau resep opung ku?"
"Gak, enggak enggak!" Topan menghindari Antok.
"Wakakakakakakkakaka! Nanti mimpi ku jadi kenyataan loh!" Celetuk Antok lagi dengan suara yang masih super power, terdengar dari ujung ke ujung gerbong kereta itu.
"Ya Allah anak ini!" Topan mengusap wajahnya dan tertunduk malu.
"Sudah kau diam! Berisik!"
"Iya-iya.." Antok terus tertawa geli hingga memegangi perutnya.
Kurang lebih tujuh jam mereka di perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di stasiun Gambir pada pukul dua belas malam. Dua keluarga yang kini sudah menjadi keluarga besar tersebut pun keluar dari stasiun tersebut. Mereka beranjak ke parkiran mobil di stasiun itu. Di parkiran juga, Antok berpamitan untuk kembali ke rumah orangtuanya dengan mengendarai sepeda motor miliknya. Sedangkan sang ustad juga pulang dengan menumpang sepeda motor milik Antok. Karena kebetulan rumah sang ustad dekat sekali dengan rumah Antok.
Kini dua tinggal dua keluarga yang terlihat bingung di depan mobil masing-masing. Saat berangkat, Topan bersama dengan Erna, Galang dan kedua adiknya. Sedangkan Bella bersama dengan Berta dengan mobil yang berbeda.
"Jadi?" Tanya Topan.
"Apa mas?" Tanya Bella yang seperti belum sadar bila dirinya sudah bersuamikan Topan.
__ADS_1
"Ah tidak," Topan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya sudah aku dan mami pulang dulu ya mas," Ucap Bella.
"I-i-iya," Sahut Topan dengan ekspresi wajah yang terlihat kecewa.
Galang terus tersenyum menatap putra semata wayangnya itu.
"Masih ada hari esok anak muda," Ucap Galang.
"Ba.. hmmm.. iya," Topan tersenyum malu saat Galang mengucapkan kata itu kepada dirinya.
"Bu, saya pamit pulang ya.." Ucap Bella kepada Erna dan lalu ia mengecup punggung tangan Erna.
"Hmmmm iya, gimana... jadi... Bella... tinggal di?" Erna pun terlihat canggung dan bingung.
"Berta mengerutkan keningnya dan menatap Erna dan semua yang berada disana.
"Ah iya ya, Bella kan sudah jadi istrinya Topan." Bella terlihat baru menyadari akan hal itu.
"Itu dia..." Celetuk Topan.
Semua yang berada disana tertawa geli dan menatap Topan yang seperti tidak rela akan berpisah dengan Bella.
"Jadi, setelah ini kamu mau tinggal dimana?" Tanya Berta kepada Bella.
Bella terlihat murung, ia menatap Berta dengan sorot mata yang sedih.
"Begini saja," Erna mulai buka suara.
"Aku sudah janji tidak akan meninggalkan mami setelah menikah dengan Bella," Potong Topan.
Erna, Berta dan semua yang berada disana menatap Topan dengan sorot mata yang haru.
"Lalu?" Tanya Bella.
"Aku tidak akan memisahkan kamu dan mami. Mami butuh ada teman. Jadi, aku yang akan pindah ke rumah mu," Ucap Topan.
Berta terlihat terharu dengan Topan yang tidak pernah lupa akan janjinya.
"Benarkah itu anak ku?" Tanya Berta, seraya mendekati Topan dengan perlahan.
"Iya mami, ini bukan sekedar janji ku kepada bapak Pongki. Tetapi, memang aku tidak akan meninggalkan mami." Tegas Topan.
"Ya Allah... terima kasih nak," Berta memeluk Topan dengan wajah yang haru.
"Iya, tapi untuk sementara, malam ini saya tidak bisa ke rumah mami dulu. Karena saya mau mengantar baba ke hotel dan juga ibu dan adik-adik saya ke rumah. Jadi, saya minta maaf tidak bisa mengantarkan mami dan Bella. Lagi pula, besok pagi saya ada tugas," Ucap Topan.
"Tidak apa-apa nak," Sahut Berta.
"Untuk kamu istri ku, hati-hati dijalan ya," Ucap Topan seraya mengecup kening Bella di depan semua keluarganya.
"Iya mas," Sahut Bella seraya tersenyum malu-malu dan mengecup punggung tangan Topan.
"Cieeeee!" Seru Guntur dan Pinky.
"Iri aja kalian!" Seru Topan sambil tersenyum malu-malu.
"Ya sudah, pulang lah. Besok aku akan pulang ke rumah mu," Janji Topan.
"I-i-iya mas," Bella terlihat gugup sekali. Bukan perkara canggung, hanya saja ia merasa dirinya mulai terancam bila Topan menginap atau pulang kerumahnya. Yang berarti, dirinya harus siap untuk menerima segala perlakuan Topan kepada dirinya.
__ADS_1
Seorang yang pernah menjadi seorang perawan pasti paham, bagaimana rasanya bila membayangkan satu ruangan dengan lelaki yang baru saja menikahi dirinya. :) Ayo jangan senyum-senyum sendiri. -De'rini-