Masteng

Masteng
154. Jadilah istriku


__ADS_3

Malam menjelang, lampu-lampu di villa yang di sewa oleh Topan mulai dihidupkan oleh penjaga villa. Sedangkan di halaman belakang, Pinky dan Guntur masih sibuk mendekorasi halaman tersebut. Sedangkan Erna dan Berta sedang asik berbincang di ruang keluarga bersama dengan Bella. Membahas rencana Erna dan Berta yang akan mengadakan nikah siri terlebih dahulu antara Topan dan Bella.


"Apakah kamu setuju Bella?" Tanya Berta.


Bella menghela nafas panjang dan menganggukkan kepalanya.


"Tetapi, apakah mas Topan bisa terima?" Tanya Bella.


"Topan pasti mau," Erna mencoba meyakinkan Bella.


"Baiklah bu, bila itu yang terbaik. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada ibu yang sudah bersedia memberikan kesempatan kepada daddy saya untuk menikahkan saya dengan mas Topan. Saya tidak tahu bagaimana caranya menyampaikan terima kasih dan membalas kebaikan ibu," Ucap Bella, seraya menghampiri Erna dan mengecup punggung tangan Erna.


"Tidak usah membalas apa pun nak, cukup kamu menjadi istri yang baik untuk Topan, ibu sudah sangat bersyukur."


"Insya Allah bu," Ucap Bella.


Erna tersenyum dan membelai lembut puncak kepala Bella. Lalu, ia teringat akan Pinky dan Guntur yang masih berada di halaman belakang villa tersebut.


"Kemana sih anak-anak, sudah mau Maghrib ini." Erna beranjak dari duduknya, hendak menyusul Pinky dan Guntur.


"Ah, bu... biar saya saja yang memanggil mereka. Ibu disini saja ya." Cegah Bella yang sudah dari awal di beritahukan rencana Topan dan kedua adiknya.


"Oh begitu, ya sudah, ibu mau bersiap-siap melaksanakan sholat Maghrib dulu," Ucap Erna.


"Iya bu..." Sahut Bella.


"Mami juga. Kamu panggil yang lain nya ya Bell. Maghrib tidak baik berada di luar," Ucap Berta.


"Iya mam," Bella beranjak meninggalkan ruangan keluarga tersebut dan bergegas ke halaman belakang villa itu.


"Pinky, Guntur!" Panggil Bella.


"Ya kak...?"


"Sudah siap?" Tanya Bella sambil menghampiri mereka berdua.


"Sudah kak."


"Ya sudah, kalian masuk ya.. soalnya ibu sudah bertanya-tanya kemana kalian. Daripada ibu menyusul," Ucap Bella sambil tersenyum.


"Oke kak..." Sahut Pinky dan Guntur. Mereka pun beranjak masuk ke dalam villa itu.


...


Di jalan, Galang memperhatikan jalanan yang tidak menuju ke arah rumah Topan. Ia mengerutkan keningnya dan menatap Topan yang sedang menyetir mobil itu.


"Nak, mau kemana kamu bawa baba?" Tanya Galang.


"Sudah, baba ikut saja."


Galang semakin penasaran.


"Serius, mau kemana kamu bawa baba? Kamu bisa kena pasal penculikan!" Canda Galang.


Topan terkekeh mendengar ucapan baba nya.


"Ya Allah... baba segitunya."


"Habis, kamu tidak jujur kepada baba."


"Sudah baba ikut saja, pokoknya tidak akan merugikan baba."


"Iya tapi apa?" Tanya Galang yang benar-benar penasaran.


"Ssssttt... sebentar lagi kita sampai. Jangan lupa baba tambahkan parfum, biar semakin wangi." Pinta Topan.


"Maksudnya apa sih?" Galang benar-benar tidak punya ekspektasi akan rencana Topan.

__ADS_1


"Sudah, pokoknya baba ikuti saja permintaan anak baba ini," Ucap Topan.


"Kamu aneh, sama kayak ibumu."


"Lah, memang ibu aneh bagaimana?" Tanya Topan, sambil melirik Galang yang sedang mengeluarkan botol parfum dari tas nya.


"Iya, ibumu itu kadang suka aneh. Yah, tidak bisa baba ceritakan." Galang tersenyum mengingat sosok Erna yang kadang suka merepotkan dirinya.


"Tapi memang, semua wanita aneh." Celetuk Topan.


Galang tertawa, disusul oleh Topan. Tawa mereka terlihat sangat mirip sekali.


Empat puluh lima menit kemudian, mobil yang di kendarai oleh Topan sampai dihalaman villa. Galang melihat ke sekeliling dengan raut wajah yang bingung.


"Ini dimana?" Tanya Galang.


"Sudah ayo ba.. ikuti saya," Topan melepaskan sabuk pengamannya dan beranjak keluar dari mobil sedan miliknya.


Galang hanya bisa mengikuti apa maunya Topan. Ia pun beranjak keluar dari mobil tersebut dan berjalan mengikuti langkah kaki Topan.


Sedangkan di dalam, Pinky dan Guntur sudah di beritahukan oleh Topan bila dirinya sudah berada di halaman villa itu.


"Bu, ikut yuk..."


"Kemana?" Tanya Erna yang baru saja selesai melaksanakan sholat Maghrib nya.


"Sudah, kami ada game di halaman belakang. Tapi, ibu harus menutup mata terlebih dahulu," Pinta Pinky.


"Apa sih," Erna menggerutu karena permintaan Pinky yang ia anggap kekanak-kanakan.


"Sudah ayoo buuu..." Paksa Pinky.


Guntur menutup mata Erna dan menuntun Erna ke halaman belakang villa itu.


"Kalian ini.. aneh-aneh saja, kalau ibu terjatuh bagaimana? Lagian ngapain sih kalian. Game apa? Ibu gak suka ah!" Erna terus menggerutu.


"Ibu tidak sedang berulang tahun tau!"


"Yang bilang ibu sedang ulang tahun siapa bu? Ini hanya game." Jelas Pinky.


"Iya game opo toh? Pakai di tutup mata segala?" Tanya Erna yang kini sudah sampai di halaman belakang villa itu.


"Nah, ibu berdiri disini, diam saja sampai ada aba-aba dari kami ya bu." Ucap Pinky.


Di ruang tamu, Topan menahan langkah Galang yang berjalan di sampingnya.


"Sebentar ba," Ucap Topan.


"Kenapa nak? Ada apa?" Tanya Galang, penasaran.


Topan mengeluarkan sebuah kotak cincin berwarna merah hati. Lalu ia menyerahkan nya kepada Galang.


Galang terdiam menatap kotak cincin yang masih berada di tangan Topan tersebut.


"Apa ini?"


"Dibelakang villa ini, ada seorang wanita yang sedang menunggu baba selama puluhan tahun. Dia menunggu baba untuk menyematkan cincin di jari manis nya. Cincin ini sengaja Topan beli untuk baba berikan kepada ibu. Sekarang, Topan mohon, sematkan lah cincin ini di jari ibu. Yakinkan ibu untuk memulai hidup bersama baba. Kami, aku, Pinky, Guntur, sudah merestui baba dan ibu."


Galang gemetar mendengar ucapan Topan. Ia menatap Topan dengan tatapan tak percaya.


"Wujudkan lah apa yang menjadi impian ibu dan baba. Kami mendoakan kebahagiaan ibu dan baba. Kami merestui, kami mendukung dan kami berharap ibu dan baba bersatu." Topan tersenyum tulus kepada Galang.


Tanpa mampu berkata-kata, Galang langsung memeluk Topan dengan erat.


"Terima kasih anak ku!" Seru Galang dengan air mata haru nya.


"Kejarlah cinta sejati baba sekarang," Ucap Topan saat Galang melepaskan pelukannya dari tubuh Topan.

__ADS_1


Galang mengangguk, lalu ia meraih kotak cincin yang berada di genggaman Topan. Lalu, mereka berdua melangkah menuju ke halaman belakang villa itu.


Setibanya Topan dan Galang di halaman belakang villa itu, mereka di sambut oleh Berta, Bella, Guntur dan Pinky. Semua tersenyum menyambut kehadiran Topan dan Galang. Hanya Erna saja yang tidak tahu menahu, bila adanya Galang disana. Erna masih diam mematung membelakangi mereka semua dengan mata tertutup.


Galang berjalan menghampiri Erna, lalu ia menghentikan langkahnya di hadapan Erna. Topan meminta Galang untuk berlutut dan membuka kotak cincin tersebut dengan isyarat. Galang pun menuruti apa mau dari putranya itu. Galang berlutut, lalu pinky pun mulai membuka penutup mata Erna. Sedangkan Guntur, bersiap untuk menyalakan lampu-lampu yang sudah ia dekorasi dihalaman belakang itu, agar suasana semakin romantis.


"Sekarang buka kedua mata ibu," Pinta Pinky.


Perlahan, Erna membuka kedua matanya. Saat itu juga lampu-lampu dinyalakan oleh Guntur, yang membuat kedua mata Erna menjadi silau.


"Ah! Ada apa ini?" Erna menghalangi kedua matanya dengan telapak tangannya.


"Will you marry me?" Tiba-tiba saja terdengar suara Galang di telinga Erna.


Erna mengerutkan keningnya dan perlahan menurunkan tangan nya. Ia sempat mencari sosok Galang sampai ia mendapati Galang yang sedang berlutut di hadapannya.


"Mas Galang!" Seru Erna.


Galang tersenyum dan menatap Erna dengan penuh harap.


Erna mulai menatap ke sekeliling nya. Ia melihat senyum bahagia di wajah anak-anaknya, calon menantu dan juga calon besan nya, Berta.


"Terima! Terima! Terima!" Seru mereka semua.


Erna hampir saja menangis melihat anak-anaknya yang begitu berharap dirinya bersatu dengan Galang, hingga merencanakan sesuatu yang indah seperti ini.


Mata Erna kembali menatap Galang yang masih berlutut dihadapan nya. Nafas Galang terlihat memburu, tampak sorot mata yang takut bila Erna menolak dirinya. Sedangkan Erna terlihat canggung dan bingung akan berkata apa.


"Terima! Terima! Terima!" Seru mereka lagi.


Erna menutup mulut nya, air mata mulai menetes di pipinya.


"Erna, menikahlah dengan ku. Aku mohon," Ucap Galang lagi.


Erna menghapus air matanya, lalu ia mengangguk dengan pasti.


"I do," Ucap nya.


"Yeayyyyyy...!" Seru anak-anaknya, calon menantu dan calon besan nya.


"Alhamdulillah!" Seru mereka lagi.


Galang tersenyum lebar, ia beranjak berdiri dan meraih cincin pemberian Topan dari kotak nya. Lalu, ia bergegas menyematkan cincin itu di jari manis Erna.


"Bismillahirrahmanirrahim.. Hari ini, kamu adalah tunangan ku."


Dan.... kini melingkar lah cincin di jari manis Erna.


Semua bersorak gembira. Pun dengan Erna dan Galang yang tersenyum bahagia sambil menatap semua orang yang sudah merencanakan lamaran yang indah ini untuk mereka berdua.


"Terima kasih semua," Ucap Erna seraya mengusap air matanya.


"Tunai sudah janjiku."


Erna menatap Galang dengan seksama.


"Aku dulu pernah mengatakan kepadamu, aku akan melamar mu dengan cara yang terindah. Menyematkan cincin di jari mu yang cantik."


"Tinggal menikahi mu, dan hidup bahagia denganmu. Akhirnya penantian panjang ku tidak sia-sia Erna. Terima kasih sudah menerimaku kembali dalam hidupmu," Sambung Galang.


Erna menangis terharu, ia memeluk Galang dengan erat.


"Maafkan aku mas, maafkan aku selama ini."


"Tidak apa-apa, asalkan akhirnya kita dapat bersama-sama dan menghabiskan masa tua bersama. Aku masih seperti dulu, tidak ada yang berubah Erna. Aku masih memiliki cinta yang tulus untuk mu, dan aku berjanji... akan terus mencintaimu hingga maut memisahkan kita berdua. Jadilah pengantin ku.. Aku akan membahagiakan kamu hingga di penghujung usia."


"Masyaallah..." Hanya itu yang dapat terucap dari bibir Erna.

__ADS_1


__ADS_2