Masteng

Masteng
111. Aku mau susu


__ADS_3

Malam ini, Bella termenung di depan beranda rumahnya. Kedua matanya menatap bintang-bintang yang bersinar terang di langit. Cuaca begitu cerah, angin pun bertiup sepoi sepoi.


"Enak juga rumah opa," Gumam Bella seraya tersenyum sendiri.


Dari dalam rumah, Berta menyusul Bella dan beranjak duduk disamping anak semata wayangnya itu. Bella menoleh dan menatap Berta seraya memberikan senyum terbaik nya untuk wanita yang telah melahirkan nya tersebut.


"Mami kok keluar?" Tanya Bella.


"Mami bosan di dalam. Biasa ada daddy mu, sekarang tidak," Ucap Berta seraya tersenyum getir.


Bella ikut tersenyum getir dan menundukkan wajahnya.


"Bagaimana bila daddy mu di hukum seumur hidup atau mati?" Tanya Berta.


Bella kembali menatap Berta dan lalu ia menghela nafas panjang.


"Ya, mami terus tinggal bersama dengan ku," Ucap Bella.


"Kalau kamu menikah?"


"Ya mami tetap tinggal dengan ku," Ucap Bella lagi.


Berta tersenyum dan mengusap pipi Bella.


"Mami bisa sendiri kok,"


"Tidak, mami tetap bersama dengan ku, apa pun yang terjadi. Suami ku pasti mau menerima mami, karena suami ku adalah To..." Bella menghentikan ucapan nya.


"Topan? Memangnya kalian sudah merencanakan pernikahan?" Tanya Berta penasaran.


Bella mengulum senyumnya dan menundukkan wajahnya.


"Bell, beneran?" Desak Berta.


"Ah... mami..." Pipi Bella merona merah karena pertanyaan dari Berta.


"Tidak apa bila kamu mau menikah dengan Topan. Mami merestuinya kok. Apa lagi daddy mu, pasti merestuinya."


"Sebenarnya terlalu dini mam. Hanya saja, dia berniat begitu. Bukankah berpacaran lama tidak menjamin kita jodoh? Justru orang baru lah yang langsung berinisiatif untuk menikah dengan cepat."


"Betul itu," Ucap Berta seraya tertawa merangkul Bella.


"Ngomong-ngomong, Topan tidak kesini?"


"Dia bilang, tadi dia sedang banyak pekerjaan mam."


"Oh begitu.... Hmmm.. Terus, apa rencana mu kedepannya Bell?"


Bella mengigit bibirnya dan kembali menatap bintang di langit.


"Mam, mungkin aku memakai uang yang dari Frans nanti, untuk membuka kantor. Sementara, aku akan terus berusaha untuk mencari pekerjaan."


"Good," Berta beranjak dari duduknya dan bergegas masuk kedalam rumah tersebut.


"Mau kemana mam?"


"Mami mau beristirahat. Badan mami tidak enak,"


"Mami sakit?" Tanya Bella dengan wajah khawatir.


"Tidak, hanya kurang enak saja. Mungkin karena tadi pagi mami belum sempat sarapan dan langsung mengunjungi daddy kamu."


Bella terdiam, ia merangkul Berta dan mereka berdua pun bersama-sama masuk kedalam rumah tersebut. Bella mengantarkan Berta ke kamar Berta yang terletak di lantai satu rumah tersebut. Di kamar tersebut, terlihat ranjang peninggalan orangtua Berta yang masih terlihat bagus, justru semakin mewah dan antik bila di lihat pada jaman sekarang. Hanya saja, seprai yang terbentang disana terlihat begitu ketinggalan jaman.


Bella membantu Berta untuk berbaring di ranjang tersebut. Lalu, Bella menyelimuti Berta dan mengecup kening Berta dengan lembut.


"Mami butuh apa?"


"Tidak usah, mami hanya ingin tidur."


"Mami yakin? Teh atau apa?"


"Tidak sayang.. Mami hanya ingin tidur."


"Baiklah mi, good night mami.."


"Good night sayang,"


Bella tersenyum dan menyalakan lampu tidur dan mematikan lampu utama di kamar Berta.

__ADS_1


Sepeninggal Bella, Berta memiringkan tubuhnya dan memeluk guling yang berada disampingnya. Matanya mulai basah karena air mata. Tanpa sepengetahuan Bella, sejak Pongki ditahan, hampir setiap malam Berta selalu menangis. Meratapi masa tua nya yang begitu kelam. Walaupun yang terlihat diluar Berta begitu tegar, namun kenyataannya dirinya terlalu rapuh tanpa Pongki. Terutama saat ia tahu, Pongki akan terancam hukuman seumur hidup atau hukuman mati.


Semakin hari, hatinya semakin risau. Ia merasa separuh jiwanya akan meninggalkan dirinya selamanya. Hal itu membuat kesehatan Berta kerap terganggu. Hanya saja, ia terus berpura baik-baik saja di hadapan semua orang.


"Bagaimana bila aku hidup tanpamu Pongki? Sedangkan berpisah seperti ini saja, hidupku seakan mati." Gumam Berta.


Ia kembali tenggelam dalam kesedihannya. Hatinya benar-benar merasa kacau.


.


.


.


.


Dreeeettt...! Dreeett..!


Ponsel Bella berbunyi. Bella yang baru saja mengunci pintu rumahnya pun langsung meraih ponselnya dari dalam saku celananya.


Bella menatap nama yang tertera di layar ponsel tersebut. Lalu, perlahan senyum nya pun berkembang di bibirnya.


"Halo," Sapa Bella, sesaat setelah ia menerima panggilan telepon dari Topan.


"Halo, sudah tidur?" Tanya Topan.


"Belum, baru saja mengunci pintu rumah dan berniat untuk ke kamar sekarang." Ucap Bella seraya beranjak menuju ke kamarnya yang terletak tepat disebelah kamar Berta.


"Oh begitu..., aku mengganggu tidak?" Tanya Topan.


"Tidak kok, kenapa?"


"Tidak apa-apa," Sahut Topan.


Bella yang baru saja masuk ke dalam kamarnya, langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Bell.."


"Ya..?"


"Mau jagung bakar gak?"


"Iya jagung bakar, kalau mau, biar aku yang bakarin."


"Loh, memang kamu dimana?" Bella beranjak duduk diatas ranjangnya.


"Di depan, gerbang rumah mu,"


Bella nyaris saja melompat dari ranjangnya. Lalu, ia bergegas menuju ke jendela kamarnya, dan mengintip dari jendela tersebut.


"Hai sayang," Sapa Topan dari depan gerbang rumah Bella sambil melambaikan tangan nya.


"Ya ampun! Kamu serius?" Tanya Bella yang terlihat panik saat melihat Topan benar-benar berada di depan gerbang rumahnya.


"Serius lah, buka dong gerbang nya.." Pinta Topan.


"I-i-iya.. Tapi..." Bella berlari menuju ke meja rias nya. Ia mengerutkan keningnya saat melihat wajahnya di cermin.


"Duh, gue gak berdandan lagi... Malah pakai baju tidur doang," Batin Bella.


"Kamu kenapa?"


"Ng-nggak kenapa-kenapa kok. Sebentar ya.. Matikan saja dulu. Aku akan membuka gerbangnya.


Bella menaruh ponselnya di atas ranjang, dan berlari menuju ke lemari pakaian. Lalu setelah itu, ia memakai pakaian yang baru saja ia ambil dari dalam lemari dan mengganti pakaiannya dengan tergesa-gesa. Setelah itu, Bella menyambar bedak nya dan membubuhi sedikit lipstik di bibirnya. Tidak lupa ia menyisir rambutnya yang terlihat sedikit kusut.


Setelah setengah jam kemudian, Bella muncul untuk membukakan gerbang rumahnya yang sengaja ia gembok, sesuai dengan pesan dari Topan kepada dirinya.


"Hai," Sapa Bella.


Topan tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya.


"Kamu berdandan dan mengganti baju dulu?" Tanya Topan.


Bella tersenyum salah tingkah.


"I-i-iya," Sahut Bella.


"Padahal, aku ingin melihat kamu tidak berdandan."

__ADS_1


"Kok begitu?" Tanya Bella, sambil mengerutkan keningnya.


"Tidak ada yang perlu di tutupi dari dirimu. Kamu sudah sangat sempurna. Mau itu berdandan atau tidak, aku mencintaimu bagaimanapun kamu."


Pipi Bella bersemu merah.


"Yuk, kita bakar jagung.." Topan meraih tangan Bella dan menggandeng nya masuk kedalam rumah.


Bella tersenyum malu, ia berjalan di belakang Topan sambil terus menatap punggung lelaki itu.


"So sweet banget sih calon laki," Batin Bella.


.


.


.


.


Satu jam kemudian, Bella dan Topan sudah duduk berdampingan di depan bara api yang terletak di dalam wadah pemanggang, yang baru saja di buat oleh Topan. Di atas wadah pemanggang, terlihat dua buah jagung sedang di bakar dan Topan terus mengipas bara agar terus menyala, dan jagungnya cepat matang.


"Mami sudah tidur?" Tanya Topan.


"Sudah,"


"Tumben, sekarang mami selalu tidur cepat."


"Menurut ku, mami masih terpuruk."


Topan menatap Bella dengan seksama. Lalu, ia merangkul Bella dan mengusap punggung gadis itu.


"Aku tahu dia kerap menangis bila malam hari. Terlihat dari matanya saat di pagi hari. Hanya saja, aku tidak mau bertanya. Yang penting saat ini, semaksimal mungkin aku akan membuat mami bahagia dan bangga kepada diriku."


Topan menghela nafas panjang. Lalu ia memeluk Bella dan mengecup kening Bella dengan lembut.


"Maafkan aku," Bisik nya.


"Bukan kamu yang salah. Sudahlah, jangan membahas itu ya.." Bella melepaskan pelukan Topan dan membalikan jagung yang sedang terpanggang di atas bara.


"Dan kamu, kenapa semalam ini datang kerumah ku?" Tanya Bella.


Kali ini Topan menundukkan pandangan nya. Ia mulai kembali mengipas bara di dalam wadah pemanggang.


"Aku malas pulang, aku ingin bertemu kamu dan menghabiskan malam bersama dengan mu."


"Maksudnya? Kita kan belum..."


"Bu-bu-bukan.. bukan itu maksudku.." Topan mulai merasa canggung dan salah tingkah.


"Lalu?"


"Maksudku, menghabiskan malam memanggang jagung. Makan jagung sama kamu... dan numpang tidur disini. Gitu..."


Bella kini dapat bernafas lega, lalu ia tersenyum kecil dan menundukkan wajahnya.


"Jangan berpikir aneh-aneh ah.." Ucap Topan.


"Bu-bu-bukan.. Hanya saja bahasa mu.."


"Aku?" Tanya Topan.


"Iya, menghabiskan malam.."


"Ssstttt....! Iya aku yang salah.." Ucap Topan dengan ekspresi wajah yang polos.


Bella tersenyum canggung, begitupun dengan Topan.


"Ah, jagungnya sudah matang... Mau pakai sambel atau pakai susu?"


"Sambel saja,"


"Kalau aku mau susu," Ucap Topan.


Mereka berdua seketika terdiam dan saling menatap.


"Ah.. maksud ku di jagung nya." Topan meralat ucapan nya.


"Oh.."

__ADS_1


Mereka berdua pun, kembali tersenyum canggung.


__ADS_2