Masteng

Masteng
138. Topan anak ku


__ADS_3

Once you started loving someone, it's hard to stop. Kata-kata itu memang benar, walaupun prakteknya banyak orang yang mencoba melupakan dan menjalani hidup seperti biasanya. Tetapi, apa yang dia rasakan? Cinta itu tidak pernah padam. Bahkan, sebaik apa pun pasangan nya saat ini, hatinya akan selalu berada pada orang yang ia cintai.


Ini tentang perasaan!


Setiap manusia, mempunyai satu cinta di dalam hidupnya yang tidak akan pernah ia lupakan. Meskipun ada cinta lain dikemudian hari. Cinta yang tak terlupakan itulah yang benar-benar menjadi sesungguhnya cinta bagi dirinya. Walaupun pada prakteknya di kehidupan nyata, ada banyak cerita yang tidak bisa mempersatukan dua insan, walaupun cinta mereka bersatu. Entah itu masalah ekonomi, status sosial, pendidikan, restu, adat, marga, kultur dan budaya, perselingkuhan, dan lain hal.


Cinta yang tidak pernah padam, ada banyak cerita itu di luar sana. Dua insan yang tidak bisa bersatu, dan hanya bisa saling menyebut namanya di dalam doa. Namun, setelah sekian tahun berlalu, mereka bertemu lagi dan kembali bunga-bunga cinta yang lawas bersemi kembali. Bahkan ada yang mencoba untuk menyerah saja, dan memilih untuk menguburnya dalam-dalam, walaupun masing-masing telah sendiri.


Mana yang akan dipilih oleh dua insan yang akan bertemu setelah sekian lama mereka tidak berjumpa, mengubur dalam-dalam perasaan cinta yang tidak pernah padam, walaupun sekeras apa pun usaha mereka untuk mematikan bara api asmara itu?


Galang berjalan cepat menuju ke teras kantor nya, dimana Topan dan Erna menunggu disana. Sebenarnya bisa saja Galang menyuruh Topan dan Erna untuk masuk kedalam ruangan nya. Namun, saat ini Galang tidak dapat berpikir dengan jernih, ia langsung meninggalkan ruangan nya dengan wajah yang terlihat harap-harap cemas.


Langkah kakinya terhenti, saat ia melihat wajah wanita yang selama ini sangat ia rindukan. Sosok itu sudah banyak mengalami perubahan. Dulu, wanita itu memiliki tubuh yang langsing dengan wajah yang ceria dan muda. Rambut lurus, berwarna hitam legam yang kerap di kepang dua. Tetapi kini, wanita yang berdiri di hadapannya terlihat lebih berisi. Wajahnya masih terlihat cantik, walaupun sudah mulai banyak kerutan di sekitar mata wanita itu. Rambutnya pun berbeda, yang dulu kerap di kepang dua, kini di sanggul dengan rapi, dan juga terlihat kilatan putih di sela-sela rambut yang masih hitam.


Pandangan mereka bertemu. Tidak ada kata yang terucap, hanya saja Galang berjalan pelan mendekati Erna yang mencoba tersenyum kepada dirinya.


"E-erna..?"


Galang mengusap wajah nya dengan gusar. Ia mencoba menyadarkan dirinya bila saat ini dirinya sedang tidak bermimpi.


"Mas," Sapa Erna.


Tangan Galang gemetar, air mata mulai mengambang di pelupuk matanya. Lalu, ia menatap Topan yang terdiam tepat disamping Erna.


"Topan?" Gumam nya.


Topan tersenyum dan meraih tangan Galang. Lalu, mengecup punggung tangan lelaki yang memiliki darah di tubuhnya tersebut.


"Ya... akhirnya.." Galang menghela nafas panjang.


"Si-silahkan ke ruangan saya," Ucap nya seraya memandu Erna dan Topan menuju ke ruangan nya. Saat berada di depan banyak anak buah nya, Galang bersikap biasa saja. Ia sangat menahan rasa ingin memeluk Erna seerat-eratnya. Maka dari itu, ia mengajak Erna dan Topan untuk berbicara secara pribadi di ruangan nya.


"Mas Kapolda?" Tanya Erna, saat mereka berjalan di lorong menuju ke ruangan Galang.


"Ya," Galang tersenyum dan mengangguk.


Saat tiba di depan ruangan nya, Galang membuka pintu ruangan tersebut dan mempersilahkan Erna dan Topan untuk masuk. Sedangkan ia memerintahkan anak buah nya untuk menyediakan minuman untuk Topan dan ibunya.


"Si-silahkan duduk," Ucap Galang.


"Terima kasih mas," Sahut Erna, lalu ia beranjak duduk di sofa berwarna merah yang berada di ruangan itu.

__ADS_1


Galang terus menatap Erna. Bagaimanapun, ia tidak bisa mengalihkan pandangan sedetikpun dari sosok Erna yang sangat ia cintai. Andai saja tidak ada Topan disana, mungkin Galang sudah memeluk Erna dengan erat dan menangis saat memeluk wanita yang begitu hebatnya menancapkan cinta dihatinya.


"Apa kabar?" Tanya Galang yang terlihat begitu canggung.


"Alhamdulillah baik,"


"Saya turut berdukacita atas meninggalnya bapak Amoroso," Ucap Galang dengan ujung suara yang tercekat.


"Terima kasih," Sahut Erna.


Topan terus memperhatikan sosok Galang yang terlihat sekali sedang salah tingkah.


"Oh iya, To-to-topan.. sudah besar, pasti tidak ingat Om ya.. Om dulu..." Belum selesai Galang berbasa basi, ucapan nya di potong oleh Topan.


"Ayah, saya sudah tahu," Ucap Topan.


Galang terdiam, bola matanya sedikit membesar saat membalas tatapan Topan. Lalu, ia menatap Erna dengan tak percaya.


"E-erna, ada apa?" Tanya Galang.


Saat itu juga Topan mengeluarkan hasil test DNA dan juga surat wasiat dari Amoroso.


"Silahkan Ayah baca," Topan mempersilahkan Galang untuk membaca surat-surat yang ia letakkan di atas meja.


Butuh beberapa menit, untuk Galang membaca surat dari Amoroso yang disebut sebagai surat wasiat. Lalu, ia menghela nafas panjang setelah membaca surat dari Amoroso. Dan kini, ia meraih surat yang masih berada di dalam amplop yang sudah di sobek. Ia sempat memperhatikan logo amplop tersebut dan mengerutkan keningnya.


"Rumah sakit?" Gumam nya. Lalu, ia membuka surat hasil test DNA antara Topan dan Amoroso. Saat itu juga wajahnya terlihat terkejut, namun juga terlihat begitu bahagia.


"Jadi," Ia menatap Topan dengan seksama. Lalu, ia menatap Erna yang terlihat menundukkan wajahnya dalam-dalam.


"Dugaan ku benar, aku tidak pernah salah. Iya kan Erna.. Topan anak ku!" Ucap nya dengan bersemangat. Lalu, ia kembali menatap Topan yang duduk di sampingnya. Topan benar-benar seperti pinang dibelah dua dengan dirinya.


"Anak ku, Topan," Ucap nya seraya memeluk Topan dengan erat.


Saat itu, Topan tersenyum dan membalas pelukan Galang. Namun Erna menangis sesenggukan saat melihat pemandangan yang indah itu.


"Aku tidak pernah salah! Kamu adalah anak ku. Dari dulu aku selalu mengakui mu, tidak ada keraguan sedikitpun bila kamu adalah anak kandung ku. Ya Allah, terima kasih, engkau telah menemukan aku dengan anak kandungku," Ucap Galang yang tak henti-hentinya bersyukur, setelah mengetahui info valid bila dirinya adalah ayah kandung Topan.


Galang melepaskan pelukannya dari Topan dan menatap setiap inci dari wajah putranya yang sudah berumur hampir 33 tahun itu.


"Bayi kecil ku, anak ku, belahan jiwaku." Air mata Galang terus mengalir di pipinya. Lalu, ia kembali memeluk Topan dengan erat.

__ADS_1


"Alhamdulillah ya Allah... akhirnya.. waktu yang ku tunggu ini tiba. Allahu Akbar.. Allahu Akbar.." Ia terus memuji kebesaran Tuhan yang maha mengabulkan segala doa-doanya.


Setelah itu, Galang menghampiri Erna yang terus menangis di kursinya. Lalu, ia berlutut di hadapan Erna, dan meraih kedua tangan Erna dan menggenggam nya dengan erat.


"Erna, aku sangat merindukanmu. Tidak kah kamu ingat, bila cinta ku hanya untuk mu dan juga janjiku? Hingga detik ini, cinta itu tidak pernah padam. Aku masih mencintaimu. Mengapa kamu tidak pernah menemui aku disaat aku mengajak mu berjumpa dulu? Apakah cinta mu sudah padam kepadaku?"


Erna menggelengkan kepalanya, lalu ia memberanikan diri untuk menatap ke dalam dua bola mata Galang, yang sedang menatap nya begitu dalam.


"Maaf, dulu aku merasa, cukuplah kesalahan yang pernah kita buat. Aku tidak pernah menjumpai kamu lagi, karena aku benar-benar ingin bertaubat. Kalau mas tanya tentang perasaan ku..."


Erna menghentikan ucapannya, lalu ia menatap Topan yang sedang menatap dirinya dan Galang.


"Aku masih sangat mencintai kamu. Hanya saja.... Ah... bukankah ini hanya kisah masa lalu? apa yang harus aku lakukan?" Batin Erna.


"Apa Erna? Katakan kepadaku." Pinta Galang.


"Aku tidak tahu, hanya saja... hidup ku kini hanya untuk anak-anak ku yang tercinta. Aku kesini hanya untuk menepati janji ku pada Amoroso. Dan juga... sudah saat nya Topan mengenal kamu mas,"


Galang terlihat kecewa dengan ucapan Erna.


"Oh, begitu.." Galang menghela nafasnya dan melepaskan genggaman tangannya dari tangan Erna. Lalu, ia kembali duduk di bangkunya dan termenung disana.


"Oh iya mas, Topan mengikuti jejak mu menjadi putra Negara," Ucap Erna yang mencoba memecahkan kesunyian diantara mereka, setelah beberapa menit mereka terdiam membisu.


Galang mengangkat wajahnya dan tersenyum bangga. Lalu, ia menatap Topan dengan seksama.


"Benarkah?" Tanya Galang.


Topan mengangguk dan tersenyum kepada Galang.


"Kamu menepati janjimu. Saat ayah hendak pergi, kamu pernah bilang kalau kamu ingin seperti Baba."


"Baba?" Tanya Topan.


"Ya, dulu kamu memanggilku dengan panggilan Baba, dan aku suka kamu memanggilku seperti itu."


"Bolehkah sekarang aku tetap memanggil baba?" Tanya Topan.


Galang terbelalak, perlahan terukir senyuman di bibirnya. Lalu, ia mengangguk dengan cepat.


"Sangat disarankan!" Ucap nya. Lalu, ia kembali memeluk Topan.

__ADS_1


Entah bagaimana caranya ia melukis kan perasaan bahagianya. Hari ini adalah hari dimana ia merasa merdeka, merasa seperti berbuka dari puasa yang panjang. Kerinduan yang terus di batasi oleh kokohnya tembok yang menghadang. Kini, tembok kokoh itu runtuh dengan sendirinya. Setelah sekian lama ia mencoba meruntuhkan nya, bahkan dirinya pun sudah mulai lelah dengan kata "mencoba" untuk meruntuhkan segala penghalang diantara dirinya, Erna dan Topan.


"Topan anak ku, mulai saat ini, izinkan Baba menebus semua waktu yang telah terbuang sia-sia selama ini," Bisik nya.


__ADS_2