Masteng

Masteng
71. Maafkan saya


__ADS_3

Wahai bidadari.. maafkan aku yang telah mematahkan sayap mu. Maafkan aku yang telah menikam jantungmu. Tetapi ketahuilah, aku hanya seorang yang mencoba untuk melakukan yang terbaik untuk negeriku.


Takdir menuntun ku untuk masuk ke istana mu, untuk menjadi seorang pelayan yang setia. Lalu, aku mencoba menurunkan tahta Raja mu. Membuat permaisuri terjatuh karena menahan perasaan hancurnya. Dan kau.... kau yang kemarin sedang jatuh cinta padaku sang pelayan ini, dihadapkan dengan kisah yang sangat tragis.


Bagaimana tidak, kau baru saja patah, dan aku menyembuhkan nya. Lalu, kau kembali patah karena ku.


Bidadari, aku mencintaimu, itu tidak dusta. Aku mencintai negeriku, itu tidak usah diragukan lagi. Tetapi, bila harus aku memilih..., maaf... aku lebih memilih negeriku. Karena aku hidup dan mati disini. Aku bersumpah untuk mengabdi. Tetapi aku juga berani bersumpah, bila cinta ku ini, abadi di hatiku.


Topan.


Topan terus menatap kosong kedepan. Disampingnya Pongki juga terdiam membisu. Sedangkan disamping kanan Pongki, Suprapto sedang sibuk dengan ponselnya. Suprapto tengah mengabarkan kepada semua orang yang terlibat di team nya, bahwa Pongki berhasil di tangkap oleh dirinya dan rekan yang berada di lapangan.


Diam-diam, air mata mengalir di pipi Topan. Lelaki itu membuang pandangannya ke luar jendela, dan diam-diam juga ia mengusap air matanya yang sudah terlanjur menetes di pipinya.


"Jo,"


Topan menoleh saat Pongki memanggil nama samaran nya. Pandangan mereka pun bertemu. Tetapi, Topan mencoba tegar untuk menatap kedua mata tua itu.


"Ya pak," Sahut Topan.


Pongki tersenyum dan menyentuh punggung tangan Topan.


"Saya titip Bella dan Berta." Ucap Pongki dengan ujung suara yang tercekat.


Suprapto yang tengah asik dengan ponselnya pun, melirik Pongki dan Topan.


"Berjanjilah, apa pun yang terjadi kedepannya, tolong jaga mereka. Mereka harta saya satu-satunya."


Air mata kembali tergenang di pelupuk mata Topan.


"Apakah kamu tidak keberatan?" Tanya Pongki.


Topan mengigit bibirnya dan terlihat bingung akan mengatakan apa untuk menjawab pertanyaan Pongki.


"Saya tidak marah karena kamu khianati. Saya akui, ini semua salah saya. Saya tahu posisi mu sebagai abdi negara. Saya sudah memaafkan kamu. Tolong maafkan saya juga."


Leher Topan terasa membengkak, karena menahan tangis.


"Berjanjilah," Pinta Pongki.


Topan mengangguk, tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


Dan hening.......


Sekitar hampir satu jam, akhirnya mereka sampai di kantor Topan dan teman-teman nya. Pongki pun di giring untuk masuk kedalam kantor polisi tersebut oleh Suprapto. Sedangkan Topan, lelaki itu mencoba menenangkan dirinya dengan membakar rokok dan duduk di bawah pohon rindang yang terdapat di depan kantor nya.


Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai oleh Antok tiba di halaman kantor polisi itu. Antok memarkirkan mobilnya dan setelah itu ia berjalan menghampiri Topan.

__ADS_1


"Loh, mana bu Berta dan Bella?" Tanya Topan yang tampak bingung saat melihat Antok hanya datang bersama dua orang anggota mereka, tanpa adanya Berta dan Bella.


"Si Fendy mengantarkan mereka kerumah sakit," Ucap Antok, sambil beranjak duduk di samping Topan.


"Ada apa?" Seketika, wajah Topan tampak khawatir.


"Bu Berta pingsan. Jadi Fendy dan anak nya bu Berta ke rumah sakit. Agar Bu berta bisa mendapatkan perawatan terlebih dahulu. Nanti kalau tidak ada yang serius, mereka akan menyusul kesini." Terang Antok.


Topan tampak gelisah, lalu ia menghela nafas panjang dan menghisap rokok nya dengan tangan yang gemetar.


"Kau baik-baik saja kan Pan?"


Topan menatap Antok dan mencoba untuk tersenyum.


Antok menghela nafas panjang dan menepuk pundak sahabat nya itu.


"Sabar ya..." Ucap Antok sambil meraih bungkus rokok milik Topan yang terletak di bangku yang terdapat di bawah pohon yang rindang itu.


"Bagi sebatang," Ucap Antok, lalu ia mengeluarkan sebatang rokok milik Topan, tanpa menunggu jawaban dari sahabat nya itu.


"Tapi bu Berta baik-baik saja kan?" Tanya Topan.


"Baik-baik saja kayak nya. Cuma pingsan kok tadi. Mungkin dia shock."


Topan menundukkan kepalanya dan terdiam membisu.


Topan melirik Antok dan tersenyum tipis.


"Pan, bagaimanapun, aku salut kepadamu. Kamu mampu menyelesaikan kasus ini kurang dari dua minggu. Di ajak pula kamu jalan-jalan ke Bali," Antok tertawa kecil. Sedangkan Topan hanya menanggapi ucapan Antok dengan senyuman.


"Harusnya kamu senang, pasti kamu naik jabatan setelah ini. Kalau kamu naik jabatan, kamu tidak perlu turun kelapangan lagi. Kamu hanya mengkoordinasikan team mu saja dan memantau dari jauh. atau kamu bisa...."


"Tok, sudah.." Potong Topan.


Antok menghentikan ucapan nya dan menatap Topan dengan seksama.


"Jadi benar, kamu benar-benar jatuh cinta dengan anak pak Pongki?"


Mendengar pertanyaan Antok, membuat Topan terdiam.


"Oh... shiittt..." Antok terlihat ikut merasakan kegelisahan hati Topan.


"Terus? Bagaimana?" Tanya Antok.


Topan menghela nafas panjang dan menatap Antok dengan tatapan yang datar.


"Aku tidak tahu lah! Kalau memang jodoh, selalu ada saja jalan untuk bersama. Bila tidak, ya mau diapakan lagi?" Topan beranjak dari duduknya dan bergegas untuk masuk kedalam kantor nya.

__ADS_1


"Pan.." Panggil Antok.


Topan menoleh kebelakang dan menatap Antok.


"Kau hebat..! Kau luar biasa! Kau termasuk adalah putra terbaik bangsa! Ibu Pertiwi dan kami para rekan mu, bangga kepadamu..!"


Sedikit senyum tersungging di sudut bibir Topan. Lalu, ia kembali melangkah dan masuk kedalam kantor nya.


Saat Topan masuk kedalam kantor nya, dirinya disambut dengan tepuk tangan yang harusnya sangat menyanjung dirinya. Tetapi, entah mengapa ia merasakan kegelisahan nya semakin dalam saat mendengar riuh tepuk tangan dan pujian yang ia dapatkan dari seluruh rekan nya.


"Hebat kau bro...!"


"Luar biasa...! Ini waktu tercepat yang lu dapatkan!"


"Pahlawan bangsa!"


"Keren lu man!"


"Ini dia artis nya!"


"Makan-makan...!"


"Naik pangkat pokok nya!"


"Terbaik!"


Semua pujian itu Topan dapatkan. Namun, semakin dirinya mendapatkan pujian tersebut, semakin dirinya merasa tidak pantas mendapatkan pujian itu.


Topan hanya tersenyum dan berpamitan kepada seluruh rekan nya yang berada disana.


"Mau kemana Pan?" Tanya Suprapto.


"Mau istirahat dulu bang, mau pulang dan bertemu dengan ibu," Ucap Topan.


"Wah iya.. pulang lah kau. Salam dengan bapak mu ya. Bilang sama dia, dia punya anak yang luar biasa!"


Topan mengangguk dan tersenyum kepada Suprapto. Lalu, ia menyalami Suprapto dan memeluk rekan seprofesi, sahabat dan juga orang yang sudah ia anggap sebagai abang kandung nya sendiri.


"Siap bang, aku pulang dulu ya,"


"Ya... silahkan," Ucap Suprapto sambil membalas pelukan Topan.


Topan pun melangkah meninggalkan ruangan itu. Saat ia melintasi ruang BAP, terlihat Pongki yang masih di borgol, yang sedang di wawancarai oleh petugas BAP, dan di dampingi oleh dua orang pengacara yang baru saja sampai di kantor tersebut, untuk mendampingi Pongki.


Pongki melirik Topan yang dapat ia lihat dari jendela kaca ruangan itu. Lalu, lelaki paruh baya itu pun tersenyum kepada Topan yang sedang melintasi ruangan itu. Bukan senyum licik yang tercium aroma dendam. Tetapi, senyum bangga karena Topan adalah orang yang sangat profesional dalam bekerja dan sekaligus senyum perpisahan dari Pongki. Karena setelah ini, Topan tidak ada urusan lagi dengan Pongki. Pongki akan melakukan serangkaian proses hukum hingga saat nya nanti ia harus diadili dalam ruang persidangan.


Topan terus melangkah, tanpa membalas senyuman yang dilemparkan oleh Pongki. Bukan karena ia memposisikan dirinya sebagai seorang Topan, dan Pongki adalah tahanan. Tidak, tidak sama sekali. Hanya saja, Topan sedang mati-matian menahan rasa yang bergejolak dihatinya saat Pongki tersenyum kepada dirinya.

__ADS_1


"Maafkan saya pak," Gumam nya sambil terus melangkah meninggalkan kantor tersebut.


__ADS_2