
Berta yang baru sampai di kamar hotelnya, menatap punggung Bella yang duduk terdiam membisu di balkon hotel tersebut. Perlahan, Berta menghampiri Bella dan menyentuh lembut bahu Bella. Bella terhenyak dan menoleh ke arah Berta dengan mata yang sembab.
"Mam," Sapa Bella, yang mencoba tersenyum. Lalu, ia kembali melemparkan pandangannya ke arah pepohonan yang tampak tumbuh subur di taman hotel berbintang 5 tersebut.
"Kamu tenang ya, semua akan baik-baik saja. Masalah uang.."
"Mam, aku tidak memikirkan masalah uang nya. Aku hanya kecewa, mengapa lama nya hubungan, tidak menjamin kita mengenal pasangan kita dengan baik?" Ucap Bella.
Berta menghela nafas panjang dan beranjak duduk di samping Bella.
"Memang," Ucap Berta. Lalu ia ikut membuang pandangannya ke hamparan pepohonan di bawah sana.
"Bella benci dengan laki-laki!"
Berta mengerutkan keningnya dan menatap Bella dengan seksama.
"Benci? Lalu?" Tanya nya.
Bella menoleh dan menatap Berta dengan seksama.
"Tidak ada lalu, aku hanya membenci lelaki. Mereka tidak ada yang beres!"
Berta tertawa mendengar statement dari Bella.
"Kok ketawa sih mam?" Bella mengerutkan dagunya dan menatap Berta dengan tatapan kesal.
"Entah lah, mami hanya ingin tertawa," Sahut Berta.
"Kenapa begitu?"
"Terus, mau ngapain? Menangis? Sudahlah, sudah cukup. Menangis sepuasnya, lalu kembali tersenyum," Ucap Berta.
Bella mengerutkan keningnya dan terus menatap Berta yang tampak tanpa beban, terlepas dari masalah yang tengah ia hadapi.
"Mami kok kelihatan nya santai saja sih?' Tanya Bella.
Berta kembali tersenyum dan menatap Bella dengan tatapan penuh kasih.
"Kelihatan nya kan?'' Tanya Berta.
Bella terdiam membisu.
"Tidak harus kita terlalu drama. Hidup hanya sekali, marah boleh, kesal, benci dengan orang yang bersangkutan. Tetapi, saat kita sendiri, coba nikmati hidup saja. Siapa lagi yang bertanggung jawab atas kebahagiaan kita, selain kita sendiri. Capek, kalau terus berpikir dia menghianati kita. Sudahlah, lama-lama hati ini sembuh, walaupun entah kapan. Setidaknya kita mencoba meminimalisir rasa galau di hati," Ucap Berta.
Bella masih membisu.
"Masalah Frans, dia tidak akan bisa lari kemana pun dan bagi mami, tidak ada maaf untuk dia. Tetapi, untuk kamu, harusnya kamu bersyukur, kamu belum menikah dengan nya. Kamu mau gitu, kalau kalian sudah menikah, dan memergokinya dengan wanita lain," Ucap Berta dengan ujung suara yang tercekat.
Bagaimana pun, seberapa keras ia mencoba terlihat baik-baik saja, tetapi hatinya tetap tidak bisa berdusta. Ia masih merasakan sakit karena di khianati oleh Pongki.
Bella bergeming, ia masih mencoba mencerna ucapan Berta.
__ADS_1
"Itu tandanya Tuhan sangat menyayangi kamu, Bella." Sambung Berta dengan nada suara yang dingin dan datar.
Bella menatap Berta dengan seksama, lalu ia memeluk Berta, mencoba mencari kenyamanan dan mencoba menguatkan Berta dari masalah yang sama dengan masalah yang tengah di hadapi oleh dirinya. Yaitu, penghianatan.
...
Terdengar adzan Subuh berkumandang dengan samar di telinga Topan. Topan mencoba membuka kedua matanya dengan perlahan, lalu ia melirik Pongki yang masih terlelap di lantai beralaskan tikar tipis di kamar nya.
Topan beranjak menuju ke kamar kecil dan melakukan wudhu, sebagai syarat untuk melakukan sholat pertama nya pada hari ini.
Setelah ia keluar dari kamar kecil, terlihat Pongki sudah terjaga dan menatap Topan dengan seksama dan perlahan, lelaki paruh baya itu tersenyum geli.
"Baru kali ini aku tidur di paviliun," Ucap nya sambil menggelengkan kepalanya, tak percaya.
"Maaf pak boss, saya tidak bermaksud membiarkan pak boss. Hanya saja, saya tidak berani membangunkan pak boss. Soalnya, pak boss sangat nyenyak tidur nya." Topan berusaha untuk menjelaskan nya kepada Pongki.
"Sudah, tidak apa-apa. Saya boleh ikut sholat?" Tanya nya.
Topan terpana sejenak, lalu ia tersenyum dan mengangguk.
Tanpa sungkan, Pongki beranjak ke kamar kecil dan melaksanakan wudhu. Tak lama kemudian, ia melihat Topan sudah berdiri di atas kain sarung yang di buat menjadi alas pengganti sajadah. Sedangkan di depan nya, sudah tergelar sajadah milik Topan, satu-satunya, yang sengaja ia gelar untuk Pongki.
"Silahkan pak boss," Ucap Topan.
"Loh, kok saya yang jadi imam nya?" Tanya Pongki.
"Iya, saya sungkan pak," Sahut Topan.
"Ta-ta-tapi, pak..."
"Sudah... cepat," Perintah Pongki.
Topan hanya tersenyum, lalu ia mulai mengumandangkan adzan dan iqomah, tanda sholat berjamaah itu akan segera dimulai.
Beberapa menit kemudian, sholat dua rakaat pada awal hari ini, sudah terlaksana. Sebelum beranjak dari sajadah, Topan memanjatkan doa untuk kedua orangtuanya dan juga kebaikan seluruh makhluk hidup dan alam semesta. Sedangkan Pongki, ia hanya bisa mengikuti saja, sambil menatap kagum, punggung lelaki muda yang sudah memandu dirinya ke arah yang lebih baik lagi, menurut hemat nya.
Ya, entah mengapa, Pongki sangat mengagumi lelaki yang ia tahu bernama Paijo itu. Entah mengapa juga, perasaan sayang pun muncul dihatinya. Sama dengan Berta, ia merasa rindu dengan anak lelakinya yang mungkin saja, bila berumur panjang, akan setampan dan sebaik Paijo.
Paijo menoleh kebelakang, setelah ia selesai berdoa. Lalu, ia meraih tangan Pongki, dan menyalami nya. Pongki sempat merasa canggung, tetapi ia merasa itu adalah hal yang wajar dilakukan antar umat yang baru selesai beribadah secara berjamaah.
"Setelah ini kamu mau ngapain Jo?" Tanya Pongki.
"Olahraga dong pak," Sahut Topan seraya tersenyum sambil melipat sajadah dan sarung yang terhampar di atas tikar.
"Oh, ya sudah.. Ayo kita lari pagi di sekitar komplek ini Jo," Ucap Pongki.
Topan sempat merasa ragu, ia sebenarnya malas, bila terlihat begitu akrab dengan Pongki.
Bukan hanya malas dengan para karyawan lain nya, tetapi ia juga merasa malas bila keakraban nya dengan Pongki dijadikan guyonan bagi rekan-rekan nya yang 24 jam memantau rumah Pongki.
"Ayo.." Ajak Pongki.
__ADS_1
"Tidak di dalam sini saja pak?"
"Saya sedang ingin keluar, udara diluar tentu lebih baik dari pada di dalam gerbang rumah saya," Ucap Pongki.
Mau tidak mau, Topan menuruti permintaan dari Pongki.
Ia pun melakukan olah raga bersama dengan Pongki, dengan berlari pagi di sekitar komplek perumahan itu.
"Jo, kalau lapar bilang ya.. Nanti kita makan lontong sayur di depan komplek sana. Ada lontong sayur yang enak sekali disana," Ujar Pongki saat lelaki paruh baya itu berlari di samping Topan.
"I-i-iya pak," Sahut Topan.
"Kamu ini, anak muda yang bagus! Saya salut dengan mu. Badan mu juga seperti tentara atau polisi. Keren kamu Jo!" Puji Pongki.
"Lah, emang aku polisi," Batin Topan. Tetapi, ia hanya tersenyum menanggapi ucapan Pongki.
"Hayooo... lebih kencang lagi larinya...!" Ucap Pongki dengan bersemangat.
"Baik pak boss..!" Seru Topan.
Di jalan, tepat disebelah taman, mereka melewati mobil van berwarna putih yang biasa di pakai oleh team nya. Terlihat Antok sedang bersantai di samping van tersebut. Ia sedang menyeruput kopi yang baru saja ia pesan dari tukang kopi keliling.
Antok hampir saja tersedak melihat Topan dan Pongki yang baru saja melintas di depan nya.
"Ya ampunnn..!" Gumam Antok.
Suprapto yang sedang buang air kecil dari balik pohon pun menoleh dan menatap Antok.
"Ada apa?" Tanya nya.
"Tuh!" Antok menunjuk Topan dengan bibirnya.
Suprapto mengikuti arah bibir Antok dan menatap punggung Topan dan Pongki yang sudah menjauh dari mereka.
"Minta di siram air kencing kayak nya si Topan sama si Pongki ini ya.." Ucapnya kesal.
Antok hanya tertawa geli dan membakar rokoknya.
"Sabar boss... Topan sedang mendalami peran. Todak lama lagi, saya yakin akhir bulan ini kasus ini selesai," Ucap nya.
"Semoga saja," Ucap Suprapto yang baru saja selesai membuang air kecil, lalu ia beranjak duduk di sebelah Antok sambil memegang bahu lelaki itu.
"Hooooo... Tangan kondisikan bang!" Antok menghindari tangan Suprapto yang sudah terlanjur memegang bahunya.
"Kenapa?" Tanya Suprapto dengan santai dan meraih bungkus rokok milik Antok.
"Udah cuci tangan belom? Main meper aja!" Keluh Antok sambil mengibas-ngibaskan bahu jaketnya.
"Alah, harum itu.." Ucap Suprapto dengan santai.
"Najissss!" Antok beranjak dari duduk nya. Sedangkan Suprapto tertawa geli melihat ekspresi rekan nya tersebut.
__ADS_1