
2 jam mereka berada di cafe tersebut untuk berteduh. Tetapi, masing-masing dari mereka tidak banyak berbicara. Bella sibuk dengan ponselnya yang basah, begitupun dengan Topan yang tampak kedinginan. Bella menatap Topan yang masih bertelanjang dada. Entah mengapa, ada perasaan iba dihatinya.
"Mau tambah minuman?" Tanya Bella.
Topan tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Hujan pun mulai reda, langit sudah gelap. Jarum jam pun sudah menunjukkan pukul 6 sore. Topan memakai kaos nya yang lembab, dan berdiri dari duduknya.
"Kita pulang ke hotel yuk non,"
Bella mengangguk dan tersenyum kepada Topan.
Saat itu juga Bella ikut beranjak dari duduknya dan mengikuti Topan dari belakang. Saat itu juga, Topan langsung menyerahkan uang untuk membayar minuman yang telah ia dan Bella pesan, kepada kasir cafe itu. Bella buru-buru mengeluarkan uang nya dan hendak memberikan kepada petugas kasir tersebut.
"Sudah," Ucap Topan dengan lembut, serta menurunkan tangan Bella yang sedang menyodorkan uang itu kepada petugas kasir.
Bella menelan salivanya dan terdiam, ia tidak lagi memaksa untuk membayar tagihan pesanan mereka.
Setelah Topan mendapatkan kembalian dari petugas kasir, Topan mengulurkan tangannya kehadapan Bella.
"Yuk," Ucapnya.
Bella tertegun dan menatap Topan yang begitu percaya diri untuk menggandeng tangan nya.
"Hmmm... aku bisa jalan sendiri," Ucap Bella. Lalu, dengan salah tingkah, ia berjalan mendahului Topan.
"Gelap loh," Ucap Topan.
Bella menghentikan langkahnya, lalu ia menoleh ke arah Topan yang melangkah mendekati dirinya.
"Ayo," Ucap Topan, seraya meraih tangan Bella.
Kali ini, Bella terlihat pasrah tangan nya di gandeng oleh Topan. Justru, entah mengapa ia tak kuasa menahan senyuman manisnya yang muncul begitu saja, tanpa mampu ia bendung. Ada perasaan yang berbeda kali ini. Entah apa dan bagaimana bisa Bella lukis kan. Ia hanya terdiam dan terus mengikuti langkah kaki lelaki yang berjalan selangkah di depan nya itu.
Sekitar pantai itu memang sangat gelap. Penerangan hanya berasal dari beberapa deretan cafe yang ada disana dan lampu jalan setapak di pinggir pantai yang remang.
"Dingin?" Tanya Topan.
"Tidak," Sahut Bella.
"Kok diam saja?" Tanya Topan lagi.
Pipi Bella memerah, ia kembali mengulum senyumnya.
Saat itu juga Topan menoleh kebelakang dan menatap wajah Bella yang tampak malu-malu. Lalu, tanpa kata ia pun tertawa kecil dan kembali melihat kedepannya.
"Kok tertawa?" Tanya Bella.
"Gak, gak apa-apa," Sahut Topan sambil terus tersenyum.
"Duh!" Pekik Bella yang hampir saja terjatuh karena paving yang berlubang di jalan itu. Dengan sigap, Topan memeluk pinggang Bella dan menariknya ke pelukannya, agar Bella tidak terjerembab di atas susunan paving yang di buat seperti jalan setapak, yang sedang mereka lalui itu.
Dua insan itu kini saling bertatapan. Bella menatap bibir Topan, lalu ia menelan salivanya. Ia ingat betul, betapa lembutnya bibir lelaki itu. Imajinasi nya pun melayang kembali, saat ia menarik tubuh Topan saat di kamar hotel lelaki itu dan mengecup lembut bibir lelaki itu dengan liar.
"Astagaaaa..." Batin Bella.
Pun dengan Topan, lelaki itu menelan salivanya. Entah mengapa, sejak kejadian kemarin, dan di tambah dengan mimpinya tentang Bella. Topan kini seperti menggila akan gadis itu. Pikiran maskulin nya terus memaksanya untuk mengecup bibir gadis yang sedang ada di dalam pelukannya itu.
Bella tidak memberontak sama sekali saat berada di pelukan Topan. Dua orang itu sedang berperang melawan pikiran dewasanya masing-masing. Hingga akhirnya, Topan lebih memilih menghormati Bella sebagai seorang wanita dan juga anak dari majikan nya, Pongki.
"Tidak apa-apa, mana yang sakit?" Topan sengaja melepaskan pelukannya dan berjongkok untuk melihat kaki Bella.
__ADS_1
Bella kembali menelan salivanya dan ada perasaan kecewa dihatinya.
"Apa gue bukan tipe dia ya? Gue mabuk dia tolak. Gue sadar pun, dia gak berniat apa gitu kek?" Batin Bella.
"Non? Mana yang sakit?" Tanya Topan lagi.
"Ti-tidak ada," Bella menggeser kakinya agar tidak di sentuh oleh Topan.
"Beneran?"
"Iya," Sahut Bella.
Topan pun beranjak dari jongkok nya dan menghela nafas panjang.
"Jalan nya berdampingan saja ya," Ucap Topan.
Bella mengangguk dan mereka kembali berjalan bersama.
"Besok kita naik sepeda motor saja ya, tidak usah naik taksi," Ucap Bella, mencoba memecahkan keheningan diantara mereka, setelah beberapa menit mereka saling diam.
"Besok? Saya di ajak lagi?" Tanya Topan.
Bella mengangkat kedua alisnya dan menatap Topan dengan seksama.
"Jangan meleng, lihat kedepan non," Ucap Topan yang sadar dirinya sedang di tatap Bella.
"Jadi, elu gak mau menemani gue besok?"
Topan menghentikan langkahnya dan menatap Bella dengan seksama.
"Jadi, non Bella mengajak saya?" Tanya Topan dengan wajah yang tampak polos.
"Ya iya lah... kan biar daddy sama mami balikan lagi. Ya kita harus menghindari mereka. Gimana sih lu," Ucap Bella dengan ekspresi wajah yang kesal.
"Oh... baiklah," Topan mengangguk paham.
"Lu bisa kan naik motor?" Tanya Bella lagi.
"Bisa dong non... Jangankan naik motor, mengendarai jaran pun saya lancar." Sahut Topan.
"Kuda! Bukan jaran,"
"Hehehe, di kampung saya namanya jaran non,"
Bella tersenyum dan menundukkan wajahnya agar Topan tidak melihat senyuman dari bibirnya.
"Memangnya besok kita mau kemana?" Tanya Topan.
"Hmmmm, Kintamani kali ya.. yang agak jauhan dikit,"
"Saya tidak tahu jalan non,"
"Gampang, kita tanya om gugel," Ucap Bella dengan wajah yang tampak bersemangat.
Topan melirik Bella dan ia kembali tersenyum.
"Non, tahu gak?"
"Apa?" Bella terlihat serius dan menatap Topan dengan seksama.
"Hmmmm,"
__ADS_1
"Apa Jo..." Bella mendesak Topan dengan nada suara yang terdengar manja, yang membuat jantung Topan berdegup kencang.
"Ah, tidak jadi," Ucap Topan, seraya melanjutkan langkahnya.
"Apa, ngomong dong," Bella menarik tangan Topan dan tampak seperti Bella yang buka Topan kenal kemarin.
Topan kembali menghentikan langkahnya dan berdiri dihadapan Bella. Cukup lama ia memandangi wajah Bella yang tampak mulai bersahabat dengan dirinya.
"Apa, ih malah ngelihatin!" Seru Bella.
Topan tersenyum kembali dan menundukkan wajahnya.
"Apaan sih?" Bella terus mendesak Topan.
"Saya hanya mau bilang, apa yang tertulis di ponsel saya, memang benar adanya."
"Apa itu?" Tanya Bella yang belum mengerti maksud dari ucapan Topan.
"Non Bella cantik jelita," Ucap Topan dengan wajah yang polos.
Bella langsung tertawa terbahak-bahak. Lalu, ia menepuk lengan Topan yang ikut tertawa melihat ekspresi Bella.
"Elu tuh lucu juga ya.." Ucap Bella disela tawanya.
"Saya memang lucu dari lahir non, non Bella saja yang baru sadar," Ucap Topan.
Bella kembali tertawa dan menggelengkan kepalanya.
"Konyol!" Gumam nya.
"Taksi!" Panggil Bella.
Sebuah taksi bergerak menghampiri mereka berdua. Saat Topan membukakan pintu untuk Bella, gadis itu menarik tangan Topan untuk ikut duduk bersama dengan nya di belakang.
"Saya duduk dibelakang?" Tanya Topan.
"Yes!" Bella tersenyum, lalu mengangguk dengan cepat.
Topan terlihat salah tingkah, lalu ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Nggg.... Saya di depan saja ya.."
"Loh, kenapa?" Tanya Bella sambil mengerutkan keningnya.
"Saya grogi, saya takut, tidak enak ah.." Ucap Topan.
Bella terdiam, lalu ia melepaskan tangan Topan dengan berat hati.
"Ya sudah, lu di depan saja," Ucap nya.
Topan tersenyum dan menutup pintu belakang taksi itu. Lalu, ia membuka pintu depan dan beranjak duduk di samping supir taksi.
"Mau kemana pak?" Tanya supir itu.
"Seminyak ya pak,"
"Siap..."
Supir itu pun mulai melajukan taksinya menuju ke hotel tempat Topan dan Bella menginap.
Bella termenung di bangku belakang taksi itu. Entah mengapa, ia mulai tidak percaya diri dengan Topan. Tidak ada satupun lelaki yang mampu menolak dirinya selama ini. Dan kini, ia bertemu dengan lelaki yang mampu menolak dirinya. Dia adalah Masteng, sang Mas-mas Tengik.
__ADS_1