
Tumpukan bantal memisahkan antara Topan dan Bella. Topan berada di sisi kiri, sedangkan Bella berada di sisi kanan ranjang. Bella terlihat selalu was-was, dan curiga kepada Topan. Sedikit saja Topan menggerakkan tubuhnya, Bella langsung menoleh kepadanya dan menatapnya dengan tatapan yang siap untuk menghajar Topan. Sedangkan Topan, lelaki itu terlihat sangat gelisah. Topan adalah lelaki normal yang sekamar dengan wanita yang memang sangat ia sukai. Tentu saja pikiran Topan melanglang buana kemana-mana.
Topan terus menatap Bella yang sedang memunggungi nya. Topan terus menelan salivanya, padahal tidak sehelai rambut pun dari Bella yang terlihat. Karena, Bella menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Non," Panggil Topan.
"Apaan lu!" Bella selalu memakai nada yang keras sejak ia dan Topan berada di satu kamar yang sama.
"Oh, kirain sudah tidur," Ucap Topan, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kalau gue sudah tidur, lu mau ngapain!" Bella menoleh dan menatap Topan dengan tatapan yang tajam.
"Ya enggak ngapa-ngapain. Saya hanya bosan, mau ngobrol sama siapa?"
"Kan lu sendiri yang bilang, lu capek. Lu tidur gih!"
"Saya kedinginan non. Rasanya seperti duda merana,"
Bella kembali menatap Topan dengan wajah yang sangar nya.
"Maksud lu? Lu mau satu selimut sama gue? Tidak akan hal itu terjadi ya Masteng! Lu selimutan sama seprai saja sana!"
"Iya.... ya biasa aja kali non, jangan ngegas," Topan bersungut-sungut dan melepaskan seprai di bagian ranjang nya dan masuk kedalam seprai tersebut.
"Ya sudah, saya tidur dulu," Ucap Topan.
Bella mengacuhkan Topan. Ia terus memunggungi Topan. Jantungnya terus berdetak kencang. Walaupun dirinya menyukai Topan, tetapi ia selalu berpegang teguh dengan pesan dari maminya, bila dirinya tidak boleh begitu murah dengan lelaki.
Selang 30 menit kemudian, terdengar dengkuran halus yang keluar dari bibir Topan. Bella pun langsung menoleh dan memperhatikan lelaki yang tertidur disampingnya itu. Wajah Topan terlihat semakin polos saat tertidur. Walaupun lelaki itu sudah berusia 32 tahun, tetapi wajahnya masih terlihat 'baby face' siapa saja akan setuju bila sebutan itu untuk Topan.
Bella menatap bibir Topan yang terlihat begitu sexy. Lalu, ia tersenyum sendiri. Ia mengingat saat dirinya mabuk beberapa hari yang lalu, dan mengecup bibir yang sempurna itu.
__ADS_1
"Lu itu lelaki yang baik Jo..." Gumam Bella.
Bella terus menatap wajah Topan, menatap setiap inci dari ciptaan Tuhan yang sangat sempurna itu.
"Apa gue jatuh cinta sama lu? Kalau iya gue jatuh cinta, apa.... kita bisa bersatu?"
"Ah.. gue mikir apa?" Bella terdiam, lalu ia meraih bantal dan merebahkan kepalanya di atas bantal itu, sambil terus menatap Topan yang sedang tertidur dengan lelap.
"Saya suka sama non Bella. Baru kali ini saya jatuh cinta. Bukan karena ciuman itu. Tetapi... saya suka non Bella dari pertama saya melihat non Bella." Terngiang di telinga Bella kata-kata Topan saat mereka berdua makan di restoran.
"Non, bila suatu saat terjadi apa-apa. Ingat non, ada saya untuk non Bella. Tetapi, saya mohon, jangan membenci saya, apa pun yang terjadi. Saya hanya bekerja non. Tetapi, bila ditanya dari lubuk hati saya yang paling dalam, saya tidak hanya mencintai non Bella. Saya juga mencintai kedua orangtua non Bella. Pak boss dan kanjeng mami. Percayalah non, saya tulus dan saya mohon, jangan membenci saya, apapun yang terjadi kedepannya." Kembali Bella teringat dengan ucapan yang dilontarkan Topan, siang tadi.
"Maksudnya apa ya? Memangnya, apa yang akan terjadi?" Gumam Bella.
Kantuk yang dirasakan Bella tidak lagi ia rasakan. Ia terus berpikir setiap kalimat yang dikatakan oleh Topan, tadi siang.
"Siapa lu sebenarnya, apa yang akan terjadi?"
Cahaya mentari, menyeruak masuk kedalam kamar yang di sewa Topan dan Bella, melalui celah jendela yang terbuat dari susunan kayu. Suara burung yang berkicau terdengar samar di telinga Topan. Perlahan, lelaki itu membuka kedua matanya dan mulai gemetar. Topan merasakan udara pagi ini begitu dingin sekali.
Masih terdengar tetesan air hujan yang terjatuh dari genting di depan jendela kamar mereka. Ya, pagi ini hujan belum kunjung berhenti. Gerimis sedang masih membasahi tanah Kintamani. Topan menoleh kesamping nya, terlihat Bella yang masih membungkus tubuhnya dengan selimut dan masih konsisten memunggungi nya.
Dengan bibir gemetar, dan tangan yang pucat, Topan menyentuh punggung Bella. Dengan seketika Bella terbangun dan nyaris saja melompat dari ranjang.
"Mau ngapain lu!" Bella menatap Topan dengan tatapan sinis nya.
"Non.. dingin banget..." Ucap Topan dengan bibir yang terus bergetar dan tampak membiru menahan dingin.
Sebenarnya, sudah dari semalam Topan merasa kedinginan karena kehujanan. Ditambah, tidak ada pakaian ganti dan selimut untuk menghangatkan tubuh nya. Sedangkan sehelai seprai saja, tidak mampu manahan udara dingin yang cukup menusuk tulangnya.
Bella mengerutkan keningnya, ia menatap Topan dengan seksama. Perlahan dirinya mulai merasa canggung, tidak mungkin dirinya berbagi selimut, padahal dirinya sedang tidak memakai apapun, selain selimut itu.
__ADS_1
"Non...." Topan meringkuk dan terus mengigil.
Perlahan, Bella menempelkan punggung tangannya ke dahi Topan. Seketika, wajah nya terkejut dan menatap Topan dengan wajah yang khawatir.
"Lu demam? Panas banget loh ini!" Bella terlihat panik.
"Dingin non..."
Bella bingung harus bagaimana. Lalu, ia beranjak dari ranjangnya dan mencoba mengecek pakaiannya yang sedang ia jemur di ruangan itu.
"Masih basah," Gumam Bella. Lalu, Bella menoleh dan kembali menatap Topan yang terus mengigil. Ia tidak bisa tinggal diam, Bella pun terpaksa keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ke resepsionis, untuk meminta selimut satu lagi untuk dipakai oleh Topan. Ia juga meminta untuk di belikan pakaian, makanan dan obat demam untuk dirinya dan Topan.
Setelah mendapatkan selimut untuk Topan, Bella berlari kembali ke kamarnya. Saat Bella tiba di kamar, ia pun langsung menyelimuti Topan dengan selimut itu. Bella mencoba membungkus Topan rapat-rapat dengan seprai dan selimut itu. Tetapi, tampaknya Topan masih merasa kedinginan.
"Sabar ya, aku beli pakaian, makanan dan obat untuk kamu..." Bella mencoba menenangkan Topan.
Topan mengangguk, lalu ia menenggelamkan wajahnya pada selimut yang membungkus nya.
"Maafkan aku ya, aku gak tahu kalau bakalan hujan. Aku juga keras kepala, gak nurut saat di suruh pakai mobil saja," Ucap Bella.
"Aku? Biasanya gue elu gue elu." Batin Topan. Topan langsung menatap Bella dengan tatapan yang tak percaya.
"Kenapa kamu lihatin nya kayak gitu? Dingin banget ya?" Bella beranjak naik keatas ranjang dan merebahkan tubuhnya di samping Topan. Lalu, ia memeluk Topan dengan erat.
Topan terdiam, ia merasa bingung dengan sikap Bella pada pagi ini.
"Non..." Panggil Topan dengan suara yang bergetar.
"Sssttt... istirahat. Aku peluk kamu, biar kamu hangat. Jangan pikir macam-macam. Nanti, setelah dapat pakaian. Kamu makan, terus minum obat. Ok?" Bella mengangkat wajahnya dan menatap Topan yang terlihat kebingungan dengan sikap nya.
"I-i-iya.." Topan mengangguk pasrah.
__ADS_1