
"Mau ice cream?" Tanya Topan, saat dirinya dan Bella berjalan sambil bergandengan tangan ke arah bianglala.
"Hmmm," Sahut Bella seraya menganggukkan kepalanya.
Topan tersenyum dan berjalan mendekati pedagang ice cream yang sedang berdiri dengan sepeda tua nya di sekitar wahana bianglala. Sedangkan Bella, berjalan mengikuti Topan dari belakang, sambil menatap bianglala yang menjulang tinggi dengan lampu warna-warni yang terlihat begitu indah.
"Mau rasa apa?" Tanya Topan.
"Hmmm, rasa vanila," Sahut Bella.
"Rasa vanila satu ya pak," Pinta Topan kepada penjual ice cream tersebut.
"Ok," Sahut pedagang ice cream tersebut. Lalu, pedagang itu memberikan ice cream stik kepada Topan.
"Berapa pak?"
"Lima ribu saja,"
Topan mengeluarkan dompetnya dan memberikan selembar uang lima ribu rupiah kepada pedagang ice cream tersebut. Lalu, ia membuka bungkus plastik yang menutupi ice cream tersebut dan memberikan nya kepada Bella.
Dengan wajah yang semringah, Bella menerima ice cream tersebut dan mulai menikmati rasa dari ice cream itu.
"Hhmmmm.." Bella menikmati ice cream itu seraya memejamkan kedua matanya.
Topan menatap Bella dengan senyum yang tersungging di sudut bibirnya.
"Yuk," Topan menggandeng tangan Bella dan mengajak Bella untuk mengantri di depan wahana bianglala.
Beberapa menit kemudian, mereka berdua sudah berada di dalam ruang berbentuk sangkar dengan luas yang hanya bisa di tempati oleh dua orang dewasa saja. Bianglala itu mulai bergerak secara perlahan, membawa mereka berdua ke ketinggian. Terlihat gemerlap lampu gedung-gedung tinggi dari kejauhan. Terlihat juga taman Kota yang di penuhi pepohonan dan kilatan lampu dari kendaraan bermotor yang melintasi jalan layang di ujung sana.
Bella yang sedang asik menikmati ice cream, terpana dengan keindahan malam itu. 'Pacaran low budget' tidak selamanya tidak berkesan. Justru, hal seperti ini lah yang membuat sebagian dari wanita diluar sana merasa tidak akan pernah melupakan kenangan yang sederhana namun indah seperti ini.
"Bella," Panggil Topan.
"Ya?" Bella yang sedang menikmati pemandangan Kota, seketika menatap Topan dengan sorot mata yang berbinar.
"I love you," Ucap Topan.
Pipi Bella merona merah, dan ia pun menundukkan pandangan nya.
"Aku sudah tahu," Ucap Bella.
Topan tertawa mendengar ucapan Bella. Lalu, ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah hati, dan membuka kotak itu di hadapan Bella.
"Kalau aku ingin menjadikan kamu tunangan ku malam ini, apa kamu sudah tahu?" Tanya Topan.
Bella menatap cincin yang masih berada di dalam kotak itu, dan dengan cepat ia menatap Topan dengan tatapan tak percaya.
"Aku mencintaimu, sangat. Dan aku ingin kamu menjadi tunangan ku. Setelah semua urusan ku selesai, aku akan mengurus proses pernikahan kita. Bagaimana? Apakah kamu mau memakai cincin ini?" Tanya Topan.
"Topan... kamu bercanda?" Tanya Bella. Saking groginya, ice cream yang berada di genggaman Bella terjatuh hingga mengenai gaun nya yang berwarna putih.
"Upss..!" Bella mengusap gaun nya yang terkena lelehan ice cream yang terjatuh. Lalu, Bella bergegas membuka tas nya dan hendak mengambil tisu dari dalam tas nya. Tetapi, saat itu juga Topan mengeluarkan sapu tangan nya dan mengusap noda ice cream dari gaun Bella.
__ADS_1
"Sudah pakai ini saja," Ucap Topan.
Bella terpana, bibir nya tersenyum bahagia saat melihat Topan mengusap noda di gaun nya dengan saputangan milik lelaki itu.
"Bagaimana aku bisa menolak lelaki sebaik kamu?"
Topan yang sedang mengusap noda di gaun Bella terdiam dan menatap Bella dengan sorot mata yang begitu dalam.
"Bagaimana aku bisa melewatkan kesempatan untuk tetap disamping kamu," Ucap Bella lagi.
Topan tersenyum dan menatap Bella dengan seksama.
"Maka, jadilah tunangan ku. Tunggu aku hingga aku mengucapkan Ijab Kabul untuk dapat hidup berdua denganmu."
Bella tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Cepat sematkan cincin itu di jariku, sebelum aku berubah pikiran," Ucap Bella.
Topan tersenyum dan meraih cincin emas putih dengan mata kristal yang begitu cantik tersebut. Lalu ia meraih tangan kiri Bella, dan menyematkan cincin itu di jari manis Bella yang lentik. Lalu, Topan mengecup lembut punggung tangan Bella dan kembali menatap gadis itu dengan seksama.
"I love you, i need you in my life. Jadilah istriku setelah ini." Bisik Topan.
Bella tersenyum dan mereka pun saling bertatapan. Topan mendekati wajahnya ke wajah Bella yang cantik. Lalu, dengan lembut ia mulai mengecup bibir Bella yang begitu indah.
Besok yen wes wayah omah-omahan
Aku moco koran sarungan
Kowe blonjo dasteran.... Hokyahhhh...!
...
Pagi-pagi sekali, terdengar ketukan dari pintu depan rumah Bella. Berta yang sedang berada di dapur, bergegas ke depan untuk membukakan pintu dan mencari tahu siapa yang datang kerumahnya pagi-pagi sekali.
Cklekkk!
Berta membuka pintu tersebut dan mendapatkan seorang wanita dengan wajah yang polos berdiri di teras rumahnya.
"Siapa ya? Cari siapa?" Tanya Berta.
"Assalamualaikum, selamat pagi bu," Ucap wanita berusia sekitar 30 tahun tersebut.
"Waalaikumsalam, pagi. Cari siapa yan mbak?" Tanya Berta lagi.
"Perkenalkan, nama saya Ijah. Saya disuruh oleh bapak Topan untuk bekerja disini."
"Topan? Bekerja disini?" Tanya Berta dengan ekspresi yang masih bingung.
"Iya bu. Kata bapak topan, beliau tidak bisa mengantar saya. Jadi saya naik taksi kesini. Ini rumah ibu berta dan mbak Bella kan?" Tanya wanita itu.
"I-i-iya.. tetapi..."
"Mam," Bella yang baru saja datang menyusul Berta ke depan menatap Berta yang masih terlihat bingung.
__ADS_1
"Suruh saja masuk, dia memang disuruh Topan untuk membantu kita disini. Topan sudah bilang jauh-jauh hari dengan ku."
"Oh begitu..." Berta mengangguk paham dan mempersilahkan Ijah untuk masuk kedalam rumahnya.
"Mbak Ijah, kamarnya ada di belakang di dekat dapur ya. Mbak bisa langsung ke belakang saja, saya mau bicara sebentar dengan mami saya," Ucap Bella.
"Bel, itu beneran Topan yang nyuruh?" Tanya Berta setelah Ijah kebelakang.
Bella mengangguk dan tersenyum kepada Berta.
"Dia bilang, biar mami tidak capek dan ada yang menemani mami kala aku kerja," Ucap Bella.
"Kerja?"
"Ya, aku sudah mendapatkan pekerjaan mam,"
"Dimana?" Tanya Berta lagi.
"Di kampus ku yang lama. Aku menjadi dosen di sana," Ucap Bella.
"Selamat Bella!" Seru Berta, seraya memeluk Bella dengan erat. Bahagia yang tak terkira terukir jelas di wajah Berta.
"Terima kasih mam," Sahut Bella seraya membalas pelukan Berta.
"Terus itu, kenapa bisa Topan kepikiran mencarikan asisten untuk kita?" Tanya Berta lagi.
"Karena dia tidak hanya mencintai aku. Dia juga sangat mencintai mami."
Berta merasa terharu dengan ucapan Bella. Rasa sayang nya pun semakin bertambah kepada Topan, dan ia berniat akan memeluk pemuda itu dan mengucapkan terima kasih saat pemuda itu singgah kerumahnya.
"Dia begitu baik, tidak heran mengapa daddy mu sangat menyukainya,"
"Tidak hanya itu," Ucap Bella. Lalu, ia menunjukan cincin di jari manis kiri nya.
"Bella!" Berta terperangah dan menatap Bella dengan tak percaya.
"Aku bertunangan dengan dia tadi malam," Ucap Bella.
"Congrats sayang ku!" Berta kembali memeluk Bella dengan erat.
"Mami ikut bahagia dengan pertunangan mu."
"Terima kasih mam. Ya sudah, sekarang aku berangkat kerja dulu ya. Mami baik-baik dirumah. Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam.." Sahut Berta seraya menyambut tangan Bella yang ingin mengecup punggung tangan nya.
"Hati-hati dijalan ya sayang," Ucap Berta.
"Iya mami."
Dengan tatapan bangga, Berta melepaskan Bella yang mulai bekerja sebagai dosen Psikologi pada hari ini.
"Tuhan, begitu dalam makna dari kehancuran yang singgah di hidupku. Aku menjadi dapat menemukan orang-orang yang tulus. Aku dapat melihat kekuatan anak ku yang manja, yang tersembunyi selama ini. Aku dapat merasakan cinta dari Pongki yang sempat aku ragukan. Tuhan... mungkin, tanpa adanya keterpurukan, aku tidak akan pernah mencoba untuk bersyukur atas nikmat mu. Terima kasih Tuhan..."
__ADS_1
Berta tersenyum dan menutup pintu rumahnya, setelah mobil yang di kendarai Bella menghilang dari pandangan nya.