Masteng

Masteng
176. Surat untuk Topan


__ADS_3

Topan termenung menatap senjata laras panjang terakhir yang tersisa di atas meja. Seluruh tubuhnya gemetar, air mata menggenang di pelupuk matanya yang tersembunyi di balik kaca mata pelindung. Hingga dirinya tersentak karena di tegur oleh Jaksa eksekutor. Dengan cepat ia pun meraih senjata laras panjang itu, yang ia sendiri pun tidak tahu, apakah senjata tersebut berisi peluru tajam yang akan membunuh mertuanya sendiri, atau peluru hampa yang tidak membunuh mertuanya.


Topan berjalan ke barisan para eksekutor, dengan membawa senjata tersebut. Matanya menatap Pongki yang terus menatap dirinya. Hatinya bagaikan tertusuk sembilu. Air mata terus mengalir dan membasahi kaca mata nya. Keringat bercucuran dari seluruh anggota tubuh nya. Tantangan yang sangat berat dari Pongki, mau tidak mau ia jalani, sebagai permintaan terakhir dari mertuanya itu.


Topan memang tidak habis pikir dengan permintaan konyol itu. Walaupun Pongki sudah mengatakan apa alasan nya. Namun pertanyaan di otak nya terus berputar, mengapa harus dia?


Topan melihat sang Jaksa menggeledah tubuh Pongki dan mendapatkan sepucuk surat. Dari ucapan dan sorot mata Pongki yang menuju kearah nya, Topan sudah tahu bila Pongki dapat mengenali dirinya. Sang Jaksa mulai memberikan aba-aba, sesaat setelah sang jaksa mengantongi surat dari Pongki. Saat itu juga, Topan mengangkat senjatanya menghadap ke langit. Matanya terus menatap mata sendu dari Pongki yang terus menatap dirinya.


"Siap!"


Mendengar aba-aba itu, Topan menurunkan senjata nya ke arah target dengan posisi siap untuk menembak ke arah jantung sang target. Tubuh Topan semakin gemetar, bahkan terasa lemas. Namun, karena dirinya sedang dalam tugas dan melaksanakan permintaan terakhir dari Pongki, ia tetap berusaha fokus dan menopang senjata yang berat tersebut dengan baik dan benar.


"Tembak!"


Akhirnya perintah tersebut terucap dari bibir sang Jaksa. Sepersekian detik, Topan terlambat meletuskan senjatanya. Hingga ia melihat beberapa peluru sudah singgah di dada Pongki. Saat itu, barulah Topan meletuskan senjata api nya. Hal itu Topan lakukan hanya untuk memastikan, bukan peluru nya lah yang menyebabkan kematian Pongki. Namun, di luar dugaan nya. Ternyata pelurunya lah yang membuat Pongki tidak lagi bergerak. Peluru terakhir yang Topan tembakan adalah peluru yang menyebabkan kematian Pongki. Saat itu juga seluruh tubuhnya melemas, hingga senjata di tangan nya nyaris saja terjatuh di atas tanah. Air mata Topan semakin deras, terutama saat team medis memberikan isyarat bila Pongki sudah tak lagi bernyawa.


"Bubar!" Perintah komandan regu, seraya berjalan ke arah meja dan meletakkan senjata yang baru saja ia gunakan untuk menembak Pongki. Di susul dengan seluruh anggota, kecuali Topan. Topan berjalan mendekati sang Jaksa dan mengadahkan tangan nya kepada sang Jaksa. Lalu sang Jaksa memberikan dirinya sepucuk surat dari Pongki. Lalu topan beranjak dari hadapan sang Jaksa dan meletakkan senjata nya di atas meja. Lalu ia bergegas mengikuti team nya untuk di bawa ke suatu tempat, untuk memenangkan diri dan menjalani pemeriksaan sesuai dengan prosedur.


Air mata mengiringi langkah Topan yang terlibat gontai. Mertuanya mati di tangan nya sendiri. Sungguh berat apa yang telah ia lalui. Terutama merahasiakan hal ini kepada mertua, istri dan anak nya seumur hidupnya.


..

__ADS_1


Pov Pongki


Tubuh nya gemetar, lutut nya terasa tidak lagi mampu menyangga tubuh tuanya. Tangan nya terikat dengan erat di tiang eksekusi. Matanya terus menatap Topan yang berdiri 5 meter di depan nya dengan senjata yang mengarah kepada dirinya. Meskipun begitu, Pongki mencoba tersenyum. Ya, senyuman itu ia berikan kepada menantunya, Topan.


Segala ayat-ayat suci dan juga puja dan puji kepada Tuhan, tengah ia lantunkan di dalam hatinya. Jalan ini lah yang ia pilih untuk mengakhiri perjalanan nya di dunia yang fana ini. Ketenangan mulai ia rasakan, seolah menjalar dari hati hingga ke seluruh tubuhnya. Meyakini bila pilihan ini adalah pilihan terbaik untuk dirinya, pasrah dan merasa ada Topan di sana membuat dirinya siap untuk menerima peluru tajam yang akan segera menembus jantung nya. Menghentikan detak jantung yang membuat dirinya hidup selama ini.


"Tembak!"


Duarrrrrrrrr...!


Rasa panas, perih yang luar biasa menembus jantung Pongki. Namun, hal itu belum membuat ia kehilangan nyawanya. Ia masih menatap Topan yang mulai menembakkan peluru kearah dirinya. Matanya nanar dan nafasnya tersenggal. Hingga akhirnya terdengar tembakan susulan, dan peluru itu menancap tajam di jantung nya yang sudah sulit untuk berdetak. Seketika, pandangannya gelap. Nafasnya terhenti, nyawanya pun terpisah dari raga itu.


...


Topan termenung, menyendiri di sudut ruangan khusus, menunggu giliran dirinya untuk di periksa oleh psikiater. Rompi dan segala perlengkapan yang merupakan SOP saat menjadi eksekutor telah ia lepaskan dan teronggok di samping nya. Di tangan nya terdapat gulungan kertas yang masih terus ia pandangi. Cukup lama ia mencoba memberanikan diri untuk membuka gulungan kertas tersebut. Hingga akhir nya ia memutuskan untuk membaca surat tersebut.


Untuk menantu ku Topan.


Semua yang kita mulai, wajib untuk kita akhiri. Semua itu adalah bentuk tanggung jawab kita terhadap apa yang kita perbuat, pun dengan diriku.


Yang dilihat dari lelaki adalah tanggung jawab nya. Yang dipegang dari lelaki adalah ucapan dan janjinya.

__ADS_1


Aku, bangga padamu. Kamu mampu menyingkirkan orang seperti ku, untuk negara tercinta ini. Keputusan ku untuk merestui kamu dengan anak semata wayang ku adalah hal yang tidak pernah aku sesali. Darimu, aku banyak belajar tentang hidup yang lebih baik. Karena mu, aku kembali mengenal Tuhan dan meninggalkan kehidupan buruk ku.


Nak, jadilah orang tua yang bertanggung jawab untuk cucu ku Jagat, dan kelak adik-adik nya. Jadilah suami dan imam yang baik untuk anak semata wayang ku, Bella. Aku serahkan tanggung jawab ku kepadamu. Aku juga menitipkan istriku, Berta. Jaga dia, hingga maut mempertemukan aku dan dia lagi di alam sana.


Topan, aku minta maaf atas segala kesalahan ku. Terutama menuntut mu untuk melakukan eksekusi mati ini. Aku hanya ingin kamu tahu, bila seorang lelaki, harus siap menghadapi apa pun tantangan yang di depan nya. Apa pun permasalahan yang menghalanginya.


Aku tahu, ini begitu berat bagimu. Tetapi, ketahuilah... kamu adalah lelaki terhebat yang pernah aku temui. Tanggung jawab mu luar biasa. Kelelakian mu tidak terbantahkan. Aku mati dengan membawa kebanggaan atas dirimu dan aku tukarkan dengan tanggung jawab lain nya untuk kamu pikul setelah ini.


Sayangi anak ku, istri ku, cucu-cucu ku, sebagaimana aku menyayangi mereka. Aku percaya sepenuhnya kepadamu. Karena kamu, lelaki yang tidak pernah sekalipun ingkar janji.


Mertuamu, Pongki Susilo.


Topan terisak hebat setelah membaca surat tersebut. Ia meremas surat itu di tangan nya yang gemetar. Hingga seorang tenaga medis menghampiri dirinya dan membawa Topan ke ruangan khusus dan di prioritaskan untuk di periksa terlebih dahulu. Topan tak kuasa menahan duka dan luka batin yang tengah ia rasakan. Begitu berat cobaan yang ia terima dan lalui saat ini. Terutama mental dirinya yang terguncang karena ia menjadi penyebab kematian mertuanya sendiri.


..


Seseorang pernah berkata, dikala kita menyakiti orang yang kita cintai. Sesungguhnya kita tengah menyakiti diri sendiri, dan itu memang benar adanya.


Pongki memberikan pelajaran untuk Topan akan hal itu. Dengan harapan, kedepannya, Topan tidak akan pernah sanggup untuk melukai orang-orang terkasih nya. Terutama Bella.


-De'rini-

__ADS_1


__ADS_2