Masteng

Masteng
94. Cinta yang baik


__ADS_3

"Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam," Sahut Berta. Wanita paruh baya itu pun menoleh ke arah belakangnya dan menatap Topan yang berjalan kearah dirinya.


Topan mengecup punggung tangan Berta dan tersenyum kepada Berta.


"Apa kabar mami?" Tanya Topan.


Berta membalas senyuman Topan dan menatap Topan dengan mata yang berbinar.


"Alhamdulillah baik. Kamu bagaimana kabarnya?"


"Baik mam. Hmmmm... Bella nya ada mam?" Terlihat pipi Topan bersemu kemerahan saat dirinya bertanya tentang Bella kepada Berta.


"Ada di kamarnya. Dia sedang bersiap-siap untuk jalan bersama dengan kamu."


Pipi Topan semakin memerah saat Berta sudah tahu maksud kedatangan nya ke rumah itu.


"Kamu tidak ke kantor hari ini? Bagaimana kabar bapak?"


Topan terdiam sejenak saat Berta bertanya tentang Pongki.


"Hari ini saya tidak bisa menjenguk nya. Soalnya saya bersiap-siap mengepak barang dan membayar gaji semua pegawai di rumah ini, karena hari ini adalah hari terakhir mereka bekerja,"


Topan semakin merasa bersalah dengan semua yang dikatakan oleh Berta.


"Hmmm... kabar bapak baik. Beliau akan segera dipindahkan mam," Ucap Topan dengan ragu-ragu.


"Kapan?" Tanya Berta.


"Saya belum tahu kapan, nanti bila ada informasi, saya akan beritahu mami."


Berta tersenyum dan mengangguk paham.


"Terima kasih. Oh iya, kamu mau minum apa?" Berta langsung beranjak dari duduknya, karena hendak membuatkan Topan segelas minuman.


"Tidak usah, tidak usah repot-repot mam," Ucap Topan.


"Tidak apa-apa,"


Topan tahu betul, dirumah itu sudah tidak ada asisten lagi. Tentu saja yang akan membuatkan minuman untuk dirinya adalah Berta sendiri.


"Tidak mam. Kalau saya mau, saya akan membuatnya sendiri,"


Berta menatap Topan dengan seksama.


"Ya Allah, anak ini.. hatinya sungguh seperti malaikat." Batin Berta.

__ADS_1


"Benar tidak apa-apa, kalau mau saya buatkan saja."


"Tidak mam. Ok, saya akan mengambil air putih sendiri."


Topan beranjak dari duduknya dan bergegas ke dapur. Sedangkan Berta hanya dapat menatap punggung Topan dengan tatapan haru.


"Mam.." Bella yang baru saja hadir di ruang keluarga menatap Berta yang haru melihat sikap Topan kepada dirinya.


"Ah, kamu Bel.." Berta menatap Bella dan tersenyum canggung.


"Mami kenapa?" Tanya Bella khawatir.


Saat itu juga Bella melihat Topan datang sambil membawa segelas air putih di tangan nya.


"Topan, kamu sudah datang?"


Topan tersenyum dan menghampiri Bella.


"Hai, kamu cantik sekali. Aku baru saja datang," Ucap Topan.


Bella kembali menatap gelas di tangan Topan. Kini ia sadar, mengapa Berta tadi terlihat terharu sekali. Ternyata inilah penyebab nya.


"Kamu juga tampan sekali," Puji Bella.


Topan menundukkan wajahnya dan tersenyum malu.


"Kita berangkat sekarang?" Tanya Bella.


"Loh, Topan nya belum sempat minum loh Bellaaa.."


"Tidak apa mam, saya akan segera meminum nya," Topan langsung meminum air di gelas nya hingga habis tak tersisa. Hal itu membuat Bella dan Berta tersenyum melihat tingkah Topan yang ternyata juga tidak sabar untuk dapat membawa Bella keluar bersama dengan nya.


"Sudah habis, sebentar.. saya bawa ke dapur dulu."


"Eh tidak usah.. Taruh disini saja," Cegah Berta.


"Tidak apa mam," Topan tersenyum dan mengedip-ngedipkan sebelah matanya. Lalu, ia beranjak ke dapur untuk mencuci gelas yang baru saja ia pakai.


Bella dan Berta saling bertatapan, hingga akhirnya mereka bersua tersenyum penuh syukur. Bagaimana tidak, mendapatkan calon suami dan menantu seperti itu, sangat jarang sekali.


"Segera nikahi dia, dia orang yang tepat untuk kamu," Ucap Berta.


Bella tersenyum dan tertunduk malu. Apa yang dikatakan oleh Berta sangat benar sekali. Lelaki baik, sabar, pengertian, mapan, rajin, dan mandiri, siapa yang tidak mau?


Angan Bella pun melayang jauh sekali, dimana ia sedang berjalan menuju ke lantai dansa di acara pernikahan nya dengan Topan. Di tengah lantai dansa, terlihat Topan berdiri menunggu dirinya dengan memakai setelah tuxedo lengkap serta tataan rambut yang begitu berkelas. Topan menyambut dirinya dengan merentangkan sebelah tangan nya. Lalu, Bella menyambut tangan Topan dan mereka berdua pun mulai berdansa di iringi lagu pernikahan yang begitu romantis, dari Shane Filan.


So as long as I live I love you

__ADS_1


Will haven and hold you


You look so beautiful in white


And from now 'til my very last breath


This day I'll cherish


You look so beautiful in white


Tonight...


"Ahhh... indahnya..." Gumam Bella.


"Apanya yang indah?" Tanya Topan yang ternyata sudah berada di depan Bella.


"Astaga!" Jerit Bella. Saking terkejutnya, tas yang sedang ia pegang pun terjatuh ke lantai.


Topan memungut tas tersebut dan memberikan nya kepada Bella.


"Kok kagetnya begitu banget. Ayooo... habis berkhayal apa?" Tanya Topan.


"Ti-tidak," Wajah Bella memerah dan ia pun terlihat salah tingkah.


"Ya sudah kalau memang tidak ingin memberitahukan aku. Yuk," Topan mengulurkan tangan nya. Persis seperti di dalam angan Bella saat Topan berada di tengah lantai dansa.


"Ya Allah.. so sweet banget lelaki ini... Jodohkan lah ya Allah... jodohkan.. kalau tidak jodohnya, aku mohon, kalau bisa di paksakan saja biar jodoh," Batin Bella, sambil ia tersenyum jahil.


"Mam, kami pergi dulu ya," Ucap Topan.


"Iya, hati-hati dijalan, jangan mengebut. Ingat, yang kamu bawa itu, harta berharga bagi mami,"


"Iya mam, tenang saja," Ucap Topan seraya tersenyum dan mengecup punggung tangan Berta.


"Mam, Bella keluar dulu ya," Bella pun ikut mengecup tangan Berta dan berpamitan dengan Berta.


"Iya sayang, hati-hati kalian ya.."


"Iya mam,"


Setelah berpamitan, Bella dan Topan pun melangkah keluar dari rumah tersebut. Berta hanya menatap punggung dua insan yang sedang mabuk asmara tersebut.


"Hmmm, ada perubahan yang sangat baik dari Bella sejak bersama denganmu Topan. Bella mulai mengecup punggung tangan ku. Mulai bersikap lembut dan mau di atur. Sungguh dahsyat pengaruh mu nak," Batin Berta.


..


Cinta yang baik, semestinya membawa kita kedalam kebaikan. Itu sudah pasti. Sedangkan cinta yang salah, hanya mampu menorehkan luka di hati. Semua itu ada benarnya. Bila dia baik untuk mu, dia akan mencontohkan yang baik untuk mu. Tanpa memaksamu untuk berubah. Begitu juga sebaliknya. Bila dirinya tidak baik untukmu, ia akan terus membuat mu menangis, terluka dan akhirnya kamu pun berubah ke arah yang negatif, atau bahkan kamu sudah tidak menjadi dirimu sendiri lagi. Jangankan tidak menjadi dirimu sendiri lagi, bahkan kamu pun tidak lagi mengenal siapa dirimu. -De'rini-

__ADS_1


__ADS_2