
Alunan musik blues mengalun indah di restoran bertema tropis itu. Beberapa pelayan yang menggunakan pakaian adat Bali terlihat sibuk melayani para pelanggan yang datang. Di atas restoran itu, terdapat sebuah ruangan VVIP. Ruangan yang berdindingkan kaca itu begitu mewah. Di samping meja yang menghadap ke arah pantai terdapat sebuah piano yang sedang dimainkan oleh seorang pianis yang berasal dari Eropa. Di sanalah Pongki dan keluarganya duduk untuk makan malam terakhir mereka di Bali.
Topan duduk di hadapan Pongki dan Berta, sedangkan Bella duduk tepat disebelah Topan. Hidangan laut dengan berbagai macam olahan, memenuhi meja mereka. Ya, ruangan ini tidak seperti ruangan VVIP pada umum nya. Disini, semua hidangan di keluarkan dan di sajikan di atas meja pelanggan VVIP, sesuai dengan jumlah pelanggan yang ada, dan pelanggan bebas memakan apa saja yang mereka inginkan. Itulah mengapa, tempat ini di bayar mahal oleh para pelanggan yang memilih duduk di ruangan VVIP.
Pongki menatap Topan dengan seksama, selama makan malam berlangsung. Topan sempat grogi, karena Pongki terus menerus menatap dirinya. Tetapi, Topan masih berpikir, bila Pongki menatap dirinya karena Topan telah lancang tidur sekamar dengan Bella. Tanpa ia sadari, Pongki sudah mengetahui siapa dirinya sebenarnya.
Sedangkan Bella, gadis itu tampaknya sedang merasakan bunga yang bermekaran di hatinya. Ia terus melirik Topan yang terlihat biasa saja terhadap dirinya. Sedangkan Berta, ia tampak seperti biasanya. Perhatian nya kepada Bella dan Topan, masih seperti sebelumnya. Karena Berta tidak tahu menahu siapa Topan dan apa hubungan Topan dengan Bella saat ini.
Setelah makan malam usai, hidangan pencuci mulut pun di keluarkan setelah beberapa pelayan membersihkan meja mereka. Bella yang pintar bernyanyi pun langsung menghampiri pianis yang sedang memainkan musik nya. Bella meminta pianis itu untuk mengiringi dirinya yang ingin mempersembahkan sebuah lagu cinta. Sebenarnya, lagu itu untuk Topan. Tetapi ia menyebut lagu itu akan ia persembahkan untuk kedua orangtuanya.
Tepuk tangan Pongki, Berta dan Topan mengiringi penampilan Bella yang dengan percaya diri menyanyikan lagu lawas yang berjudul, Nothing's Gonna Change My Love For You, dari penyanyi legendaris bernama George Benson.
If I had to live my life without you near me..
The days would all be empty..
The nights would seem so long, with you I see forever..
Begitulah sepenggal lirik lagu yang sedang Bella nyanyikan. Lagu yang memiliki arti yang begitu dalam itu, mampu membuat Pongki tenggelam dengan pikiran nya sendiri. Ia mulai berpikir bagaimana bila ia tidak bisa menghabiskan masa tuanya dengan Berta.
Sedangkan Topan, ia pun merasakan lagu itu sangat menyentuh hatinya. Bagaimana tidak? Apa yang terjadi bila setelah tugasnya berakhir. Apakah Bella akan membenci dirinya yang ternyata adalah orang yang memenjarakan Pongki, ayah Bella.
Nothing's gonna change my love for you...
You ought to know by know how much I love you..
The world may change my whole life through but,
Nothing's gonna change my love for you...
Tubuh Pongki gemetar, ia pun menatap Berta yang sedang asik mengikuti lirik lagu yang sedang di nyanyikan oleh Bella.
"Tidak, aku tidak akan membiarkan kamu sendirian. Aku tidak akan di tahan, aku akan menepati janji ku untuk menghabiskan masa tua bersama denganmu Berta," Batin Pongki.
"Berta, dapatkah kita bicara?"
Berta menoleh dan menatap Pongki yang tampak pucat.
"Berbicara apa?" Tanya Berta dengan ciri khas nya yang lembut.
"Ikut aku sekarang ke sana.." Pongki menunjuk balkon restoran itu. Lalu, ia beranjak dari duduknya dan menuntun Berta untuk mengikuti dirinya.
Topan melirik dari sudut matanya, saat Pongki dan Berta beranjak menuju balkon restoran itu. Tetapi, ia hanya menganggap Pongki dan Berta sedang ingin berduaan saja. Lalu, ia kembali fokus melihat penampilan Bella yang berdiri di panggung kecil di depan nya.
__ADS_1
If the road ahead is not so easy...
Our love will lead the way for us..
Like a guiding star...
I'll be there for you if you should need me.
"I'll be there for you if you should need me."
Lirik lagu itu membuat Topan terdiam. Lirik lagu itu, sama persis dengan apa yang pernah ia katakan kepada Bella. Dia akan selalu ada untuk Bella, kapan pun Bella membutuhkan dirinya. Tetapi, apa mungkin Bella akan mencari dirinya nanti? Tentu saja tidak akan hal itu terjadi.
Tiba-tiba saja, Topan merasa bersedih. Ia tahu, misi nya akan berakhir dalam waktu 2 x 24. Terhitung mulai dari sekarang. Karena sebelum ia pergi untuk makan malam, Antok sudah memastikan misi mereka akan segera berakhir dengan rentang waktu tersebut.
"Bella..." Gumam nya.
.
Di balkon restoran itu, terasa angin berhembus sepoi-sepoi. Pongki yang masih menggenggam tangan Berta menghentikan langkahnya tepat di depan pagar pembatas balkon tersebut. Lalu, ia menatap Berta dalam-dalam.
"Ada apa sayang?" Berta yang lemah lembut dan penuh kasih sayang itu membalas tatapan Pongki dengan sorot mata yang begitu penuh kasih.
"Berta, habis dari Bali, kita langsung tinggal di luar negeri ya.... Di Spanyol? Paris? Belanda? Atau di Germany?"
"Ada apa? Mengapa terburu-buru sekali? bukankah kita berniat untuk hanya sekedar jalan-jalan saja? Lalu, kita stay di rumah kita sendiri dan melihat Bella menikah, mempunyai anak dan kita menjadi opa dan oma. Mengapa harus tinggal diluar negeri?" Tanya Berta.
Pongki terlihat risau, ia menghela nafas panjang dan menggenggam kedua tangan Berta.
"Apa yang harus aku katakan kepada Berta?" Batin Pongki.
"Sayang..? Kenapa bengong? Ada apa?"
"Ah... tidak, rencana ku hanya berubah. Aku ingin tinggal di luar negeri."
Berta menatap Pongki dengan seksama. Lalu, ia mulai terlihat cemas.
"Sayang, jangan bilang...."
"Sssttt..." Pongki meraih tubuh Berta dan memeluknya dengan erat.
Berta terperangah, apa yang selama ini ia takutkan akhirnya akan terjadi.
"Katakan padaku, apa yang terjadi?" Desak Berta, sambil melepaskan kedua tangan Pongki yang sedang mendekap tubuhnya.
__ADS_1
"Jangan khawatir, aku pastikan semua akan baik-baik saja. Asalkan kamu mau tinggal diluar negeri bersama denganku."
"Katakan Pongki!"
"Stttttt...!" Pongki menempelkan jari telunjuknya di bibir Berta.
Saking kerasnya Berta berteriak kepada Pongki, tentu saja membuat Bella yang baru saja selesai bernyanyi dan Topan yang masih berada di bangkunya, menoleh kearah Pongki dan Berta. Mereka menatap Pongki dan Berta dengan tatapan yang bertanya-tanya.
"Aku akan ceritakan di hotel, sekarang kita kembali ke hotel ya.." Ucap Pongki sambil menggandeng tangan Berta untuk mengikuti dirinya meninggalkan restoran itu. Sedangkan Bella dan Topan, terlihat bingung. Mereka saling bertatapan. Lalu, mereka pun menyusul Pongki dan Berta.
"Mammm...! Dadddd...!" Panggil Bella. Dirinya dan Topan berlari mengejar Pongki dan Berta.
"Bella, daddy dan mami ada urusan. Kamu bersama dengan Paijo dulu ya.. Tetapi ingat, jangan pulang malam-malam," Ucap Pongki, lalu ia kembali berjalan meninggalkan restoran tersebut.
Bella hanya terdiam dengan wajah yang bingung. Lalu, ia menatap Topan yang tengah menatap Pongki dengan wajah yang serius.
"Jo... daddy dan mami kenapa ya?" Tanya Bella sambil menatap Topan yang terlihat curiga dengan gerak gerik Pongki.
"Jo..." Topan bergeming, ia bagaikan orang yang sedang berpikir begitu rumit.
"Jo!" Bella mengguncang lengan Topan, hingga Topan tersadar dari lamunannya dan menatap Bella dengan wajah yang panik.
"Ah, ya... kenapa?" Topan mencoba tersenyum kepada Bella.
"Ihhh.. masa gak dengar sih... Aku tuh bertanya, mami sama daddy kenapa lagi ya?"
"Hmmmm, aku tidak tahu." Sahut Topan.
"Semoga bukan masalah berat lagi deh."
"Ah... iya," Topan terlihat gugup dan salah tingkah. Entah mengapa, sikap Pongki sangat berbeda malam ini. Mulai dari sejak makan malam tadi. Pongki selalu menatap dirinya dan sekarang, Pongki pergi begitu saja dengan Berta.
"Pasti ada apa-apa ini. Apakah... ah... tidak... tidak mungkin identitas ku terbongkar." Batin nya.
"Ya sudah deh, kita jadi jalan-jalan menyusuri pantai kan?" Bella memeluk lengan Topan dan memasang wajah yang terlihat sangat manja.
Topan menghela nafas panjang, lalu ia mencoba tersenyum dan mengangguk kepada Bella.
"Ayo..."
Bella tersenyum semringah, hatinya benar-benar merasakan jatuh cinta kepada Topan.
"Yuk," Ucap nya sambil menarik lengan Topan untuk meninggalkan restoran tersebut.
__ADS_1