
Ting tong!
Cklekkk..!
Berta langsung membukakan pintu untuk Pongki yang baru saja kembali ke kamar mereka. Ya, kamar mereka. Setelah mereka berbaikan, saat itu juga mereka kembali tidur bersama dalam satu kamar.
"Sayang, kenapa?" Tanya Berta dengan wajah yang tampak khawatir. Tampaknya, dari tadi Berta telah menunggu Pongki. Bagaimanapun, dirinya selalu merasa khawatir kepada Pongki. Apa lagi, bila Pongki masih berhubungan dengan dunia kelam.
Pongki tersenyum dan mengusap pipi Berta dengan lembut.
"Kok belum mandi, sebentar lagi kita makan malam."
"Aku menunggu kamu," Ucap Berta.
Pongki kembali tersenyum, lalu ia memeluk Berta dengan erat.
"Oh sayang, ternyata kamu begitu khawatir dengan ku," Ucap nya. Tanpa disadari air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Iya dong, kan kamu suamiku," Berta membalas pelukan Pongki lebih erat lagi.
Pongki mendongak, agar air matanya tidak tumpah. Lalu, ia mengerjapkan kedua matanya dan melepaskan pelukannya dari tubuh Berta. Lalu, ia kembali tersenyum di hadapan Berta dan mengecup kening Berta dengan lembut.
"I love you, yuk mandi... biar kita bisa makan malam bersama dengan anak-anak," Ucap Pongki.
Anak-anak? Ya, meskipun dirinya tahu siapa Paijo sebenarnya, tetapi ia tetap mengatakan kata 'anak-anak'. Bukan karena di depan Berta. Tetapi, ia memang mengatakan hal itu dari hatinya.
"Yuk," Berta mengangguk bersemangat. Mereka berdua pun beranjak ke kamar mandi, dengan senyum yang begitu bahagia terukir indah di wajah mereka.
.
Ting Tong!
Bella yang baru saja selesai memakai lipstik nya, tersenyum semringah. Ia tahu, bila yang menekan tombol bell di kamarnya adalah Topan. Bella sekali lagi menatap penampilan dirinya di pantulan cermin. Lalu, ia tersenyum puas dan menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya.
Kencan pertama, ya... bagi Bella ini adalah kencan pertama nya dengan Topan. Bella memilih memakai jampsuit berwarna hitam tanpa lengan, dengan potongan dada yang rendah. Serta sepatu high heels yang tampak begitu elegan. Riasan diwajahnya pun ia sesuaikan dengan riasan untuk malam hari. Sebuah kalung sederhana menghiasi lehernya yang jenjang. Rambut nya pun, ia tata dengan mengikatnya seperti ekor kuda. Wajah tirus nya terbuka, hingga setiap ukiran sang pencipta di wajah cantiknya terlihat dengan jelas dan sempurna.
__ADS_1
Ting Tong!
Bella mengerjapkan kedua matanya, ia kembali tersenyum. Ia merasa Topan sangat tidak sabar untuk segera bertemu dengan dirinya. Bella meraih botol parfum miliknya dan menyemprotkan nya ke tubuhnya. Lalu, ia menyambar tas nya dan segera beranjak untuk membuka pintu kamarnya.
Cklekkk!
Bella terpaku, saat melihat Topan yang berdiri tepat di depan pintu kamarnya. Lelaki itu tampak begitu mempesona. Topan memakai kemeja hitam yang di gulung lengan nya hingga ke siku, dengan celana skinny berwarna khakhi. Tataan rambut Topan pun berbeda kali ini. Lelaki itu memakai Pomade! Sehingga rambutnya tampak begitu rapi. Tidak lupa sepasang sepatu kulit yang kilap melengkapi kesempurnaan penampilan Topan pada malam ini.
"Hai," Sapa Topan dengan suaranya yang terdengar sangat jantan dan membuat jantung Bella berdegup kencang.
"Ha-hai.." Balas Bella, sambil tersenyum canggung.
"Apa mom dan dad sudah keluar?" Bella mengalihkan rasa canggung nya dengan bertanya tentang kedua orangtuanya.
"Belum," Sahut Topan.
"Oh.." Bella tersenyum dan melangkah keluar. Lalu, ia menutup pintu kamarnya.
"Kita panggil dulu mereka ya.."
"Kamu cantik malam ini," Bisik Topan.
Rona merah di pipi Bella semakin jelas terlihat. Ia menundukkan wajahnya sambil tersenyum malu.
"Boleh cium kening nya gak?" Bisik topan Topan lagi.
Sebelum Bella menyetujuinya, sebuah kecupan sudah mendarat di kening Bella. Yang membuat jantung Bella terasa ingin copot.
"Kalau begini caranya, lebih baik tidak usah izin," Ucap Bella yang langsung beranjak menuju ke kamar kedua orangtuanya.
Topan tertawa geli, ia terus menatap Bella yang tampak sangat elegan malam ini.
"Duh... Bella, kenapa kamu terlahir dari bibit bapak Pongki.." Batin Topan sambil terus tersenyum geli.
Bella menekan tombol di samping pintu kamar kedua orangtuanya. Hingga Pongki dan Berta membukakan pintu kamar mereka.
__ADS_1
"Eh, tumben kamu lebih cepat, biasanya kamu paling terakhir," Ucap Berta, meledek Bella.
Bella hanya tersipu mendengar ucapan maminya itu.
"Paijo mana?" Berta membuka pintu kamarnya lebih lebar lagi dan menoleh ke lorong. Saat itu juga ia melihat Topan yang sedang berdiri di depan pintu kamar Bella.
"Wow..! Penampilan kamu luar biasa Jo," Ucap Berta, seraya tersenyum kagum saat melihat penampilan Topan.
"Terima kasih kanjeng mami. Semua karena kanjeng mami yang membelikan pakaian-pakaian bagus untuk saya," Ucap Topan sambil membungkuk hormat.
Berta tersenyum puas, ia sangat mengagumi lelaki muda yang berdiri di depan nya itu. Selain tampan, bertubuh sangat bagus, Topan juga memiliki attitude yang sangat baik kepada orang yang lebih tua darinya.
"Sama-sama Jo.." Ucap Berta.
"Nah, ini daddy sudah siap," Ucap Berta sambil melangkah keluar dari kamarnya dan di susul oleh Pongki. Saat itu juga, Pongki bertemu pandang dengan Topan. Beberapa detik, lelaki paruh baya itu memberikan Topan tatapan yang dingin. Hingga akhirnya ia memberikan senyum nya untuk Topan.
"Dia baru beberapa hari bekerja dengan ku. Tidak mungkin dia sudah memiliki bukti yang kuat untuk menangkap ku. Aku harus bersikap biasa saja hingga saatnya tiba." Batin Pongki.
"Kamu keren Jo," Pongki mencoba bersikap biasa saja dengan Topan.
"Terima kasih pak boss," Topan tersenyum malu-malu.
"Ayo kita turun," Ucap Pongki.
Mereka pun turun ke lantai dasar hotel itu, dan langsung menuju ke halaman hotel, dimana mobil sewaan Pongki sudah menunggu di sana. Mereka berencana untuk menghabiskan malam dengan makan malam disebuah restoran dengan pemandangan pantai, yang menyediakan menu seafood, kesukaan keluarga Pongki.
Di mobil, Topan duduk di samping supir, sedangkan Bella dan kedua orangtuanya duduk di kursi penumpang. Sepanjang perjalanan, terlihat wajah Bella yang tidak rela bila Topan duduk berjauhan dari dirinya. Wajah Berta yang merasa bahagia pada malam ini, dan wajah Pongki yang tampak sedang berpikir sambil terus menatap Topan yang duduk di kursi depan.
Pongki baru menyadari, bila postur tubuh Topan bukan lah postur supir biasa. Memang benar, dia adalah anggota yang sangat terlatih. Dengan olahan fisik dan mental yang sangat terjaga.
Pongki juga mulai menyadari, rutinitas Topan yang layaknya orang yang terbiasa dalam didikan keras. Bangun pagi, melaksanakan ibadah, berolahraga, dan cara berbicara yang tidak biasa. Kini, Pongki menyadari semua, bila Topan hanyalah berakting di depan nya.
Tetapi, ada satu hal yang membuat dirinya yakin bila Topan tidak berpura-pura. Yaitu tatapan topan Topan kepada dirinya. Tatapan itu layaknya tatapan seorang anak laki-laki kepada bapaknya. Ya, Topan tidak pernah berpura-pura dalam hal itu. Dirinya memang benar-benar tulus kepada Pongki. Hanya saja, polisi tetaplah polisi. Pongki tidak berani berharap banyak kepada Topan, untuk berpihak kepada dirinya.
Pongki tersenyum sendiri, saat ia menyadari betapa ia sangat menyayangi orang yang siap untuk mengigit dirinya itu.
__ADS_1