
"Aku tidak mau turun," Ucap Amoroso, saat dirinya, Erna dan Topan berada di halaman parkir sebuah rumah sakit.
"Mau mu apa pak? Bukankah ini yang kamu mau?" Tanya Erna.
Topan yang berada di bangku belakang hanya diam membisu, menatap kedua orangtuanya yang sedang berdebat.
"Aku malu bila di lihat orang, kalau aku test DNA dengan anak yang orang tahu bila dia anak ku!"
"Tidak usah repot-repot, saya minta rambut bapak, dan saya bisa jalan sendiri. Dan memakai identitas palsu untuk sampel yang saya bawa." Ucap Topan.
Erna dan Amoroso menoleh kebelakang dan menata Topan dengan seksama.
"Berikan saya satu helai rambut bapak." Topan menadahkan tangan nya.
Amoroso menelan salivanya. Jantungnya berdegup kencang dan dahinya mulai berkeringat.
"Berikan Topan rambutmu pak," Ucap Erna.
Amoroso bergeming.
"Kenapa? Bapak takut? Apakah bapak seorang pengecut yang bersembunyi dibalik pangkat bapak?"
"Kamu!" Amoroso memegangi dadanya yang terasa sakit.
"Topan!" Erna menatap Topan yang telah berkata lancang kepada Amoroso.
"Kalau tidak begini, siapa yang mau mulai? Mau sampai kapan saya dibenci oleh bapak! Mau sampai kapan ibu menutupi fakta? Siapa korbannya? Saya bu, pak!" Ucap Topan.
Erna terdiam, bibir dan tangan nya bergetar hebat. Pun dengan Amoroso, lelaki itu langsung mencabut sehelai rambut nya dan menyerahkan nya kepada Topan.
Topan mengambil selembar tisu dan menerima rambut Amoroso dengan tisu yang ia bentang di telapak tangan nya. Lalu, ia mencabut sehelai rambut dari kepalanya dan meletakkan nya juga di atas lembaran tisu tersebut. Dan dengan berhati-hati, ia membungkus dua helai rambut tersebut dan mengantonginya di saku jaket yang sedang ia kenakan.
"Aku turun dulu. Tinggal saja, karena hasilnya keluarnya lumayan lama. Aku bisa naik taksi nanti," Ucap Topan, saat ia beranjak turun dari mobil milik Amoroso.
Erna dan Amoroso menatap punggung Topan yang melangkah masuk kedalam rumah sakit tersebut. Dan tanpa banyak bicara, Amoroso kembali menyalakan mesin mobilnya dan pergi meninggalkan halaman parkir rumah sakit tersebut menuju ke kediaman nya.
.
Topan berjalan menuju ke laboratorium. Saat ia berada di depan laboratorium tersebut, ia berdiam diri beberapa saat. Lalu, ia mengeluarkan gulungan tisu yang membungkus rambutnya dan rambut Amoroso. Lalu, ia tersenyum getir saat menatap tisu tersebut.
"Hidupku terasa konyol sekali. Ibu ku memiliki rahasia, bapak ku meragukan aku. Bapak ku membenciku. Tugas yang membuat ku jatuh cinta dengan anak target. Hampir saja di jodohkan dengan nenek lampir! Konyol! Hidup ku konyol Tuhan!" Gumam nya.
"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang petugas laboratorium yang baru saja keluar dari ruangan tersebut.
"Ng...."
"Ya?"
"Ng... saya mau test DNA, " Ucap Topan dengan ragu-ragu.
"Ada sempel nya pak?"
"Ada.."
"Bisa saya lihat?" Tanya petugas itu lagi.
Topan menyerahkan tisu yang berada di genggaman nya.
"Ini apa ya pak?"
"Tisu. Eh.. maksud saya, di dalamnya ada dua rambut untuk sempel,"
"Rambut yang sama atau berbeda?"
"Berbeda. Saya mau tahu apakah mereka memiliki DNA yang sama."
"Maaf, dengan bapak siapa?" Tanya Petugas itu lagi.
"Hmmm, saya Topan dari kepolisian. Saya sedang melaksanakan tugas untuk mengetahui jejak seseorang. Bisa dibantu?" Tanya Topan.
"Bisa pak Topan. Silahkan isi formulir terlebih dahulu ya pak. Baru kami proses. Hasilnya paling cepat dua minggu. Paling lama delapan minggu."
"Bisa lebih cepat lagi?"
"Ya, saya usahakan dua minggu pak."
"Baik," Topan mengikuti petugas tersebut untuk mengisi formulir untuk test DNA tersebut.
__ADS_1
.
.
.
.
"Bapak Pongki." Panggil seorang petugas lapas.
Pongki yang sedang termenung di sel nya menatap petugas tersebut.
"Ya pak,"
"Ada pengunjung," Ucap Petugas tersebut.
Seketika raut wajah Pongki terlihat semringah. Ia mengira bila Bella dan Berta lah yang datang menjenguk dirinya.
"Ayo ikut saya,"
"Baik pak," Pongki beranjak dari duduknya dan berjalan mengikuti petugas tersebut ke ruangan khusus yang disediakan untuk pertemuan para napi dengan keluarga atau teman yang menjenguk mereka.
Pongki menyapukan pandangannya mencari sosok Berta dan Bella yang ia kira menjenguk dirinya. Tetapi, matanya tertuju kepada Anna yang duduk di bangku tunggu.
"Ta-ta-tamu saya itu?" Tanya Pongki kepada petugas yang mengantarkan dirinya ke ruangan itu.
"Iya, ibu Anna."
Pongki terdiam, ia menatap Anna yang menangis memandangi dirinya yang memakai seragam khusus para narapidana. Pongki tertunduk malu, dan berjalan mendekati Anna.
"Bapak!" Anna berlari ke pelukan Pongki dan memeluk Pongki dengan erat.
"Apa yang membawamu kemari Anna. Bukankah kita sudah selesai?"
"Pak... aku sangat merindukan bapak,"
"Anna.. kita.."
"Aku tahu kita sudah selesai. Tetapi, aku ingin bertemu dengan bapak, setelah aku tahu bapak ditahan..."
"Pulanglah, aku tidak ingin berbicara denganmu."
"Tapi pak..."
"Anna... lupakan aku.."
"Pak..."
"Sudahlah..."
"Pak, aku akan melupakan bapak, bila bapak memberikan aku kesempatan untuk berbincang sebentar saja,"
Pongki yang baru saja hendak kembali ke sel nya, manahan langkah nya dan kembali menghampiri Anna.
"Kamu mau bicara apa?" Tanya Pongki.
"Kita duduk dulu ya pak," Ucap Anna dengan sorot mata yang memohon.
"Baiklah," Pongki mengangguk dan beranjak duduk di hadapan Anna.
"kamu mau bicara apa?" Tanya Pongki dengan sorot mata yang terlihat datar.
"Aku... aku hanya khawatir dengan bapak."
"Hanya itu?"
"Bukan hanya itu. Jauh-jauh aku kesini aku hanya ingin melihat bapak dan aku hanya ingin mengatakan bila, bapak banyak bersabar ya.." Ucap Anna seraya menggenggam tangan Pongki.
Pongki menatap tangannya yang di genggaman oleh Anna. Lalu, ia menatap Anna dengan seksama.
"Terima kasih," Ucapnya.
"Saya juga membawa sedikit makanan untuk bapak. Jaket, dan selimut...."
"Anna, lupakan saya.." Potong Pongki.
Anna terdiam membisu. Hanya sorot matanya saja yang menyampaikan kepada Pongki bila ia sangat terluka dengan ucapan Pongki.
__ADS_1
"Saya adalah lelaki brengsek Anna. Saya harap, kamu bisa hidup dengan baik setelah saya menceraikan kamu. Tetapi, mengapa kamu masih peduli dengan saya?"
Anna masih terdiam membisu.
"Jangan pernah datang lagi kesini. Bahkan, saya mati pun jangan pernah lihat kuburan saya. Hiduplah dengan baik, menikahlah, cari pendamping mu yang baru."
"Pak.."
"Anna, kamu sudah menandatangani perjanjian kita kan! Kamu paham kan! Lupakan saya dan pergilah!"
Anna mengerutkan keningnya, ia sudah tahu, Pongki akan mengatakan hal itu kepada dirinya. Hanya saja, ia tidak menyangka bila Pongki akan menyampaikan kata-kata itu dengan keras dan tegas.
"Aku akan melupakan bapak, aku pun sudah berjanji kepada ibu Berta, bila ini adalah kunjungan terakhir saya."
"Berta?"
"Ya, dia ada diluar dan mengizinkan aku terlebih dahulu menemui bapak."
Kali ini Pongki yang terdiam membisu.
"Aku tahu, bapak tidak pernah mencintai Aku. Tetapi, bapak pasti tahu, bila Aku sangat mencintai bapak. Pak, aku datang untuk melihat bapak yang terakhir kalinya. Aku tidak akan menggangu bapak lagi setelah ini."
"Cepatlah katakan inti dari maksudmu Anna."
Anna menatap Pongki dengan seksama.
"Aku hanya ingin mengatakan, aku rindu sama bapak. Aku ingin bapak tetap sehat dan tabah menjalani hukuman ini. Aku sangat mengkhawatirkan bapak."
"Pak, mungkin waktu bisa berubah. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kedepan nya. Satu hal yang ingin aku sampaikan kepada bapak. Andaikan aku menikah lagi, itu mungkin bukan karena hatiku. Hatiku akan tetap bersama dengan bapak."
"Bapak simpan ini ya... Ini semua sengaja aku bawa dari Kampung, untuk kenang-kenangan. Semoga bisa menghangatkan bapak dan mengingatkan bapak kepada saya yabg selalu mencintai bapak." Anna menyodorkan selimut dan jaket, serta makanan dan beberapa macam makanan kering kepada Pongki.
"Aku mohon, terimalah. Aku berjanji, setelah ini tiada lagi." Anna menatap Pongki dengan tatapan yang memelas.
Pongki mengangguk dan menerima pemberian Anna.
"Aku pulang dulu pak. Aku akan selalu mendoakan bapak siang dan malam. Semoga, bapak bisa melalui cobaan ini dengan segera, dan bisa kembali berkumpul dengan Ibu dan Bella." Anna tersenyum dan meraih tangan Pongki dan mengecup punggung tangan lelaki itu.
"Bapak baik-baik ya pak, jaga kesehatan. Jangan sampai sakit." Anna memeluk Pongki dengan erat. Lalu, melepaskan nya dengan perlahan dan ia pun mulai melangkah meninggalkan ruangan tersebut.
"Anna!" Panggil Pongki.
Anna menoleh dan menatap Pongki dengan air mata yang membanjiri pipinya.
"Baik-baik ya. Maaf, aku tidak bisa menjadi lelaki yang baik untuk kamu."
"Bapak yang terbaik. Hanya saja, sudah ada hati yang lebih dahulu tinggal di hati bapak. Saya sebagai tamu, harusnya tahu diri." Anna tersenyum di sela tangisan nya.
Pongki terdiam, ia terus menatap Anna yang kembali melangkahkan kakinya untuk meninggalkan ruangan tersebut.
.
.
.
.
Diluar Lapas, Anna berjalan menghampiri Berta yang masih duduk di bawah pohon rindang, tepat di depan pagar Lapas tersebut.
"Ibu, terima kasih atas kesempatan nya. Semoga Tuhan membalas kebaikan ibu kepada saya. Melimpahkan kebahagiaan lahir dan batin kepada ibu dan Bella. Saya pamit pulang bu. Saya berjanji tidak akan menampakkan wajah saya di depan ibu maupun keluarga. Maafkan saya yang hina ini. Maaf atas segala yang pernah saya lakukan." Ucap Anna.
Berta terdiam, matanya terus menatap kedua mata Anna yang basah.
"Anna," Panggil Berta.
Anna yang baru saja hendak pergi, menoleh dan menatap Berta dengan tatapan sendu.
Berta beranjak dari duduknya dan menghampiri Anna yang terdiam menatap dirinya.
"Saya juga minta maaf. Hiduplah dengan baik setelah ini. Dan saya... dengan ikhlas sudah memaafkan kamu." Ucap Berta seraya memeluk tubuh Anna yang terasa gemetar.
"Bu..."
"Sudah... saya ikhlas memaafkan kamu dan saya harap, maafkan saya juga. Terima kasih sudah merawat Pongki selama dia bersama denganmu."
Anna tersenyum sambil menangis. Lalu, ia membalas pelukan Berta dengan pelukan yang erat. Segala perasaan berdosa dihatinya kini terasa sedikit ringan. Setidaknya, permintaan maaf darinya diterima oleh wanita yang pernah ia lukai hatinya.
__ADS_1