Masteng

Masteng
69. Aku mencintaimu


__ADS_3

"Jadi target turun, langsung kita sambut di landasan. Atau di terminal kedatangan Bang?" Tanya salah satu anggota team Suprapto dan kawan-kawan.


Suprapto yang memimpin pertemuan mendesak itu pun menatap anggota nya dengan seksama.


"Ada kemungkinan, target belum menyadari kita akan mencokok nya. Hal itu membuat target tidak punya pengawalan khusus. Yang artinya tidak berbahaya. So, dari pada menimbulkan kekacauan, lebih baik kita sambut di terminal kedatangan." Ucap Suprapto.


"Abang yakin?"


"Sangat yakin. Selain itu, informasi dari Topan sangat membantu kita. Karena target masih bersikap baik dengan Topan."


Seluruh anggota team Suprapto pun mengangguk paham.


"Ok, segitu saja. Persiapkan dengan apa yang kemungkinan terjadi. Bisa jadi anggota Pongki sudah mengamankan dirinya di bandara saat dia datang. Jadi, kita bagi tugas. Kalian harus benar-benar bekerja sama dengan baik, memastikan lokasi kondusif."


"Baik bang,"


"Ayo beristirahat. Karena besok pagi, kita akan menangkap kakap. Kalian harus siap pukul tujuh pagi. Karena mereka akan mendarat pukul sepuluh pagi."


"Siap laksanakan!" Seru seluruh anggota team.


"Ok, laksanakan!" Ucap Suprapto.


......


Pongki tampak termenung di beranda hotel nya. Rokok yang dia pegang, terbakar sia-sia saja. Sehingga sudah membakar ujung filternya. Pongki meringis, saat bara api mulai menyengat jari tengah dan jari telunjuknya.


"Ah!" Pongki menjatuhkan rokoknya di lantai dan meniup jarinya yang terkena bara api.


"Entah dimana pikiran ku, sampai aku lupa menghisap rokok ku sendiri," Gumam nya.


Berta yang baru saja membereskan barang-barang mereka pun muncul dan memijat kedua pundak Pongki. Pongki pun menoleh dan mendapatkan istrinya tersenyum kepadanya.


"Tidur yuk.." Ucap Berta yang memiliki senyum khas yang sangat menjadi favorit Pongki.


Lelaki paruh baya itupun membalas senyuman Berta. Lalu, ia menuntun berta untuk duduk dipangkuan nya.


"Sayang, tahu tidak..."


"Apa?" Tanya Berta yang baru saja duduk di pangkuan Pongki dan mengalungkan tangannya di pundak Pongki.


"Hal pertama yang membuat aku jatuh cinta kepadamu adalah senyuman mu. Senyuman yang seperti malaikat," Puji Pongki.

__ADS_1


Berta tersenyum semringah, ia pun terlihat salah tingkah saat di puji suaminya sendiri.


"Dan senyuman itu, tidak berubah hingga saat ini. Kamu sangat cantik dan tetap mempesona hingga detik ini."


Senyum terus mengembang di bibir Berta. Lalu, ia menundukkan pandangan.


"Dan kamu tahu tidak, yang membuat aku terus mencintai kamu?" Tanya Berta dengan sorot mata yang berbinar-binar.


"Apa?" Tanya Pongki yang tampak bersemangat.


"Kamu itu memperlakukan aku seperti ratu. Kamu selalu melakukan apa pun untuk ku. Kamu tampan, kamu cerdas. Kamu segalanya,"


Pongki menatap kedua mata Berta yang memiliki bulu mata yang lentik itu.


"Terima kasih," Ucap Pongki seraya mengecup kening Berta.


Berta hanya membalasnya dengan senyuman khasnya itu.


"Siap untuk hidup di Spanyol? Berbaur dengan orang lokal dan hidup disana?" Tanya Pongki.


"Dimana kita akan tinggal?"


"Hmmmm... aku rasa lebih baik kita tinggal di Cadaqués saja, tepatnya di Catalonia."


"Aku menyukai suasana di Desa itu. Disana ada pantai dan perbukitan. Kita mendapatkan dua hal itu dalam satu wilayah. Bukankah paket lengkap?"


Berta tersenyum dan terus menatap Pongki.


"Kita bisa naik perahu, kita juga bisa mendaki untuk menikmati indahnya pemandangan desa disana."


"Kapan kita bisa berangkat?" Tanya Berta.


"Minggu depan, semua sudah di urus oleh asisten ku,"


"Kemanapun kamu pergi, aku ikut. Semua akan terasa indah bila ada kamu," Ucap Berta.


Pongki tersenyum dan mengecup lembut bibir Berta.


"Terima kasih istriku.." Ucapnya dengan raut wajah yang begitu bahagia.


"Sama-sama suamiku sayang. Nah... sekarang tidur ya.. karena besok, kita harus tiba di bandara pagi-pagi sekali." Berta beranjak dari pangkuan Pongki dan menarik tangan Pongki dengan lembut, untuk mengikuti dirinya masuk kedalam kamar.

__ADS_1


Pongki mengangguk dan beranjak dari duduknya dan mengikuti Berta untuk masuk ke kamar dan beristirahat.


..


Taksi yang di tumpangi Bella dan Topan, berhenti tepat di depan lobby hotel. Setelah membayar ongkos taksi, kedua sejoli itu pun beranjak turun dan melangkah masuk ke dalam lobby hotel. Dengan bergandengan tangan, mereka pun melangkah menuju ke arah lift dan menunggu lift itu turun untuk dapat mereka tumpangi dan membawa mereka ke lantai 5 hotel tersebut.


Selama menunggu lift, Bella terus merebahkan kepalanya di pundak Topan. Dengan penuh kasih sayang, Topan pun selalu mengusap lembut rambut panjang Bella yang dibiarkan tergerai dengan indah.


Ting!


Pintu lift pun terbuka. Bersama mereka melangkah masuk kedalam lift tersebut. Masih dengan bergandengan tangan, selayaknya mereka enggan untuk berpisah, di dalam lift pun genggaman tangan Topan terasa semakin erat. Entah mengapa, ia merasa tidak rela untuk melepaskan tangan Bella. Karena mau tidak mau, mereka akan berpisah di depan pintu kamar masing-masing. Dan esok, kenyataan sudah bisa di tebak. Mau tidak mau, Topan bukan lah Paijo lagi. Melainkan seorang abdi negara yang siap untuk membuat orang yang dicintai Bella di tahan dan mendapatkan hukuman yang setimpal. Apapun yang terjadi esok hari, sudah dipastikan Bella dan Berta akan membenci dirinya. Begitulah yang ada di benak Topan saat ini.


Ting!


Pintu lift terbuka di lantai 5. Mereka berdua pun beranjak keluar dari lift tersebut dan berjalan berdampingan di lorong lantai tersebut. Hingga akhirnya, mereka berdiri di depan pintu kamar masing-masing. Tatapan mereka seakan enggan untuk berpisah. Dan Topan, ia mati-matian untuk menahan air mata, agar tidak terjatuh di pipinya. Baginya, bila ia masuk kedalam kamar itu, maka kisah indah antara dirinya dan Bella juga ikut berakhir sampai disitu.


Sedangkan Bella, gadis itu tampak tak rela bila malam itu harus berakhir. Ia masih ingin menghabiskan malam dengan Topan. Walaupun tidak melakukan apapun. Ia hanya ingin berpelukan sepanjang malam dengan lelaki yang sukses membuat dirinya jatuh cinta. Yang menambal lukanya akan Frans yang menghianati dan memperalat dirinya.


"Selamat malam," Ucap Topan.


"Selamat malam," Sahut Bella.


Topan tersenyum, dan Bella pun membalas senyuman Topan yang terasa lebih manis daripada biasanya.


"Arghhhh... jangan senyum...! Aku gak kuat untuk melewatkan malam ini begitu saja, gara-gara senyuman mu itu Paijo!" Batin Bella.


"Masuklah," Ucap Topan, yang mempersilahkan Bella untuk terlebih dahulu masuk ke kamar gadis itu.


"Kamu duluan," Ucap Bella.


"Kamu saja,"


"Kamu,"


"Kamu,"


"Kamu,"


Topan menarik tangan Bella hingga bella terjatuh di pelukannya. Lalu, dengan liar ia mengecup bibir Bella di depan kamarnya. Bella membalas ciuman itu dengan sangat hangat. Ia memejamkan kedua matanya dan menikmati setiap hangatnya perlakuan Topan kepada dirinya.


"Aku mencintaimu, jangan lupa itu," Bisik Topan, saat ia baru saja menghentikan ciuman liar nya.

__ADS_1


"Aku juga," Sahut Bella sambil menatap kedua mata Topan dengan seksama.


Topan menjatuhkan dahinya di dahi Bella beberapa saat. Hingga akhirnya ia mengecup kening Bella, sebelum mereka benar-benar berpisah dan masuk ke kamar masing-masing.


__ADS_2