Masteng

Masteng
58. Terpaksa menginap


__ADS_3

Hujan deras mulai membasahi bumi Kintamani. Bella dan Topan yang sedang menikmati kopi di luar bangunan cafe pun beranjak dan berteduh di dalam cafe, bersama orang-orang yang ikut duduk di luar bangunan cafe tersebut.


"Hujan nya tanpa aba-aba, sudah langsung deras saja," Keluh Bella sambil mengusap rambut panjang nya yang terkena guyuran air hujan.


Topan hanya tersenyum dan menatap Bella dengan seksama. Orang yang masuk kedalam cafe untuk berteduh semakin ramai. Hingga ada seseorang yang menyenggol Bella, yang membuat gadis itu terdorong hingga menabrak tubuh Topan. Bella menatap Topan dengan wajah yang malu. Saat Bella hendak menjaga jaraknya kembali, tangan topan menahan tubuh Bella untuk tetap di dalam pelukannya. Bella terdiam, ia mendongak dan menatap wajah Topan yang terlihat acuh, namun tangan Topan terus berada di pinggangnya.


Bella tidak berusaha melepaskan pelukan Topan. Dengan ragu, ia membalas pelukan itu dengan menyelipkan tangan nya yang terasa dingin ke balik jaket Topan, dan memeluk erat pinggang lelaki itu. Kali ini, Topan yang merasa canggung. Ia yang awalnya ingin terlihat acuh, kini melihat Bella yang merebahkan kepalanya di dada Topan. Jantung Topan berdegup kencang. Hingga membuat dadanya terlihat naik turun karena nafasnya mulai memburu.


"Tuhan, bisakah engkau menghentikan waktu saat ini?" Batin Topan. Tangan Topan semakin erat melingkar di pinggang Bella. Begitupun dengan Bella. Ia mempererat tangan nya dan menikmati detak jantung lelaki yang sedang ia peluk itu.


"Dingin ya?" Tanya Topan berbasa basi.


Bella hanya mengangguk di dalam pelukan Topan. Lalu, mereka kembali terdiam dan melihat jalanan di luar cafe yang terguyur derasnya air hujan.


Jarum jam di dinding cafe sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Namun, hujan tak kunjung berhenti. Bella merasa lelah, akhirnya ia pun memilih untuk duduk di salah satu bangku kosong yang orang nya sudah memilih untuk meninggalkan cafe. Sedangkan Topan, tetap berdiri, dan membiarkan orang lain untuk duduk bersama dengan bella di bangku meja itu.


"Masih hujan, kita bagaimana?" Tanya Bella dengan wajah yang cemas.


"Tunggu sebentar lagi ya. Mana tahu, nanti hujan reda. Kita buru-buru kembali ke Kuta," Ucap Topan, mencoba menenangkan Bella.


Bella mengerutkan dagunya dan menatap Topan dengan tatapan yang berbeda. Mengapa berbeda, kali ini gadis itu menatap Topan dengan tatapan yang terlihat manja. Bagaikan tatapan seorang kekasih kepada lelakinya.


Topan tersenyum, lalu ia memberanikan diri untuk mengusap pipi Bella yang memerah karena udara yang dingin.


"Sabar ya," Ucap Topan.


Deggggg...!


Kali ini, degup jantung Bella benar-benar seperti detak bom waktu yang segera akan meledak. Begitu cepat dan tidak beraturan. Ia terus menatap lelaki yang tampak sama gelisah nya dengan dirinya.


"Apa gue memang mencintai dia? Tetapi... sejak kapan?" Bella tercenung, tatapan nya terus fokus kepada Topan yang tampak kedinginan.


"Ah... enggak... gue gak jatuh cinta sama dia. Biasa aja sih," Bella mencoba membantah hatinya.


"Masa iya, baru beberapa hari dia berubah penampilan, terus gue langsung suka sama dia. Stupidddddd....! Noooo!" Bella berusaha keras untuk mendustai hatinya.


"Sudah pukul tujuh non, kalau belum reda juga, bagaimana ya?" Topan menatap Bella dengan seksama. Yang membuat Bella merasa canggung dan mengalihkan pandangannya yang dari tadi terus memandangi lelaki itu.


"Ya gak tahu..." Sahut Bella.


Topan terdiam, bila dipaksakan kembali setelah hujan reda, yang entah kapan redanya, mereka akan tiba di Kuta pada tengah malam. Sedangkan perjalanan jauh begitu dan mengendarai sepeda motor, cukup berbahaya.


Detik demi detik, menit demi menit. Hujan tak kunjung reda. Mereka sudah terlalu lama berada di cafe itu. Sedangkan hujan semakin lebat, seakan tidak merestui mereka untuk kembali ke Kuta.

__ADS_1


Topan melirik jam di dinding cafe. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 20.15 menit. Topan menghela nafas panjang dan kembali menatap Bella yang tampak lelah dan mulai melawan kantuknya.


"Apa cari penginapan saja ya?" Gumam Topan.


Topan berjalan menuju ke kasir, ia pun bertanya kepada petugas kasir, tentang penginapan yang ada di sekitar cafe itu. Petugas kasir pun memberitahukan Topan, tempat menginap yang asri, yang berada 2 kilometer dari lokasi cafe itu. Topan pun bersemangat, ia mengucapkan terima kasih kepada petugas kasir itu dan kembali menghampiri Bella.


"Non," Topan menyentuh tangan gadis itu, yang membuat Bella yang hampir saja terlelap, tersentak dengan sentuhan tangan Topan yang terasa dingin di kulit tangan nya.


"Ya?"


"Bagaimana kalau kita menginap saja. Kita pesan dua kamar."


Bella menatap Topan dengan seksama. Mencoba mempertimbangkan usulan dari lelaki itu.


"Non, kita gak tahu sampai kapan hujan reda. Kalau pun kita memaksa untuk pulang. Tiba di hotel pun sudah tengah malam. Lagi pula, kita akan basah kuyup non. Saya takut, kalau non sakit karena hujan-hujanan dan kedinginan," Terang Topan.


Bella mengigit bibirnya dan di susul dengan anggukan ragu dari nya.


"Jadi?" Tanya Topan, mencoba memastikan keputusan Bella.


"Ya, menginap saja," Ucap Bella.


"Baiklah. Tetapi, tunggu hujan reda ya non."


"Oh, begitu, baiklah," Topan beranjak dari hadapan Bella dan meminta dua buah kantong plastik besar kepada pegawai cafe, untuk melindungi sepatu dan juga tas mereka. Setelah sepatu dan tas mereka di amankan, mereka pun nekat menerobos derasnya hujan untuk menuju ke hotel yang di tunjukan oleh pegawai cafe tersebut.


Di jalan, derasnya hujan membasahi pakaian mereka. Udara dingin seakan menusuk hingga ke tulang mereka. Bella tidak ada pilihan lain, selain memeluk Topan dengan erat saat di boncengan sepeda motor yang di kendarai Topan. Saat Tangan Bella melingkar di pinggang Topan. Topan sempat grogi, ia menatap tangan Bella sejenak, dan kembali fokus dengan jalanan.


Akhirnya, sepeda motor yang Topan kendarai tiba di sebuah penginapan sederhana nan asri. Mereka disambut oleh seorang pegawai penginapan yang mengusung tema Desa tersebut dengan ramah dan mengantarkan mereka ke meja resepsionis yang terlihat sangat sederhana.


"Maaf bila lantainya basah," Ucap Bella.


"Tidak apa-apa bu, nanti kami pel." Sahut petugas yang mengantarkan Bella dan Topan ke meja resepsionis.


Terima kasih ya," Ucap Bella sambil tersenyum ramah.


"Selamat malam, mau menginap?" Tanya petugas resepsionis.


"Malam, iya mbak. Ada kamar kosong?" Tanya Topan.


"Ada bapak, tetapi tinggal satu kamar saja,"


Deggggg!

__ADS_1


Bella dan Topan saling bertatapan.


"Mau check-in atas nama siapa?" Tanya wanita berusia sekitar 20 tahunan tersebut.


"Sebentar ya mbak," Topan menggiring Bella untuk menjauh dari meja resepsionis.


"Non, kamarnya tinggal satu. Bagaimana?"


Bella terdiam membisu. Ia tidak tahu harus bagaimana.


"Apa kita cari hotel yang lain?" Tanya Topan lagi.


"Apa di hotel lain nya menjamin ada kamar?" Tanya Bella.


"Hmmm, kita coba cek saja ya non."


"Hmmm, ok," Sahut Bella.


Topan pun kembali ke meja resepsionis dan meminta maaf, bila mereka tidak jadi menyewa kamar. Mereka melangkah keluar dan bertanya kepada petugas hotel tersebut,


"Bli, hotel yang lain berada berapa kilo dari sini ya bli?" Tanya Topan.


"Oh, ada... lima kilo meter dari sini bli. Tapi, kami juga tidak menjamin, bila ada kamar kosong. Soalnya ini kan musim liburan. Andaikan ada pun, mungkin vila yang di atas delapan juta permalam.


Topan menelan salivanya. Ia tampak berpikir untuk meninggalkan penginapan itu.


"Bagaimana non?" Tanya Topan.


"Hmmmm..."


Jegeerrrrrr...! Petir menyambar, guyuran hujan semakin deras. Seakan langit sedang marah.


"Astaghfirullah!" Jerit Bella yang tampak takut dengan bunyi petir.


"Ya sudah disini saja!" Bella beranjak ke arah meja resepsionis dan langsung mengeluarkan kartu tanda pengenalnya.


"Non tapi...." Topan menghampiri Bella dan mencoba mencegahnya.


"Gue gak mau ya, ke sambar petir dan mati konyol. Sudah disini saja!"


"Tapi kamarnya tinggal satu non, nanti saya tidur dimana,"


"Tidur sama gue!"

__ADS_1


Deggggg...! Dan hening....


__ADS_2