
Berta menyapukan pandangannya ke seluruh sudut kamar Pongki. Lalu, matanya tertuju kepada buket bunga yang terletak diatas ranjang. Senyum tipis terbingkai di bibirnya, namun ia mencoba untuk tidak bereaksi sedikit pun. Bahkan, ia memilih untuk pura-pura tidak melihat buket bunga tersebut.
Pongki beranjak mengambil buket bunga itu dan menyerahkan nya kepada Berta. Berta menatap Pongki dengan tatapan nya yang datar.
"Maksudnya apa?" Tanya Berta.
"Tidak ada apa-apa, hanya ingin memberimu bunga saja," Ucap Pongki, seraya tersenyum manis kepada Berta.
Berta melengos dan melangkah kearah balkon yang berada di sisi utara kamar itu. Berta membuka pintu balkon dan duduk di kursi yang berada di balkon tersebut. Pongki menyusul dengan buket bunga yang masih ia genggam. Lalu, ia menatap Berta dengan tatapan putus asa.
"Berta, maafkan aku," Ucap nya dengan wajah yang terlihat serius.
Berta mendongak dan membalas tatapan Pongki. Lalu, wanita paruh baya itu menghela nafas panjang dan menundukkan pandangan nya.
Pongki berlutut dihadapan Berta, lalu ia meraih tangan Berta dan mengecupnya dengan lembut.
"Aku mohon, kita buka lembaran baru. Aku berjanji, tidak akan ada kejadian seperti ini lagi. Ku mohon, maafkan aku." Air mata menggenang di pelupuk mata Pongki. Berta melirik Pongki masih dengan ekspresi wajah yang datar.
"Aku sudah bilang, aku butuh waktu kan?" Ucap Berta.
"Iya, aku tahu. Tetapi, aku tidak bisa tidur tanpa ada kamu di sisiku,"
Berta tertawa kecil saat mendengar ucapan Pongki.
"Tidak bisa tidur? Lalu, saat kamu bersama Anna, apa kamu bisa tidur?" Tanya Berta.
Pongki terdiam, lagi-lagi ia terjebak dengan ucapan nya sendiri.
Berta bukanlah wanita yang bodoh, ia pandai membalikkan ucapan lawan bicaranya, hingga lawan bicaranya tidak berkutik. Berta sebenarnya lulusan hukum. Hanya saja, ia tidak melanjutkan sekolah profesi nya. Berta mengubur mimpi-mimpinya demi dapat hidup dengan Pongki.
"Iya, aku salah. Sekarang hukum lah aku," Ucap Pongki dengan air mata yang menetes di pipinya.
Berta tertawa kecil dan menatap Pongki dengan seksama. Lalu, ia kembali menghela nafas panjang.
"Hukum aku sesuka hatimu, tetapi jangan ada kata perpisahan. Aku mohon," Pongki menyentuh kaki Berta. Namun, Berta langsung menjauhi kakinya dari tangan Pongki.
"Hatiku rasanya mati denganmu, untuk pulih kembali, kamu harus berusaha menghidupkan nya lagi," Ucap Berta.
Pongki menatap Berta dan mempererat genggaman tangan nya.
__ADS_1
"Jadi, kamu mau memberikan aku kesempatan lagi?" Tanya Pongki dengan mata yang berbinar.
Berta membalas tatapan Pongki dengan wajah yang dingin.
"Aku tidak berbicara seperti itu. Aku lakukan ini hanya demi Bella,"
Pongki terdiam, lalu ia menjatuhkan keningnya di punggung tangan Berta yang berada di pangkuan wanita itu.
"Ya, aku terima, apa pun itu. Mau itu demi Bella ataupun demi apa saja. Aku akan berusaha menghidupkan hatimu kembali," Janji Pongki.
Berta melepaskan tangan nya dari genggaman tangan Pongki dan ia pun beranjak dari duduknya.
"Sudah, aku mau kembali ke kamar ku," Tegas Berta.
"I-i-iya. Tapi, bunga ini tolong di bawa." Pongki menyerahkan buket bunga tersebut kepada Berta.
Berta melirik buket bunga itu, lalu ia menyambarnya dengan kasar dan beranjak meninggalkan kamar Pongki.
Kini, tinggal Pongki sendiri dikamar nya. Ia terdiam membisu. Penyesalan terus datang menghampiri dirinya. Nasib rumah tangga nya kini tergantung pada dirinya. Apakah ia berhasil menyembuhkan luka Berta, atau dia justru gagal menyembuhkan nya. Semua, akan terlihat dikemudian hari.
..
"Ya ampuuunnn!" Keluhnya. Topan beranjak duduk diatas ranjang dan mengacak-acak rambutnya dengan gusar.
Tercium aroma wangi parfum Bella di seprai ranjang itu, juga menyumbang kegelisahan yang tengah Topan rasakan. Ia benar-benar merasa gila dengan kejadian yang tidak disengaja itu.
Topan tidak ada pilihan lain, saat ia melirik layar ponselnya. Hari sudah beranjak pagi, sedangkan besok ia akan menemani Pongki selama berada di Bali. Mau tidak mau, Topan terpaksa memejamkan kedua matanya di temani bayangan Bella dan harum parfum gadis itu yang tertinggal di seprai ranjang nya.
.
"Hmmmm, sayang..." Bella memeluk tubuh Topan dari belakang. Terasa hangat tubuh gadis itu menjalar dipunggung Topan. Topan membuka kedua matanya dan menoleh kebelakang. Terlihat Bella tersenyum kepada dirinya dengan wajah yang begitu cantik, bak seorang bidadari.
"Ke-kenapa kamu ada disini?" Tanya Topan.
"Aku kangen," Bella mempererat pelukannya dan mengecup lembut leher Topan.
"Astaga, cobaan apa lagi ini," Topan mencoba melepaskan tangan Bella yang melingkar di pinggang nya. Tetapi, Bella semakin mempererat pelukannya dan terus mengecup leher dan punggung Topan.
"Be-be-bella, ki-ki-kita bu-bukan suami istri," Ucap Topan yang tampak risih dan gelisah.
__ADS_1
"Kita akan jadi suami istri kok sayang. Ayo, kita bisa yuk melakukan nya," Pinta Bella dengan wajah yang terlihat manja menggoda.
"Ta-ta-tapi Bell,"
Bella beranjak ke atas tubuh Topan dan mulai beraksi dengan liar. Sekeras apa pun Topan menolak, akhirnya otak lelakinya tidak kuasa untuk menolak ajakan Bella untuk melakukan nya.
"Pe-pe-pelan.. pelan.. ya Bell, ini pengalaman pertamaku," Bisik Topan dengan wajah yang terlihat memerah karena malu dan mabuk asmara.
"Sama, ini juga pengalaman pertamaku. Ini semua aku persembahkan untuk kamu Jo," Ucap Bella dengan ekspresi wajah yang sangat menggoda.
"Bell....."
"Hmmmm..." Bella terlihat sangat menikmati perannya yang mendominasi di atas tubuh Topan.
"Bell... aarghhhh..!" Topan tak kuasa menahan benih cintanya. Ia terlihat begitu menikmatinya sekaligus merasa malu dengan durasi yang sanggup ia persembahkan untuk Bella.
"Loh kok?" Wajah Bella terlihat berubah, yang tadi nya terlihat menggoda, kini tampak kesal dan cemberut.
"Bell, maaf... aku baru pertama..."
"Lemah!" Bella beranjak meninggalkan ranjang dan terus mengomel sambil memakai pakaiannya kembali.
"Bell, maaf... duh.. besok aku pakai obat kuat deh." Topan terlihat panik.
"Gak ada besok-besok! Kapok!" Ucap Bella seraya meninggalkan Topan begitu saja.
"Bella!" Teriak Topan yang merasa gagal menjadi lelaki sejati.
"Bella!" Topan tersentak dari tidurnya, dengan wajah yang panik dan frustasi. Ia melihat kesekeliling kamarnya, tidak ada tanda-tanda kehadiran Bella disana.
Topan menghela nafas panjang dan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan nya.
"Cuma mimpi," Gumam nya dengan nafas yang terengah-engah.
"Mimpi macam apa ini, malu-maluin saja!" Ucap nya dengan wajah yang kesal. Lalu, ia mengangkat selimut nya dan menepuk dahinya. Lalu, ia meraih ponselnya dan melihat jam di layar ponselnya.
"Sudah subuh, terpaksa mandi deh..!" Ucap nya seraya beranjak dari ranjang dan berjalan ke kamar mandi dengan wajah yang lesu dan langkah yang gontai.
Setibanya di kamar mandi, Topan menyalakan shower lalu ia berdiri di bawah curahan air dari shower tersebut.
__ADS_1
"Bell, kamu jahat.. pengalaman pertama ku, kau rampas begitu saja dan di tinggalkan karena durasi! Walaupun itu hanya mimpi, tapi sakitnya... bukan main.." Topan menangis dibawah kucuran air, seperti adegan di dalam drama telenovela.