Masteng

Masteng
116. Rumah kakek


__ADS_3

Bella tersenyum puas, kala dirinya membaca sebuah email yang mengundang dirinya untuk bergabung dengan sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat atau biasa disebut LSM. Walaupun sifatnya sukarela, tetapi setidaknya dirinya punya kegiatan dari pada dirinya harus diam saja di rumah. Sambil menunggu panggilan kerja dari CV dan lamaran yang telah ia sebar melalui internet, Bella berpikir bila dia akan lebih berguna bila memanfaatkan ilmunya dengan baik. Sesuai dengan janjinya saat ia berpidato di atas podium saat kelulusan nya.


Bella membalas email yang baru saja ia baca dengan mata yang berbinar. Jari jemari lentiknya terlihat begitu cepat menulis kata demi kata di laptop yang berada di depannya itu. Setelah selesai membalas email, Bella menyeruput kopi susu yang tadi ia buat sendiri di dapur. Dengan senyum yang tersungging di bibirnya, ia seakan memuji kenikmatan dari kopi susu buatan nya sendiri.


"Passss banget..!" Seru nya.


"Halo sayang," Sapa Berta yang baru pulang dari mengunjungi Pongki.


"Hai mam," Bella menoleh dan menatap Berta yang terlihat begitu bersemangat.


"Ada waktu?" Tanya Berta.


"Of course, ada apa mam?"


"Bisa mengantar mami ke rumah lama kita?" Tanya Berta, sesaat setelah ia duduk di samping Bella.


"Ada apa mam? Ngapain kesana lagi?" Tanya Bella.


"Ada yang ketinggalan. Jadi, mami minta tolong sama kamu. Antar kan mami kesana."


Bella menatap Berta dengan seksama.


"Apa yang ketinggalan?" Tanya Bella.


"Ada deh. Oh iya, kamu simpan dimana kunci cadangan rumah lama kita?"


Bella terlihat berpikir sejenak, lalu ia mengingat letak kunci rumah tersebut.


"Di bufet situ deh mam kayaknya." Bella menunjuk bufet televisi yang berada di ruang keluarga tersebut.


"Yuk.." Berta terlihat tidak sabar, ia langsung beranjak dari duduknya dan mengambil kunci cadangan yang berada di dalam bufet televisi tersebut.


"Sekarang?" Tanya Bella yang tidak mengerti maksud dan tujuan Berta kembali ke rumah lama mereka.


"Iya lah, masa besok?"


Bella menatap Berta dengan seksama, lalu ia menutup laptopnya dan beranjak mengambil kunci mobil milik Topan.


"Ya sudah ayo," Ucap Bella.


"Sebentar.." Berta beranjak ke dalam kamar nya.


Bella terlihat bingung dengan sikap Berta yang terlihat berbeda dari pada biasanya.


Tak lama kemudian, Berta kembali ke ruang keluarga dengan membawa dua koper miliknya. Saat itu juga Bella mengerutkan keningnya.


"Koper untuk apa mam?"


"Untuk membawa yang ketinggalan. Oh iya, jangan bilang-bilang Topan."


Bella semakin tidak mengerti mengapa dirinya tidak boleh mengatakan kepada Topan, bila dirinya dan Berta akan mengunjungi rumah mereka yang dulu.


"Oh iya, sebelum kita ke rumah yang lama, kita makan dulu yuk diluar."


"O-Ok mam," Sahut Bella yang masih bertanya-tanya tentang sikap Berta yang begitu bersemangat.


.


.


.


.


.


Topan yang baru saja selesai berpatroli, kembali ke kantornya. Ia melepaskan jaketnya dan beristirahat sejenak di kursi milik nya.

__ADS_1


"Wuihhh... AIPDA Ambarita.." Sapa Antok yang baru saja memasuki ruangan tersebut.


"Eh salah, AIPDA Topan," Ucap Antok lagi, sambil tersenyum kepada Topan.


Topan melirik Antok dan menggelengkan kepalanya. Lalu, Topan meraih ponselnya dari dalam saku celananya dan membaca pesan dari Suprapto yang belum sempat ia baca dari tadi pagi.


Bang Suprapto


Terlampir sebuah gambar dari pesan yang Suprapto kirim kepada Topan. Dengan kalimat di bawahnya,


Seingat ku, kau mencari polisi bernama Galang. Yang ini orang nya?


Topan mengerutkan keningnya dan mencoba mendownload file foto tersebut.


"Bang Suprapto bilang apa aja?" Tanya Antok dengan antusias.


"Gak ada, hanya bertanya kabar tadi pagi," Sahut Topan.


"Oh, dia ada nanya aku?" Tanya Antok lagi.


Topan menggelengkan kepalanya. Terlihat wajah Antok yang begitu kecewa.


"Memang dia tidak pernah mencintai aku," Ucapnya seraya termenung di kursinya.


"Kalau kau mau dicintai, kau hubungi dia duluan. Kau tanya kabarnya, gimana sih..!" Ucap Topan.


"Sama mu dia tanya kabar duluan, apa salahnya denganku?" Antok terlihat kesal kepada Topan.


"Itu karena kau tidak mau mengambilkan dia gayung," Ucap Topan seraya terkekeh melihat ekspresi Antok.


Lalu, Topan memperhatikan foto yang baru saja ia dapatkan. Karena ukuran foto itu hanya dari tangkap layar dari Suprapto, Topan pun mencoba memperbesar foto tersebut.


"Galang? Ini dia orangnya?" Gumam Topan.


Topan memperhatikan lekuk wajah dari pria yang berada di dalam foto tersebut. Tiba-tiba saja ia teringat akan sesuatu. Ia seperti pernah melihat pria tersebut.


Topan terus mencoba mengingat-ingat dimana ia pernah bertemu dengan pria didalam foto itu.


"Ah.. sebentar.." Topan mengingat sesuatu.


"Apa?" Tanya Antok yang tidak mengerti mengapa Topan berbicara sendiri.


"Kayaknya aku pernah melihat foto lelaki ini dirumah kakek,"


"Kakek siapa?" Tanya Antok dengan wajah yang polos.


"Iya! Dirumah kakek!" Topan merasa ada harapan untuk mencocokkan ciri lelaki yang ada di foto itu dengan foto yang ada di rumah kakek nya, yaitu ayah dari Erna.


"Kakek siapa woi...! Gak paham aku lah!" Ucap Antok.


"Aku harus kesana Tok!"


"Kemana?" Antok semakin tidak mengerti.


"Rumah kakek!" Ucap Topan yang terlihat begitu bersemangat.


"Aduhhhh.. gak jelas kali kau! Kakek siapa? Rumah siapa? Gak paham aku lah!" Antok mulai terlihat kesal.


Topan melirik jam di dinding kantor itu, lalu ia memasukan barang-barang nya kedalam tas miliknya.


"Mau kemana kau?" Tanya Antok.


"Rumah kakek!" Sahut Topan, seraya memakai jaket kulit miliknya, untuk menutupi seragam yang tengah menempel di tubuh nya.


"Alamakkk... kakek siapa? Kakek Sugiono?" Tanya Antok.


"Sembarangan lu!" Topan terlihat kesal kepada Antok.

__ADS_1


"Ya kakek siapa?" Antok mulai terpancing emosinya.


"Kakek kau!" Topan beranjak keluar dari ruangan kantor nya.


"Kakek ku? Ngapain dia ke Medan?" Gumam Antok.


"Eh.. Pan! Topan! Ngapain kau ke Medan? Mau ziarah kau Pan? Kenal dimana kau sama kakek ku?" Antok berlari mengejar Topan yang sedang berjalan di lorong kantor itu.


"Mau minta nomor togel!" Seru Topan.


"Anak gila!" Maki Antok.


Topan hanya tertawa dan beranjak ke parkiran mobil. Setelah ia masuk kedalam mobilnya, Topan kembali memperhatikan foto lelaki yang di duga sebagai Galang tersebut. Lalu, ia mengigit bibirnya.


"Aku harus memecahkan kasus ibu." Batin nya.


.


.


.


.


"Mam, kita sudah tiga jam di restoran ini. Mau ngapain sih lama-lama sekali disini?" Keluh Bella.


"Sssttt... baru jam enam sore. Kita tunggu pukul sembilan malam. Komplek kita kan sepi pukul sembilan malam." Terang Berta.


"Astagaaaa.. tahu begitu dirumah saja tadi, kalau menunggu pukul sembilan mam..!" Bella terlihat kesal dengan ulah Berta.


Berta tersenyum geli dan menarik lengan Bella yang melengos darinya.


"Kamu tahu tidak, kita mau ngapain?" Bisik Berta.


"Apa sih mam?" Tanya Bella dengan wajah yang terlihat malas.


"Kita mau ambil harta karun! Dengan itu, kita bisa membayar pengacara! Terus, kamu bisa membuka kantormu sendiri. Bagaimana?"


Bella menatap Berta dengan seksama.


"Maksudnya? Harta karun apa?" Tanya Bella.


Berta mulai berbisik dan mengatakan apa yang Pongki katakan kepada dirinya saat tadi pagi dirinya menjenguk suaminya itu.


Bella terbelalak, nyaris saja ia menyenggol gelas kosong yang ada di hadapannya.


"Mam!" Bella menatap Berta dengan mata yang melotot.


Berta mengangguk, memberikan isyarat bila apa yang dia katakan adalah benar dan informasi itu berasal dari Pongki sendiri.


Bella melirik ke sekelilingnya. Lalu, matanya kembali menatap Berta.


"Tapi kamu jangan bilang-bilang Topan. Nanti kita di tangkap," Bisik Berta.


Bella mulai terlihat takut dengan apa yang disampaikan oleh Berta.


"Tapi mam..."


"Ssssttt.. ini peninggalan terakhir dari daddy mu. Kamu mau di sita lagi? Tidak bisa bayar pengacara? Tidak bisa membetulkan rumah yang bocor itu?" Ucap Berta.


Bella terdiam, ia tahu betul bila saja Topan mengetahui hal ini, sudah bisa dipastikan Topan akan mengatakan nya kepada yang berwajib atas harta sitaan. Topan adalah polisi yang jujur, sangat jauh dari kata korupsi.


"Ingat, jangan pernah katakan kepada Topan."


Bella mengigit bibirnya, dan menatap Berta dengan tatapan yang ragu.


"Oke?" Tanya Berta.

__ADS_1


"O-Ok.." Sahut Bella dengan wajah yabg tampak gelisah. Seakan ia akan berurusan dengan suap menyuap dalam kisah perebutan tender agar di menangkan, di Negeri antah berantah.


__ADS_2