Masteng

Masteng
76. Lestari


__ADS_3

Langkah kaki Bella tertahan saat melihat Topan yang sedang duduk di bangku tunggu, tepat di ruang rawat inap Berta. Tampak sebuah buket bunga di tangan nya dan sekeranjang kecil buah-buahan yang terletak di atas bangku, tepat disebelah Topan.


Lelaki itu tampak diam membisu, larut dalam pikiran yang berkecamuk di dadanya. Sorot matanya tampak sayu memandang ke pintu ruangan Berta. Bibirnya terkunci rapat dan tangan nya yang begitu gelisah tampak memainkan pita yang terikat di buket bunga tersebut.


Bella yang baru saja kembali dari kantor polisi, melangkah pelan ke arah Topan. Seketika, lelaki itu menoleh dan beranjak dari duduknya saat melihat Bella berjalan mendekati dirinya.


"Bella," Sapa Topan saat Bella berpura-pura tidak mengenalnya dan hendak langsung masuk kedalam ruangan Berta.


Bella bergeming, ia menarik pintu kamar Berta. Tetapi, saat itu juga Topan menahan lengan Bella dan menghadang pintu tersebut dengan tubuhnya. Dengan wajah malas, Bella membuang pandangannya. Terlihat jejak tangisan di kedua mata dan pipi Bella. Saat itu juga Topan benar-benar merasa sangat bersalah kepada gadis itu.


"Mau apa?" Tanya Bella dengan intonasi yang tegas.


"Aku ingin bicara. Ini untuk kamu dan buah ini untuk bu Berta. Tadi pagi aku sempat kesini, tetapi karena aku terburu-buru, aku belum sempat membawa apa pun untuk bu Berta," Ucap Topan, sambil menyodorkan buket bunga dan keranjang buah tersebut.


Bella meliriknya dengan sinis dan tidak acuh dengan apa yang Topan katakan atau apa yang Topan hendak berikan kepadanya.


"Pulanglah, tempat mu bukan disini," Tegas Bella sambil mendorong tubuh Topan, agar lelaki itu mau memberikan dirinya celah untuk masuk keruangan Berta.


Topan bergeming, ia masih saja menghalangi pintu masuk tersebut dan terus menatap Bella dengan sorot mata yang teduh.


"Bell... aku.."


"Sudah, kita sudah selesai bahkan sebelum memulainya. Kamu dan aku, tidak ada hubungan apa pun. Bahkan, aku tidak tahu siapa namamu!"


"Namaku Topan."


"Terserah! Siapa pun namamu, aku tidak peduli. A-k-u t-i-d-ak p-e-d-u-l-i...!" Tegas Bella.


Topan menghela nafas panjang dan menelan salivanya.


"Permisi, aku mau lewat," Lagi-lagi Bella berusaha mendorong Topan, agar tidak menghalangi jalannya.

__ADS_1


"Bella aku minta maaf, kamu harus tahu antara tugas dan cinta. Aku mencintaimu itu benar apa adanya. Aku bertugas itu karena aku mencintai negara ku dan pekerjaan ku. Itu berbeda Bella, kamu harusnya tahu itu,"


Bella menatap Topan dengan tatapan yang penuh amarah. Sebagai seorang yang kuliah di bidang psikologi, dirinya merasa terhina dengan ucapan Topan. Apa yang dikatakan Topan itu benar adanya. Tetapi, ego dan amarahnya begitu melekat dihatinya saat ini. Maka, apa pun yang Topan katakan, terasa sebagai suatu hinaan baginya.


"Kamu mempertanyakan kwalitas ku sebagai mahasiswa psikologi?" Tanya Bella dengan mata yang mulai memerah.


"Bukan begitu maksudku Bella."


"Lalu apa!"


"Bella, aku dilema! Aku harus apa! Andaikan kamu berada di posisi aku, kamu pun akan melakukan hal yang sama!" Terdengar nada yang keras keluar dari bibir Topan.


Bella terdiam, hingga ia menundukkan wajahnya dan menangis di dalam diam nya.


"Tidak ada hubungan nya antara cinta dan pekerjaan. Cinta ya cinta... pekerjaan ya pekerjaan, tidak ada hubungan nya Bella! Aku harap kamu paham itu. Aku mencintaimu, aku tidak pernah berdusta. Walaupun aku, sebut saja menipu mu dan keluargamu. Walaupun itu bukan maksud ku, karena aku hanya bekerja dan kebetulan aku jatuh cinta padamu. Lalu aku harus apa?"


Bella mengangkat wajahnya dan menatap Topan dengan mata yang basah.


Topan menghela nafas panjang. Tampaknya Bella benar-benar tidak memahami dan mau mengerti penjelasan darinya.


"Bella, aku sudah bilang, pekerjaan ya pekerjaan, hati ya hati. Itu dua hal yang berbeda jalur Bella. Bila aku mampu menghianati pekerjaan ku, apa kamu yakin suatu saat kamu tidak akan aku khianati? Pekerjaan dan sumpah pada negara dan Tuhan saja aku dustai, apa lagi masalah hati yang bisa saja mendapatkan godaan suatu saat?"


Bella terdiam, ia kehabisan kata-kata untuk menyangkal apa yang dikatakan Topan kepadanya.


"Bella, maafkan aku. Aku mohon kamu mengerti. Aku sungguh dilema. Mencintai kamu dan keluargamu itu tidak sandiwara. Aku mencintaimu Bella... tidak sandiwara!"


Bella menangis tersedu-sedu, ia melangkah menuju ke kursi dan duduk sambil terus menangis disana.


"Bella," Topan berlutut di hadapan Bella yang tertunduk dan menangis pilu.


"Maafkan aku.." Topan meraih tangan Bella dan terus menatap kedua mata Bella yang di banjiri air mata.

__ADS_1


Terdengar langkah kaki mendekat, terlihat seorang dokter wanita bersama dua orang perawat menghampiri mereka berdua. Saat itu juga, Bella menghapus air matanya, begitupun dengan Topan yang beranjak berdiri dan menatap dokter dan dua orang perawat yang berhenti di depan pintu ruangan Berta.


Dokter tersebut tercengang saat melihat Topan yang sedang memandangi dirinya. Lalu, ia melirik Bella yang beranjak dari duduknya dan memasang wajah ramah kepada dirinya.


"Dok, mau periksa mami saya ya?" Tanya Bella.


"Ah... i-i-iya mbak Bella," Sahut dokter itu.


Sedangkan Topan melirik nametag yang tersemat di jubah dokter wanita tersebut.


"Lestari." Nama itu tidak lah asing ditelinga Topan.


"Lestari?" Batin Topan.


"Silahkan dok," Ucap Bella, seraya berjalan mendahului dokter tersebut dan masuk kedalam ruangan Berta.


Dokter itu tersenyum kepada Bella, lalu ia melirik Topan yang masih mematung di depannya.


"Lelaki ini, lelaki yang tadi pagi?" Batin Lestari, dokter cantik dengan kulit yang eksotis, senyum yang manis serta rambut yang hitam tergerai indah hingga sebahu nya.


"Ayo dok," Ucap salah satu dari dua perawat yang sedang bersama Lestari.


"Ah, iya," Lestari terlihat salah tingkah. Ia pun mengabaikan Topan dan masuk kedalam ruangan Berta.


"Apa hubungannya antara pasien dan lelaki itu? Atau... jangan-jangan dia suami atau kekasih dari mbak Bella. Kejadian tadi pagi begitu memalukan. Aku tidak menyangka bila dia adalah Polisi. Humffff... mengapa bertemu lagi sih sama dia." Batin Lestari, saat ia melangkah menuju ranjang Berta.


"Halo ibu, bagaimana keadaannya?" Tanya Lestari dengan ramah.


Topan menatap Lestari yang terlihat salah tingkah saat ini. Hingga pandangan nya terhalang oleh pintu yang di tutup oleh seorang perawat yang baru saja masuk menyusul Lestari.


"Apa dia Lestari anak dari rekan kerja bapak?" Gumam Topan.

__ADS_1


__ADS_2